Mencuri Kelapa Kiai 
24/01/2004

Entah keusilan atau kreativitas para santri sering kali muncul saat kiriman sangu dari rumah telat . Keusilan tersebut antara lain dalam bentuk mencuri, termasuk mencuri harta kiainya sendiri. Pada suatu hari Kartolo dan Murtolo bersekongkol untuk mencuri kelapa kiai, sebab malam itu ia lapar sekali.

Mereka bekerja sama dalama pencurian ini, si kartolo bagian memanjat, sementara si Murtolo bagian menadah di bawah. Tetapi apa hendak di kata baru sebuah kelapa yang diturunkan, sang kiai keluar rumah dan memerguki pencurian tersebut. Melihat gelagat itu Si Murtolo segera lari tunggang langgang. Sementara si Kartolo terus melakukan pekerjaannya, tanpa diketahui bahwa yang menadah kelapa hasil curiannya itu kiainya sendiri.

Ketika turun ke tanah, sang kiai berkata, itu ambil dua buah untukkmu, yang lain bawa ke ndalem, mendengar suara itu ia baru sadar bahawa yang dihadapannya dan yang tadi menangkap kelapa yang diturunkan itu bukan si Murtolo melainkan kiainya, ia segera lari. Tidur di serambi Mesjid.

Sang Kiai tahu bahwa yang tadi mencuri adalah santrinya, tetapi tidak tahu persis siapa orangnya. Tetapi sang kiai berusaha untuk mengetahuinya, caranya muda, satu persatu dada para santri diraba. Ketika sampi pada seorang santri yang sedang tidur lalu diraba juga, tetapi aneh sedang tidur jantungnya berdetak keras, seperti orang lari dikejar setan.

Dengan cara itu sang Kiai tahu bahwa dialah pencurinya. Baru setelah itu lampu senter diarahkan ke wajahnya., sehingga Kiai tahu bahwa Kartololah  sang pencuri. Tetapi tidak diapa-apakan, sementara si Kartolo terus berpura-pura tidur, akhirnya terlelap hingga pagi dengan perut keroncongan. Sementara si Murtolo lari tak tentu rimbanya. (Bregas)

Buah Kesopanan dan Kesombongan 
27/01/2004

<P>Pada suatu hari sang kiai memberikan ceramah, seperti biasanya mengajarkan tentang budi pekerti yang mulia (akhlaqul karimah). Sang kiai mengatakan orang yang sopan akan dihormati dan disegani orang. Sementara orang sombong akan dihinakan orang , dengan membuat contoh buah-buahan. “Wahai para santri berlakulah andap asor, walau memiliki banyak ilmu semakin merunduklah, seperti buah semangka, pohonnya kecil, tetapi buahnya besar, karena itu orang tidak pernah tidak berlaku sopan pada buah ini, pasti diangkat dan diletakkan dengan sopan”.

Apakah kalian tahu contoh pohon yang takabur dan tidak dihormati semua orang” Tanya sang kiai” para santri saling menatap tidak tahu, sertahu mereka tak ada pohon yang takabur, semuanya sama saja wong barang mati. Bahkan salah seorang santri menjawab “Tidak ada Pak Kiai pohon yang sombong:

“Ada” jawab Kiai, “coba itu lihat pohon kelapa, dia itu menempatkan diri terlalu tinggi, sehingga orang juga seenaknya melempar buah kelapa dari atas pohon. Untuk mengupasnya juga harus dicongkel dengan linggis dan untuk membelahnya harus didera dengan gancu, itulah nasib orang sombong.” Kiai menjelaskan.

“Tetapi ada makhluk yang menghormati buah kelapa” wah mulia sekali dia, “kira para santri

“Bukan, yang menghormati orang sombong itu hanya orang jahat, kalian lihat hanya maling yang menghormati buah kelapa” jelas Kiai

“Kenapa maling berbuat begitu” Tanya santri

“Lha iya kalau kelapa dilempar akan kedengaran pemilikknya, karena itu mereka turunkan hati-hati”

“Ampun Kiai saya tidak akan mencuri lagi” kata si Kartolo tiba-tiba berteriak minta ampun.” Saya tidak akan mencuri kelapa lagi.

Akhirnya semua santri stahu bahwa si Kartololah yang mencuri kelapa, atas pengakuannya sendiri.

