KRITIK BIBEL

 

 

BAB IV:
Kritik Perjanjian Lama

(lanjutan)

 

< sebelumya

Selanjutnya, kitab Ezra bertalian erat dengan kitab Daniel ini hingga membuat kita sangat mudah untuk mengatakan bahwa penulis dua kitab itu adalah satu orang. Penulis itu ingin mencatat sejarah umat Yahudi sejak tawanan pertama. Setelah itu, kami juga tidak ragu-ragu untuk mempertalikan kitab Ester dengan kitab Ezra ini karena konteks permulaannya yang tidak menyiratkan kitab lain. Di samping itu, kita juga tidak boleh menganggap bahwa kitab Ester ini adalah kitab yang pernah ditulis oleh Mordekhai.31) Fasal 9 ayat 20 sampai dengan 22 menyebutkan bahwa Mordekhai menulis beberapa pucuk surat dan setelah itu juga menjelaskan isi dari surat-surat itu. Hal serupa juga diceritakan dalam ayat 31 dari fasal yang sama.32) Ratu Ester menyelenggarakan pesta Purim (Undian)33) dan perintahnya telah ditulis dalam sebuah kitab, yakni (jika kita ingin memberikan makna kata itu dalam bahasa Ibrani) di dalam sebuah kitab yang dikenal oleh semua orang pada saat sang penutur menuliskan kitab ini. Hanya saja, Ezra juga banyak yang lain-lain terpaksa mengakui bahwa kitab ini telah hilang bersamaan dengan kitab-kitab lain. Akhirnya, kisah ini beralih ke sejarah raja­raja Persia untuk mendapatkan data-data lain tentang Mordekhai. Terlepas dari itu semua, yang tidak boleh diragukan adalah bahwa penulis kitab ini adalah orang yang sebelumnya pernah menulis kisah Daniel dan kisah Ezra, juga kitab Nehemia karena dinamakan juga dengan Ezra II. Jadi kita bisa memastikan bahwa empat kitab ini: Daniel, Ezra, Ester dan Nehemia ditulis oleh satu orang.34)

