Kiai Qodir 
31/01/2005

Semua pasti tahu. dalam hal tawadhu' (sopan santun) pada kiai,orang maduralah contohnya, walaupun kadang-kadang kebablasan.

Alkisah pada sebuah pesantren di sumenep yang dipimpin oleh kiai Qodir, terdapat sekitar 100 santri. setiap ba'da subuh, kiai mengajar ngaji (alquran) satu persatu santrinya dengan sabar. mulai dari makhorijul hurufnya, tajwid dan irama lagunya, semua di simak dengan teliti. memang pesantren ini dikenal dengan ilmu alqurannya

giliran santri yang baca (ngaji) alquran adalah sholeh,  dia baca surat Ali Imran. pada bacaan "inna Allaha 'ala kulli syaiin ....."dia berhenti .

kiai heran kenapa kok berhenti, lalu ia minta agar santrinya itu meneruskan hingga akhir ayat. sampai tiga kali disuruh , baru sholeh baca "inna Allaha 'ala kulli syain Kiai" bukan "syaiin qodir ".

sebetulnya sholeh tak berniat mengganti-ganti alqur'an tapi semata-mata karena tawadhu'nya pada kiainya yang bernama Kiai qodir. (alif)

 

Lembaga penghisap darah 
31/01/2005

Salah satu yang nggak bisa dihilangkan dari kiai adalah sense of guyonannya yang tinggi. kondisi yang tegang dan berdesak-desakan pun, mereka tidak kehabisan bahan guyonan. 

Itulah  yang terjadi saat klinik Avicena yang dikelola Lembaga sosial Mabarot NU menyelenggarakan medical chek-up  yang komperehensip secara gratisan pada kiai dan warga NU lainnya.  mulai dari tensi darah , rontgen, kadar gula, jantung dan organ dalam lainnya (general check up) semua di periksa secara medis.

Karena saking banyaknya pasien, Para Kiai sepuh yang hadir harus ikut ngantri. termasuk Kiai Muhith Muzadi harus berdesak-desak saat mau di ambil darah untuk check laborat.  disela-sela antrian itu kiai yang berdomisili di Jember ini nyeletuk "katanya lembaga sosial mabarrot kok pekerjaannya menghisab darah orang? wah, berarti ini lembaga penghisap darah" katanya sambil kipas-kipas. (alif)

Pertanggungjawaban Pengurus NU 
31/01/2005

Sebagaimana biasanya saat menjelang hari besar islam seperti menjelang Idul Fitri , PWNU JATIM sebagai rujukan warga NU di Jawa Timur untuk penetapan tanggal masuk hari raya Idul Fitri 

Karena dari Lajnah Falakiyah Jatim belum berhasil dalam rukyatul hilalnya, maka NU menetapkan hari raya berbeda sehari setelah keputusan pemerintah yang hanya berpedoman pada hisab kala itu.

Banyak penelpon dari berbagai Daerah yang complain ke PBNU akan kegagalan rukyat ini.

"gimana Pak  Hasyim, kok bisa pengurus NU sekarangtidak berhasil melihat bulan. padahal, pengurus-pengurus sebelumnya selalu bisa lihat," cecar penelpon kepada pak Hasyim selaku ketua PBNU

mendengar ungkapan penelpon itu, kontan Pak hasyim tertegun sembari mengucap dalam hati : "jadi, pengurus NU itu nanti dalam konferensinya akan diminta pertanggung jawaban kenapa tidak berhasil melihat bulan sementara pengurus-pengurus sebelumnya bisa?, "

 

Kisah Empat orang Dermawan 
08/02/2005

Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), selama ini dikenal sebagai kota seribu masjid, seolah mau menandingi Bali sebagai pulau dewata dengan seribu pura. Pembanguan masjid di Mataram memang banayak disumbang baik kalangan kaya maupun rakyat biasa, biarpun rumah gubuk, yang penting mesjidnya megah, itu moto mereka.

Pada suatu hari di sebuah daerah di kota Mataram dibangun sebuah masjid besar, biayanya ditanggung oleh empat pengusaha besar kota itu, yaitu H. Ibrahim, H. Musa, H. Salam dan H Yahya, mereka itu sebenarnya bukan muslim yang taat, bahkan predikat haji baru saja mereka peroleh.

