LIFT 1 
16/06/2003

Sejak Gedung PB NU baru diresmikan, maka penziarah seusai mengunjungi makam Walisongo sudah dipastikan menyempatkan diri berkunjung ke kantor NU, seolah menjadi wali kesepuluh.

Mereka  datang dari daerah, untuk menyaksikan kemegahan gedung NU yang mereka bangggakan itu.  Satu hal yang mereka idamkan adalah bisa naik turun lantai tanpa kelelahan karena memakai lift, yang mereka anggap sebagai mainan gratis.

Suatu hari ada sekelompok rombongan yang baru datang dari pelosok Jawa Tengah dan langsung ingin mencoba naik lift, sambil mau melihat isi kantor NU itu. Ketika pintu lift terbuka, dan tiba-tiba salam diucapkan dengan suara merdu, mereka segera menjawab bersama "wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh".

Mereka mengira salam itu dari pengururs PBNU, Ibu Muslimat atau Mbakyu Fatayat yang menyambut kehadiran mereka. Setelah itu baru membungkuk sopan satu persatu memasuki lift, sambil melongok kiri-kanan mencari orang  yang mengucapkan salam tadi.
“Wah ini Salam dari alam gaib” kata pemimpin rombongan (MdZ)

LIFT 2 
16/06/2003

Beberapa hari salah satu lift PBNU dalam perbaikan, karena itu  arus perjalanan antar lantai jadi sangat lamban. Beberapa kali seorang pengurus NU menegur bagian engineering.
“Dalam beberapa menit lagi juga akan selesai", jawab seorang enginer.
Ternyata kerusakan itu harus menganti komponen, sehingga harus beli, untuk beli barang harus mengajukan dana, pokoknya butuh waktu lama. Pengurus tadi, ngomel lagi ke engineering, "Kerja lambat amat, lama belum juga kelar."
"Sebenarnya satu lift saja sudah cukup Pak Kiai, kenapa mesti risau" kata enginering kesal
“Tapi  kan kurang cepat" sergahnya.
“Kalau lift kurang cepat itu bukan kesalahan teknis, tetapi kesalahan pemakai  Kiai”
“Hah... Memang apa kesalahan pemakai?”
“Ya jelas tho pak kiai, beginilah akibatnya kalau orang NU sudah tidak mau menjawab ucapan salam dari lift, sehingga lifnya lambat berangkat karena menunggu jawaban.
Oh ya..ya " Pak kiai mengangguk-angguk, " O beginilah akibatnya kalau salam sudah diganti selamat pagi.
Pak Kiai segera pergi sehingga sang engineer bisa bekerja dengan tenang, dengan berseru dalam hati' "Kapan kapokmu" (MdZ)

LIFT 3 
17/06/2003

Bagaimanapun ucapan salam secara elektronik di lift PBNU itu akhirnya menjadi berdebatan serius para kiai, bagaiamana status hukumnya menjawab salam elektonik tersebut.
Salah satu pendapat mengatakan, tidak harus dijawab, sebab itu sebuah bunyi yang tanpa arti, karena keluar dari mesin. Sementara yang lain mengatakan itu wajib dijawab, sebab disamping merupakan rekaman suara manusia, juga mewakili Rais 'Aam dan Ketua Umum PB NU, jadi fardlu ain menjawabnya dan dosa bila tidak menjawab. Sebab alat itu dipasang sengaja untuk menghormati para tamu, maka yang dihormati harus hormat juga.
Perdebatan itu akhirnva dibawa ke forum bahsul masail. Bahkan  sudah lima kali bahsul masail diselenggarakan, tetapi mengalami mauquf (deadlock). Akhirnya mereka sepakat menghadirkan Syeikh Al Azhar, kalau perlu para pimpinan perguruan tinggi Islam sedunia untuk membahas persoalan ini.
"Lho, gimana ini, hukum kok digantung, sampai kapan harus menunggu datangnya Ulama Al Azhar segala, "kata seorang Kiai.
"Walah begitu saja ribut, kita kan punya hukum sendiri "
"Apa-apa" tanyanya serius.
"Sluman, slumun selamet" jawab kiai yang lain.

