MASA-IL DINIYYAH II

 

BAB V

BEBERAPA KESALAHAN DALAM MELAFALKAN DZIKIR

 

1.     AAH () BUKAN NAMA ALLAH

 

 

Termasuk perkara yang wajib dijauhi adalah perkataan al-Baijuri dalam Syarh Jauharat at-Tauhid sebagai berikut: Orang yang sedang sakit sebaiknya mengucapkan (aah), karena aah termasuk nama Allah. Ini adalah kesalahan yang fatal dan tidak dapat diterima, karena bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah mengenai perkataan aah .. aah.. ketika seseorang sedang menguap, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Ibn al-Mundzir dalam kitabnya al-Ausath bahwasanya Rasulullah bersabda:

 

ȡ : " " ( : )

:

Maknanya:

 

Baik dalam hadits shahih ataupun dlaif bahkan maudlu sekalipun tidak pernah ada keterangan bahwa aah.. ahh.. adalah termasuk nama Allah. Yang ada hanyalah apa yang diriwayatkan oleh ar-Rafii dengan sanad yang rusak dalam kitabnya Tarikh Qazwain bahwasanya Aisyah berkata: Suatu ketika Rasulullah mendatangiku, sementara di rumahku ada seseorang yang sedang sakit dan merintih, kemudian beliau berkata: Biarkanlah dia merintih, karena suara rintihan itu termasuk nama-nama Allah. Suara rintihan itu bermacam-macam bentuknya, kalau dihitung sekitar ada 20 macam bentuk suara rintihan, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh al-Lughawi Murtadla az-Zabidi dalam Syarh al-Qamus, diantaranya adalah sebagai berikut:

Setelah memberikan beberapa contoh tersebut beliau berkata: Ada 22 macam bentuk suara yang semuanya itu timbul akibat reaksi dari kesakitan, rintihan dan perasaan sedih.

 

Tidak ada seorangpun dari para ulama bahasa yang mengatakan bahwa suara-suara rintihan tersebut termasuk nama-nama Allah. Bagaimana bisa sebagian orang yang memiliki kebiasaan menyeleggarakan majlis dzikr dimana pada waktu berdzikir dalam berdiri dan duduk sambil berpegangan tangan dan bergoyang-goyang mereka menyebutkan kata-kata aah, mereka hanya menyebutkan kata aah bukan kata-kata rintihan yang lain. Sementara yang tersebut dalam hadits maudlu ini adalah kata-kata rintihan, bukan kata aah, kalau seandainya mereka berdalih dengan hadits yang maudlu ini untuk membenarkan perbuatan mereka, maka sah saja kalau dikatakan bahwa kata-kata rintihan selain aah seperti aawuh; awwataah dan yang lainnya termasuk nama-nama Allah, tapi mereka tidak mengakui itu, mereka hanya mengatakan bahwa yang termasuk nama Allah adalah aah saja.

 

 

Adanya kesepakatan dari ulama-ulama mazhab empat bahwasanya suara rintihan itu bisa membatalkan shalat, bisa dijadikan dalil bahwasanya suara-suara rintihan tersebut bukan termasuk nama Allah.

 

al-Azizi dalam kitabnya as-Siraj al-Munir Syarh al-Jami as-Shaghir ketika menjelaskan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Imam as-Suyuthi mengatakan: Guruku berkata: Ini adalah hadits hasan lighoirhi. Perkataannya ini tidak boleh dibuat pegangan, karena baik al-Azizi ataupun gurunya (Muhammad Hijazi as-Syarani) tidak termasuk ulama-ulama hadits. Sementara kitab al-Jami ash-Shaghir sendiri bukan termasuk kitab-kitab yang khusus menyebutkan hadits-hadits shahih dan hasan saja, didalamnya terdapat banyak hadits shahih dan hasan, tapi banyak juga yang dlaif dan ada sedikit yang maudlu.

 

al-Hafizh Ahmad ibn as-Shiddiq al-Ghammary dalam kitabnya al-Mughayyir ala al-Jami ash-Shagir mengatakan bahwa hadits rintihan tersebut adalah dadits maudlu , dan beliau juga menulis sebuah risalah khusus menerangkan tentang hadits tersebut.

