Haram Jadi Halal 
23/04/2007

Segala sesuatu yang awalnya hukumnya haram, akan menjadi halal setelah ada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi. Begitu keyakinan masyarakat Madura seperti diungkapkan Hasyim di hadapan para pemuka dan tokoh lintas agama di Kantor PBNU belum lama ini.

Alkisah pada suatu hari masyarakat Madura diberi bantuan oleh salah satu lembaga gereja. Tanpa berpikir panjang, bantuan itu ditolak oleh masyarakat dengan alasan hal tersebut merupakan upaya Kristenisasi.

"Kesalahannya, bantuan itu diberikan tidak bersama-sama para ulama. Jadi masyarakat menganggap bantuan itu adalah Kristenisasi, hukumnya haram kalau diterima," terang Hasyim.

"Setelah saya datang," lanjutnya, "masyarakat jadi mau menerima bantuan itu."

"Jadi, bantuan yang semula dianggapa haram itu jadi halal setelah didatangi saya," pungkas Hasyim disambut tawa hadirin yang sebagian besar merupakan para pemuka dan tokoh lintas agama itu. (rif)

Cash and Carry 
30/04/2007

Kesal tak kunjung diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, warga Perumahan Umum Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perum TAS) yang menjadi korban semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas di Sidoarjo, Jawa Timur, menemui Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, di kantornya.

Dua perwakilan warga yang diterima Hasyim langsung mengungkapkan penderitaan mereka selama ini, terutama dalam hal pembayaran uang ganti rugi secara tunai langsung (cash and carry) oleh PT Lapindo Brantas yang hanya berupa janji-janji belaka.

"Pak Kiai... kita selama ini sudah cukup sabar menunggu Lapindo agar bisa secepatnya membayarkan uang ganti rugi seperti permintaan kami. Tapi kesabaran kami sudah habis. Kita sampai sekarang belum mendapatkan apa-apa," ujar Hari Purnomo, salah satu perwakilan warga kepada Hasyim.

"Lho... jadi yang pembayaran cash and carry itu belum dibayar juga?" tanya Hasyim.

"Belum, Kiai," kata Hari mantap. "Kita cuma dijanji-janjikan cash and carry saja, tapi nggak pernah dibayar," tambahnya.

"Mungkin cash and carry itu, carry-nya itu maksudnya keri-keri(Bahasa Jawa: belakangan entah kapan, Red)," timpal Hasyim, dan meledaklah tawa seisi ruang kerjanya. (rif)

Salah Rujukan 
07/05/2007

Ketika dilaksanakan kaderisasi Syuriah NU seorang kiai menyuruh asistennya mengumpulkan kitab sebagai rujukan dalam bahsul masail. Kitab yang tersedia sebagaimana mestinya. Seketika itu datang kiai lain kaget melihat judul kitab yang dirujuk kiai tadi.

“Kiai, kitab ini kan tidak muktabarah, kenapa dijadikan rujukan?” tegurnya.

”Ah tidak ini kan kitab Aswaja juga,” jawabnya tenang.

”Bukan kiai, ini kitab Syarah Ushulul Khamsah tentang Kemuktazilahan, karangan Abdul Jabbar dedengkot Muktazilah,” ia menjelaskan

”Oh iya to, padahal isinya cukup bagus, kalau begitu saya coret rujukannya.”

”Ah tidak usah dihapus juga tidak apa-apa,” kata kiai lain yang telah mengenal kitab itu. ”Walaupun Abdul Jabbar itu Imamnya Muktazilah, tetapi dia sama dengan kita beliau itu fikihnya bermazhab Syafiiyah.”

”Benar tetapi yang dikutip ini ilmu kalam, bukan fikih, karena itu dia muktazilah bukan Syafiiyah.”

”He nanti kalau mengambil kitab hati-hati ya!” bentak sang kiai pada santrinya,” wong disuruh mengambil kitab Kulliyatul Khams kok diambilkan Syarah Ushulul khams.
. 
”Ya, ya mohon maaf kiai,” kata sang santri merunduk-runduk. (Kun)

Persaingan Keluarga Kiai 
14/05/2007

Suksesi kepemimpinan di pesantren sering tidak mulus karena anak kiai banyak, sehingga berebut kekuasan setelah kiai utama meninggal. Persaingan itu biasanya berujuang pada pembagian kekuasaan. Pesantren dipecah menjadi beberapa bagian, sehingga mereka menjadi pemimpin bersama-sama.