Ketika mesjid sudah jadi, segera diresmikan, tidak lupa keempat nama dermawan tadi disebut-sebut jasanya, baik oleh pak Kiai sebagai pengelola masjid maupun oleh Bupati, sebagai kepala daerah. Setelah upacara peresmian selesai dengan dibacakan doa dan bacaan selawat yang selelu dialunkan sepanjang upacara, lalu terakhir diselenggarakan sembahyang Isyak untuk pertama kalinya.

Dalam sembahyang Isyak itu kiai membaca surat al quran yang agak panjang yakni surat Tasbih, yang diujung ayat yang dibaca kiai itu berbunyi : shuhufi Ibrahima wa Musa,  mendengar bacan itu Yahya yang tak tahu arti ayat itu heran “kok nama penyumbang lain H Ibrahim dan H.  Musa disebut, padahal saya juga penyumbang besar masak namaku dan H Salam tidak dilaporkan  sang imam pada Tuhan dalam salatnya. Tiba-tiba terdengar suara  makmum serentak menyahut “alaihis salaam”. Lho H Salam giliran disebut sementara saya tidak   kalau begini caranya amal saya bisa tidak diketahui oleh Tuhan, bahaya ini” gumamnya dalam hati. Karena itu  ia buru-buru nenambahkan dengan bersuara keras, juga Yahyaa…..

Saat itu para jamaah pada heran ada orang yang berani bicara dalam sembahyang, tetapi mereka diam, sementara jamaah yang ada didekatnya tidak bisa menahan diri, tertawa cekikikan, akhirnya mundur membatalkan sembahyang, tidak tahan melihat kedunguuan H Yahya. Baru setelah solat selesai jamaah heboh, hingga akhirnya sang imam menjelaskan”bunyi surat Tasbih memang begitu, sama sekali bukan untuk melupakan jasa Pak Yahnya,’ jelas sang Imam. “Ooo    begitu to maksudnya, habis saya khawatir amal saya tidak diterima Allah” jawabnya sambil tersipu-sipu. (MDZ)***

intel inside 
15/02/2005

 

Amanat Muktamar ke 30 NU di lirboyo kediri yang salah satunya adalah agar PBNU mengupayakan penguatan jaringan informasi yang menyeluruh (NU Infors) nampaknya terealisir dengan didirikannya NU Online (website PBNU). agenda pertama yang dilakukan media informasi berbasis internet ini adalah memberikan pelatihan disertai pembagian komputer keseluruh PCNU di Indonesia.

Giliran PCNU yang mendapat pelatihan adalah cabang NU se-Madura, kebanyakan pesertanya dari kalangan  Kiai yang sudah agak sepuh. dengan antusias mereka  menyimak seluruh materi tentang bagaimana mengoperasikan komputer, akses internet, download, mengirim berita dan lainnya. setelah materi teoritisnya sudah dijelaskan, fasilitator mengajak untuk langsung prakter di komputer.
"komputernya silahkan dihidupkan pak", jelas fasilitator yang akrab dipanggil cacih. 
Dengan agak grogi 30 peserta pelatihan itu menekan tombol sesuai petunjuk.
"wah, rupanya pelatihan ini adalah pesanan orang, nggak murni dari PBNU. saya nggak bisa terima komputer ini", kata seorang bapak yang duduk di belakang 
"ada apa dengan komputernya pak",tanya fasilitator 
"saudara ini bagaimana, kok tidak independen lagi, mau disetir Amerika", jawab bapak itu dengan logat maduranya yang kental
"maksud Bapak?", tanya fasilitator bingung
"komputer-komputer ini kan dimata-matai  para intel seperti yang tertulis saat buka komputer yaitu intel inside yang artinya didalam ada intel,bisa  CIA, FBI dan lain-lain",jelas bapak tadi dengan PD nya
fasilitator:???. (alif)

