Serba-Serbi Kongres Fatayat (1) 
18/07/2005

Perempuan Berkuasa Sepenuhnya

Sebagai organisasi memfasilitasi gerakan perempuan, mereka berusaha untuk meningkatkan harkat dan martabat kaumnya. Paling tidak dalam kongresnya mereka bisa dilakoni semua aspeknya sendiri, dengan meminimalkan keterlibatan laki-laki.

Dalam acara pembukaan kongres yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, berkumpullah sekitar 1200 kaum hawa di arena tersebut. Inilah forum yang mereka kuasai sepenuhnya. Disinilah mereka tak harus berbagi dengan laki-laki, bahkan kadang harus mengalah.

Hanya terlihat tiga undangan laki-laki yang duduk di barisan depan diantara lautan jilbab. Mereka adalah Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Ketua PBNU HM Rozy Munir, dan Wakil Bendahara Sirojul Munir. Walaupun begitu tampaknya mereka PeDe saja.(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (2) 
18/07/2005

Sopir dapat Jatah Kamar Khusus

Tahu sendirilah, para petinggi Fatayat adalah kumpulan “the have”. Istrinya anggota DPR dari fraksi “anu” atau memang sedang menjabat sebagai anggota dewan yang terhormat, aktivis LSM yang banyak proyek, atau paling tidak ibu dosen dari universitas terkenal. 
 
Tak heran kemana-mana mereka selalu bermobil, dan tentu saja dengan sopir supaya tak terlalu pening memikirkan Jakarta yang selalu macet. Apalagi dalam arena kongres, kebanyakan mereka menjadi panitia dalam arena paling penting lima tahunan ini. Mobilitasnya tentunya sangat tinggi, entah untuk mensukseskan kongres atau untuk mensukseskan salah satu kandidat.

Sang sopir yang semuanya berjenis kelamin laki-laki tersebut harus selalu mendampingi dan siap kapan saja selama acara berlangsung. Dan jangan lupa sebagian besar sudah diberi fasilitas HP agar tak bingung mencari-cari jika dibutuhkan.

Mereka juga diberi fasilitas penginapan. Masalahnya ibu-ibu itu tentu risih jika kamarnya berhadapan. Makanya mereka ditempatkan dalam blok yang mojok, yang tak bisa berhadapan dengan peserta, bersama dengan para Bansser. Inilah win-win solution.(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (3) 
18/07/2005

Cuti Tiga Kali

Fatayat merupakan badan otonom untuk mewadahi kader muda perempuan NU. Rentang usia 25-45 tahun merupakan masa-masa produktif, masa dimana mereka melahirkan, masa menumbuhkan generasi baru bagi kelangsungan kehidupan di bumi, ini adalah tugas yang maha mulia, yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Makanya harap mafhum jika banyak peserta yang tak bisa datang dengan alasan hamil, melahirkan, atau anaknya belum bisa ditinggal. Sayang sekali, padahal bagi sebagian orang acara kongres merupakan momentum yang pantang untuk dilewatkan.

Bukan hanya dalam arena kongres. Kerap kali mereka harus cuti saat sedang menjabat sebagai pengurus. Bahkan salah satu pengurus penting di PP Fatayat dalam satu periode kepengurusan yang berdurasi lima tahun sempat cuti melahirkan tiga kali. Tak tahulah, apakah ada aturan tersendiri berapa lama tiap kali cutinya, atau sesukanya. Toh di Fatayat kan tidak digaji.(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (4) 
18/07/2005

Sejenak Berbelanja

Namanya ibu-ibu, stereotype sebagai makhluk yang suka belanja sudah terkenal di mana-mana. Bukan hanya persepsi lokal, tapi tampaknya sudah mengglobal. Lihatlah iklan, dimana-mana selalu menampilkan wanita muda cantik sedang memborong belanjaan. Apalagi kalau ada diskon. Hobi ini seringkali menyusahkan para suami yang gajinya pas-pasan.

Belanja sebagai aktifitas yang penting disadari betul oleh panitia kongres. Berbeda dengan muktamar atau kongres dilingkungan NU yang didominasi laki-laki, bazaar  biasanya dilaksanakan ala kadarnya. Namun bazaar di Asrama Haji Pondok Gede kali ini diawali prosesi khusus dengan pengguntingan pita.

