Guyonan Munas & Konbes NU 1 
04/08/2006

sebagai perhelatan akbar Nahdlatul Ulama, tak heran kalau sejumlah peserta dari luar jawa berdatangan lebih awal  ke Munas Alim Ulama & konbes NU yang diselenggarakan di asrama haji sukolilo 27-30 Juli kemarin

seperti PWNU Sulawesi Tengah datang sehari sebelumnya, begitu juga wilayah Pengurus wilayah luar jawa lainnya. mereka datang lebih awal dan sesegera mungkin menata akomodasi dan reimbursement (uang ganti) transportasi di ruang Lobby asrama Haji.

walaupun begitu, dari warga NU sekitar Surabaya juga ikut datang lebih awal untuk melihat-lihat. sehingga suasana terlihat ramai, baik di tempat parkir, mesjid, maupun di lobby.  
Alkisah, setelah sampai asrama haji, Nahdliyin (warga NU) dari pulau garam tersebut segera tanya ke panitia.

"Bagaimana supaya saya bisa melihat-lihat acara dan mendaftar ," katanya dengan khas logat madura

"Bapak  bisa langsung ke ruang lobby asrama haji ," jawab panitia yang kebetulan sibuk mempersiapkan NU Center

"Ada dimana ya ruang lobby-nya, " tanyanya kembali ke panitia

"Dari sini, lurus saja. nanti ada tempat yang bertuliskan Bir-Ali. nah, disitu," jawab panitia

"Yang bener saja sampean," tanya pengurus tersebut heran

"Bener pak," tangkas panitia

"Lho, di Asrama haji kok ada Bir-nya. kan Bir itu jenis minuman keras yang diharamkan," gerutu orang tersebut sambil ngeloyor pergi

"Karena namanya Bir-Ali, mungkin jadi halal," kata sopirnya menimpali
(Alf)

NU Dituduh Elitis 
16/08/2006

Para Nahldiliyin dari Madura yang mendatangi acara Munas dan Konbes NU di Surabaya memprotes pada pengurus PBNU.

“Bagaimana ini Pak Kiai, NU kok mulai elitis, tak peduli lagi dengan rakyat kecil seperti saya ini”.

Pengurus PBNU menjawab. “Kok sampeyan berpendapat seperti itu”

Lho ini bukan pendapat saya kiai, tapa baca spaduk itu dengan tegas bertuliskan NU Melindungi Semua Paham.”

“Lho, sejak dulu NU begitu, untuk menunjukkan toleransi warga NU pada semua kelompok”

“Bukan begitu pak kiai, kalau NU hanya melindungi orang yang paham, berarti orang-orang yang tidak paham seperi saya ini tidak akan dilindungi lagi oleh NU.” (nim)

Gitu Saja kok repot 
16/08/2006

Wacana politik paling populer saat Gus Dur jadi Presiden adalah kalimat “gitu saja kok repot!” Kini Papua bergolak akibat ulah investor. 

Kalimat dari Gus Dur itu pun hadir kembali di tengah kita dengan sedikit modifikasi: “Gitu saja kok Freeport!” 

(www.gusdur.net)

Ngefans pada NU 
27/09/2006

Ketika sedang istirahat siang dua orang professional muda yang berkantor di gedung pencakar langit Jl. Thamrin, Jakarta, berbincang:

“Tampaknya akhir-akhir ini kau semakin ngefans ke NU, kalau sembahyang  pakai songkok, pakai sarung segala.”

“O, iya kalau di NU itu enak sesuatu itu tidak dihargai secara mati, selalu ada alternatif”

“Kok bisa,” sela temannya. “Apa contohnya?”

“Contoh paling dekat adalah penentuan bulan Ramadhan ini. Kalau ormas lain sudah mematok pada tanggal 24 September, tetapi NU masih menunggu hasil rukyah. Hasilnya bisa seperti hasil hisab bisa juga selisih sehari, dengan demikian memungkinkan kita mendapat pemotongan. Kan lumayan.”

“Ah beragam kok ambil gampangnya aja, kalau mau ber-NU yang serius dong! Belajar itu kitab kuning!”

“Ya, itu langkah berikutnya.” (Bregas)

GILA NU 
29/09/2006

RUMAH Gus Dur di kawasan Ciganjur sehari-harinya tak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalnagn NU maupun bukan. Tak jarang mereka datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, menurut Gus Dur ada tiga tipe orang NU. "Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan membicarakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU," tegas Gus Dur.

