MASA-IL DINIYYAH IV

 

BAB VIII

SUARA PEREMPUAN BUKAN AURAT

 

Ketahuilah bahwa pendapat yang menjadi rujukan dari empat madzhab tentang suara perempuan adalah bukan aurat. Bagaimana mungkin dikatakan aurat sementara dalam hadits dinyatakan bahwa Nabi memberikan keringanan terhadap seorang Jariyah untuk menyanyi saat mangantar seorang pengantin perempuan menuju mempelai laki-laki. Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya[37] merwayatkan dari Hisyam ibn Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah, bahwasannya ia mengantar mempelai perempuan menuju pengantin pria dari kaum Anshar, kemudian nabi berssabda:

(Wahai Aisyah tidakkah ada bersama kalian sebuah permainan (al-Lahw), sesungguhnya kaum Anshar itu sangat menyenangi permainan).

Dalam riwayat at-Thabarani[38] dari Syuraik ibn Hisyam ibn Urwah dari ayahnya; Urwah ibn Zubair dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda:

(Tidakkah kalain mengutus jariah untuk memukul rebana dan bernyanyi?). Aisyah berkata: Berkata apa?. Rasulullah bersabda: Berkata:

 

#

#

#

(Kami mendatangi kalian, kami mendatangi kalian, maka sambutlah kami, kamipun akan menyambut kalian. Kalaulah tidak karena Dzahab Ahmar (emas merah) maka tidak akan ramai tempat-tempat asing kalian. Dan kalaulah bukan karena Hinthah as-Samra (gandum cokelat) maka tidak akan gemuk perawan-perawan kalian).

 

Riwayat ath-Thabarani di atas adalah shahih, di dalamnya ada tambahan terhadap riwayat al-Bukhari; yaitu memukul rebana dan melantunkan lagu dengan kalimat-kalimat di atas. Pengertian jariah dalam hadits di atas adalah seorang perempuan. (lihat al-Qamus al-Muhith dan Lisan al-Arab pada huruf - - ).

 

Al-Bukhari juga meriwayatkan[39] dari Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah masuk kepadaku sementara bersamaku ada dua orang perempuan sedang bernyanyi dengan nyanyian yang menggairahkan, kemudian nabi merebahkan badan di atas tempat tidur dan memalingkan wajahnya. Sesaat kemudian datang Abu Bakar, ia menegurku berkata: Seruling syetan ada di rumah nabi?. Kemudian Rasulullah bersabda: Biarkan keduanya, setelah Rasulullah tidak menghiraukan lagi aku mencandai kedua perempuan tersebut, kemudian keduanya keluar.

 

Ibnu Hajar berkata[40]: Pernyataannya (al-Bukhari); [dua orang perempuan --Jariyatani--], ia tambahkan dengan bab sesudahnya; [dari perempuan-perempuan al-Anshar]. Dalam lafazh hadits at-Thabarani[41] dari Ummi Salamah disebutkan bahwa salah satu kedua perempuan tersebut adalah milik Hassan ibn Tsabit, dalam kitab al-Arbain karya as-Sulamiy disebutkan bahwa keduanya adalah milik Abdullah ibn Salam. Dalam kitab al-Idaen karya Ibn Abi ad-Dunya dari jalan Fulaih dari Hisyam ibn Urwah bahwa yang sedang bernyanyi tersebut adalah Hamamah dan salah seorang sahabatnya. Sanad terakhir ini shahih, hanya saja aku tidak menemukan nama perempuan satunya, namun demikian mungkin perempuan yang kedua bernama Zaenab, dan telah ia (al-Bukhari) sebutkan dalam bab nikah.

 

Ibnu Hajar juga berkata[42]: akan tatapi tidak adanya pengingkaran Rasulullah terhadap hal itu menunjukan adanya kebolehan sesuatu yang tidak ia komentari. Juga berkata: Dari hadits ini diambil dalil dalam kebolehan mendengar suara perempuan menyanyi sekalipun ia bukan seorang budak, karena nabi tidak mengingkari Abu Bakar untuk mendengarkannya, bahkan ia mengingkari sikap pengingkarannya.

Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Khalid ibn Dzakwan[43]: Berkata Rubayyi binti Muawwidz ibn Afra: Rasulullah datang pada masa pengantinku, kemudian ia duduk seperti duduknya engkau di hadapanku. Kemudian para perempuan-perempuan kami melai memukul rebana dan menyebut-nyebut nama orang-orang tuaku yang gugur dalam perang Badar. Ketika salah seorang perempuan tersebut berkata: [dan di antara kami ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi hari esok], nabi bersabda: [Tinggalkan kalimat tersebut, ucapkan kalimat-kalimat yang sebelumnya engkau katakan].

 

Ibnu Hajar berkata[44]: at-Tabarani dalam al-Muajam al-Ausath dengan sanad hasan mengeluarkan dari hadits Aisyah bahwa nabi lewat di hadapan perempuan-perempuan Anshar yang sedang dalam acara pernikahan, mereka sedang bernyanyi dengan mengatakan:

 

#

[dan suaminya menghadiahkan domba kepadanya (pengantin wanita) yang mengembik di tempat pengembalaan. Dan suamimu berada diperkumpulan dan mengetahui apa yang terjadi hari esok].