cara membaca orang arab 
18/02/2005

Di pasar tanah abang ada seorang penjual "sarung" dari Jazirah Arab. untuk menarik perhatian pembeli, dia berkata; sarung murah, awet, tahan lama, dijamin sepuluh tahun warna tidak luntur. kalau tidak terbukti boleh dibalikin.
Karena tertarik, seorang pembeli datang untuk menawar, setelah terjadi kesepakatan harga,ahirnya sarung itu pun jadi dibelinya.
Setelah dibawa pulang  dan dipakai beberapa hari, kemudian sarung itu dicuci, eh...ternyata sarungnya luntur dan warnannya berubah. Si pembeli berkata: Arab brengsek....!, kurang asem, kurang garam, kurang ajar, kurang-kurang...., setelah itu  dia bergegas mengembalikan sarung tersebut.
Sambil brontak, dia berkata pada orang arab tersebut, hai arab gimana disarung ini tertulis "Dijamin Tidak Luntur", tapi setelah saya cuci sarung ini, eh.. luntur. pokoknya saya mintak dikembalikan uang saya.
Dengan santai orang arab tersebut menjawab, aku kan orang arab kalau baca tulisan kan dari kanan jadi,  "Dijamin Tidak Luntur", aku baca 
"Luntur Tidak Dijamin  ", gitu...indo..
Sialah...!!! sambil ketawa terbahak-bahak, eh gak jadi marah. (Ars LC)

Barokah KARTANU 
23/02/2005

Sebagai organisasi islam terbesar di Indonesia, tak heran dalam tiap event yang di selenggarakan pasti dipadati ribuan orang, baik yang NU deles (Tulen), simpatisan atau bahkan yang ngaku NU, semua tumplek blek jadi satu.

Seperti yang terjadi Saat diselenggarakan  harlah  NU  di Alun-alun sidoarjo 31 Januari 2004, ribuan orang berduyun-duyun memadati areal tengah kota itu. Meski penyelenggaranya adalah PCNU sidoarjo tapi hadirin banyak juga yang dari luar kota. Walhasil hadirin terpaksa berdesak-desakan sehingga terlihat semrawut. Karena kondisi yang semrawut tersebut, salah seorang Nahdlyin dari pasuruan yang bernama sholeh tidak sadar kalau dompetnya dicopet dari belakang. 

“lho, dompetku mana?”katanya kaget Sambil ngacak-ngacak seluruh isi tas dalam perjalanan naik colt jurusan Surabaya-Pasuruan. Seluruh isi tas sudah dikeluarkan namun yang  ada hanya tasbih, buku tulis, kopyah dan sebuah kartu Tanda NU (KARTANU) Yang sudah lusuh. Ia baru sadar dompetnya hilang.

“kenapa pak, dompetnya  hilang ?”Tanya salah satu penumpang disebelahnya
“iya bu, nggak tahu nih kapan hilangnya, mungkin saat ikut acara NU di Sidoarjo tadi”,jawabnya kepada perempuan berkerudung itu dengan sedih
saat melihat KARTANU di tas sholeh, ibu Tua tersebut membacanya sambil manggut-manggut. 
“ya sudah nak, jangan sedih, untuk  ongkos pulangnya ibu yang bayar”kata ibu tadi penuh pengertian.
Sejak saat itu, Sholeh akrab dengan Ibu yang masih se-kecamatan dengannya itu dan makin akrab saat berjodoh dengan putrinya .
“ini namanya barokah KARTANU”,kata Sholeh dalam hati. (alf)

Hantu Kopi ‘Nescafe’ 
26/02/2005

Sejak tayangan TV dipenuhi, acara reality show mengungkap misteri dunia Hantu. Hasan salah seorang santri disebuah pesantren Di Jombang, sering mengalami ketakutan. Apalagi Kamar asrama yang dia tempati memang agak jauh dari kompleks induk. Makin membuat nyali Hasan Ciut. Hasan terkenal seorang santri yang suka bangun malam untuk qiyamullail serta belajar. Suatu malam disaat teman-temannya tertidur lelap, Hasan memberanikan diri bangun, seperti biasanya dimembuat kopi panas di dapur kamarnya. Sambil menunggu kopinya adem, ia kembali kekamar membaca buku, saat kembali kedapur mau meminum kopi tiba-tiba kopinya tinggal separo. Siapa yang meminum? Teman-temannya tidur pulas semua, mana mungkin mereka meminumnya? Tanyanya dalam hati. Hati Hasan makin was-was, jangan-jangan? Namun ia tetap nekad,  membuat kopi panas lagi, sambil menunggu dingin, ia kembali kekamarnya. Saat kembali kedapur Hasan makin terkejut, kembali kopinya tinggal, separo. Wah dia semakin yakin, kopinya diminum Hantu, belum sadar sepenuhnya, sekonyong-konyong muncul bayangan hitam mau mencekik Hasan dari belakang. Dengan sigap Hasan menantang, Hai Hantu, Saya tidak takut! Kalau kamu mau Kopi nih Sisanya kamu minum! Sambil menyiramkan sisa kopi panasnya kearah hantu. Tiba-tiba si Hantu menjawab “ Kalau NESCAFE saya mau ^^^. Hasan : Haaaa?. ******