Namun demikian persaingan terus berlangsung, yang satu membangun yang lain ikut bangun, yang satu mengadakan acara yang lain menyaingi kegiatan serupa.

Di sebuah pesantren di Yogyakarta peristiwa itu terjadi dengan nyata. Seorang kiai tertua mendirikan Ma’had Ali (Pesaantren Tinggi), lalu adiknya tidak mau kalah, setahun kemudian di komplek pesantren yang dipimpinnya didirikan Ma’had A’la (Pesantren Lebih Tinggi). Adiknya yang bungsu ternyata tidak mau kalah, dua tahun kemudian ia  mendirikan pesantren dengan nama mentereng, Ya’lu wala Yu’la alaih (tertinggi tiada yang menandingi).

Setelah masing masing berdiri, tidak ada santri yang betah di pesantren itu, sebab di dalamnya hanya pengajian biasa, soalnya pesantren didirikan tidak dirancang dengan baik, tidak diajarkan kitab yang berbobot dan kiai yang berbobot pula. Akhirnya seuanya terpuruk. 

Setelah menyadari kekeliruannnya lalau mereka berembuk ketiganya dipadu dirancang secara dingin, santri pun kembali datang.(Bregas)

Dalilnya Bakul Jamu 
05/06/2007

Beberapa mahasiswa alumni pesantren mengunjungi seorang kiai senior di Jombang Jawa Timur. Mereka bercerita seputar kegelisahan merebaknya pemikiran Islam garis keras yang meresahkan. Maksud hati ingin meminta nasihat-nasihat kiai agar diberikan bekal untuk menghadapi kelompok ini, sembari diijazahi amalan-amalan dan doa-doa agar lebih percaya diri.

Sang kiai tersenyum. ”Mereka itu sedikit, cuma satu dua orang, tapi nekat,” katanya sambil terkekeh. Para mahasiswa alumni pesantren ikut tertawa, tapi tidak banyak punya alasan mengapa mereka ikut tertawa. Ya asal kiai tertawa, ikut tertawa saja.

Sang kiai meneruskan: ”Kalau mereka masuk ke kampus-kampus ya mestinya yang bisa menghadapi itu mahasiswa yang pernah belajar di pesantren seperti anda-anda ini. Dan itu sangat mudah,” katanya. Para alumni pesantren saling pandang. Tadinya mereka ingin mengeluh, eh malah dimentahkan begitu saja.

”Mereka suka mengeluarkan dalil, Kiai!” kata seorang alumni. ”Sementara kami dulu diajari untuk tidak terlalu gampang mengeluarkan dalil.”

Ya. Para santri tidak diajarkan untuk menghafal dalil dalil Al-Qur’an atau hadits Nabi. Namun bukan berarti para santri tidak bisa mengucapkan dalil-dall. Dalil tidak penting diucapkan. Yang penting adalah maksud dan isi kandungan dari dalil dalil itu, lalu diamalkan.

”Bagaimana kalau kita ikut-ikutan mengeluarkan dalil kiai! Sebetulnya bahan kita kan lebih kaya. Biar mereka tahu rasa. Mereka kan hafalnya Cuma itu-itu saja,” celetuk seorang alumni.

Sang Kiai terdiam. Para alumni pun ikut terdiam.

Lalu, sang kiai tersenyum. Para alumni pun ikut tersenyum.

Sang kiai bercerita: ”Dulu, waktu saya kecil saya sering lihat bakul jamu (pedagang jamu: red) di Pasar Cukir. Mereka itu kalau berdagang sambil mengeluarkan dalil begini ’Kullun insanun wajibun ihtiyarun.’ Salah semua begitu, wong mereka ngga bisa baca kitab kuning, apalagi faham maksudnya!?”

Sang kiai lalu terkekeh. Tiba-tiba para alumni pun ikut tertawa. Kali ini para alumni benar-benar punya alasan untuk tertawa. Pertemuan singkat dengan kiai telah menyadarkan bahwa mereka sebenarnya tidak sedang berhadapan dengan masalah besar. Yang mereka hadapi, kelompok yang dikatakan sebagai Islam garis keras itu, tidak ada apa-apanya. Ternyata.(nam)

Surban Sekaligus Helm 
08/06/2007

Seorang kiai tampak tergesa-gesa menyalakan motor bututnya. Ia harus secepat mungkin sampai di masjid agung yang berjarak sekira 3 kilometer dari kediamannya. Karena petang hari itu sang kiai ada jadwal untuk meng-imam-i shalat Maghrib.