Adapun siapa penulis itu, sekadar menduga pun kami tidak mampu. Kendati begitu, jika ingin mengetahui dari mana, penutur itu -siapa pun dia- mendapatkan data-data mengenai kisah-kisah ini atau barangkali sebagian besar kandungan kitab yang dia tulis itu dia nukil darinya, kita harus mengatakan bahwa para hakim dan pemimpin Yahudi awal seperti halnya raja-raja mereka dalam kerajaan lama, biasanya memiliki juru tulis atau ahli sejarah yang bertugas mencatat sejarah tahun-tahun dan berita hari-hari menurut urutan waktu. Sejarah-sejarah dan berita-berita ini banyak disebutkan dalam kitab Raja-Raja. Sedang berita-berita dan sejarah-sejarah tentang para pemimpin dan imam kuil kedua, pertama-tama disebutkan dalam kitab Nehemia (12:23),35) kemudian di kitab I Makabe (16:24).36)  Tidak diragukan, bahwa inilah kitab (lihat Ester 9:34)37) yang baru saja kita bicarakan, yaitu kitab yang memuat perintah Ester dan kata-kata yang ditulis oleh Mordekhai dan oleh Ibnu Ezra dinyatakan telah hilang. Jadi nampaknya dari kitab inilah seluruh kandungan empat kitab Perjanjian Lama yang telah kita sebutkan tadi diambil atau dinukil. Hal ini karena penutisnya tidak pernah menyebutkan kitab lain, sementara itu kita juga tidak mendapatkan kitab lain yang mempunyai otoritas yang diakui oleh semua orang. Di samping itu, kitab-kitab ini tidak mungkin ditulis oleh Ezra atau Nehemia, sebagaimana terlihat dalam daftar yang diberikan oleh Nehemia (Nehemia 12:10, 11)38) kepada penerus imam besar Yosua hingga Yadua, imam besar keenam yang berjalan di depan Alexander Agung setelah kerajaan Persia runtuh (lihat Yusuf: Sejarah Yahudi Kuno, buku 11, fasal 8). Dalam bukunya, Di Sepanjang Zaman, Philon menyebutnya dengan kahin agung keenam belas dan terakhir di bawah naungan pemerintahan Persia. Nehemia juga mengisyaratkan hal ini dalam fasal yang sama, ayat 22. Di situ disebutkan: Orang-orang Lewi pada zaman Elyasib, Yoyada, Yohanan dan Yadua, para kepala kaum keluarga, juga para imam tertulis diatas39) pemerintahan Darius, orangq Persia itu. Kata tertulis ini berarti nama­nama mereka tertulis di dalam sejarah. Sementara itu, kami berpendapat bahwasanya tidak akan mungkin terdetik dalam benak seseorang bahwa Ezra atau Nehemia hidup sepanjang masa pemerintahan empat belas raja Persia. Koresh adalah raja Persia pertama yang membolehkan orang Yahudi untuk membangun kuil kembali. Waktu yang membentang sejak saat ini hingga masa Darius, akhir empat belas raja Persia lebih dari dua ratus tiga puluh tahun. Maka dari itu kami menyatakan tanpa ragu-ragu bahwa empat kitab ini ditulis lama setelah Yudas Makabe mengembalikan praktek ibadah ke dalam kuil. Ditulis karena, pada masa itu, banyak beredar kitab-kitab palsu yang disandangkan kepada Daniel, Ezra dan Ester yang ditulis oleh orang-orang yang mempunyai maslahat tertentu. Dapat dipastikan mereka ini adalah pendukung kelompok Saduki40). Setahu kami, orang Farisi tidak  menerima kitab-kitab ini sama sekali. Meskipun beberapa mitologi yang terkandung dalam sesuatu yang dinamakan kitab Ezra IV tersebut juga di dalam Talmud, tetap saja tidak boleh disandangkan kepada orang Farisi. Hal ini karena tidak ada seorang penafsir pun dari mereka-kecuali jika sangat bodoh- yang tidak mengetahui bahwa mitologi­-mitologi itu adalah tambahan dari seorang badut profesional. Bahkan kami mengira bahwa motiv karya guyonan ini adalah untuk melemahkan kepercayaan terhadap tradisi tertulis di depan umum. Tapi, bisa jadi juga, kitab-kitab itu ditulis dan disebarkan pada masa itu adalah untuk menjelaskan kepada masyarakat terwujudnya nubuat-nubuat Daniel demi menguatkan emosi keagamaan dan tidak putus asa terhadap masa depan atau terbebas dari malapetaka yang terjadi secara beruntun. Baik kitab­kitab itu ditulis pada waktu yang lebih awal atau lebih kemudian, yang jelas telah dimasuki oleh banyak kesafahan -yang menurut kami- disebabkan oleh ketergesa-gesaan para penyalin. Sebenarnya, kita semua mendapatkan dalam kitab-kitab ini, juga yang lain, tetapi dalam kitab-kitab lebih banyak, beberapa catatan pinggir yang telah kita bahas dalam fasal terdahulu. Beberapa ayat darinya juga tidak bisa ditafsirkan kecuali dengan kesalahan penyalinan. Sebalum menjelaskan itu, kami ingin mengingatkan bahwa jika kita ingin mengakui seperti orang Farisi bahwa catatan-catatan pinggir yang ada dalam teks-teks itu berasal dari para penulis kitab terdahulu, kita harus mengatakan -jika penulisnya lebih dari satu- bahwa mereka membuat catatan-catatan itu karena naskah buku sejarah yang dipakai sebagai rujukan tidak ditulis secara hati-hati. Sementara itu, mereka tidak berani mengoreksi naskah lama yang diwariskan oleh nenek moyang meskipun jelas­jelas salah. Namun kami tidak mau kembali lagi ke tema yang telah kita bahas sebelum ini. Oleh karena itu, kami akan langsung berpindah ke pembahasan kesalahan­kesalahan yang tidak diberi catatan pinggir:

Kami tidak tahu jumlah kesalahan yang menyusup ke dalam fasal 2 dari kitab Ezra. Dalam ayat 64, yang tersebut dalam jumlah keseluruhan yang dihitung dari jumlah-jumlah kelompok adalah 42.360 orang.41) Sementara itu, jika kita jumlahkan sendiri jumlah-jumlah kelompok itu kita akan menghasilkan bilangan sebesar 29.818 orang saja. Dengan demikian, pasti ada kesalahan, bisa jadi dalam jumlah keseluruhan atau jumlah kelompok. Tapi, tampaknya, jumlah keseluruhanlah yang benar, karena jumlah ini yang biasanya dihafal dan diingat. Sementara jumlah kelompok keadaannya tidak begitu. Jika kesalahan itu terjadi pada jumlah keseluruhan, semua orang pasti tahu dan langsung membenarkannya. Dan memang inilah yang ditegaskan lagi dalam fasal 7 dari kitab Nehemia. Di sini fasal Ezra (yang dinamakan catatan silsilah seperti disebutkan dalam ayat 5)42) itu disebutkan lagi. Jumlah keseluruhannya sama, yaitu 42.360 orang.43) Sementara itu, terjadi banyak sekali perbedaan dalam jumlah bagian. Ada yang lebih banyak dan ada lebih sedikit. Jika jumlah-jumlah bagian itu kita jumlahkan, kita akan menghasilkan angka 31.089 orang. Dengan demikian tidak bisa diragukan lagi, telah terjadi banyak kesalahan dalam jumlah-jumlah bagian saja. Baik yang tersebut dalam kitab Ezra maupun yang tersebut dalam kitab Nehemia. Para penjelas yang berusaha untuk memadukan hal-hal yang nyata-nyata kontradiktif itu telah mengerahkan segala daya dan upaya untuk mengarang tafsiran tertentu. Mereka tidak tahu, bahwa dengan pengkultusan huruf-huruf dan kata-kata kitab suci itu telah menjadikan para penulis kitab suci sebagai bahan ejekan, sebagaimana telah kita singgung dalam bagian terdahulu. Para penulis kitab suci itu telah mereka jadikan orang-orang yang tidak tahu bagaimana harus berbicara atau bagaimana merangkai tema-tema pembicaraan mereka. Bahkan yang mereka lakukan itu adalah mengubah teks kitab suci yang jelas menjadi sangat tidak jelas. Jika setiap orang boleh menafsirkan teks-teks kitab suci menurut caranya sendiri, niscaya tidak akan ada satu teks pun yang bisa diragukan makna hakikinya. Selanjutnya, tidak ada hal yang mendorong kita untuk berhenti terlalu lama dalam masalah ini. Kami betul-betul yakin, jikalau saja ada seorang penutur ingin menirukan cara yang mereka anggap berasal dari para penulis kitab suci itu, mereka sendirilah yang paling dulu menghujaninya dengan ejekan dan hinaan. Di sisi lain, jika para ahli tafsir itu menyangka bahwa seseorang telah menghina Tuhan, saat mengatakan bahwa kitab suci itu telah disimpangkan dalam sebagian teksnya, kami akan bertanya-tanya, "Sebutan apa yang pantas diberikan kepada mereka yang menyusupkan bidah-bidah ke dalam kitab suci? Sebutan apa pula yang pantas diberikan kepada mereka yang menurunkan derajat para penutur suci, hingga tampak seperti sedang mengigau? Sebutan apa pula yang pantas diberikan kepada mereka yang menolak bagian paling jelas dari Alkitab? Bagian Alkitab mana yang lebih jelas daripada maksud yang diinginkan oleh Ezra dan kawan­kawan dari catatan silsilah dalam fasal 2 dari kitab yang memakai namanya, ketika membagi jumlah keseluruhan orang Israel yang pergi ke Yerusalem ke dalam kelompok­kelompok? Apalagi mereka bukan saja tidak menyebutkan jumlah orang yang bisa diketahui silsilahnya, tetapi juga tidak menyebutkan jumlah orang yang tidak bisa diketahui silsilahnya. Apa yang lebih jelas daripada yang disebutkan oleh ayat 5 fasal 7 dari kitab Nehemia bahwa fasal ini dinukil secara harfiah dari catatan itu?" Orang yang mempunyai tafsiran lain selain itu berarti telah mengingkari makna hakiki dari kitab suci dan akhirnya juga mengingkari kitab suci itu sendiri. Hal itu, karena mereka menganggap bisa membuktikan ketakwaan mereka dengan memadukan antara suatu teks dengan teks-teks lain dalam kitab suci. Betapa ironisnya, takwa yang memadukan teks yang jelas dengan teks-teks yang tak jelas, mencampur adukkan antara yang jujur dan yang bohong serta menghapuskan yang benar dengan yang salah! Kendati begitu, kami tidak ingin menganggap mereka telah menghina Tuhan. Niat mereka baik, tetapi setiap orang mempunyai potensi untuk salah.