Begitu cara kiai menyadarkan santrinya, tanpa harus menghukum apalagi mengusir. (Bregas)

Madura Berasap 
08/02/2004

Seorang pemudik yang telah kembali ke Jakarta menceritakan pengalamannya pada temannya di Jakarta, “wah mudik kali ini kurang cerah, sebab asap tebal menyelimuti pulau madura” 
"Apa terjadi kebakaran hutan di sana ?” Tanya temannya “
Tidak, mana di madura ada hutan yang bisa terbakar seperti di Kalimantan.
"Lha lalu dari mana sumbernya asap apakah ada kebakaran pasar”
“Sumbernya dari orang madura sendiri yang pada mudik” jawabnya
“Yang benar aja, masak pemudik bikin kebakaran ?!”
‘Lho iya wong semua pedagang satu madura Mudik ke kampung halaman, dan selama di kampung mereka semua melakukan pembakaran sate, tentu saja Madura menjadi berasap” 
“Oo ya wajar kalau begitu !, makanya polusi di Jakarta dan tempat lain juga berkurang”.

Alif =Anti lift 
10/02/2004

Salah seorang pengurus Syuriyah Nu walaupun usianya sudah cukup tua, tetapi tiap kali ke Kantor PB NU selalu melalui tangga darurat, tidak menggunakan lift. Lalu seorang temannya bilang Kiai nampaknya menjadi Alif (anti Lift), apakah Kiai takut terjebak dalam Lift” tanya temannya.
“tidak, saya hanya  mengamalkan sebuah petuah” Jawabnya santai
“Wah ! Apa ada fatwa ulama yang mengharamkan naik lift“.
“Ooo tidak,  ini sih sekadar anjuran Kiai saya; gunakan tangga darurat agar anda tidak gampang masuk ruang gawat darurat”
“Apa maksudnya Kiai “ tanyanya keheranan.
“Tentu saja berjalan menaiki tangga darurat adalah olahraga berat, karena itu orang akan sehat, tidak mudah terserang jantung atau strok yang mengakibatkan seseorang harus dirawat di ruang gawat darurat”
“O begitu maksudnya, kalau begitu saya ikutan naik tangga darurat biar tidak masuk ruang gawat darurat”
“Ah sampeyan tadi  menuduh saya Alif, malah sekarang ikut-ikutan menjadi Alif” Kiai menimpali. (Breg)

Yang Penting Bertelur 
10/02/2004

Seorang kiai muda dimarahi habis oleh Kiai sepuh gara-gara mengundang seorang pejabat pemerintah yang dinilai korup karena dulunya bekas preman. “Ya memang sampeyan itu keterlaluan kok” kata seorang kiai muda lainnya “berani menghadirkan preman, sampai membuat Hadratusy Syaikhmarah besar, sehingga saya dikira ikut ikutan.
“Tenang aja Gus, itu suatu risiko yang sudah saya perhitungkan”
“Tetapi tindakan sampeyan itu sangat nekad, dan terlalu besar risikonya buat nama baik pesantren, apa tidak ada pejabat lain yang lebih layak diundang” sarannya.
“Ya saya tahu, dan kita juga telah beberapa kali mengundang pejabat yang sampeyan maksudkan, tetapi mereka tidak bisa nelor, walaupun yang saya undang ini berwatak preman, tetapi yang penting bisa nelor”
“Lha lalu pejabat yang sampeyan undang kali ini apa memang bisa bertelur?”
“Tentu saja, itu lihat telornya  putih-putih sebanyak berupa 12 unit komputer di kantor”
“Ini sih namanya kiai pragmatis”. 

Pengajian dan Pengkajian 
18/02/2004

Semua orang tahu ST Alisjahbana adalah seorang intelektual yang sangat gigih memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia, kalau perlu harus membebek ke Barat. ”Semua pengetahuan haruslah bersifat ilmiyah, logis dan rasional dan tinggalkan semua bentuk mitos, takhayul  yang irasional, karena semua itu menghambat kemajuan bangsa. Karena itu di perguruan tinggi kita ini perlu kita galakkan segala pengkajian biar tidak kalah dengan Jepang, Cina atau Thailand,” demikian ceramah Rektor Unas itu  ketika menerima mahasiswa baru di kampusnya.