 

Kalau kemudian orang-orang Syadziliyyah menggunakan kata-kata aah dalam dzikr mereka, maka ini hanyalah suatu hal yang baru yang mereka ada-adakan sendiri, bukan diperoleh dari guru mereka as-Syeikh Abu al-Hasan asy-Syadzili radliyallahu anhu, sebagaimana dikatakan oleh salah seorang guru besar dalam thariqat asy-Syadziliyyah di Madinah yaitu as-Syeikh Muhammad Zhafir al-Madani dalam salah satu risalahnya.

 

Sebagian orang-orang yang mengaku-ngaku sufi mengira bahwasanya makna awwah adalah Nabi Ibrahim yang dulu sering berdzikir dengan kata-kata aah, ini jelas tidak benar, karena makna awwah yang sebenarnya adalah orang yang mengungkapkan rasa takutnya kepada Allah taala, sebagaimana dijelaskan olah ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitabnya al-Mufradat. Ada sebuah riwayat dari Ibnu Masud berkata:

:

Maknanya: al-Awwah artinya yang pengasih (diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dengan sanad yang hasan).

 

 

2.     BACAAN TAKBIR YANG BENAR

 

Hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam membaca takbir adalah bahwa ketika membaca lafazh Allah ( ) tidak boleh membacanya pendek dengan membuang bacaan panjang (alif al madd) di atas Laam . al Khalil ibn Ahmad mengatakan : "Tidak boleh dibuang alif dari nama ( ) " (lihat Lisan al 'Arab, Juz 13, h. 467)

 

Demikian juga tidak boleh membuang ha' di akhir bacaan takbir tersebut sehingga menjadi (Alla-).

 

Juga tidak boleh memanjangkan sehingga menjadi karena adalah bentuk plural (Jama') dari kata tunggal (mufrad) - Kabar- yang berarti gendang besar sehingga seseorang yang membaca demikian berarti telah jatuh pada Tasybih; menyerupakan Allah dengan gendang besar dan ini jelas kekufuran yang tegas.

 

Ketentuan-ketentuan dalam membaca lafazh ( ) dan takbir ini berlaku saat membaca takbir dalam kesempatan apa-pun, baik ketika adzan, pada saat sholat ketika takbiratul ihram maupun takbiraat al intiqal (takbir perpindahan dari satu rukun ke rukun yang lain), pada dzikir setelah sholat dan dalam kesempatan-kesempatan lain.

 

 

3.     BACAAN SHALAWAT YANG BENAR

 

Sebagian orang ketika membaca shalawat memanjangkan bacaan shalli ( ) padahal ketika fi'il amr (kata kerja perintah) dipanjangkan berarti menambahkan ya' pada bacaan shalli dan ini adalah khithab (pembicaraan) terhadap mu-annats. Padahal salah satu prinsip dalam aqidah Islam bahwa Allah ta'ala tidak disifati dengan sifat-sifat makhluk seperti jenis kelamin laki-laki maupun perempuan karenanya orang yang mengarahkan khithab kepada Allah dengan ta'nits berarti menyifati Allah dengan salah satu sifat makhluk dan itu disepakati oleh para ulama salaf sebagai kekufuran seperti ditegaskan oleh al Imam Abu Ja'far ath-Thahawi dalam 'Aqidah-nya :

" "

"Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir".

 

Secara khusus salah seorang ahli fiqh Hadlramawt , yaitu al Faqih Thaha ibn Umar dalam kitabnya al Majmu' Li Muhimmaat al Masa-il min al Furu', h. 97 mengatakan: "Mas-alah : Abdullah ibn Umar berkata : Orang yang dalam tasyahhudnya mengatakan dengan tambahan ya' maka itu tidak mencukupinya, meskipun dia bodoh atau lupa, bahkan jika ia menyengaja dan ia mengetahui bahasa Arab maka ia dihukumi kafir karenanya sebab itu adalah khithab terhadap muannats".

 

 

 ***


2011 @ Kholil Abou Fateh

Kompilasi ebook oleh: M. Luqman Firmansyah

Facebook Pages AQIDAH AHLUSSUNNAH : ALLAH ADA TANPA TEMPAT

Blog: allahadatanpatempat.wordpress.com