KRITIK BIBEL

 

 

BAB V:
Mandat Tuhan sang Rasul,
Wahyu Nabi dan Ajaran sang Guru
 

Pembahasan tentang apakah para rasul ketika

menulis surat-surat mereka itu sebagai rasul dan nabi atau sebagai guru, kemudian pembahasan tentang peran para rasul

 

 

Seseorang tidak bisa membaca Perjanjian Baru tanpa meyakini terlebih dahulu bahwa para rasul (apostle)1) itu juga para nabi. Tetapi perlu diketahui para nabi sendiri tidak selamanya berbicara berdasarkan wahyu. Bahkan, jarang sekali mereka berbicara dengan cara seperti itu. Dengan demikian, kita bisa bertanya, apakah para rasul itu menulis surat-surat mereka dalam kapasitas sebagai nabi dan berdasarkan wahyu atau mandat khusus, seperti halnya Musa, Yeremia dan lain-lain, atau sebagai manusia biasa dan seorang guru. Apalagi, Paulus dalam surat pertama kepada penduduk Korintus (14:6)2) membedakan dua jenis pekabaran. Jenis pertama bergantung pada wahyu sedang jenis kedua bergantung kepada pengetahuan biasa. Dengan demikian kita bisa bertanya lagi apakah dalam' surat-surat itu, para rasul bersabda layaknya seorang nabi atau mengajar layaknya seorang ahli fikih. Sekarang, jika kita meneliti cara penuturan surat-surat itu, kita akan mendapatkannya jauh berbeda dengan cara nabi dalam menuturukan sesuatu. Para nabi selalu menekankan bahwa diri mereka berbicara berdasarkan mandat dari Tuhan, seperti: inilah firman Tuhan, tuhan para tentara berfirman, denqan perintah Tuhan... dan seterusnya. Selanjutnya, penekanan semacam ini tidak hanya terjadi dalam sabda-sabda yang mereka sampaikan di depan umum, tetapi juga dalam surat-surat yang mengandung wahyu. Misalnya surat Eli kepada Yoram (lihat kitab II Tawarikh 21:12) yang juga dibuka dengan kata-kata berikut ini: "sebab itu beqinilah firman TUHAN...". Lain halnya dengan surat-surat para rasul. Di dalamnya, kita tidak mendapatkan sesuatu yang semisal dengan itu. Bahkan, sebaliknya, dalam surat pertama kepada Jemaat di Korintus (7:40),3) Paulus berbicara berdasarkan pendapatnya sendiri. Lebih dari itu, dalam banyak ayat, kita mendapatkan cara berbicara yang menyiratkan jiwa yang bimbang, seperti Surat kepada Jemaat di Roma (3:38) yang menyebutkan: "Karena kami mengira..."4)  Demikian juga dengan ungkapan: "Sebab aku mengira..." yang tersebut dalam fasal 8 ayat 18. Selain itu, kita juga menemukan cara bertutur yang sangat jauh dari cara bertutur seorang nabi, seperti: "Hal ini kukatakan kepadamu sebaqai pembolehan, bukan sebagai perintah. " (lihat I Kor 7:6),5)  juga ayat yang mengatakan: "... Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebaqai seorang yanq dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah." (I Kor 7:25) dan ayat-ayat lain yang serupa. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa ketika mengatakan -dalam beberapa ayat lalu- bahwa dirinya memegang atau tidak memegang mandat dari Tuhan, tidak berarti bahwa dirinya benar­benar mendapatkan wahyu atau mandat dari Tuhan. Sebaliknya wahyu atau mandat yang dia maksudkan itu hanyalah ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Almasih kepada murid-muridnya di atas gunung.6)  Dari sisi lain, jika kita mengamati cara para rasul dalam menyampaikan dogma Injil, akan tampak oleh kita bahwa cara itu jauh berbeda dengan cara penyampaian para nabi. Mereka selalu menggunakan penyimpulan (argumentasi) dalam setiap kesempatatan, sehingga tidak tampak sedang menyampaikan nubuat tetapi sedang berdebat. Sementara itu, nubuat hanya berisi dogma-dogma dan perintah­perintah saja, karena Allah sendirilah yang berbicara, yakni Allah yang tidak menyimpulkan, tetapi hanya memerintah berdasarkan kekuasaan mutlak, sesuai dengan zat-Nya. Di samping itu, wewenang nabi memang tidak sejalan dengan penyimpulan. Oleh karena itu barangsiapa ingin membuktikan akidah-akidah yang mereka anut dengan penyimpulan maka dia telah menundukkan akidah-akidah itu di bawah penilaian pribadi. Sepertinya, inilah yang dilakukan oleh Paulus. Dia memang benar-benar menyimpulkan. Misalnya dalam surat pertama kepada Jemaat di Korintus (10:15) dia mengatakan, "Aku berbicara kepadamu sebagai orang-orang yang bijaksana. Pertimbangkanlah sendiri apa yang aku katakan!" Terakhir, para nabi menyampaikan kepada kita hal-hal yang diwahyukan, bukan hal-hal yang bisa diketahui dengan cahaya alami, yaitu penyimpulan. Meskipun dalam Pentateukh, kita bisa menemukan hal-hal yang sepintas lalu disimpulkan, jika kita amati lagi dengan lebih jeli akan tampak mustahil bisa dianggap sebagai argumen. Misalnya, saat Musa mengatakan kepada bani Israel dalam kitab Ulangan (31:27), "... Sedanqkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati." Ungkapan ini tidak boleh kita pahami bahwa Musa ingin meyakinkan bani Israel dengan penyimpulan bahwa setelah dirinya mati mereka pasti menjauhi penyembahan yang benar kepada Allah. Dalam kasus ini, argumen itu memang nyata-nyata batil. Dalilnya bisa kita ambil dari Alkitab sendiri. Terbukti, orang Israel tetap meniti jalan lurus pada masa Yosua dan setelah itu pada masa pemerintahan Samuel, Daud, Sulaiman... dan seterusnya. Dengan demikian, ungkapan Musa ini adalah sebuah penekanan etik yang dia sampaikan sebagai seorang orator yang meramalkan kehancuran bangsa Israel di masa depan dengan gaya yang mengandung spirit yang sama dengan spirit gambaran yang ada dalam benaknya mengenai masalah ini. Alasan yang menghalangi saya untuk menganggap Musa sedang berbicara sebagai pribadi dengan tujuan agar ramalannya bisa diterima oleh bangsa Israel secara lebih luas adalah ayat 21 dari fasal yang sama.7)  Dalam ayat itu disebutkan bahwa kekalahan masa depan ini telah diwahyukan kepadanya dengan ungkapan yang berbeda. Selanjutnya, dengan cara ini pula kita harus memahami semua argumen Musa dalam Pentateukh. Argumen-argumen itu bukanlah pembuktian dengan akal, tetapi berbagai jenis gaya berbicara untuk mengungkapkan perintah Allah secara lebih efektif. Kendati begitu, saya tidak mengingkari secara total kemampuan para nabi dalam berargumen. Saya hanya menekankan bahwa semakin kuat argumen mereka, pengetahuan mereka itu akan lebih dekat kepada masalah-masalah wahyu daripada pengetahuan aiamiah. Apalagi kita semua mengakui bahwa para nabi memiliki pengetahuan super natural (alamiah) mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dogma-dogma murni, perintah-perintah dan hukum-hukum yang mereka serukan. Oleh karena itu, Musa sebagai nabi terbesar tidak pernah melakukan penyimpulan dalam arti yang sebenarnya.