“Ingat ya kembangkan terus pengkajian, jangan pengajian, sebab pengkajian itu derajatnya lebih tinggi dari pada pengajian, pengajian itu irasional hanya menelan mentah-mentah omongan penceramah, sementara pengkajian itu menyeleksi, menguji dan menganalisis semua informasi pengetahuan dan data. Dari segi bahasa dan asal usul  keduanya sudah berbeda pengkajiaan menunjukkan peradaban yang tinggi, sementara pengajian hanya warisan masyarakat primitif”.

Mendengar ceramah pengarahan itu seorang mahasiswa yang berasal dari pesantren marah tersinggung, sehingga terpaksa mengajukan pertanyaan. ”Benarkan istilah pengakjian lebih beradap ketimbang Istilah pengajian. Kalau begitu saya ingin bertanya dengan kata yang sama lebih beradab mana kata pangan dengan pakan”
‘Ya sama saja keduanya kata benda “

“Tidak bisa Pak Profesor, pangan itu untuk manusia, sedangkan pakan itu untuk binatang. Analog dengan kata itu, maka menurut saya kata pengajian lebih beradab dari pengkajian”. “Mendengar sanggahan itu ST Alisjahbana yang ahli bahasa itu kaget dan terdiam lama, lalu berkata agak gugup’ Oke nanti kita diskusikan bersama ahli bahasa”. “Bukan begitu Pak ST, yang penting sesama pengkhotbah jangan saling menghina.”(Breg)

Pesantren Mengembangkan Persepakbolaan 
19/02/2004

Merosotnya kualitas persepakbolaan nasional yang terus-menerus membuat Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) bingung, demikian juga ketua umum PSSI, sebab segala daya sudah dilakukan hasilnya tetap nihil. Akhirnya Menpora dan ketua Umum PSSI sepakat untuk mengundang segenap elemen bangsa untuk dimintai kontribusinya dalam meningkatkan prestasi persepakbolaan.

Maka diundanglah dari kalangan pengusaha, birokrasi, kalangan intelektual, professional, politisi, budayawan dan tak ketinggalan para ulama pesantren. Ketika diskusi dimulai, berbagai usul muncul, akhirnya masing masing diminta mengajukan usul konkret. Kalangan pengusaha memberikan pemikiran paling dulu, mereka sepakat untuk membeayai kompetisi satu musim, termasuk mendatangkan pelatih handal. Usul diterima dengan mendapat apalus dari semua peserta.

Kemudiaan kalangan birokrasimenjanjikan akan merekrut pemain bola sebagai pegawai tetap di instansi masing-masing, usul ini tidak terlalu disambut, karena merupakan cara lama. Dilanjutkan dengan giliran kalangan kampus, akan memberikan kelonggaran kuliah bagi mahasiswa yang punya prestasi dalam persepakbolaan. Kalangan professional berjanji akan memberikan bonus besar pada tim dan pemain terbaik, usul ini disambut hanagat oleh para peserta. “Semua usul telah kami catat kita tingal tunggu realisasinya,” kata Menpora” karena itu sebelum ditutup silahkan pak kiai berdoa.

“Sebelum mimpin doa saya punya usul”kata sang Kiai “jangan dikira pesantren tidak peduli terhadap pengembangan sepak bola nasional, kami sangat bersemangat mengembangkan prestasi olehraga ini, karena itu pesantren akan memberikan gelar Gus pada pemain berprestasi, bahkan akan memberikan gelar Kiai Haji pada pelatih yang berhasil membawa timnya menjadi juara”.

Usul itu disambut riuh oleh peserta rapat, ada yang gembira tetapi tidak sedikit yang kaget, sebab tidak sedikit pemain dan pelatih yang beragama non Islam. “Tidak masalah “ kata Kiai” karena bermain bola merupakan bagian dari jihat menjujung namaharum negara. (Breg)

santri yang sok jawa 
27/02/2004

Seorang santri asal sulawesi yg baru masuk pondok pesantren Darul Ulum  Jombang Jawa Timur,karena perjalanan jauh dr kampungnya  Pare-Pare ke Jombang 3 hari 3 malam naik kapal laut, dia diserang penyakit flu.teman sekampung yang lebih dulu di pondok itu bilang jika ngaku santri apalagi ngomong jawa pasti dokter kasih harga murah.

setelah belajar sedikit bahasa jawa akhirnya dengan percaya diri, berangkatlah santri baru tersebut sendirian. Didalam ruang praktek, Dokter bertanya: Asmanipun sinten mas...? benar juga pikir mahasiswa baru tersebut, dengan ragu-ragu dia menjawab: kulo mboten asma, pilek mawon...

dokter:???