Kyai Bingung 
23/06/2003


Akibat dibilangin sama petugas engenering bahwa lift di kantor PB NU nggak mau jalan gara-gara para pengunjung tidak mau menjawab salam elektro dan lebih senang mengucapkan selamat pagi, sang kiai jadi berfikir bagaimana caranya agar beliau tidak meninggalkan tradisi nabi menjawab dan mengucapkan salam, tapi juga tidak bertentangan dengan kebiasaan orang-orang menggunakan 'selamat pagi'.
Sekali waktu beliau hendak ke kantor PBNU, di tengah jalan beliau masih bingung mau ngucapin apa nanti, ketika beliau nyampe' di kantor PBNU.
pusing .... ! begitulah kira-kira.
akhirnya ketika beliau nyampe' dan panggilan salam elektro berbunyi, sementara belia masih bingung, akhirnya reflek tanpa sengaja ia bilang "selamat pagi warahmatullahi wabarakatuh. (Z-El)

NU Online 
26/06/2003

Ketika NU memulai membangun program Website NU Online, beberapa pengurus wilayah dan cabang dilatih dan diberi seperangkat komputer untuk menunjang kegiatan tersebut. Pelatihan diikuti serius, karena peserta tidak ingin ketinggalan teknologi.
Walaupun mereka tidak mengenal program imptek (iman dan teknologi) seperti dikempanyekan Islam kota, tapi dalam soal apresiasi teknologi mereka sangat tinggi Dalam pelatihan itu tentu saja memasukkan materi peliputan, dalam setiap diskusi salah seorang peserta selalu keliru menyebut jurnalistik menjadi jurnalistrik. Beberapa kali kesalahannya itu dibetulkan oleh fasilitator, tetapi masih salah terus Akhirnya lama-lama ia kesal juga, "Oke lah pak yang penting antara jurnalistik dan jurnalistrik itu sama"
“Ya tidak sama yang satu itu media masa yang satu barang elektronik”, 
"Tapi fungsinya sama"
"Apa memang kesamaaanya ?" tanya fasilitator.
"Sama-sama sarana penerangan. Tanpa keduanaya dunia gelap gulita" (MdZ)

Humor Harganas X th.2003 : SESAMA NAHDLIYIN DILARANG MENDAHULUI. 
06/07/2003

Masih tentang Harganas X di kabupaten Lumajang. Peristiwa tidak diundangnya PC Muslimat Lumajang ternyata juga menimpa pasangannya  yaitu PCNU Lumajang. Entah kenapa, untuk peristiwa ber even besar seperti Harganas tersebut kok juga tidak tidak mengundang NU Kab.Lumajang. Sebuah organisasi bermassa besar tidak hanya di Lumajang tapi juga di Indonesia.

Hampir semua orang yang merasa NU juga merasa heran, kok bupatinya tidak undang-undang NU dalam gawenya kali ini?! Lantas timbul perbincangan miring, katanya karena pak Bupatinya sudah habis masa bhaktinya. Dan akan maju lagi dalam pencalonan bupati selanjutnya. Lho, apa hubungannya dengan tidak diundangnya NU ?  Telusur punya telusur, mungkin karena tahun ini ternyata ketua NU Lumajang juga maju jadi balon (bakal calon) Bupati Lumajang perioda berikutnya.

"OOO...,jadi, tidak diundangnya PCNU Kab.Lumajang karena ketuanya bakal jadi calon bupati toh . Takut tersaingi, begitu !?" tanya Cak Mat pada pak Dul.
"Bisa jadi begitu, kan pak Bupatinya juga orang NU. Mungkin saja sama-sama orangan NU dilarang menyalip jadi Bupati. Gitu ! " jawab pak Dul tanpa ekspresi. (Thst/Kd-Lmj)

NU Sudah Punya Internit 
06/07/2003

Dalam rangka launching NU online, salah satu agendanya yaitu sosialisasi via jawa pos dan media indonesia. Sosialisasi Nu. Online via jawa pos dikemas dalam iklan kemitraan bersama yang mengundang tokoh masyarakat, tokoh agama, perusahaan, partai politik dan jajaran pemerintahan khususnya bupati-bupati di wilayah basis NU, seperti wilayah tapal kuda (banyuwangi, jember, bondowoso, situbondo) untuk memasang iklan dengan tarif dan ukuran yang beragam. Setelah proposal terkirim, Situbondo adalah salah satu  kabupaten yang berminat masang iklan. kemudian panitia launching untuk sponsorship terusmemfollow-up  dengan cara telpon, karena yang dituju bupati, maka jalur birokrasi berlaku. sebelum bisa ke ajudan bupati telpon harus melalui deretan panjang yang dimulai dari penjagaan.