Lain halnya dengan para rasul. Saya kira Paulus tidak menulis penyimpulan-penyimpulan panjang dan argumen-argumen yang ada di dalam Surat Kepada Jemaat di Roma berdasarkan wahyu super natural. Demikianlah, cara dan metode para rasul dalam berbicara dan berdiskusi -sebagaimana terlihat dalam surat-surat mereka­menunjukkan dengan betul-betul terang bahwa tulisan­tulisan itu tidak berasal dari wahyu atau mandat dari Tuhan, tapi sekadar penilaian-penilaian pribadi dan alamiah bagi penulisnya. Selain itu juga hanya memuat pesan-pesan persaudaraan yang disertai dengan basa-basi dan ungkapan manis yang betul-betul berbeda dengan metode seorang nabi dalam mengungkapkan wewenangnya. Hal ini misalnya terlihat dalam permintaan maaf yang disampaikan oleh Paulus (Surat kepada Jemaat di Roma 15:15): "...dengan agak berani telah menulis kepadamu, wahai kawan-kawan." Selanjutnya, kita juga mendapatkan kesimpulan yang sama di saat tidak menemukan sesuatu pun yang menunjukkan bahwa para rasul itu pernah mendapatkan perintah untuk menulis. Sebaliknya, yang mereka terima hanya perintah untuk berdakwah8)  di semua tempat yang mereka tuju dan mendukung perkataan­perkataan mereka dengan mukjizat-mukjizat. Kehadiran mereka dibutuhkan, demikian juga dengan mukjizat yang mereka lakukan itu untuk membimbing manusia kepada agama dan mengukuhkan mereka di atas agama itu. Hal semacam ini terlihat jelas dalam kata-kata Paulus sendiri dalam suratnya kepada Jemaat di Roma (1:11): "Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, "