Orang NU jenis kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam duabelas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, "Itu namanya orang gila NU," katanya.

Orang jenis ketiga, Gus?

"Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu saya jam dua dinihari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila," katanya.

Sumber: Gus Dur Net

Ahli Gramatika tapi tak Tahu Budaya 
03/10/2006

Pada suatu hari diselenggarakan pengajian kitab Manahijul Imdad, di sebuah pesantren dengan menggunakan sistem bandongan, kiainya membaca para santri menyimak. Di akhir pengajian  Sang kiai menguji kemampuan para santri membaca kitab tersebut. Santri yang dipilih yang paling senior yang tampak kemempuan gramatika Arabnya sangat tinggi.

Seorang santri yang disuruh membaca dengan sangat lancar, tetapi mengalami kesulitan ketika menjumpai kata Al-JMPSY, kemudian dibaca dengan Al-Jumfusy, kiainya bilang, “Salah!”

Lalu santri yang lain disuruh mengganti membaca kata itu dengan Al Jamfasi, “Salah lagi!” kata Kiai. Lantas santri yang satu lagi maju membaca Al-Jamfusi, “Salah semua!” bentak kiai.

Memang huruf Arab demikian juga huruf Ibrani cenderung merupakan kumpulan konsonan yang tanpa vokal, sehingga memiliki bunyi atau bacaan yang tidak pasti, tergantung posisi dan konteksnya. Apalagi bila kalimat tersebut ajam, dari bahasa asing, non Arab.

“Kalian ini semua ke-arab-araban,” kritik Sang Kiai. “Bacaan yang benar kata itu adalha Al Jampesy, artinya Kiai yang berasal dari Jampes atau Njampes yang ada di Kediri itu lho. Makanya walaupun kalian  pinter gramatika, tetapi pelajarilah budaya, karena budaya diluar gramatika, sehingga kalian tidak terkecoh oleh ilmu gramatika. Aneh kalau santri Jawa tidak tahu Jampes yang ada di Kediri. Itu ada ulama hebat.”

“Ya Kiai,” jawab santri serentak. (koun)

Banser Subhan dan Sugeng 
18/10/2006

Ketika ketemu dengan KH Hasyim Muzadi beliau mengeluarkan joke sebagai berikut:

Biasanya kemana-mana beliau dikawal oleh dua orang banser yaitu Subhan dan Sugeng. Suatu hari beliau pergi ke daerah jawa tengah beliau hanya di kawal oleh Subhan karena Sugeng berhalangan ikut.

Tuan rumah dengan ramah menyapa Subhan
Tuan Rumah : "Nopo Sugeng panjenengan?" 
Subhan : "Sanes, kulo Subhan."
Tuan Rumah : "(menanya lagi) Nopo sekalian Sugeng?"
Subhan : "Mboten piambaan."
Tuan Rumah : "Panjenengan prianton pundi?"
Subhan : "Kulo dagang."
Tuan Rumah : "Panjenengan ngasto nopo?"
Subhan : "Kopiah? "
( kebetulan Subhan melepas kopiahnya dipegang ditangannya)
Tuan Rumah : !!!!!?????
Subhan : ...........

KORBAN LAPINDO DI BERI GANTI RUGI 
30/11/2006

Setelah berbulan-bulan ribuan rumah dan  ratusan hektar sawah terendam Lumpur panas Lapindo, warga di 5 desa yang ada di kecamatan Porong menuntut ganti rugi dari pihak PT Lapindo. Warga desa Siring, Kedungbendo, Reno Kenongo, Jatirejo dan Mindi tak henti-hentinya menuntut ganti rugi dengan berbagai cara. Ada yang mendatangi areal lautan Lumpur , mendatangi pendopo Kabupaten Sidoarjo, orasi di tanggul penahan Lumpur, sampai mendatangi rumah Abu Rizal Bakri, sang pemilik saham terbesar Lapindo.

Meskipun desakan datang silih berganti, toh pihak Lapindo adem ayem. Malah berniat melimpahkan tanggung jawab ke Freehold. Sungguh tragis !! Padahal ditengah kedukaan warga yang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal dan sawah ladangnya, uang Rp.1000, Rp. 2000 sangat berharga untuk menunjang kehidupan mereka.