 

Kemudian Rasulullah bersabda: Tidak ada yang mengetahui kejadian hari esok kecuali Allah.

 

Al-Muhallab berkata: Dalam hadits ini ada keterangan dalam mengkabarkan pernikahan dengan rebana dan dengan nyanyian yang mubah, juga tentang kedatangan pemimpin (Imam) dalam pesta tersebut sekalipun terdapat permainan-permainan, selama itu tidak melampaui batas kebolehan. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Bazzar[45].

 

Ibnu Majah meriwayatkan[46] dari Anas ibn Malik bahwa di suatu daerah Madinah nabi bertemu dengan perempuan-perempuan yang sedang memukul rebana dan bernyanyi, mereka bereka:

 

#

[Kita adalah para perempuan dari Bani Najar, dan Muhammad adalah sebaik-baiknya orang yang menjadi tetangga].

 

Kemudian nabi bersabda: Allah maha mengetahui bahwa aku benar-benar mencintai mereka. Al-Hafizh al-Bushiri berkata: Sanad hadits ini shahih, dan rijalnya orang-orang terpercaya[47].

 

Seorang ahli bahasa; al-Hafizh Muhammad ibn Muhammad al-Husaini az-Zabidi yang dikenal dengan Murtadla dalam karyanya; Ithaf as-Sadat al-Muttaqin, berkata: al-Qadli ar-Rauyani berkata: Sekalipun perempuan tersebut meninggikan suaranya dalam talbiah, hal itu tidak haram, karena suaranya bukan aurat[48].

 

Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari berkata: Dalam hadits ini [hadits tentang baiat perempuan dengan ucapan] terdapat keterangan bahwa mendengar perkataan perempuan asing adalah mubah, dan bahwa suaranya bukan aurat[49].

 

An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dalam keterangan hadits cara baiat perempuan berkata: Pada hadits ini terdapat keterangan bahwa suara perempuan boleh didengar bila dibutuhkan, dan bahwa suaranya bukan aurat[50].

 

Ibnu Abidin al-Hanafi mengutip dari kitab al-Qinyah berkata: Boleh berbicara Yng mubah dengan perempuan asing. Dalam al-Mujtaba disebutkan: Pada hadits ini terdapat dalil dalam kebolehan berbicara dengan perempuan asing dengan perkataan yang tidak dibutuhkan, hal ini tidak termasuk dalam pengertian terjerumus dalam sesuatu yang tidak bermanfaat[51].

 

Dalam kitab Asna al-Mathalib Syarh Raudl at-Thalib, Syekh Zakariyya al-Anshari berkata: kemudian sesungguhnya suara perempuan bukan aurat menurut pendapat yang paling benar[52].

 

Dengan demikian, dengan penjelasan ini, jelas bahwa suara perempuan bukan aurat, kecuali bagi orang yang bersenang-senang dalam mendengar suara kepadanya, dalam keadaan terakhir ini haram.

 

Jika dikatakan: Bukankah firman Allah:

(:32)

(Maka janganlah kalian menurunkan dalam berkata-kata kalian, hingga menjadi tamak (berburuk sangka) seseorang yang didalam hatinya memiliki penyakit).

Menunjukan keharaman dalam mendengar suara perempuan?

 

Jawab: Perihal ayat tersebut tidak menunjukan demikian. Al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata: Allah memerintahkan terhadap mereka [isteri-isteri nabi] untuk berkata-kata dengan dengan perkataan yang fasih dan terang, tidak dengan kata-kata yang menyebabkan adanya ikatan dalam hati dan kelembutan, seperti halnya yang demikian itu umumnya terjadi pada kaum perempuan arab saat mereka berbincang-bincang dengan kaum laki-laki; yaitu dengan melembutkan suara seperti suara perempuan yang sedang kebingungan (al-Muribat) dan yang lemah gemulai (al-Mumisat), Allah melarang mereka dari hal demikian ini[53].

 

Dalam tafsir al-Bahr al-Muhith, pada firman Allah [ ], Abu Hayyan berkata: Ibnu Abbas berkata: Janganlah kalian lemah gemulai dalam berbicara. Al-Hasan berkata: Janganlah kalian berkata-kata dengan keburukan. Al-Kalbi berkata: Janganlah kalian berkata-kata dengan cara yang membangkitkan orang yang sedang dalam kebingungan. Ibnu Zaid berkata: Merendahkan kata-kata adalah ucapan-ucapan yang memasukan candaan dalam hati. Dikatakan pula, maksudnya Janganlah kalian melemahkan tutur kata terhadap kaum laki-laki. Allah memerintahkan terhadap mereka [isteri-isteri nabi] untuk berkata-kata baik, tidak dengan kata-kata yang menyebabkan adanya ikatan dalam hati dan kelembutan, seperti halnya yang demikian itu umumnya terjadi pada kaum perempuan arab saat mereka berbincang-bincang dengan kaum laki-laki; yaitu dengan melembutkan suara seperti suara perempuan yang lemah gemulai (al-Mumisat), Allah melarang mereka dari hal demikian itu[54].