Sampai di sini barangkali ada yang menyangkal bahwa dengan cara yang sama, kita juga bisa menyimpulkan bahwa pekabaran para rasul itu sendiri juga tidak mengandung sifat kenabian. Misalnya, ketika mereka pergi berdakwah di sana-sini, mereka tidak melakukannya berdasarkan mandat khusus selayaknya para nabi. Dalam Perjanjian Lama, misalnya kita membaca bahwa Yunus pergi ke Niniveh untuk melakukan pekabaran dan dalam waktu yang sama juga membaca bahwa Yunus secara khusus diutus kepada mereka itu serta diberi wahyu tentang apa yang harus dia kabarkan. Juga dikisahkan kepada kita secara terperinci bahwa Musa pergi ke Mesir sebagai utusan Allah, juga dikisahkan dengan cara yang sama apa saja yang harus dia sampaikan kepada bani Israel dan raja Firaun serta mukjizat apa saja yang bisa meyakinkan mereka. Yesaya, Yeremia dan Yehezkial juga mendapatkan perintah yang jelas untuk melakukan pekabaran kepada bani Israel. Terakhir, para nabi tidak mengabarkan sesuatu pun kecuali yang mereka terima dari Allah seperti diterangkan dalam kitab suci. Berbeda dengan para rasul yang pergi ke sana kemari untuk melakukan pekabaran. Kita tidak pernah mendapatkan dalam Perjanjian Baru suatu keterangan yang menjelaskan bahwa mereka pernah menerima sesuatu yang mirip dengan yang diterima oleh para nabi itu atau paling tidak, kita sangat jarang menemukannya. Bahkan terkadang kita mendapatkan yang sebaliknya. Ada beberapa ayat yang menyebutkan dengan terus terang bahwa mereka memilih sendiri tempat-tempat yang akan mereka dakwahi. Hal ini misalnya terlihat jelas dalam perdebatan yang berakhir dengan pertengkaran antara Paulus dan Barnabas (lihat Kisah Para Rasul 15:37, 38... dan seterusnya).9)  Kita juga menemukan mereka pernah berusaha pergi ke tempat tertentu, tetapi gagal seperti dibuktikan oleh Paulus sendiri (Surat Kepada Jemaat di Roma 1:13): "...aku telah sering berniat untuk datang kepadamu -tetapi hingga kini selalu aku terhalang-­" Hal serupa juga dia sebutkan dalam pasal terakhir dari Surat Pertama Kepada Jemaat di Korintus, ayat 12: "Tentang saudara Apalas: telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang... ". Dari gaya bahasa semacam ini, juga dari perdebatan yang terjadi antar para rasul dan tidak adanya teks-teks yang menyebutkan bahwa mereka pergi berdakwah berdasarkan mandat dari Allah selayaknya para nabi, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka melakukan pekabaran itu sebagai guru dan bukan nabi. Jika ada yang menyangkal seperti itu jawabannya sangatlah mudah jika kita mengamati perbedaan misi yang diemban oleh masing­masing para rasul dan para nabi Perjanjian Lama. Kelompok yang terakhir ini tidak melakukan pekabaran kepada seluruh bangsa, tetapi kepada bangsa-bangsa tertentu saja. Oleh karena itu, masing-masing nabi harus mendapatkan mandat khusus dan jelas. Berbeda dengan rasul yang menyeru semua manusia kepada agama baru. Di mana pun mereka berada selalu melaksanakan mandat Almasih. Sebelum pergi berdakwah, mereka tidak memerlukan wahyu yang menjelaskan tema-tema yang harus dikabarkan karena mereka adalah murid-murid Almasih yang pernah mendapatkan sabda, "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. " (Matius 10:19, 20). Dengan demikian kita bisa menyimpulkan bahwa para rasul mengetahui dengan wahyu khusus hal-hal yang harus mereka kabarkan secara terang­terangan dan dalam waktu yang sama harus mereka dukung dengan mukjizat. Adapun hal-hal yang cukup mereka kabarkan saja, tanpa dukungan mukjizat, juga tanpa ditulis dan disampaikan secara terus terang itu telah mereka tulis atau katakan karena mereka mengetahuinya (dengan pengetahuan alami/biasa). Tentang masalah ini, lihat Surat Pertama Kepada Jemaat di Korintus (14:6).10) Selanjutnya, kita tidak perlu menghiraukan catatan yang mengatakan: Semua surat dimulai dengan menyebutkan rasul sebaqai rasul. Hal ini, karena selain diberi kemampuan untuk bernubuat, rasul juga diberi otoritas yang diperlukan untuk berdakwah; sebagaimana akan saya jelaskan saat ini. Kita katakan sekali lagi: mereka memang menulis surat-surat itu sebagai rasul dan karena alasan ini pulalah tiap orang dari mereka mengaku sebagai rasul pada awal suratnya. Mungkin sekali, mereka ingin menarik perhatian pembaca dengan cara yang lebih mudah. Yaitu dengan menunjukkan bahwa diri mereka adalah pemberita yang dikenal oleh segenap kaum mukminin, juga menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mengabarkan