Sekarang, mari kembali ke tema semula. Selain kesalahan-kesalahan yang harus kita akui dalam catatan istilah, baik yang tersebut dalam kitab Ezra maupun Nehemia, kita masih menemukan banyak kesalahan dalam nama-nama keluarga itu sendiri, dalam sifsilah, riwayat dan kami takut untuk mengatakan dalam nubuat-nubuat itu sendiri. Nubuat Yeremia untuk Yekhonya (Yoyakhin) dalam fasal 22 sepertinya sama sekali tidak cocok dengan kisah Yeyokhonya (lihat akhir kitab II Raja-Raja dan Yeremia serta I Tawarikh 3:17-19), 44) terutama kata-kata ayat terakhir dari fasal ini. Kami juga tidak tahu bagaimana dia bisa mengatakan mengenai Zedekia yang dicukil matanya:45) Engkau akan mati dengan damai... dan seterusnya (lihat Yeremia 34:5). Jika dalam menafsirkan nubuat kita harus kembali kepada realita itu sendiri, kita harus mengganti nama-nama dan menempatkan nama Zedekia di tempat Yoyakhin demikian pula sebaliknya. Tetapi hal ini merupakan kebebasan mengubah yang berlebihan. Selanjutnya, kami memilih untuk meninggalkan masalah ini dulu karena tidak bisa dipahami. Apalagi jika ada kesalahan di sini maka harus dikembalikan kepada penutur, bukan kepada manuskrip. Sedangkan kesalahan-kesalahan lain yang berkaitan dengan hal itu, menurut kami tidak perlu disebutkan di sini, karena kami tidak bisa melakukan hal itu tanpa menyebabkan rasa bosan kepada pembaca. Selain itu juga sudah banyak yang mengetahui kesalahan­kesalahan ini. Misalnya, Imam Salomo karena kontradiksi sangat jelas mengenai silsilah yang dia temukan, terpaksa mengeluarkan pernyataan berikut (lihat penjelasannya terhadap kitab I, fasal 8 dari kitab Tawarikh): "Jika Ezra (dia mengiranya penulis Tawarikh) memberikan nama­nama lain kepada bani Benyamin, memberikan kepada keturunannya silsilah yang berbeda dengan yang tersebut dalam kitab Kejadian, juga memberikan informasi mengenai sebagian besar kota orang Lewi yang berbeda dengan yang ada di Yosua, hal itu karena dia mengetahui banyak sumber." Lalu, katanya lagi, "Jika keturunan Gibeon dan lain-lain disebut dua kali dengan cara yang berbeda, hal itu karena Ezra menggunakan banyak dokumen yang berbeda-beda untuk setiap daftar keturunan. Saat menyebutkannya secara berulang-ulang itu dia mengikuti arah yang disiratkan oleh sebagian besar dokumen. Adapun, jika jumlah silsilah yang saling bertentangan dalam dua keadaan itu sama, berarti telah dinukil dari dua naskah." Dengan demikian, Imam Salomo mengakui sepenuhnya bahwa kitab-kitab ini telah dinukil dari refrensi-refrensi yang tidak cukup valid dan meyakinkan. Yang dilakukan para penjelas, saat berusaha memadukan berbagai macam teks yang saling bertentangan pada banyak kesempatan itu, sebenarnya tidak lebih dari memperlihatkan sebab-sebab kesalahan saja. Terakhir, menururt hemat kami, tidak akan ada orang yang mempunyai daya pikir sehat akan mengakui bahwa para penutur suci itu memang sengaja menulis dengan cara ini agar teks yang sama terlihat bertentangan dengan dirinya sendiri di tempat-tempat lain yang berbeda-beda. Sampai di sini, jika ada yang mengatakan bahwa metode kami dalam membahas kitab suci ini telah menjungkir balikkannya, karena dengan menggunakan metode ini, setiap orang akan meragukan kitab suci atau bahkan menganggapnya batil dari awal sampai akhir, kami malah mengatakan yang sebaliknya. Dengan metode ini kami malah berhasil melindungi teks-teks yang jelas dan autentik dari kemungkinan distorsi melalui  teks-teks batil yang akan dipadukan dengannya. Selain itu, kerusakan sebagian teks bukanlah alasan untuk meragukan kesahihan seluruh teks yang lain. Tidak satu buku pun yang terbebas dari kesalahan. Mungkinkah seseorang meragukan kesahihan seluruh isi kitab karena beberapa kesalahan yang terdapat di dalamnya? Tidak akan pernah terjadi. Terutama, jika teks itu jelas dan pikiran penulis juga bisa dipahami.