Sampai pada suatu saat, perhimpunan dari 5 desa yang menjadi korban tersebut berkumpul dan “unjuk gigi” ke Bupati dan perwakilan dari Lapindo.

“Bagaimana nasib kita ini, pak?, sudah lima bulan kami terkatung-katung?” Tanya bu maryam dengan bahasa Jawa Suroboyoan

“Padahal saya jualan rujak laris sekali di Siring,” sambungnya

“iya, kami akan secepatnya mencari solusi untuk warga siring,” jawab Bupati

“tidak hanya warga Siring pak, saya dulu mbecak di Reno Kenongo dan bisa membiayai dua orang anak yang sekolah di SMP. Sedangkan sekarang, jalanannya sudah tenggelam dengan Lumpur. Bagaimana nasib keluarga kami,Pak?” ungkap cak Dul memelas

“kami juga tidak bisa ke sawah lagi,” sahut Pak Jani

“begitu juga dengan pak, tidak bisa ke pabrik lagi,” kata Zubaidah, karyawati pabrik jam.

Suasana makin panas, warga makin bersemangat menyuarakan kondisinya saat ini

“tenang, tenang. Kami juga tidak tinggal diam. Pihak Lapindo akan bertanggungjawab,” jelas Perwakilan dari Lapindo

“tanggung jawab opo?, kene wes nggelandang limang wulan (kami sudah terkatung-katung selama 5 bulan),” teriak cak gimin

“wes ga kakean cangkem pak (jangan banyak bicara), kapan jelasnya?” sahut munir khas suroboyan

“segera,” jawab pihak Lapindo 

“saudara-saudara, sepertinya kita nanti tidak dibayar pakai rupiah,” kata Pak RT seraya berdiri

“terus, dibayar pakai apa, Pak RT? Dollar atau Ponsterling?,” Tanya salah satu warga bingung campur penasaran

“tidak, tapi dibayar pakai yen,”Jawab Pak RT

“maksudnya yen ono (kalau ada),”sambung Pak RT gusar. (Alf)

SUDAH DIBOR INUL KOK !! 
30/11/2006

Semburan Lumpur panas di Porong Sidoarjo akhir mei lalu menjadi perhatian publik. Berbagai  analisa geologi pun bermunculan. Ada yang mengatakan semburan Lapindo merupakan fenomena alam akibat gempa bumi di Yogyakarta. Di lain pihak mengatakan,   Lumpur panas ini akibat kesalahan perusahaan semata, karena telah mengebor pada kedalaman diluar batas. Bahkan ada yang bilang, kalau sebetulnya Lumpur panas itu berasal dari gunung Lumpur bawah tanah ribuan tahun yang lalu.

“Walau analisa ilmiah tersebut dikemukakan, Lumpur tetap menyembur makin deras. Sekarang yang penting solusinya,” kata KH. Hasyim Muzadi dalam acara Halaqah pra Munas di Malang beberapa waktu lalu

“betul pak, tapi kami heran kenapa yang dibor Lapindo malah keluar Lumpur bukan gasnya,” Tanya seorang pengurus MWC NU yang hadir

“ya sudah jelas tho, lha wong minyaknya sudah dibor Inul kok sebelumnya.” Jawab Ketua PBNU tersebut disambut dengan hadirin

Sebagai informasi, Inul itu memang berasal dari sebuah desa yang bertetangga dekat dengan kecamatan Porong. (Alf)

Gantikan Istri Pastur 
01/12/2006

Dalam sebuah kesempatan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi merasa tersudut atas sindiran seorang pastur (pemuka agama Katolik) kepadanya. Sindiran tersebut diajukan dalam bentuk pertanyaan.

"Kiai Hasyim, para kiai itu kok banyak istrinya sih?" tanya Sang Pastur penasaran.

Mendapat pertanyaan yang agak tabu untuk dibicarakan itu, Hasyim terdiam sejenak dan tampak berpikir keras untuk mencari jawaban paling tepat. Tak lama kemudian. "Kiai itu banyak istrinya karena menggantikan istri pastur-pastur yangnggak jadi," jawab Hasyim diplomatis.

Tak bisa dielakkan lagi, meledaklah tawa di antara mereka berdua. (rif)

Doktor Honoris Causa atau Humoris Causa? 
02/12/2006

Prosesi pengukuhan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi atas gelar Doktor Honoris Causa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/12) lalu, tampak lain.