agama yang benar dan jalan keselamatan dengan bukti-bukti yang jelas. Sebenarnya, semua yang dia katakan dalam surat-surat mereka mengenai misi yang harus diemban oleh para rasul dan roh kudus yang berada diri mereka itu -sepengatahuan saya- berkaitan dengan pekabaran mereka. Kecuali beberapa paragrap yang menggunakan ungkapan roh Allah atau roh kudus yang berarti pendapat yang benar dan lurus yang diperolah dari Tuhan... dan seterusnya. Misalnya, Paulus pernah mengatakan dalam surat pertama kepada Jemaat di Korintus (7:40): "Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat, bahwa aku juga berada di dalam Roh Allah." 11) Roh Allah yang dia maksud dalam teks ini adalah pendapat pribadinya. Konteks pembicaraan menunjukkan demikian. Dalam ayat itu, Paulus seolah ingin mengatakan, "Saya menilai bahwa janda yang tidak mau kawin lagi itu juga bahagia menurut pendapat pribadi saya. Saya yang memutuskan untuk hidup membujang juga merasa berbahagia." Selain ini, sebetulnya masih ada banyak teks lain yang menunjukkan maksud yang sama, tetapi tidak perlu kita sebutkan di sini. Namun, karena kita ingin membuktikan bahwa surat-surat para rasul itu telah ditulis berdasarkan cahaya alami saja, sekarang kita harus mengetahui bagaimana dengan pengetahuan alami itu mereka bisa mengabarkan hal-hal yang berada di luar batas-batasnya. Dalam hal ini, jika kita memperhatikan teori yang kita paparkan dalam fasal lalu (Fasal Satu) kesulitan-kesulitan itu akan hilang. Meskipun kandungan Taurat selalu berada di luar batas pemahaman kita, kita bisa menjelaskannya dengan penuh percaya diri dengan syarat tidak boleh menerima ketentuan kecuali yang diambil dari kitab suci itu sendiri. Dengan cara yang sama, para rasul bisa mengambil banyak kesimpulan dari segala sesuatu yang mereka lihat, dengar dan ketahui dengan wahyu kemudian mereka sampaikan kepada orang lain, jika mereka mau. Di samping itu, meskipun agama sebagaimana dikabarkan oleh para rasul -yaitu sekadar penuturan kehidupan Almasih- berada di luar lingkup nalar, dengan cahaya naluri setiap orang dari mereka mampu mengetahui intisari agama yang secara prinsipil -sebagaimana dogma­dogma Almasih-12 tersusun dari ajaran-ajaran etika. Terakhir, para rasul tidak memerlukan cahaya super natural untuk merekayasa agama -setelah mereka buktikan kebenarannya dengan mukjizat- agar sesuai dengan tingkat pemahaman manusia dan selanjutnya bisa mereka dipahami dengan mudah, sebagaimana juga tidak memerlukan cahaya itu untuk menegur orang lain. Dua hal inilah tujuan ditulisnya surat-surat itu. Maksud saya, surat-surat itu ditulis dengan tujuan untuk menyeru dan memperingati manusia dengan cara yang dianggap paling cocok oleh setiap rasul untuk mengukuhkan mereka dalam agama itu. Selanjutnya, kita perlu mengingat lagi sesuatu yang pernah kita sebutkan sebelum ini, yaitu bahwasanya para rasul tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengabarkan kehidupan Almasih, dalam kapasitas mereka sebagai nabi, yakni mendukung pekabaran itu dengan mukjizat, tetapi juga memiliki wewenang yang diperlukan untuk berdakwah dan memberikan peringatan dengan cara yang dianggap paling pas oleh setiap rasul. Dua tujuan ini pernah disebutkan oleh Paulus dalam surat kedua kepada Jemaat di Timotius (1:11): "Yanq untuknya aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru kepada bangsa-bangsa, aku juga ditetapkan sebaqai pemberita dan rasul. Aku katakan kepada kalian semua dengan yang sebenar-benarnya, aku tidak berdusta sebaqai guru bangsa­ bangsa di dalam keimanan yang benar."13 Perhatikan dengan baik ungkapan, "Aku katakan kepada kalian semua dengan yang sebenar-benarnya". Dengan kata-kata ini, Paulus menuntut diakusinya dua sifat itu sekaligus, yaitu sifat rasul dan sifat guru. Selanjutnya, dalam surat kepada Jemaat di Filemon (ayat 8), Paulus juga pernah menyebutkan wewenang yang membolehkannya untuk menegur semua orang, yaitu: "Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan... " Dalam ayat ini, kita harus mengamati, seandainya saja Paulus telah menerima wahyu dari Allah dalam kapasitasnya sebagai nabi sudah barang tentu dia tidak akan mungkin mengubah perintah-perintah Allah menjadi permohonan. Dengan demikian, kita harus mengakui bahwa Paulus sedang berbicara mengenai kebebasan untuk menegur orang lain yang dia miliki dalam kapasitasnya sebagai guru dan bukan nabi.