Pisang Goreng Aktual 
26/02/2005

Saat ramai-ramainya gerakan penjatuhan Gus Dur dari kursi Presiden Tahun 2001. Orang-orang NU di Madura, terus mengawasi berita-berita di TV, untuk mengikuti perkembangan. Hampir tiap detik, TV mereka awasi. Termasuk Kyai-kyai Madura, sambil melihat TV kyai-kyai berdiskusi, lalu menerangkan pada santrinya ; pesan kyai” Para santriku kalian jangan sampai meninggalkan berita aktual tentang Gus Dur ini, harus selalu diawasi” pinta kyai berulang-ulang. Setelah acara usai, H Mardun salah seorang santrinya, bertanya: apa artinya aktual itu kyai? Saya kok ngung bingung Kyai? Ooh , actual itu artinya sedang panas-panasnya atau sedang hangat-hangatnya” oooh begitu ya kyai jawab H Mardun. Seminggu kemudian, H Mardun menjadi tuan rumah Istighosah dalam rangka memanjatkan doa pada Allah SWT, agar bangsa Indonesia diberi kesalamatan, termasuk Gus Dur. Setelah Acara selesai, segera hidangan dikeluarkan, termasuk pisang goreng. Lalu sebagai tuan rumah H Mardun, mempersilahakan para tamu memakan hidangan kecil” monggo poro kyai, para bapak, pisang Gorengnya dimakan mumpung masih aktual”. Para Kyai serempak tertawa.*******

Pasangan Amien dan Hamidah 
26/02/2005

 

Amien dan Hamidah adalah sosok pasangan suami-istri yang harmonis. Namun karean sebuah kesalahpahaman, pasangan itu bertengkar keras, bahkan sudah tidak saling sapa, atau saling tegur nama masing-masing. Anehnya, dalam urusan Sholat mereka tetap selalu berjamaah, walau masih dalam puncak kemelut.  Waktu sembahyang Maghrib tiba, Amien menjadi Imam, mulailah dengan membaca Surat Al-Fatihah, saat menjelang akhir bacaan; Walladhollieen, dibalas sama Hamidah keras2, kamu. Si Amien mulai dongkol mendapat balasan itu, saat Ruku’ tiba Amien mengucapkan samiallahuliamKamu. Demikian seterusnya sampai sholat mereka berakhir.*******

Al-fatihah 
14/03/2005

Bagi umat islam, nama adalah bagian dari doa. termasuk bagi kalangan warga NU. tak heran, untuk memberi nama anaknya sendiri mereka sowan (datang) ke kiai, ustadz. biasanya sang kiai akan mengutipl dari ayat alqur'an dan hadis atau mengambil nama pejuang-pejuang  NU tempo dulu dengan harapan sang anak kelak bisa meneladaninya.

Pak Makruf, seorang kepala rumah tangga yang berusia 65 tahun, juga melakukan hal yang sama untuk memberi nama anak-anaknya. pada kelahiran anak pertama sampai anak ke enam, ia selalu sowan dari satu kiai ke kiai lainnya,hingga tercatat 6 kiai yang di sowani untuk nama ke enam putranya. putra pertama ia mendapat nama dari kiai soleh, terus putra kedua dapat dari Kiai Ahmad dan seterusnya.

Putra pertamanya bernama Rohman, kedua Rohim, Malik, Nasta'in, Mustaqim dan putra terakhir Amin.