 

Dari sini diketahui bahwa tujuan ayat bukan untuk mengharamkan atas mereka [isteri-isteri nabi] dalam berbincang-bincang hingga suara mereka didengar kaum laki-laki. Akan tetapi larangan di sini adalah untuk berkata-kata dengan lemah lembut seperti seperti perkataan perempuan yang sedang kebingungan (al-Muribat) dan yang lemah gemulai (al-Mumisat); artinya kaum perempuan pelaku zina.

 

Telah diriwayatkan dengan shahih bahwa Aisyah mengajar kaum laki-laki dari belakang penutup (sitar). Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab at-Talkhish al-Habir berkata: Maka telah tsabit dalam kitab Shahih bahwa mereka bertanya kepada Aisyah tentang hukum-hukum dan hadits-hadits secara langsung (Musyafahah)[55].

 

Al-Hakim dalam al-Mustadrak meriwayatkan dari al-Ahnaf ibn Qais, berkata: Saya mendengar khutbah Abu Bakar as-Siddiq, Umar ibn al-Khathab, Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Thalib dan para khalifah-khalifah seterusnya hingga hari ini, dan aku tidak pernah mendengar perkataan dari mulut seorang makhluk yang lebih wibawa dan baik dari apa yang keluar dari mulut Aisyah[56].

 

Dalam at-Tafsir al-Kabir, dalam firman Allah [ ], al-Fakhr ar-Razi menulis: Tentang suara perempuan ada dua pendapat, pendapat yang paling benar ialah bahwa hal itu bukan aurat, karena para isteri nabi meriwayatkan hadits-hadits bagi kaum laki-laki[57].

 

Di antara mereka adalah Aisyah; beliau meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah kepada kaum laki-laki dan memberi fatwa kepada mereka, dan ia tidak merubah suaranya. Demikian pula dari beberapa kaum perempuan keluarga Shalahuddin al-Ayyubi meriwayatkan hadits bagi kaum laki-laki. Dan siapa yang merujuk kepada kitab-kitab tentang tingkatan para ahli hadits (Thabaqat al-Muhadditsin), para huffazh al-hadits, para ahli fiqh, ia akan menemukan banyak biografi ulama yang notabene mereka sebagai sandaran ilmu syariat mengambil (membaca) atau belajar kepada kaum perempuan.

 

Yang lebih utama adalah kaum perempuan belajar kepada kaum perempuan di tempat tertentu, yang para [pengajar] perempuan tersebut ahli dalam keilmuan dari segi kafaah dan tsiqah.

 

____________________________________

[37]. Shahih al-Bukhari: Kitab an-Nikah: Bab tentang perempuan-perempuan yang mengantar mempelai wanita menuju suaminnya dan doa mereka baginya.

[38]. Dikutip oleh al-Haitsami dalam Majma az-Zawaid (4/289), at-Tabarani dalam al-Mujam al-Ausath, lihat pula Fath al-Bari (9/226)

[39]. Shahih al-Bukhari: Kitab al-Idaen: Bab al-Hirab wa ad-Daraq Yaum al-Ied.

[40]. Fath al-Bari (2/440)

[41]. al-Mujam al-Kabir (23/264-265)

[42]. Fath al-Bari (2/443)

[43]. Shahih al-Bukhari: Kitab an-Nikah: Bab memukul rebana saat nikah dan walimah

[44]. Fath al-Bari (9/203)

[45]. Lihat Kasyf al-Astar (3/5-6). Al-Haitsami dalam Majma az-Zawaid (8/129) berkata: Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan para rijal shahih.

[46]. Sunan Ibn Majah: Kitab an-Nikah: Bab al-Ghina wa ad-Duff.

[47]. Mishbah az-Zujajah Fi Zawaid Ibn Majah (1/334)

[48]. Ithaf as-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya Ulum ad-Din (4/338)

[49]. Fath al-Bari (13/204)

[50]. Syarh Shahih Muslim (10/13)

[51]. Radd al-Muhtar (5/236)

[52]. Asna al-Mathalib (3/110)

[53]. al-Jami Li Ahkam al-Quran (14/177)

[54]. al-Bahr al-Muhith (7/229)

[55]. at-Talkhis al-Habir Fi Takhrij Ahadits ar-Rafii al-Kabir (3/140)

[56]. Mustadrak al-Hakim: Kitab Marifat as-Shabah (4/11)

[57]. at-Tafsir al-Kabir (23/207)

[58].        

 ***


2011 @ Kholil Abou Fateh

Kompilasi ebook oleh: M. Luqman Firmansyah

Facebook Pages AQIDAH AHLUSSUNNAH : ALLAH ADA TANPA TEMPAT

Blog: allahadatanpatempat.wordpress.com