Dengan ini, kami telah selesai menyampaikan catatan-catatan yang ingin kami berikan kepada kitab-kitab perjanjian lama. Dari situ, tampak jelas tidak adanya kitab­kitab suci kanonik sebelum masa orang Makabe. Adapun kitab-kitab kanonik yang ada sekarang ini ada1ah hasil seleksi orang Farisi Kuil kedua dari sekian banyak kitab suci yang lain. Selain itu, mereka jugalah yang mengarang bentuk dan lafal-lafal sembahyang. Atas dasar ini, barangsiapa ingin membuktikan otoritas kitab suci maka harus membuktikannya satu persatu. Terbuktinya sumber ketuhanan salah satu kitab belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kitab-kitab lain juga berasal dari Tuhan. Jika tidak, berarti kita telah mengakui bahwa orang Farisi tidak mungkin salah dalam menyeleksi kitab-kitab itu. Suatu hal yang tidak mungkin dibuktkan oleh siapa pun. Adapun alasan yang membuatku menerima bahwa golongan Farisi sendiriiah yang menyeleksi dan memasukkan kitab-kitab Perjanjian Lama ke dalam kelompok kitab kanonik itu adalah: pertama, nubuat kitab Daniel (fasal terakhir, ayat 2)46) tentang pembangkitan orang mati, suatu keyakinan yang ditolak oleh golongan Saduki. Kedua, yang disebutkan oleh golongan Farisi sendiri dalam Talmud. Misalnya kita membaca dalam Surat Sabat (fasal 2, lembaran 30, halaman 2): Imam Yehuda yang disebut Raba mengatakan, "Orang-orang pinter ingin menyembunyikan kitab Pengkhotbah, karena perkataan­perkataannya yang bertentangan dengan perkataan­perkataan kitab Syariat (kitab Syariat Musa). Tetapi kenapa mereka tidak menyembunyikannya? Kitab itu dibuka menurut syariat dan ditutup menurut syariat juga." Kemudian, mengatakan lagi, "Mereka juga ingin menyembunyikan kitab Amsal... dan seterusnya. Dan terakhir kita membaca dalam surat yang sama (fasal 1, lembaran 13, halaman 2): "Laki-laki yang dipanggil Nekhonia bin Hizkia ini terkenal tekun dan hati-hati. Tanpa dirinya, kitab Yehezkial pasti sudah hilang karena perkataan-perkataannya yang bertentangan dengan perkataan-perkataan syariat." Dari situ kita mengetahui dengan betul-betul jelas, bahwa sekelompok orang yang memahami kitab suci pernah berkumpul untuk memutuskan kitab-kitab apa saja yang harus dimasukkan ke dalam kitab-kitab kanonik dan apa saja yang harus disingkirkan. Dengan demikian barangsiapa ingin mengetahui dengan pasti otoritas seluruh kitab-kitab ini dia harus mengikuti pertemuan itu dan membuka pembicaraan dengan memngajukan pertanyaan tentang kenapa kitab-kitab itu memiliki otoritas yang seperti itu.

Sekarang tiba saatnya untuk meneliti kitab-kitab Perjanjian Baru dengan cara serupa, meskipun kami tahu bahwa sebelum ini, beberapa orang yang memiliki cukup ilmu, terutama ilmu bahasa telah melakukan pekerjaan ini, di samping itu, kami juga tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang bahasa Yunani hingga berani mengambil resiko dalam pekerjaan seperti ini. Sementara itu, kita juga tidak memiliki naskah-naskah asli dari kitab-kitab yang diketahui tertulis dalam bahasa Ibrani. Oleh karena itu, lebih baik kami tidak memasuki kawasan ini saja. Tapi rasa-rasanya, kami masih mempunyai kewajiban untuk menunjukkan poin-poin terpenting yang berkaitan dengan proyek kami ini.