Namun demikian, dari keterangan yang baru lalu itu tidak tampak secara pasti bahwa dalam kegiatan mengajar itu para rasul bisa memilih jalan yang mereka anggap paling baik. Yang tampak hanyalah bahwa misi mereka itu memberikan sifat guru dan dalam waktu yang sama juga memberikan sifat nabi. Sebenarnya, kita bisa kembali ke nalar yang memang menetapkan bahwa barangsiapa memiliki wewenang untuk mengajar, secara otomatis juga memiliki wewenang untuk memilih jalan yang dia anggap paling baik. Tetapi sebaiknya kita hanya membuktikan hal itu dengan Alkitab saja. Dalam masalah ini, ada beberapa ayat yang menyebutkan secara terus terang bahwa setiap rasul telah memilih jalan pribadi untuk kegiatan pekabarannya. Misalnya, Paulus mengatakan dalam suratnya kepada Jemaat di Roma (15:20): "Dan aku berusaha tidak memberitakan Injil di suatu tempat, di mana nama Kristus telah dikenal, supaya aku tidak membanqun di atas dasar, yang telah diletakkan oranq lain."14  Dapat dipastikan, jika semua rasul mengikuti jalan yang sama dalam berdakwah dan semuanya juga membangun agama Almasih di atas dasar yang sama pula, Paulus tidak akan bisa menyebut dasar yang dipakai sandaran oleh rasul lain itu sebagai "dasar yang diletakkan oleh orang lain". Saat itu, semua rasul akan memiliki dasar yang sama. Berhubung Paulus sudah menyebutnya dengan "dasar yang diletakkan oleh orang lain'; kita harus menyimpulkan bahwa setiap rasul mendirikan agama di atas dasar yang berbeda, juga harus menyimpulkan bahwa para rasul saat menjalankan misi mereka sebagi guru, betul-betul seperti guru-guru lain. Masing-masing mereka menggunakan metode khusus dan memilih untuk mengajar orang-orang yang masih benar-benar bodoh dan belum pernah belajar bahasa dan berbagai bidang ilmu -termasuk matematika yang kebenarannya tidak diragukan oleh siapa pun- kepada orang lain. Dari sisi lain, jika kita membaca surat-surat itu dengan teliti, kita akan mendapatkan bahwa para rasul, meskipun menyepakati agama yang sama, landasan-landasan yang mereka pakai untuk menyampaikannya tampak berbeda. Misalnya, untuk mengokohkan orang-orang di atas agama dan untuk menjelaskan kepada mereka bahwa jalan keselamatan hanya terwujud berkat karunia ilahi, Paulus mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh berbangga dengan perbuatan­perbuatannya. Menurutnya, yang boleh dibanggakan hanya iman saja. Perbuatan-perbuatan itu tidak bisa menyelamatkan seseorang (lihat Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 3:27-28).15  Berbeda dengan Yakobus yang  menyerukan dalam suratnya bahwa keselamatan manusia juga terwujud berkat perbuatan-perbuatannya, bukan berkat imannya saja (lihat Surat Yakobus 2:24).16) Oleh Yakobus, seluruh ajaran agama dibuat terbatas dalam lingkup prinsip-prinsip yang sedikit ini. Jadi, dia mengesampingkan semua argumentasi Paulus.