Guyonan ICIS 1(website khusus Indonesia) 
01/03/2004

Entah karena terlalu sibuk dengan peserta yang berasal dari 49 negara dengan berbagai ragam bahasa dan kulturnya atau memang benar benar tidak tahu, salah seorang panitia supporting system ditanya oleh peserta dari Italia dengan bahasa Inggris yang fasih tentang website International conference of islamic scholars (ICIS) dan karena si penanya butuh jawaban cepat, maka ia langsung memburu crew nu online untuk menjelaskan tentang website ICIS

"Wah mbak, ini ada yang wajib dijawab cepat oleh crew NU Online," kata salah satu panitia supporting system dengan tegang. "ada yang bisa saya bantu mas," tanya crew Nu Online.
"peserta dari Itali tanya website ICIS,itu alamatnya apa," katanya
"lho kan bisa langsung buka di NU Online, dengan alamat <A href="http://www.nu.or.id">www.nu.or.id</A>, disitu ada mini websitenya ICIS," jawab salah satu crew nu online. 
"itu kan alamat website yang di Indonesia, kalau tingkat internasional seperti ICIS ini apa alamatnya," tanyanya lebih lanjut.
"Lho ..!!, yang namanya website ya bisa dibuka dimana saja,...nggak ada istilah lokal atau international Mister," terang kru NU Online yang paham IT ini.
Rupanya penanya tetap tidak paham walau telah dijelaskan. pokoknya dia tak ingin mengecawakan sang penanya yang datang jauh jauh dari Itali untuk menghadiri acara ini.
"ya udah kalau begitu klik saja <A href='http://www.nu.or.id/icis" '>www.nu.or.id/icis" </A> jawab salah satu cewek Nu Online sambil bergumam "yo wis, sing waras ngalah" (alf)

Guyonan ICIS II (salah orang) 
01/03/2004

Siapapun pasti mengakui peserta pada acara ICIS yang berlangsung di Jakarta Convention centre itu terbilang cukup banyak dan sangat beragam dari orang yang berwajah ketimur-tengahan , berwajah oriental ke Jepang Jepangan, sampai berwajah ala Barat.., pokoknya semua lengkap.

Alkisah saat ada wartawan yang mau wawancara sama syech Hisyam Kabbani, salah satu tokoh islam terkemuka. maka saat terlihat beberapa wartawan yang sedang membuntuti seorang berbaju jubah putih dan berjenggot putih, panjang nan lebat untuk mengadakan wawancara eksklusif.

Dengan Pede (percaya diri) yang tinggi wartawan tersebut ikut bergabung dan mengajukan beberapa pertanyaan tentang hubungan islam dan barat sampai hampir dia yang mendominasi wawancara eksklusif itu.
"ok, terima kasih Mr. Hisyam Kabbani," katanya pada terakhir wawancara sambil bersalaman.
"Saya syech Tadzkhiri dari Iran," jelas nara sumber dengan senyum khasnya.
"wah, abis jenggot, baju dan sorbannya sama sih, jadi sekilas mirip," gumamnya langsung nyelonong pergi (alf)

Aktivis Hindari Sarapan 
10/03/2004

Seorang aktivis yang biasa nginep  di kantor sebuah Ormas terbangun pada siang bolong. Lalu seniornya yang sudah necis berdasi datang inspeksi. "Kamu ini aktivis cap apaan, bangun koq  siang bolong begini. Lihat tuh ke luar, semua orang sudah istirahat kerja, makan siang. Kamu mandi saja belum,"celotehnya.

Si aktivis yang baru saja membersihkan muka dan  masih dalam keadaan basah,  menyahut,"Saya bisa saja bangun pagi setiap hari, asalkan bapak dapat menjamin  sarapan saya,"balasnya.