Jumlah anak yang cukup banyak  itu kadang membuat Pak Makruf lupa, sering panggil  Rohman padahal ia Rohim begitu juga ke anaknya yang lain. kadang ia kerepotan  memanggil satu persatu dari keenam anaknya seperti pada pagi hari waktu sarapan dan berulang-ulang manggil malah makin salah, akibatnya mereka malas sarapan. ya maklum pak Makruf sudah tua

Setelah lama termenung sambil mengahafal nama anak-anaknya, Rohman, Rohim,Malik, Nasta'in, Mustaqim  Amin. ia baru menemukan strategi praktis memanggil anak-anaknya secara tepat.

Pada keesokan harinya.saat sarapan pagi, dengan semangatnya ia berteriak......

"Al-fatihah, ayo sarapan" panggil  Pak Makrif. anehnya, dengan serempak ke enam anaknya bergegas sarapan tanpa perlu dipanggil dua kali. (alf)

Running text 
18/03/2005

Setelah rampungnya tim formatur yang terdiri dari Rais Aam Syuriah, wakil Rais Aam dan Ketua PBNU terpilih serta perwakilan dari PWNU, ketua PBNU terpilih bertanggung jawab mengumumkan ke masyarakat umum tentang Jajaran kepengurusan PBNU baik pengurus Syuriyah maupun Tanfidziyah.  

Seperti biasanya para wartawan baik dari media cetak maupun elektronik memadati ruang pertemuan di lantai 5 gedung PBNU, bagi media massa, mungkin informasi ini punya nilai news yang tinggi karena rumor yang berkembang bahwa kepengurusan kali ini akan mengakomodasi berbagai pihak . Dengan diawali prakata moderator, giliran Ketua Umum PBNU mulai membacakan jajaran pengurus mulai dari tanfidziyah, syuriah hingga Mustasyar.

Setelah forum tanya jawab dibuka, salah seorang wartawan bertanya.”pak Hasyim, bagaimana urutan-urutan pengurus itu dibuat,apa mungkin berdasarkan pretensi politik ? tanyanya antusias, maklum kondisi NU (kepengurusannya) setelah muktamar di Solo memang jadi sorotan pers.

“untuk menghindari kesalahpahaman, perlu diketahui dulu khususnya bagi wartawan bahwa urutan  jajaran pengurus yang terketik diatas kertas itu bukan berdasarkan apa-apa, baik itu gelar, tingkat kealiman atau kekayaan. Jajaran pengurus itu diketik oleh sekretaris dan disusun berurutan seperti ini biar enak dibaca” jelas Pak Hasyim

“maksudnya bagaimana Pak”, tegas wartawan tadi agak ngeyel 
“karena kalau di susun berbaris (bukan berurutan), namanya running text mas, yo opo sampean iku”,jelas Pak Hasyim di iringi gerrr-gerrr an wartawan lain. (alf)

Kisah Jamaah Haji membeli sorban 
21/03/2005

Setelah melakukan Thawaf wada' yang berarti thawaf selamat tinggal tanah suci Mekkah, para Jamaah haji mulai berkemas-kemas, tapi tidak dengan Pak Tukiman, jamaah haji asal Indonesia ini, malah bergegas ke pasar membeli oleh-oleh, karena oleh-oleh yang kemarin ia beli masih kurang.

Sebagaimana tradisi yang berkembang di masyarakat kita bahwa bagi siapapun yang pulang dari menunaikan haji di Tanah suci pasti akan kebanjiran tamu baik dari kerabat dekat, teman kerja, tetangga, bahkan dari masyarakat sekitar. mereka berbondong-bondong melakukan ziarah haji untuk meminta doa, pun tak ketinggalan pulangnya mereka dibawai oleh-oleh seperti air zam-zam, tasbih, sorban, sajadah dll dari tuan rumah atau Pak Haji.

setelah sampai di pasar, pak tukiman langsung menuju ke toko yang jual sorban dan alat perlengkapan shalat. dia berniat membeli 2 sorban saja.

Pak Haji tukiman merasa kebingungan saat mau ngomong beli dua sorban, maklum dia awam sama sekali dengan bahasa arab. setelah  berpikir lama bagaimana bahasa arabnya membeli dua sorban, akhirnya dengan tersenyum lega dia mendekati pedagang sorban.

"sorban rok'ataini",kata Pak Tukiman dengan fasihnya, dia ingat kalau shalat subuh dua rakaat itu "subhi rok'ataini" berarti 2 sorban bahasa arabnya "sorban rok'ataini".