Akhirnya, tidak diragukan lagi bahwa berbedanya dasar yang dipakai oleh masing-masing rasul yang sudah menjadi penyebab terjadinya pertikaian dan perpecahan yang dikeluhkan oleh gereja sejak masa mereka itu, akan terus dikeluhkan oleh gereja hingga datang suatu hari di mana agama akan dipisahkan dari renungan-renungan filosofis dan menjadi sebatas jumlah kecil dogma sangat mudah yang tetah diserukan oleh Almasih sendiri. Ketika itu, para rasul tidak bisa melakukan hal ini karena orang­orang tidak mengenal Injil sama sekali. Maka, untuk menghindari terjadinya benturan terlalu keras antara orang-orang itu dengan keyakinan baru, para . rasul mengkondisikan agama hingga sesuai dengan ruh zaman mereka (lihat surat pertama Paulus kepada Jemaat di Korintus 9:19, 20... dan seterusnya)17)  dan mendirikannya diatas asas-asas yang paling populer dan paling bisa diterima pada masa itu. Oleh karenanya, tidak ada seorang rasul pun yang berfilsafat seperti Paulus yang memberitakan Injil kepada seluruh bangsa. Sedang rasul-rasul lain yang hanya berdakwah di kalangan bangsa Yahudi yang terkenal membenci filsafat telah menyesuaikan diri dengan kebiasaan bangsa Yahudi ini juga (lihat surat Paulus kepada Jemaat di Galatia 2:2... dan seterusnya).18) Mereka mengajarkan agama secara murni dan bersih dari renungan-renungan filosofis. Alangkah bahagianya zaman kita ini, jika kita bisa melihat agama ini juga terbebas dari mitologi.