"Jadi  bangun siang begini sengaja kamu lakukan,"
"Iya, Bang. Habis tidak ada anggaran untuk sarapan. Kalua begini kan  bisa langsung makan siang sekalian,"kilahnya sambil  minta uang makan siang. (ma)

Tukar Pendapatan 
12/04/2004

Kenapa kalian masih porters terhadap ustaz yang saya pilih, katanya pingin ustaz yang progresif, liberal, kalian mau apa lagi , ustaz tersebut kan bisa berdiskusi, bahkan bisa diajak berdebat dan tukar pikiran secara terbuka”
“Justeru di situ masalahnya kiai !” jawab santri
“Kalian ingin kembali ustad yang konservatif”
“Bukan Kiai, memang Ustaz kita bisa berdiskusi dan mau bertukar pendapat “
‘Lalu yang kalian inginkan yang bagaimana?” tanya kiai
“Sebaiknya ustaz yang yang liberal dalam berpikir dan radikal dalam bertindak ?
“Bagaimana konkretnya?” kembali kiai bertanya menyelidik
“ Sebaiknya Pak Kiai mengangkat ustadz yang bisa bertukar pendapat dan sekaligus mau bertukar pendapatan, biar para santri sedikit makmur !”
“Ah kalian ini ngawor, tanya sendiri sana, kalau memang mau!” (Breg)

Minyak Wangi 
12/04/2004

Kiai yang satu ini memang sangat memegangi sunah Nabi yang satu ini yaitu menggunakan wewangian dalam situasi apapun, maka para santripun dianjurkan selalu menjalankan Sunnah Nabi itu. Demikian pula santri lain yang sowan kepadanya juga dianjurkan memakai wewangian bila ingin diterima dengan tangan terbuka.

Syahdan beberapa orang santri dari pesantren lain ingin menghadap sang kiai karena ada satu urusan agama, para santri tamu itupun berangkat dengan melumuri tubuhnya dengan berbagai minyak wangi, dengan demikian merekapun makin percaya diri bahwa kehadirannya akan diterima dengan senang hati.

Salah seorang santri maju mendekati tempat kiai duduk beralaskan tikar itu dengan berjalan setengah jongkok lalu mencium tangan sang kiai.
“Bagus.. bagus …. Minyak misk … baarakallah “ Sang Kiai berkomentar, betapa herannya si santri sang kiai bisa menditeksi merek minyaknya, hebat kiai ini pikir si santri dalam hati.

Kemudian disusul santri lainnya yang berbuat seperti temannya terdahulu
Khair…khair …. Ya ya…  minyak zakfaran….. baraka alaika “ Ucap sang kiai dengan senyum.

Ganti santri yang lain maju bersalaman
Thayib….thayib minyak kesturi  ya.. yaa… jazakumullah,….alhamdulillah,” gumam kiai sambil menganguk-angguk. Yang begitu mudah menditeksi jenis masing-masing minyak dengan aromanya.
Ganti seorang santri lagi maju bersalaman tetapi merangkak dengan ragu, tetapi akhirnya nyampai juga.
Tafadhal.. .. tafadhal…. Ah… minyak apa yang kamu pakai ?” Tanya kiai keheranan karena belum ada minyak baunya seperti ini.
Dengan ragu si santri menjawab, “minyak autan Kiai !”
“Wah kalau itu bukan untuk ibadah..dan bukan sunah Nabi, tetapi minyak orang yang mau tidur, sana pergi cari minyak yang benar bila ingin menjadi pengikut Nabi Muhammad, baru boleh ketemu saya”
Akhirnya rombongan santri itu bubar karena mereka belum bisa diterima sebelum mememukan minyak wangi yang lazim dipakai. (Bregas).

Politik Dagang Kiai 
23/04/2004

Melihat perkembangan politik terakhir ini seorang kiai muda merasa sangat prihatin  kemudian mengadu pada kiai sepuh yang selama ini menjadi tumpuan dalam mencurahkan isi hati ketika menghadapi permasalahan.
“Bagaimana Romo Kiai kita mesti bersikap, sebab perpolitikan kita telah berkembang sedemikian buruk, penuh dengan money politic dan politik dagang sapi, dan semua ini telah menjalar semua politisi.” Demikian keluhnya.
“Wah kalau politik dagang sapi sih tak apa-apa, walaupun itu pelanggaran moral politik tetapi masih tergolong lumrah, sebab sapi sih memang barang dagangan, tetapi ada politik yang lebih jahat lagi “ ujar sang Kiai.
“Benar Romo ada politik lebih jahat dari dagang sapi, politik apa itu Kiai” tanyanya keheranan.
“Ah masak sampeyan tidak tahu, sekarang ini khan berkembang politik dagang kiai, ini lebih jahat, sebab kiai kan bukan barang dagangan   tetapi diperjual belikan”
“Kiai mana yang sudah dijual belikan” tanyanya.
“Lho… ya kita-kita ini oleh beberapa politisi telah diperjualbelikan tanpa sepengetahuan kita… !”
“Wah jahat betul politisi itu” keluh sang Kiai muda. (NVA)