Setelah mesin motor dinyalakan, sang kiai baru ingat bahwa ia tak menggunakan helm (pelindung kepala). Sebagai warga negara yang taat hukum, ia sadar bahwa tak mungkin mengendari motor tanpa pelindung kepala itu. Ia pun segera buru-buru mengambil helm di dalam rumahnya.

Eits… ada yang lupa lagi. Ia bingung bagaimana menggunakan helm, sementara surban sudah terikat rapi di kepalanya. Waktu yang semakin mepet, tak mungkin membongkar surbannya dan menggunakan helm, sementara ia harus memasang serta merapikan kembali surban setibanya di masjid tujuan.

Tak kehilangan akal. Ia melepas surban kebanggaannya lalu menggunakan helm. Belum selesai begitu saja. Demi menghemat waktu, dililitkannya surban tersebut pada helm yang ia gunakan. Lalu… tancap gas.

“Priiiiiiittttt….” Tampak di depan Pak Polisi yang sedang mengatur lalu lintas berusaha menghentikan laju motor sang kiai.

“Selamat petang, Pak Kiai,” sapa Pak Polisi.

“Selamat petang juga,” jawab sang kiai.

“Bisa saya lihat surat-suratnya,” pinta Pak Polisi.

Beruntung sang kiai membawa lengkap surat-surat yang diminta serta menunjukkannya pada Polisi di hadapannya.

“Kok nggak pakai helm, Pak Kiai. Mana helm-nya?” tanya Pak Polisi.

Tanpa ragu sang kiai melepas surban yang melilit dan menutupi helm yang digunakannya. “Ini,” ujarnya.

Sejenak Pak Polisi tersebut terdiam dan tampak berpikir. “Mmmmmmm…????” “Baik, silakan jalan kembali. Terima kasih.” (rif)

Kalkulator Buatan AS dan Inggris 
10/06/2007

Amerika Serikat (AS), menurut KH Hasyim Muzadi, adalah negara yang di dalam ‘kamus’ hidupnya tidak pernah ada kata rugi, bahkan impas sekalipun. Begitu juga terhadap negara-negara kecil dan berkembang yang ia kuasai, jangan sampai ada istilah rugi.

Setiap ekspansi ekonomi perusahaan-perusahaan besar milik negeri adidaya itu harus balik modal plus keuntungan berlipat ganda. Setiap invasi dan agresi yang dilakukan terhadap negara-negara kecil, harus selalu membawa keuntungan, utamanya keuntungan ekonomis.

“Jadi, kalkulator buatan Amerika Serikat dan Inggris itu beda. Kalau kalkulator buatan Inggris itu lengkap, ada tombol pembagian, pengurangan, perkalian dan penambahan. Nah, kalau kalkulator buatan Amerika Serikat itu, cuma ada penambahan dan perkalian. Pembagian nggak ada, apalagi pengurangan,” kata Hasyim yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. (rif)

Dituduh Lebih Syiah 
14/06/2007

Ketika memasuki ruangan ketua Umum PBNU Kiai Hasyim Muzadi, tiba-tiba Kiai Said Agil Siradj nyeletuk. “Wah ini benar-benar tidak adil,” kata Said Agil sambil memandangi foto-foto yang dipajang di ruangan.

“Apanya yang tidak adil?” tanya Kiai Hasyim Muzadi keheranan karena dituduh tidak adil.

“Ya, sebenarnya sampeyan itu sangat Syiah lho, itu lihat banyak foto-bersama Ayatullah, tetapi kok hanya saya yang dituduh Syiah,” kata Kiai Said.

“Ooo.. beda saya dengan sampean Pak Said, kalau saya bolak balik ke Iran hanya membela reaktor nuklir Iran. Sementara sampeyan membela ajaran Syiah,” papar Kiai Hasyim.

“Ah enggak juga saya kan hanya menjelaskan beberapa kesamaan Syiah dengan Ahlussunnah, masa gitu aja sudah dianggap Syiah. Padahal masuk Syiah ada syahadat dan baiat sendiri.”

“Ah wong namanya tuduhan biarin aja nanti kan reda sendiri,” hibur Kiai Hasyim Muzadi. (dam)

Karma Menimpa Muhammadiyah 
18/06/2007

Seorang Pimpinan Muhammadiyah tiba-tiba mengontak pengurus di kantor PBNU, karena ternyata juga banyak masjid dan sarana Muhammadiyah yang lain diserobot Islam radikal.