 

 


 

Catatan :

1). Bukan rasul dalam terminologi Islam

2). Kor 14:6 Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?

3). I Kor 7:40 Tetapi rnenurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat. bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.  

4). Para ahli tafsir menerjemahkan kata Yunani "Iogismai" yang tersebut dalam paragrap ini dengan "menyimpulkan". Dalam hal ini, mereka mengatakan, "Paulus menggunakannya dengan arti `sunlogismai"', padahal kata Yunani "logismai" ini sepadan dengan kata Ibrani "hasyab". yakni mengira atau menduga. Arti ini juga sesuai dengan naskah Suryani. Dalam terjemahan itu (jika benar-benar terjemahan, karena masih meragukan. Penerjemah dan waktu munculnya tidak diketahui, di samping itu bahasa asli para rasul juga bahasa Suryani) teks itu tersebut demikian: "Metraghenan hochiel". Sepertinya. Tremellius benar ketika menerjemahkan ungkapan ini dengan, "Nous jugeons donc" (dengan demikian kita mengira) karena sepadan dengan kata "reghion" yang menurunkan kata kerja "raghenan (yang mengira/melihat)". Selanjutnya, kata "reghiono" yang dalam bahasa Ibrani "raghava" menunjukkan arti "kehendak". Dengan demikian. ungkapan "Metraghenan hochiel" itu berarti "kami berkehendak" atau "kami mengira". (Sp)

5). Dalam Alkitab terjemahan baru bahasa Indanesia tersebut demikian: "Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah. " 

6). Pesan-pesan Almasih di atas gunung yang diriwayatkan oleh Santo Matius dalam Injilnya, fasal 5 dan seterusnva.

7). Ulangan 31:21 Maka apabila banyak kali mereka ditimpa malapetaka serta kesusahan, maka nyanyian ini akan menjadi kesaksian terhadap mereka...

8).  Spinoza membedakan kegiatan dakwah (pemberitaan) para rasul dengan kegiatan tulis-menulis mereka. Yang pertama sebagai nabi dan yang kedua sebagai guru biasa. (pen.)

9). Kis 15:37-39 Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik mernbawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menirnbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juka sertanya berlayar ke Siprus.

10). I Kor 14:6 Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyarnpaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat utau pengajaran?

11). Dalam Alkitab terjemahan baru bahasa Indonesia: Tetapi menurut pendapatku. ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah.

12). Pesan-pesan Almasih di atas gunung yang diriwayatkan oleh Santo Matius dalam Injilnya, fasal 5 dan seterusnya. (Sp)

 

13). Dalam Alkitab terjemahan baru bahasa Indonesia, ayat ini tersebut demikian: "Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. " Dalam Alkitab versi King James: Whereunto I am appointed a preacher, and an apostle, and a teacher of the Gentiles.

14).  Dalam Alkitab terjemahan baru bahasa Indonesia tersebut demikian: Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kelwrmatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, dimana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain.

 

15).  Roma 3:27, 28 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, rnelainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukurn Taurat.

16).  Yakobus 2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

17). I Kor 9:19, 20 Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.

18). Gal 2:2 Aku pergi berdasarkan suatu pernyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi -dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang-, supaya jangan dengan percuma aku berusalaa atau telah berusaha.

 

 

KRITIK BIBEL