Para peserta dari luar daerah tentunya dari rumah sudah memikirkan apa saja yang mereka beli untuk oleh-oleh. Bahkan salah satu kandidat pun sempat terlihat asyik melihat-lihat dagangan. Tak diketahui, ia benar-benar kepingin belanja atau sedang menerapkan salah satu teknik melobi cabang, layaknya lobi sambil main golf seperti yang biasa dilakukan para pejabat.

Juga tak diketahui, para pedagang tersebut untung besar atau tidak. Masalahnya kaum hawa ini semangat banget kalau menawar dagangan. Salah seorang pedagang sempat mengeluh“Dha nyucuk mas,”(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (5) 
18/07/2005

Siapa Bilang Tak Kuat Begadang

Jangan dikira ibu-ibu tak kuat begadang semalaman. Coba saja lihat pada acara pemilihan ketua umum Fatayat. Sebelumnya mereka sempat beradu urat menentukan batasan umur pengurus Fatayat yang cukup alot, 40 atau 45 tahun yang berlangsung semalaman, baru kemudian pemilihan.

Proses paling menentukan bagi organisasi untuk lima tahun ke depan tentu sayang kalau dilewatkan, apalagi ini saat yang sangat penting bagi kandidat dan tim suksesnya. Entah mengapa panitia kok tidak menyelenggarakan acara ini esoknya saja, tapi semuanya sepakat.

Dengan ditemani kopi dan teh, mereka berhasil memilih ketua umumnya ketika waktu sudah subuh. Sehabis itu, apakah mereka bayar utang tidur, langsung pulang atau melakukan kegiatan lainnya, sulit dilacak. Yang jelas ketika Nu Online mencoba menelepon pada jam 9-an ke HP-salah satu peserta yang biasanya langsung diangkat, kali ini terdengar deringan saja, tapi tak dijawabnya.(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (6) 
18/07/2005

Solusi Jitu

Kongres yang berlangsung selama tiga hari diisi dengan berbagai jenis rapat dan sidang. Dan tak semua peserta tertarik untuk memperhatikannya, walaupun mereka tetap mengikutinya, tapi mereka punya solusi jitu.

Jika kongres Ansor yang berlangsung ditempat yang sama beberapa waktu lalu, para peserta selalu mondar mandir ke sana kemari dengan suasana yang hiruk pikuk jika acara tak menarik, ibu-ibu Fatayat cukup ngerumpi dengan teman duduk disebelah. Mungkin sedang menimbang-nimbang kandidat terbaik, bisa juga membicarakan gosip terbaru yang nongol di infotainment.

Sekali-dua kali mereka menoleh ke panggung, takut ada sesuatu yang penting terlewatkan. Dan obrolan terus berlanjut sampai acara selesai dan kembali ke kamar masing-masing.(mkf)

Serba-Serbi Kongres Fatayat (7) 
18/07/2005

Foto Bareng Selebriti

Profil Maria Ulfa Anshor yang sering muncul dalam berbagai media sebagai aktifis perempuan tentu turut memberi kebanggaan pada para kader Fatayat. Ia sudah seperti layaknya selebriti. Wartawan pun seringkali ngantri minta wawancara jika ia muncul di kantor PBNU.

Kesempatan bertemu ini tak disia-siakan oleh peserta kongres dari berbagai daerah. Disela-sela acara persidangan, mereka meminta foto bareng. Banyak juga yang minta secara spesial, khusus berdua. Untung saja tak ada yang ngantri minta tanda tangan layaknya ABG yang ngefans berat sama idolanya.

Para fotografer bayaran dengan sabar memotret. Sekali-kali mengarahkan jika gaya model dadakan tersebut kurang pas. Kapan lagi bisa foto bareng. Siapa tahu, lima tahun mendatang Mbak Maria jadi menteri. Sudah punya foto bareng, bisa dipamer ke saudara atau rekan. Kalau tidak, kan nanti lebih susah lagi diminta bergaya bareng.

Dua-duanya diuntungkan, bagi penguasa incumbent yang ingin mencalonkan lagi. Ini tentu kampanye gratis yang murah.(mkf)