Aula GEMA IAIN Sunan Ampel yang didaulat jadi tempat penobatan gelar kehormatan itu mendadak riuh oleh tawa hadirin setelah sebelumnya tampak kaku dan tegang. Kejadian tersebut, tak lain akibat Hasyim yang dikenal jago bikin humor melancarkan joke segarnya.

"Alhamdulillah dan terima kasih atas penghargaan Doktor Honoris Causa yang diberikan IAIN Sunan Ampel Surabaya kepada saya," kata mantan Ketua PWNU Jatim itu mengawali pidatonya.

"Namun," lanjutnya. "Saya perlu konfirmasikan, apakah saya ini diberi gelar Doktor Honoris Causa ataukah Doktor Humoris Causa?" tanya Hasyim.

"Soalnya bisa campur-campur," imbuhnya diikuti gerr hadirin. (alf)

Menangguhkan Keputusan Rapat 
15/12/2006

DALAM sebuah Konfrensi Wilayah NU Jawa Timur terjadi perdebatan berlarut-larut mengenai soal rangkap jabatan NU dengan partai politik, padahal jam sudah hampir habis. Lalu seorang kiai yang menjadi moderator segera mengambil langkah.

“Saudara-saudara, karena waktu hampir habis, maka kami harap perdebatan mengenai masalah ini kita sudahi biar segera bisa diambil kesepakatan, karena itu persoalan ini perlu kita tangguhkan bersama,” begitu moderator mengarahkan.

“Lho Kiai ini bagaimana??” kata seorang peserta yang mengintrupsi. “Katanya kita diminta segera mengambil kebutusan, kok malah disuruh menangguhkan?”

“Memang begitu,” sanggahnya. “keputusan yang kita harapkan adalah keputusan yang tangguh sehingga posisinya kuat dalam mengikat para pengurus NU, karena itu keputusan harus ditangguhkan,” katanya sambil mengepalkan tangan dengan yakin.

“Oo begitu maksudnya, lain kali kalau berbahasa yang benar Kiai. Ditangguhkan itu artinya ditunda, protes seorang Kiai yang lain. Pakai istilah dikukuhkan atau disepakati saja biar lebih pas, tidak bikin bingung peserta.”

“Sudah benar kan kata ditangguhkan itu berasal dari kata tangguh, artinya kuat!!” sanggahnya tidak mau kalah.

“Ya sudahlah yang penting keputusan harus kita tangguhkan bersama,” kata mereka serentak sambil tersenyum geli menyadari kejanggalannya. (mdz)

Perbedaan NU dan Muhammadiyah tentang Hilal 
22/12/2006

Dalam sebuah sidang Isbat, seorang wakil dari Muhammadiyah menyatakan bahwa untuk menentukan lebaran tidak perlu  melakukan rukyah, karena perhitungan hisab yang akurat sudah bisa memastikan hilal akan muncul dan lebaran tiba.

Sementara kalangan NU berpendapat bahwa walaupun sudah melakukan rukyah juga masih perlu dikonfirmasi dan diiuji di lapangan sehingga diketahui apakah hilalnya tampak atau tidak. Karena itu NU selalu gigih melakukan rukatul hilal, sementara Muhammadiyah tidak perlu menguji teorinya.

Melihat kenyataan itu seorang peserta berkomentar; “aneh ya orang NU dan Muhammadiyah itu”

“Apanya yang aneh?” tanya temannya. “Mereka berpikir berdasarkan paradigma mereka masing-masing jadi  pantas kalau berbeda hasilnya”

“Justeru itu”, sahut temannya ”selama ini orang Muhammadiyah kan paling demen sama bulan sabit, sehingga digunakan sebagai lambang partai mereka (Masyumi, MI dan PBB). Ternyata mereka malah tidak mau mencari hilal atau bulan sabit. Sementara sejak NU keluar dari Masyumi sangat alergi dengan simbol bulan sabit itu, tetapi setiap peralihan bulan mereka selalu sibuk mencari bulan sabit di kaki langit”

“Ya maklumlah”, komentar temannya ”Muhammadiyah tidak mau repot dengan hilal yang ada di langit yang posisinya selalu berubah. Karena itu disimbolisasi menjadi lambang yang bisa disimpan dan dimiliki. Sedangkan NU menolak simbolnya tetapi menerima barang otentiknya.” (bregas)

Tradisi Baru Ber-SMS 
03/01/2007

Kita ini mengikuti tradisi NU, "mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik."