"ma dza, ana la  afham",kata penjual sorban itu sambil mengernyitkan dahi

"sorban rok'ataini....", kata pak tukiman berulang kali.

".......mustaqbilal kiblati adaan lillahi ta'ala", jawab pedagang arab itu dengan kesalnya sambil meninggalkan Pak Haji Tukiman. (alf)

Belajar Bahasa Arab 
01/04/2005

Bagi pesantren, menguasai bahasa arab seolah-olah menjadi kewajiban yang sifatnya fardhu ‘ain supaya santri mampu membaca kitab kuning. Sehingga pelajaran di pesantren hampir dipastikan pasti ada Nahwu shorof (Gramatikal Arab) atau sering kita sebut “ilmu alat”.


Begitu juga santri di Pesantren Islamiyah, sore itu terlihat  para santri putra pada berangkat ke madrasah diniyyah, di salah satu kelas persiapan (Shifir) terlihat si Ustadz membuka kitab Al-Jurumiyah (nahwu) dan mulai menerangkan tentang kalimat verbal .


“ja’a zaidun artinya zaid telah pergi, ini namanya kalimat fi’liyah yaitu kalimat yang mengandung fiil dan fail”, jelas ustadz disambung dengan penjelasan kalimat nominal .
Setelah selesai mempelajari nahwu, Ustadz meminta para santri membuka tashrif sorof sebagai penutup sebelum pelajaran usai.


Setelah membaca tashrifan fa’ala  yaf’ulu  fa’lan wa maf’alan dan seterusnya, sang ustadz memberikan contoh fahimtu fahimna untuk kata yang sama wazan  fa’ila tapi di lengkapi dengan dhomir “tu” dan “na”.
“coba Rahman, beri contoh kalimat yang sama dengan fahimtu  fahimna “, tanya Ustadz

rodhitu rodhina”, jawab Rahman 

"shohih", jawab ustadz 
“Burhan, beri satu contoh lagi”, kata Ustadz melihat Burhan yang termenung.
Karena nahwu shorof adalah pelajaran yang paling tidak disukainya, dengan asal ia menjawab. “argentu-argentina”, jawabnya dengan enteng.
“kamu ini ada-ada saja, dasar maniak bola “, kata santri yang lain. (alf)

Suara di lift PBNU 
30/04/2005

Adanya ucapan salam di lift PBNU sebagai "istiqbalan kharon (sambutan hangat)" menjadi daya tarik tersendiri, paling tidak setiap yang berkunjung ke Kantor NU akan menceritakan hal ini pada teman diba'an, kubroan, muslimatan dan lainnya.

Setelah 2 bulan gedung PBNU ditempati, kiai-kiai datang ke PBNU melihat dengan dekat gedung berlantai 8 ini.

"setelah NU berdiri selama 75 tahun, baru mempunyai gedung yang megah", kata seorang Kiai sepuh

"betul, kita harus menceritakan pada generasi muda NU bagaimana susahnya perjuangan kita dengan kantor seadanya saat itu",kata kiai satunya menimpali

setelah melakukan shalat jamaah dan wirid, rombongan kiai-kiai itu lantas menuju lift. setelah lift terbuka betapa terkejutnya mereka ketika mendengar suara perempuan mengucap salam. "Assalamu'alaikum, anda tiba di gedung PBNU" kata suara perempuan dari mesin lift. "Alhamdulillah, anda tiba di lantai 4. selamat jalan",kata mesin lift setelah di lantai 4 terjadilah perbincangan tentang suara perempuan di lift itu apakah aurat atau nggak?, sebagian berpendapat boleh tapi sebagian minta suaranya di ganti laki-laki.

Setelah mengalami perdebatan panjang, beberapa kiai sowan ke seorang kiai sepuh.