“Ah gitu aja kok risau,” kata pengurus PBNU

“Lho gimana kami tidak risau, kalau NU selama ini juga mengeluh mesjidnya juga hilang!?”

“Lho kalau NU kehilangan masjid itu Musibah, kalau Muhammadiyah kehilangan mesjid itu hukum karma, hehe..

“Karma apa?”

“ Iya dulu Muhammadiyah yang ngambili masjid dan sarana NU, saat ini gantian diambil lagi oleh Islam radikal, itu namanya hukum karma, dan hokum karma itu adil, biarkan saja,” tegas orang NU.

“O gitu ya. Tapi kita harus tanggulangi, orang Muhammadiyah tidak boleh masuk Islam radikal.”

“Ya terserahlah NU mengatasinya dengan mengajak hidup rukun bukan dengan melarang.(nva)

Kisah Kiai Kampung di DPR 
08/09/2007

Setelah Orde Baru wassalam 1998, puluhan partai baru bermunculan seperti jamur di musim hujan. Orang-orang pesantren pun tidak ketinggalan. Nah salah satu partai yang didirikan oleh warga pesantren ternyata ikut-ikutan menang dan salah seorang "kiai kampung" (sebut saja begitu) terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sebenarnya dia tidak seberapa sreg berada di dunia politik, akan tetapi demi menyampaikan ngaspirasi rakyat baiklah akhirnya dia bersedia.

Alkisah pada suatu saat terjadi sidang yang sangat alot. Sepertinya para anggota dewan sedang membahas masalah anggaran pendidikan. Kiai kampung tidak setuju dengan usulanmayoritas anggota DPR yang memberikan alokasi kecil untuk pendidikan, padahal pendidikan adalah prasyarat terpenting maju-mundurnya sebuah negara. Pendidikan yang dimasksud oleh kiai kampung tadi tentunya adalah pendidikan pesantren. Payahnya lagi, rekan-rekan satu partai pun berfikiran sama, mereka tidak memandang penting arti sebuah pendidikan. Sang kiai merasa sendirian di gedung milik rakyat itu.

Namun apa boleh dikata, kiai kampung sulit menyampaikan aspirasinya. Banyak peraturan di DPR yang sama sekali baru buatnya. Banyak sekali istilah-istilah aneh yang baru didengar. Sementara sang kiai, jangankan untuk ikut menyampaikan usulan, membaca draft undang-undang berbahasa Indonesia saja setengah berkeringat. Kiai kampung hanya mahir memahami teks Arab atau menuliskan sesuatu dengan huruf Arab.

Sidang terus berlangsung. Sang kiai kampung tidak bisa menahan diri akhirnya ia menuliskan beberapa kalimat berbahasa Indonesia dengan huruf arab (kita menyebutnya arab pegon). Dan sang kiai langsung maju ke depan menemui ketua sidang. Ruang sidang tiba-tiba sunyi senyap. Semua mata tertuju kepada kiai dan ketua sidang.

Kiai kampung langsung memberikan selembar kertas yang telah ditulisnya. Ketua sidang sebenarnya pernah belajar di pesantren kiai kampung tapi belum sampai mahir memahami tulisan Arab. Kertas tadi dia ambil lalu dimasukkan ke sakunya karena dia kira itu berisi doa atau sejenis jimat, lalu bicara, "Ini kiai kampung sebagai yang dituakan di partai anu telah menyetujui budget kita sekian agar tidak menganulir lainnya, buktinya beliau telah merestui saya." Ketua sidang mengambil lagi kertas dari sakunya dan menunjukkan kepada para anggota sidang.

"Iya tapi saya tidak setuju kalau anggarannya segitu," kata kiai kampung menyahut sambil berjalan ke tempat duduk semula, meskipun ia yakin tidak faham betul apa itu 'budget sekian' dan 'menganulir' yang dimaksud oleh ketua sidang.

Sidang lalu kembali ramai memperdebatkan soal angka. Waktu itu hampir disepakati besaran angka tertentu yang lebih tinggi dari semula. Namun kiai kampung tetap tidak puas dan dia langsung keluar sidang. Para anggota dewan pun terkejut.

"Kiai kampung walk out, kita tunda dulu sebentar," kata ketua sidang sambil mengetuk palu. Beberapa orang mengikuti kiai tadi keluar ruangan termasuk ketua sidang tadi.

Sementara itu kiai kampung langsung bergegas ke musholla. Dia bercerita kepada rekannya yang lebih awal mengikutinya. "Saya ingin berdoa biar usulan saya dikabulkan oleh Allah," katanya. Rekannya bertanya-tanya tapi mereka ikuti saja yang dilakukan kiai kampung.