"Assalamu'alaikum, sapa  panitia sok ramah"
"Wa'alaiakum salam, balasnya dengan khas dialek maduranya"
"ini kami dari PBNU Jakarta. atas nama panitia  peluncuran NU Online...., kata panitia membuka pembicaraan, namun belum selesai bicara, satpam tersebut langsung memotong pembicaraan.
"Oh iya, yang dari PBNU tentang internit itu yaaa. balasnya cepat.
Sejak kapan NU jualan internit. ???????????????(Alf)

Resiko Pembaharu Populis 
09/07/2003

Ketika perdebatan pembaruan ahlussunnah memuncak, maka diselenggarakan seminar serius untuk mempertemukan dua kubu yang bertikai, termasuk pelopor pembarunya. Sebagai sarjana yang baru pulang dari Mekah Said Agil agak keder menghadapi kegarangan penentangnya, tetapi Ketua PBNU Gus Dur, bilang, tenang aja, nanti saya akan dampingi sampean para kiai tidak akan menggorok sampean. Maka dengan tenang Kiai Said Agil menghadiri ruang seminar, hingga seminar dimulai sampai berakhir, Gus Dur tidak pernah datang, sementara Said Agil digebuki babak belur, dan ia merasa dirinya dilempar Gus Dur ke ladang pembantaian.

Said Agil hanya bisa menggerutu, dan gerutuannya itu lama-kelamaan ada yang menyampaikan ke Gus Dur. Dengan santai Gus Dur menjawab, ha .. ha ..ha..baru tau, begitulah kalau mau melakukan pembaruan di NU, memang penuh risiko, pembaruan populis harus siap digebuki umat, saya dulu juga dibegituin kok. Itu bedanya dengan pembaruan dikalangan Islam kota yang burjuis, berjalan mulus, tanpa resiko, tetapi ya itu ...berlalu... tanpa bekas".

Pluralis Kekanak-kanakan 
09/07/2003

Seorang aktivis muda NU sangat menghayati arti pluralisme, pendeknya tidak ada kehidupan bersama bisa berlangsung damai tanpa sikap itu, maka ia pegangi sikap itu secara fanatik, pokoknya berniat akan membuang semua sekat etnis dan keagamaan yang masih melekat.
 

Suatu hari is mendeklarasikan dalam sebuah seminar, bahwa untuk membuktukan sikap pluralismenya, maka ia berjanji tidak mau kawin sesama islam, apalagi sesama anak NU, sebab is sendiri anak seorang kiai ia menegaskan bahwa dirinya hanya akan kawin dengan anak seorang pastur.
"He... entar dulu Mas, pastur itu kan tak punya anak, karena tidak boleh kawin" sela temannya.
"Masa iya ? " tanyanya seolah tak percaya "Tuhan aja boleh punya anak masak Pastur tak punya anak !"

Islam Kekanak-kanakan 1 
09/07/2003

Ada seorang anak Muda NU yang barusan pulang sekolah dari Timur Tengah, tentu saja di sana dia belajar pemikiran berbagai tokoh kontemporer, seperti Hasan Al Banna, Sayid Qutub, Yusuf Qardawi dan sebagainya, makanya ketika balik lagi ke pesantrennya melihat semua yang ada di pesantren tidak islami, karena itu perlu diislamkan kembali. Untuk melaksanakan misinya itu, ia berusaha mengganti kitab yang dikaji di pesantren, membakar beduk, menggantinya dengan speaker.
Akhirnya masyarakat pesantren goncang, mau melakukan aksi balasan, tetapi dicegah oleh kiai sepuh.

Si santri muda dipanggil, "Semangat anda untuk pembaruan bagus, tetapi jangan menghancurkan yang sudah ada. Kalau anda suka speaker, tapi jangan membakar beduk itu kan karya masyarakat se desa, makanya mereka marah. Tetapi beduk kan bid'ah, Nabi tidak pernah menggunakan beduk". "Sama juga kan, speaker juga tidak ada di zaman nabi" sergah Kiai" karena itu biarkan keduanya berdampingan, secara rukun. Beragamalah dengan dewasa, jangan kekanak-kanakan ! ''Kiai menasehati.

Humor Harganas x : Rezeki Tiban 
10/07/2003

Masih sisa-sisa kisah harganas x. Seperti yang sudah diketahui , pada Harganas kemarin Lumajang kebanjiran tamu dari berbagai pelosok daerah Nusantara. Dengan hotel yang jumlahnya minim, maka banyak tamu yang harus tinggal di Home Stay berbaur dengan warga.

Konon, Pemkot. sudah menentukan tarif untuk tinggal di sebuah keluarga. Termasuk beaya makan yang sehari Rp 10.000,00 sekali makan. Sebelum hari H- Home Stay tadi sudah dibayar oleh Pemkot.Lumajang .