" kalian disini ribut-ribut mempersoalkan hukum suara perempuan di lift gedung NU sedang orang lain disana pada berlomba membangun gedung-gedung yang berlift tanpa menghiraukan suara perempuan, laki-laki, banci sekalipun tidak apa-apa",kata kiai sepuh setelah mendengar penjelasan para rombongan kiai. (alf)

Doa suami 
30/04/2005

Sebagai seorang suami beristri dua memang dituntut bersikap adil tidak hanya kepada istri pertama tapi juga pada istri keduanya. walau kadang-kadang sering disalahpahami dan dipahami secara salah  oleh suami maupun istri.

begitulah kira-kira yang terjadi pada pak munir saat melakukan haji dengan kedua istrinya. kebetulan istri pertamanya bernama fatimah dan istri keduanya bernama khasanah. saat panas terik menyengat ketiganya bergegas menuju Multazam sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa.

dengan khusyuknya Pak munir dengan kedua istri di sebelahnya menengadahkan tangan berdoa panjang lebar. untuk mengakhiri doanya pak muinir memimpin doa sapu jagat

"robbana atina fiddunya khasanah wa fil akhiroti khasanah wa qina ...."belum selesai doa istri pertamanya  menyela

"mas, kok hanya si khasanah yang disebut sedang aku nggak,mentang-mentang dia istri muda. ini nggak adil namanya" kata fatimah ketus

karena bingung bagaimana menjelaskannya akhirnya pak munir meralat doanya

"robbana atina fiddunya khasanah wa fil akhiroti fatimah wa qina 'adzabannar", (alf)

Kamar mandi yang menghadap kiblat 
08/05/2005

Saat Muktamar ke XXXI NU di Asrama Haji Donohudan Solo para peserta yang berjumlah 2500 di tempatkan di mess Asrama Haji yang berblok-blok dengan nama kota-kota di Tanah suci dengan fasilitas kamar mandi yang sebetulnya cukup memadai jika melihat jumlah penghuni.

Pada umumnya di blok-blok lain cukup nyaman tidak harus mengantri sampai lama termasuk ngantri di kamar Mandi, tapi di salah satu blok yang dinamakan Bir Ali terjadi antrian panjang di kamar mandi setiap harinya. melihat kondisi ini panitia Muktamar menyangka karena kapasitas perkamar harusnya diisi hanya 8 orang,bukan 12 orang seperti saat ini. maka dari itu panitia mengambil inisiatif menguarangi 2 orang lagi.

"demi kesuksesan jalannya Muktamar, harus diatur berdasarkan kenyamanan peserta,"kata salah satu panitia akomodasi

Esoknya antrian panjang di Kamar mandi tetap seperti sebelumnya.usut punya usut ternyata penyebab antrian itu karena ada 5 orang penghuni kamar lain yang ikut mandi dan lain-lain,

setelah ditanya oleh Panitia kenapa kok malah numpang ke yang lain padahal tiap kamar sudah tersedia Kamar Mandi . 5 orang tersebut menjawab dia numpang karena tidak mau saat buang air besar menghadap kiblat. begitulah perwujudan hormat mereka terhadap ka'bah di tanah suci.

"Oh, jadi cari WC yang tidak menghadap Kiblat," kata panitia akomodasi menimpali.

 

Koran Sinar harapan di gaji oleh NU 
10/05/2005

Semua orang mengakui, selain dikenal sebagai organisasi yang dipimpin kiai, Nahdaltul ulama juga dikenal jago membuat guyonan segar untuk membuat susana cair. hal ini menjadi "trade mark"  tersendiri bagi NU. Tak heran kalau orang yang mau meneliti atau bertamu ke NU kadang belajar seni dan gaya berkomunikasi orang NU ini.

 

Hal ini terjadi saat wartawati Sinar Harapan bertandang ke kantor PBNU untuk mewawancarai salah seorang pengurus .

setelah selesai, tak lupa wartawati tersebut berbasa-basi.

 

"terimakasih atas waktunya untuk diwawancarai pak," kata wartawati sopan.

 

"iya sama-sama, kita kan bertetangga harus saling tolong menolong," kata pengurus tersebut .

 

memang gedung PBNU dan Sinar Harapan bersebelahan alias bertetangga

 

"terimakasih juga pak, karena saya digaji PBNU tiap bulan," kata wartawati itu

 

"lho, kok bisa ?,"kata pengurus NU

 

"tiap bulan saya ambil gaji di ATM Mandiri yang ada di gedung PBNU,pak,"katanya yang disambut gerr oleh pengurus NU tersebut.