"Lha ketika kita mengambil tradisi baru yang baik tapi beyanya kok mahal!!" keluh seorang santri dinpinggiran Jakarta pada temannya.

“Berati kau telah melakukan ijtihad, lalu ngumpulin kitab-kitab sehingga butuh banyak beya.”

“O tidak, itu lho gara-gara sekarang berkembang tradisi mengirim ucapan selamat berpuasa lewat SMS pulsa yang baru saya beli dua hari yang lalu sudah ludes.”

“Kenapa begitu?" tukas temannya.

“Lha iya kita menerima banyak SMS ucapan selamat, maka kita harus membalas itu kan butuh biaya, sementara kalau tidak menjawab dikira sombong.”

“Ya itu sudah resiko zaman modern yang serba duit. You masih ingat pepatah Jawa bahwa jer basuki mowo beyo, bahwa pembaruan itu memerlukan beaya." (bregas)

Tugas Imam Shalat bertambah 
16/01/2007

Perkembangan teknologi ini ternyata pengaruhnya besar sekali dalam kehidupan.

"Termasuk agama, sehingga dalam menjalankan solat pun mengalami perubahan," kata seorang santri.

“Tidak bisa, masalah sholat adalah masalah qoth’i, mutlak tidak bisa diijtihadi lagi, tak boleh diubah semodern apapun perkembangan zaman.”

“Tetapi dalam kenyataannya mengalami perubahan sendiri,” tegasnya.

“Ah tidak.. Mana contohnya?? Sholat di mana-mana tetap seperti zaman Nabi”

“Ente tidak tahu, kalau selama ini imam shalat hanya menyarankan kepada jamaah untuk merapatkan dan meluruskan barisan sholat, tetapi sekarang ini tugasnya tambah satu, yaitu menyerukan untuk mematikan HP!!”

“:Benar juga ya, masak lagi shalat lalu menerima telepon nanti shalatnya bisa batal.” (Munim)

Kiai Kampungan vs Kiai Sepuhan 
16/02/2007

Ketika Gus Dur menyelenggarakan silaturrahmi ulama kampung banyak komentar bermunculan, mau buat manuver apalagi Dewan Syuro PKB itu.

Salah seorang meyindir. ”Ngapain Gus Dur ngumpulin kiai kampung, apa ini bebrati dia telah kehilangan pengaruh dikalangan kiai sepuh.”

Teman di sebelaknya segera berkomentar, “Ya baguslah, kalau  selama ini Gus Dur hanya mengadakan forum bersama ulama sepuh kiai khos dan ulama langitan, sudah saatnya kiai kampung diperhatikan.”

“Mendingan ngumpulkan kiai kampungan dari pada kiai sepuhan,” celetuk seorang yang lain.”

“Apa yang kau maksud dengan kiai sepuhan itu kiai karbitan?” tanyanya.

“Ya, memang apalagi!” (Bregas)

Untung NU Tidak Dimasukkan Laboratorium Kriminologi 
22/03/2007

Ketika buku tentang NU Studies didiskusikan di Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (UI) Depok panitia dan peserta mengeluh karena beberapa intelektual dikampus kuning itu enggan datang untuk memberikan telah buku yang sangat kritis terhadap teori modernisaai yang mendominasi UI.

“Ya tetap bersyukurlah buku ini bisa diselenggarakan dilaboratorium ini dengan meriah, dihadiri masasiswa dan pengamat,” kata moderator menenangkan peserta.

“Ya kita sangat kecewa karena mereka tidak mengapresiasi upaya intelektual yang kita selenggarakan,” kata mereka dengan nada emosional.

“Sebenarnya kita beruntung dengan ketidakhadiran mereka, sebab kalau mereka dikritik diforum ini, bisa-bisa forum ini diusir mereka dari laboratorium sosiologi ke Laboratorium Kriminologi UI, karena kritik buku ini bisa diangap kriminal bahkan subversif terhadap kemapanan pemikiran para ilmuwan sosial UI.”

“Benar juga ya?” kata seorang peserta menggerutu. (Bregas)

Kader Ulama Mbah Marijan 
02/04/2007

Para pimpinan NU risau terhadap regenerasi ulama, sebab dirasa semakin hari ulama besar semakin langka. Karena itu program kaderisasi ulama di jajaran Syuriah NU dilaksanakan.