yogya pangkal pandai jakarta pangkal kaya 
11/09/2004

<P>bagi seorang aktivis,hidup berpindah-pindah dari satu kos ke kos lainnya,dari satu sekretariat ke sekretariat lainnya,bahkan satu kota ke kota lainnya adalah hal biasa.malah kalau menetap di satu tempat,sepertinya diragukan ke-aktivisan-nya.</P>
<P>konon, kader NU yang memulai merantau ke ibu kota Jakarta adalah kader NU Yogyakarta. gerbong anak muda NU pertama ini bisa dilihat seperti Slamet Efendi Yusuf, Masdar F. Mas'udi, Enceng Shobirin Dan lainnya. kemudian disusul oleh gerbong kedua.  dan sejak itulah sangat banyak sekali kader NU Yogya yang berduyun-duyun datang mengikuti jejak seniornya yang rata-rata menuai kesuksesan dirantau. </P>
<P>memang, banyak kader Yogya yang berhasil di Jakarta, tapi ada juga yang masih bertahan  di Jakarta walaupun  makan saja masih harus numpang senior. nah, biasanya untuk memotivasi mereka, muncul guyonan dari seniornya.</P>
<P>"Yogya pangkal pandai, Jakarta pangkal kaya, di Yogya nggak pandai-pandai di Jakarta nggak kaya-kaya, jadinya ya seperti kalian ini.</P>

Kiai dan Sopir Bus 
15/09/2004

Alkisah terjadi pada saat seleksi penerimaan penghuni surga. Sampai akhirnya tiba pada 2 anggota peserta terkhir yang akan terseleksi, yakni seorang Kiai dan seorang sopir bis Lorena yang terkenal suka ngebut dan ugal-ugalan dalam mengemudikan kendaraaannya sewaktu masih hidup. Alhasil ternyata yang masuk menjadi penghuni surga adalah si Sopir Bis Lorena. Sang kiai akhirnya protes keras kepada Allah, kenapa tidak dirinya yang masuk surga, padahal sewaktu di dunia dia terkenal sebagai mubaligh yang giat menyebarkan agama islam dan mengisi khutbah jum'at? Kenapa kok malah yang masuk surga seorang sopir yang record ugal-ugalannya tertinggi di catatan kantor polisi? Akhirnya Allah menjawab " Kamu tidak saya masukkan surga adalah karena sering ketika kamu berkhutbah di dunia kamu  tidak pernah memperhatikan yang mendengarkan, kamu terlalu panjang dalam berkhutbah yang akhirnya banyak yang mendengarkan menjadi tertidur dan terlupa kepadaKU, wahai Pak Kiai , Sedangkan si Sopir Bis Lorena justru karena ugalan-ugalannya dan ngebutnya sehingga menyebabkan para penumpangnya ketakutan sehingga tidak henti-hentinya menyebut namaKU."

kisah Kiai Tunggul wulung 
15/09/2004

saat study tour ke Yogyakarta. rombongan 3 bus santri dari sebuah pesantren di ujung jawa timur  menyempatkan mampir ke keraton Yogyakarta.
beberapa santri melihat lihat arkeologi dan benda bersejarah lainnya dg bersemangat .


"Pak, dimana tempat kiai tunggul wulung", Tanya 3 santri setelah lihat nama kiai tunggul wulung pd penjaga keraton
"oh dari sini belok kanan, terus lurus dan belok kiri ke pojok,nah disitu atau ikuti tanda panah ", jelas penjaga
"kenapa Kiai koq ada di keraton, kapan ngajar ngajinya", kata salah seorang temannya
kemudian mereka berembug, bagaimana kalau udah sampai ke kiai tunggul wulung
"aku ingin sowan dan cium tangan, minta barokah seorang kiai" kata salah seorang diantaranya
"karena kita jauh jauh dr jawa timur saya nanti minta wasiat dan wirid beliau" tukas lainnya.