 

 


 

Catatan :

31). Mordekhai: ayah angkat Ester. Diriwayatkan telah membongkar konspirasi terhadap raja. Tidak lama setelah itu dia menolak untuk membungkuk di depan Haman dan meminta kepada Ester agar memintakan ampunan bagi orang Yahudi kepada raja. Setelah Haman disingkirkan, Mordekhai semakin dekat dengan raja.

32).  Ester 9:31. 32 supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwujibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan meratap-ratap. Demikianlah perintah Ester menetapkan perihal Purim itu, kemudian dituliskan di dalam kitab.

33). Hari raya Purim: hari raya orang Yahudi untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting mereka yang dituturkan dalam kitab Ester. Dinamai juga dengan hari raya Undian karena

Mordekhai menentukan hari pengangkutan orang Yahudi Persia dengan undian. Jatuh pada tanggal 14, l5 Maret. Didahului dengan satu hari puasa. Sore harinya, lampu-lampu dinyalakan dan umat Yahudi pergi ke kuil-kuil untuk membaca kitab Ester dan menumpahkan kutukan kepada musuh-musuh Israel. Pada mulanya adalah hari raya paganis berupa pesta rakyat (kamaval) umat Yahudi. Di dalamnya, para imam membolehkan minum khamar dan mabuk­mabukkan hingga sulit untuk membedakan antara barakah Mordekhai dan kutukan Haman. Dalam tradisi Yahudi. hari raya Purim juga dinamai dengan hari raya Mordekhai (II Makabe 15:36-37).

34). Penutur sendiri memberikan kesaksian bahwa bagian terbesar dari kitab ini diambil dari tulisan-tulisan Nehemia (1:1). Tetapi, tidak diragukan lagi bahwa sejak fasal 8 hingga fasal 12: 26 dan dua ayat terakhir dari fasal 12 yang merupakan dua ayat sisipan di dalam kata-kata Nehemia adalah tambahan dari penutur yang hidup setelah Nehemia.

Nehemia l:l-2 Riwayat Nehemia bin Hakhalya. Pada bulan Kislew tahun kedua puluh, ketika aku ada di puri Susan, datanglah Hanani, salah seorang dari saudara-saudaraku dengan beberapa orang dari Yehuda. Aku menanyakan mereka tentang orang-orang Yahudi vang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem. Sedang kalimat sisipan itu nampak jelas pada ayat (12:26): Mereka itu hidup pada zaman Yoyakim bin Yesua bin Yozadak dan pada zaman hupati Nehemia dan imam Ezra, ahli kitab itu. Juga dua kalimat sisipan berikut ini (12:46,47): Karena sudah sejak dahulu, pada zaman Daud dan Asaf, ada pemimpin-pemimpin penyanyi. ada nyanyian pujian dan nyanyian syukur bagi Allah. Pada zaman Zerubabel dan Nehemia semua orang Israel memberikan sumbangan bagi para penyanyi dan para penunggu pintu gerbang sekadar yang perlu tiap-tiap hari dan mempersembahkan persembahan kudus kepada orang-orang Lewi. Dan orang-orang Lewi mempersemhahkan persembahan kudus kepada anak-anak Harun.

35). Nehemia 12:23 Kepala-kepala kaum keluarga anak-anak Lewi tercatat dalam kitab sejarah sampai zaman Yohanan bin Elyasib.

36). I Makabe 16:24 Tercatat di dalam kitab Hari-Hari kekahinan agungnya sejak menjabat kahin agung setelah ayahnya.

37). Ester 9:32 Demikianlah perintah Ester menetapkan perihal Purim itu, kemudian dituliskan di dalam kitab.

38). Nehemia 12:10-11 Yesua memperanakkan Yoyakim, dan Yoyakim memperanakkan Elyasib, dan Elyasib memperanakkan Yoyada, dan Yoyada memperanakkan Yonatan, dan Yonatan memperanakkan Yadua.

39). Alkitab terjemahan resmi bahasa Indonesia: Tentang orang­orang Lewi, para kepala kaum keduarga mereka tercatat pada zaman Elyasib, Yovada, Yohanun dan Yadua, sedang para imam tercatat sampai pemerintahan Darius, orang Persia itu.