Kiai kampung langsung bergegas melakukan sholat dua raka'at dan membaca doa istighothsah diikuti rekan-rekannya, termasuk ketua sidang tadi. Usai berdoa, kiai kampung sempat terkejut melihat ketua sidang, lalu berkata, "Alhamdulillah pak ketua sidang akhirnya setuju dengan usulan saya, buktinya dia ikut berdoa bersama kita. Sebagai wakil rakyat kita memang harus memandang arti pentingnya pendidikan," katanya. Ketua sidang dan rekan-rekannya saling pandang, tapi akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kiai kapung pun meneruskan taushiyahnya.(nam)

Menguji Kesabaran 
27/09/2007

Madun : "Berapa kali kau mendengarkan ceramah agama hari ini?"
Mamat : "Tujuh kali."
Madun : "Hah! Banyak sekali? Di mana saja dan kapan kau mendengarnya?"
Mamat : "Pertama, selepas subuh tadi, di masjid. Kurang lebih lima belas menit saya mendengarkan suara serak seorang anak muda di atas mimbar.

Yang kedua, saya mendengarkan di laboratorium kampus. Dosen kimiaku, yang masih mengenakan baju praktek, berceramah dengan semangat sekali, pukul 10.45. Tidak lama dia ceramah, mungkin sekitar tujuh menit. Isinya tentang maksiat yang masih merajalela di negeri ini, meskipun bulan puasa.

Ketiga, saya membaca satu kalimat pendek di sebuah baliho besar di perempatan. Ya, di tengah perjalanan pulang dari kampus ke rumah. Kalimat tu berbunyi, ”BERSIHKAN DIRI DENGAN ZAKAT.”

Keempat, saya menderangarnya di radio ketika saya mau tidur siang. Sebuah cerita sahabat yang panjang dibacakan oleh seorang perempuan. Saya tidak tahu siapa dia, meskpun penyiarnya menyebutkan nama, Ustdzah Hajjah Ummu Fatimah.

Kelima, 10 menit menjelang buka tadi. Saya mendengarnya dari radio yang diteruskan corong speker masjid. Sembari menyapu halaman rumah, saya mendengarnya dengan seksama.

Yang keenam, saya mendengarkan ceramah seorang aktor yang berperan sebagai ustadz di sebuah sinetron, persis selepas saya salat magrib. Saya melihatnya karena menemani keponakanku yang masih balita. Dia menangis karena ditinggal ibunya mandi.

Yang terakhir, tadi, di antara salat tarawih dan witir. Kamu juga mendengarnya kan? Wong kamu duduk di sampingku kok. Kalau tadi siang saya baca koran, mungkin saya juga akan mendengar ceramah yang disalin menjadi tulisan."

Madun : "Semuanya kamu dengarkan dengan saksama?! Apa masih ingat satu per satu isi ceramah itu?! Apa kau mampu menyerapnya?! Subhanallah! Saya mendengar sekali saja seperti mau pecah telingaku!"

Mamat : "Ya, saya mendengarkan dengan saksama. Tapi saya tidak mengingat-ingat isi ceramah itu. Saya mendengar semuanya karena saya sedang melatih kesabaranku. Saya ingin mendengarkan sebanyak-banyaknya orang bicara. Itung-itung terapi gratis. Dan siapa tahu dapat pahala. Besok mungkin saya akan mendengarkan ceramah sembilan kali. Besok kan hari Jumat, saya akan mendengarkan khatbah. Dan malamnya aku diajak teman nonton tablig akbar di alun-alun. Katanya disiarkan live di TV. Kalau mau, gabung aja…!"

Madun  : "Nggak ah! Besok saya kuliah agama. Dosennya aktifis ormas Islam. Pasti ceramah. 90 menit. Tanpa iklan bo!"

Hamzah-Redpel Afkar PP Lakpesdam

Awal Bulan dan Datang Bulan 
03/10/2007

Pak Wakil Presiden H Muhammad Jusuf Kalla sempat mengundang para pentolan dua organisasi Islam Indonesia NU dan Muhammadiyah ke rumah kediamannya. Maksud hati ingin menanyakan "Kenapa sih NU dan Muhammadiyah sering lebaran berbeda, padahal kan Al-Qur'an dan Hadits yang dipakai sama?"