 
saat sampai di tempat, mereka kaget sekali ketika melihat di sebelah bendera pusaka Warna dasar hitam dengan garis berwarna kuning di tepinya bertuliskan kiai tunggul wulung. 
"oalah, ternyata bendera toh", kata mereka  kecele 

cara diet ala pesantren 
16/09/2004

 Seorang santri bertanya pada kiainya “ kenapa Pak Kiai badan kami tidak ada yang kegemukan atau terkena penyakit akibat kelebihan lemak makanan. Sebaliknya malah kurang, sudah begitu makan kok masih terus disuruh diet, apakah tidak akan semakin kurus dan membahayakan kesehatan para santri”.
“Saya tahu betul kondisi kalian, karena kondisi saya sendiri juga begitu, tetapi saya menganjurkan kalian agar terus diet, agar kalian bisa bertahan belajar di pesantren ini, tanpa harus memberatkan orang tua kalian yang miskin-miskin itu”
“Tapi kan tidak haus diet Kiai, kita kan tidak kelebihan lemak?”
“Oh ya saya lupa menjelaskan saya menganjurkan kalian diet itu agar segala pengeluaran terutama untuk makanan itu  (diperhitungkan) jangan boros agar bekal bisa cukup sebulan. itu tho maksudnya ?Kalau gitu ya oke saja kiai !” (Breg)

judul skripsi 
16/09/2004

seorang mahasiswa IAIN,  yang sering dijuluki ketua MAPALA (mahasiswa paling lama) karena sudah semester 14 belum kelar kelar, sedang mengajukan judul skripsinya kepada pembimbing.
"wah,judul keduaku ini pasti diterima",katanya penuh keyakinan pada temen satu kos.
esoknya dia nampak lesu dan temannya pun tanya kenapa lesu
"judul skripsiku yang pertama "peranan khulafaur rasyidin dalam penyebaran islam" ditolak, judul skripsiku yang kedua "peranan sahabat dlm penyebaran islam" juga ditolak alasannya sudah banyak dibahas mahasiswa sebelumnya",jelasnya loyo tak bersemangat.
"jangan putus asa gitu dong, coba cari judul lagi.siapa tahu judul ketigamu diterima", kata temannya
"saya sarankan agar kamu angkat judul yang belum dibahas yang lain" tambah temannya
esoknya pagi pagi sekali dia berangkat ke kampus dengan bawa kertas pengajuan judul skripsi
"sudah nemu judul",tanya temennya 
"sudah,doakan diterima yaa",katanya
"apa judulnya",tambah temannya penasaran koq cepat nemu judulnya.
"pokoknya mirip dengan yang kemarin tentang siapa yang berperan menyebarkan islam",jawabnya masih rahasia
"lengkapnya"tanya temannya
"peranan onta dalam penyebaran agama islam"jawabnya sembari ngeluyur pergi.(alf)

Op cit dan Loc cit 
16/09/2004

membicarakan tentang susahnya menemukan penulis penulis buku akhir akhir ini, ada yang berpendapat karena hak karya intelektual kita di Indonesia kurang dihargai, buktinya pembajakan buku sudah dianggap hal yang wajar, biasa bukan tindak kriminal. begitulah tema diskusi mahasiswa sebuah perguruan tinggi pada suatu sore. 
"tunggu dulu, kita jangan apriori. kalau tadi dikatakan bahwa kita krisis penulis, karena salah satu faktor penyebabnya adalah kurang dihargainya hak karya intelektual, sehingga pembajakan buku-buku yang best seller sekalipun sudah biasa, tapi tidak semua pengarang buku seperti itu. ada pengarang buku yang paling banyak menghasilkan karyanya. mari itu kita hargai", ungkap agus, yang dikenal dengan dugem (dunia gelamor)nya .
"siapa penulis buku yang kamu maksudkan itu,gus", tanya Arif ingin tahu.
"itu lho, Op Cit sama Loc cit  yang biasanya disebut pas catatan kaki, dia kan hebat, produktif,  bisa menghasilkan banyak buku dan bukunya menjadi rujukan semua orang.",jawabnya mantap bersemangat.
peserta diskusi lainnya cuma saling berpandangan.
"sudah Gus,jangan diteruskan , nanti kamu sebut lagi, Op cit & Loc cit itu  perempuan atau laki-laki."sahut eli gemes memotong pembicaraan si Agus.