40). Golongan Saduki dari kata Zadok, imam besar, hidup sezaman dengan Salomo (II Samuel 8:17, I Raja-Raja 1:34). Yehezkial menganggap mereka satu-satunya golongan yang berhak menjabat imam yang sah (Yehezkia1 40:46, 43:19). Mendirikan partai keimaman sekitar tahun 200 -yakni pada waktu yang sudah sangat kemudian- bergantung pada keluarga-keluarga kaya. Mereka cenderung menerima adat-adat Yunani, sejak penguasaan Yunani atas Syam. Oleh karena itu, mereka disingkirkan oleh para imam Makabe yang ingin mengembalikan adat istiadat kuno Yahudi. Namun partai mereka menguat pada masa pemerintahan Yahya Hirkan yang menindas golongan Farisi. Pada masa pemerintahan ratu Alexandra, golongan Farisi membalas dendam kepada musuh-musuhnya. Sedang pada masa raja Herodus, mereka mengemban tugas keagamaan dan sudah beradaptasi dengan kekuasaan asing. Memandang Almasih sebagai seorang revolusioner yang ingin menggulingkan rezim Roma (Yohanes 11:48). Mereka menerapkan syariat Musa secara utuh, tetapi dalam waktu yang sama tidak mempercayai pembangkitan jasmani (Mat 22:23-33, Kis 3:1-2, 23:6-9), adanya malaikat (Kis 23:8) dan asuhan (inayah) Tuhan. (HH.)

41). Ezra 2:64 Seluruh jemaah itu bersama-sama ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang,

42). Nehemia 7:5 Maka Allahku memberikan dalam hatiku rencana untuk mengumpulkan para pemuka, para penguasa dan rakyat, supaya mereka dicatat dalam silsilah. Lalu kudapati daftar silsilah orang-orang yang lebih dahulu berangkat pulang. Dalam daftar itu kudapati tertulis:

43). Nehemia 7:66 Seluruh jemaah itu bersama-sama ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang,

44). Di antara nubuat (penglihatan) yang diberikan oleh Yeremia kepada Yoyakhin (Yekhonya) dalam fasal 22 dari kitab Yeremia (ayat 30) adalah: Beginilah firman TUHAN: "Catatlah orang ini sebagai orang yang tak punya anak, sebagai laki-laki yang tidak pernah berhasil dalam hidupnya; sebab seorangpun dari keturunannya tidak akan berhasil duduk di atas takhta Daud dan memerintah kembali di Yehuda. "

Sedang kenyataan yang sesungguhnya sebagaimana diceritakan dalam kitab II Raja-Raja, Yeremia dan I Tawarikh adalah: Akhir kitab II Raja-Raja (25:28-30) Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberi kedudukan kepadanya lebih tinggi dari pada kedudukan raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel iu boleh mengganti pakaian penjaranya dan boleh selalu makan roti di hadapan raja selama hidupnya. Dan tentang belanjanya, raja selalu memberikannya kepadanya, sekadar yang perlu tiap-tiap hari, selama hidupnya.

Akhir kitab Yeremia (52:32-34) Ewil-Merodakh berbicara baik-baik dengan dia dan memberikan kedudukan kepadanya lebih tinggi dari pada kedudukun raja-raja yang bersama-sama dengan dia di Babel. Yoyakhin boleh rnengganti pakaian penjaranya dan holeh selalu rnakan roti di hadapan raja selama hidupnya. Dan tentang belanjanya, raja Babel selalu memberikannya kepadanya, sekadar yang perlu tiap-tiap hari, selama hidupnya, sampai hari matinya.

I Tawarikh 3:17-19 3:17 Anak-anak Yekhonya, orang kurungan itu, ialah Sealtiel, anaknya, lalu Malkhiram, Pedaya, Syenasar, Yekamya, Hosama dan Nedabya. Anak-anak Pedaya ialah Zerubabel dan Simei, dan anak-anak Zerubabel ialah Mesulam dan Hananya; Selomit ialah saudara perempuan mereka;

45). Yeremia 39:7 Kemudinn mata Zedekia dibutakannya, lalu ia dibelenggu dengan rantai tembaga untuk dibawa ke Babel.

46). Daniel 12:2 Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.

 

 

 

 

 

KRITIK BIBEL