Namun di antara para kiai yang ikut merencanakan programn itu ada yang berpendapat lain, ”Saya sih tetap pesimis bahwa kebutuhan mengisi jabatan di jajaran syuriah akan mudah terisi sejak level pusat hingga level ranting itu bisa terjadi dengan sangat baik melalui proses alamiah.”

”Lihat saja realitasnya. Untuk mencai gonti Rois Aam yang pas sangat susah, apalagi mencari ganti rais Suriah tingkat ranting seperti Mbah Marijan tentu susah sekali,” komentar seorang kiai lagi.

Namun Kiai astunya masih dengan optimis mengatakan ”Oalah gitu aja kok repot,  untuk mencari ganti Mbah Marijan sungguh gampang, bukankan NU telah menyiapkan Dr. Kacung Marijan sebagai gantinya!” (Ganesa)

Santri Menjinakkan Sopir 
09/04/2007

Pesantren X berada di jalan raya antar propinsi. Karena tempat itu di luar kota maka jarang bis antar kota yang mau berhenti di tempat itu, padahal untuk mengirit waktu dan biaya santri harus turun di tempat itu biar tidak nyembung dengan ojek atau angkot.

Kadang sopir mau menurunkan mereka tetapi bis tetap jalan dengan kecepatan tinggi sehingga para santri horus meloncat, tidak sedikit yang terjatuh, apalagi rata-rata santri bepergian dengan menggunakan kain sarung ukan celana panjang.

Suatu hari ada anak yang sedang disunat naik bis antar kota dan minta diberhentikan di pesantren tersebut. Ternyata sopir dan kondektur melayani dengan sopan.

Sejak itu para santri bila minta turun di daerah itu selalu bilang ”Tolong Pak Sopir ada anak disunat yang mau turun!” Tanpa periksa sopir segera berhenti, apalagi para santri semuanya pakai sarung.

Lama kelamaan sopir dan kondektor keheranan, ”Aneh di pesantren ini masak tiap hari banyak sekali orang disunat, bahkan sudah dewasa pun mengaku baru disunat?”

”Makanya Pak sopir harap menurunkan penumpang di sini dengan semestinya, biar tidak selalu ditipu oleh orang yang mengaku disunat!” (Bregas)

Hukum Tidur Telentang 
16/04/2007

Seperti biasa setiap bulan Kiai Hasyim memberikan kajian khusus masalah fiqih di suatu pondok pesantren. Pada bulan ini beliau membahas tentang hukum tidur telentang. Kia Hasyim menjelaskan bahwa tidur telentang hukumnya haram karena membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Sontak, seluruh santri di pondok pesantren yang hadir bengong dan terdiam sekaligus enggan untuk bertanya kepada Kiai Hasyim yang kharismatik itu. Walaupaun Kiai Hasyim menjelaskannya dengan senyum sabagaimana ciri kas para kiai Pondok Pensantren. Tidak terasa, pelajaran figih hukum tidur telentang usai dijelaskan meskipun waktu sudah larut malam dan para santri dalam keadaan kritis mengantuk.

Akhirnya jam dinding berdentang menunjukkan jam 12 malam. Ngaji di pondok pesantren tersebut telah usai. Tetapi dalam perjalanan pulang para santri terheran dengan hukum tidur telentang. Kontan, mereka para santri saling bertanya dan diskusi kecil dan mereka tidur dengan posisi badan miring takut dengan hukum tersebut.

Keesokan harinya pelajaran dilanjutkan dengan diskusi. Namun beberapa santri datang agak terlambat karena bangun agak terlambat. Pada saat diskusi ada seorang santri yang memberanikan diri untuk bertanya mengapa tidur telentang hukumnya haram.

Kia Hasyim, dengan tangkas dan penuh kebapakan berkata, ”Ya, sudah jelas tidur sambil 'telen' 'tang' itu membahayakan bagi keselamatan jiwa makanya hukumnya haram."

"Lha wong, anda tidur sambil telen air saja sulit, kok mau tidur telen tang apalagi bangun tengah malam untuk qiyamul lail,” jelas Kiai Hasyim mengakiri diskusi sambil tersenyum.

Joko Sumiyanto
University, Mississippi-USA