Ndilalah, pada hari H, tamu bu Ahmad tidak jadi datang. "Bagaimana ini ya, apa uangnya harus di kembalikan ?" tanya bu Ahmad bingung sebab dia sudah belanja untuk menyambut tamunya. Yu Nem yang nguping juragannya antusias menjawab, " Wah, ndak usah Bu. Ini kan namanya rezeki tiban dari Tuhan !"

Populis Kekanak-Kanakan. 
12/07/2003

Walaupun banyak yang mensyukuri NU bisa membangun gedung berlantai delapan dengan sarana serba modern dan full AC. Tetapi ada seorang anak muda NU yang selama ini ,dikenal populis, dan sangat gigih membela rakyat. Melihat kantor NU itu is protes keras, dan mengatakan pada teman temannya
"'Apa-apaan itu, kantor ulama kok tidak mencerminkan jiwa keulamaan, gemerlap, kayak hotel atau mall, karena itu saya berjanji tidak akan menginjak kantor baru yang bur' juis, anti rakyat".
Suatu hari ia mendengar sekelompok masyarakat Jawa Timur yang terlibat sengketa tanah dengan PTP datang ke Jakarta, untuk melakukan demo dan lobi untuk memenangkan perkaranya. Karena sebagian besar warga NU dan untuk mengirit beaya, mereka beberapa hari menumpang tidur di gedung NU, semua akomodasi di tanggung pengurus PBNU. Dan si aktivis NU yang populis tadi terpaksa menemui mereka di kantor

NU 
12/07/2003

"Eh ... ternyata pengurus NU masih mau membela rakyat tertindas" tanyanya keheranan."Lho selama ini NU babak belur kan karena berani mebela seluruh rakyat tertindas, baik warganya maupun bukan." Timpal temannya. "Saya salut dengan sikap populismu, tapi mbok ya jangan kekanak-kanakan.

Kiai dan Lou Han 
12/07/2003

Ketika jenis ikan hias itu diperkenalkan harganya bukan main mahal, apalagi yang didatangkan dari malaysia. Lou Han jenis Kim Wa saat ini harganya puluhan juta. Seorang Kiai muda yang punya bakat bisnis beli indukan ikan hias yang lagi ngetren tersebut seharga 50 juta sepasang yang siap ternak.

Ikan dibawa dari importir di Surabaya dengan perjalanan darat, selama 4 jam. Sesarnpai dirumah waktu telah malam dan ngantuk karena leleh, sementara paket ikan langsung diberesi para santrinya.
 

Usai sholat subuh sang Kiai makan pagi, karena malam tak sempat makan, habis makan baru ingat ikan kesayangannya kepada para santri."Mana ikan yang barusan datang tadi malam ?"tanyanya ya itu tadi yang sudah dimakan Pak Kiai !" Jadi ikan lou han itu kamu masak?" Ya kiai Waduh cilaka.. cilaka, ! Itu ikan untuk diternak bukan untuk digoreng! Lalu apa daya Kiai ikan telah jadi santapan?!.

Mahasiswa IAIN dan Sang Nenek Madura 
13/07/2003

2  mahasiswa IAIN fakultas adab (sastra arab)  yang sedang berkunjung ke rumah neneknya di sampang madura saling berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa arab dengan asyiknya.Karena udah terbiasa dengan percakapan bahasa arab dikos-kosan maupun di kampus, mereka sangat fasih dan lancar berdialog panjang, mengangka tema aktual seputar serangan amerika ke irak mulai pagi hingga siang.  sang nenek yang sedari tadi menghidangkan   minuman dan sepiring pisang goreng panas tak dicomot satupun. sang nenek yang sejak awal mendengarkan  pembicaraan mereka ragu-ragu untuk mempersilahkannya menyantap gorengan di meja, sekali, dua kali pikir-pikir, sang nenek  memberanikan diri mempersilahkan.


"ayo cong (panggilan untuk anak laki-laki), di minum dan makan pisang gorengnya, dari tadi koq mengaji  terus "kata nenek dengan bahasa madura medok.
sang teman yang diajak terdiam dan spontan lari keluar, menahan tawa.oh jadi sang nenek mengira perbincangan kami yang memakai bahasa arab tadi itu mengaji(alquran) toh.

Kitab Kuning 
13/07/2003

Suatu hari di sebuah pesantren ada pengajian yang membahas kitab kuning, semua santri membuka kitabnya masing-masing, tapi disebuah pojokan ada seorang santri yang tengah sibuk dengan kitabnya.tanpa disadari sang santri , pak kyai melihat aksinya dan mendekati dan bertanya " mana kitab kuningnya" santri kaget dan langsung menjawab "ini pak kitabnya baru saya warnai biar kuning soalnya ini kitab kopian . pak kyai ??????(Ds)