 

begitulah bumbu berkomunikasi dengan orang NU. (alf)

Sorban kiai 
13/05/2005

Pasca reformasi, kran kebebasan dibuka selebar-lebarnya sebagai perwujudan demokratisasi. termasuk juga adanya multi partai yang awalnya cuma 3 menjadi lebih banyak lagi.

banyak tokoh masyarakat, para dosen, intelektual, pengusaha dan lainnya bergabung ke berbagai partai. Umumya  bagi tokoh islam dan sebagian kiai, mereka lebih memilih partai politik yang berafiliasi dengan ormas islam.

Namun ternyata ada juga seorang kiai yang memilih partai nasionalis sebagai tempat berjuangnya. dia akrab dipanggil dengan Gus.walau berbeda dengan partai kiai umumnya,   gus ini sangat PD (percaya diri) mengkampanyekan partai "merah" ini ke pesantren dan masyarakat. maklum namanya juga jurkam (juru kampanye).

"bagi saya,  apapun partainya, organisasi islamnya ya tetap NU," alasannya berkelakar saat ditanya kiai lainnya pada forum lailatul Ijtima' yang diselenggarakan NU Jatim. nampak hadir disitu para kiai dengan memakai jubah putih tak lupa sorban.

"dengan masuk ke partai ini, aspirasi warga NU yang memilih partai ini akan terakomodir, kiai," tambahnya.

"pokoknya kiai gak usah khawatir, saya tidak akan berubah menjadi tidak NU" jelas gus ini

"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu," kata salah seorang Kiai yang dipanggil kiai zaid

"tapi, kalau sorbannya nanti berubah nggak, gus," tanya kiai lainnya

"berubah bagaimana?" tanya  gus

"ya, barangkali dari putih ke merah," jawab kiai menyindir warna partai tersebut yang disambut gerrr hadirin. (alf)

Hotel Bintang sembilan 
13/05/2005


Trend  yang berkembang saat mengadakan pelatihan, Workshop dan kegiatan sejenisnya ialah melaksanakan kegiatan tersebut di Hotel, baik hotel berbintang maupun tidak. Tergantung budget masing-masing pelaksana walaupun untuk yang hotel berbintang hanya umumnya LSM-LSM yang dapat funding asing. tapi ternyata tak semua kegiatan selalu dilaksanakan di tempat begitu. khususnya kegiatan  yang didanai sendiri (self supporting)


contohnya yaitu saat pelatihan NU INFORS atau NU Online di PWNU Jawa Timur. pelatihan yang diikuti 60 peserta dari PCNU se-Jawa Timur ini ternyata cukup membuat panitia kewalahan. pasalnya kegiatan selama 2-3 hari itu  belum mendapat tempat bermalam yang murah meriah. Setelah mencari rumah penginapan yang layak tapi terjangkau ternyata sudah full book (penuh), satu-satunya yang tersisa yaitu hotel berbintang lima.


“Bagaimana ini, sekarang sudah hampir jam tujuh malam tapi kita belum mendapat rumah penginapan, yang ada hanya hotel berbintang lima”, kata ketua panitia saat rapat konsolidasi


“kita harus cepat mengambil keputusan, 15 menit lagi pelatihan hari pertama ini selesai, kasihan para peserta dan fasilitator dari NU Online sudah capek dan perlu  istirahat”, imbuh Cak paryono dengan semangatnya
Setelah acara selesai, panitia masih belum bisa cari alternatif solusi . akhirnya terpaksa dibicarakan di forum.


“gimana, bapak-bapak kita belum dapat penginapan, satu-satunya hotel yang tersedia di Surabaya ini yaitu hotel bintang lima. bapak tahu sendiri kan harga perkamarnya. Ada usulan ?”, kata Ketua Panitia


“oalah cak, kok bingung-bingung, dari pada  hotel berbintang lima, bagaimana kalau tidur di hotel bintang sembilan saja”, usul salah satu peserta dari PCNU Probolinggo


“saya setuju”, kata seorang peserta


“Iya betul, perjuangan Jam’iyyah kita masih butuh banyak dana, kenapa kita buang-buang hanya untuk ngorok saja”, imbuh cak Nur dari PCNU Surabaya


Akhirnya semua sepakat tidur di hotel berbintang sembilan alias tidur di Gedung PWNU  Jawa Timur. disebut hotel bintang sembilan karena Lambang NU kan ada bintang sembilannya. (Alf)