Singkat cerita, setelah dijelaskan akhirnya Pak Wapres faham bahwa perbedaannya adalah soal metodologi penentuan awal bulan Hijriyah. Jika NU berpendirian bahwa dikatakan awal bulan itu kalau sudah ada hilal, yakni bagian dari bulan baru yang bersinar sejenak setelah matahari terbenam. Demikian yang dikehendaki secara qath'i dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Sementara Muhammadiyah berpendirian bahwa awal bulan itu dihitung ketika bulan sudah menjadi baru atau selesai berevolusi tanpa harus nampak hilal. Kedua-duanya menghitung posisi bulan dengan ilmu hisab atau astronomi.

Jadi persoalannya adalah beda derajat saja. Jika NU berpendapat bahwa awal bulan itu terjadi setelah bulan berada pada dua derajat sehingga terjadi hilal dan bisa dilihat di bumi, sementaraMuhammadiyah yang penting sudah sudah selesai berevolusi meskipun hanya nol derajat dan belum bersinar menandai bumi.

Nah Pak Wapres yang sedari awal menginginkan lebaran bersama (mungkin karena urusan hari libur dinas nasional dan lain sebagainya) akhirnya memberanikan diri untuk usul.

"Wah kalau persoalannya begitu sekarang gimana kalau NU derajatnya dikecilkan sedikit dan muhammadiyah dibesarkandikit, nanti kan ketemu beres," katanya agak serius.

Para tamu terdiam sejenak lalu tertawa bersama-sama. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi langsung nyeletuk, "Wah Pak Wapres ini ndak bisa membedakan antara awal bulan dan datangbulan," katanya. "Ya namanya Wapres saudagar ya begitu-itu pikirannya." Para tamu tertawa lagi. Persoalannya tidak sesederhana itu Pak Wapres!(Anam)

Hah... Ada Bis Tanpa Supir 
27/10/2007

USAI LEBARAN Idul Fitri, kota metropolitan Jakarta kembali ramai orang. Jalan-jalan macet. Kendaraan umum berjubel.

Nah di satu bis susun di Jakarta para penumpangnya berdesak-desakan. Kondektur bis sebenarnya tak ingin menaikkan penumpang karena bis kelihatannya sudah keterlaluan muatannya. Namun apa boleh dikata, dia butuh kejar setoran.

Di sebuah perempatan, saat lampu merah menyala, seorang penumpang dengan tas berat berlari-lari menuju bis kota dan langsung menyeruak masuk ke dalam bis. Kelihatannya dia baru datang dari kampung halaman dan ingin mengadu nasib di Jakarta. Dia terus masuk dan siap berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

“Pak di sini penuh, Bapak ke atas aja mungkin masih longgar. Tasnya di sini aja aman,” kata kondektur.

Tanpa banyak bertanya penumpang tadi langsung naik ke atas namun tetap membawa tas beratnya itu.

Lampu perempatan menguning, lalu hijau dan bis berjalan perlahan. Penumpang tadi baru sampai di atas. Tiba-tiba dia terperanjak kaget dan langsung turun ke bawah, kembali berdesak-desakan.

“Hei kenapa turun? Ini lagi sesak, di atas saja?” kata kondektur agak marah.

“Anu Pak...! Di atas bisnya jalan sendiri, nggak ada supirnya,” kata penumpang tadi ketakutan. (Anam)

Masa Ngomong Aja Nggak Boleh? 
07/11/2007

Nyeleneh, kontroversi, ceplas-ceplos, humoris, cerdas dan seakan tak pernah kehabisan akal. Begitulah beberapa karakter yang melekat pada diri KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Cucu Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari itu pun pernah menjadi Presiden RI ke-4, meski kemudian dilengserkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebelum masa jabatannya berakhir.

Saat menjadi presiden, sikap kontroversinya pun kerap menuai protes dari banyak kalangan. Tak hanya oleh lawan politiknya, keluarga Gus Dur sendiri tak jarang berbeda pendapat terkait sikapnya yang seolah tak mau kompromi.

“Waktu jadi presiden, saya pernah bilang pada Gus Dur, ‘Sampean itu jangan sering-sering membuat pernyataan yang kontroversi, yang membingungkan masyarakat’,” kata Lily Khadijah Wahid—adik kandung Gus Dur.

Tanpa pikir panjang, Gus Dur menjawab, “Saya ini udah nggakbisa ngeliat (melihat). Masa ngomong aja nggak boleh?”

!!!???***###&&&@@@$$$,,,… (rif)

Gara-gara Teks Pidato 
16/11/2007

Seorang yang baru saja terpilih menjadi anggota dewan agak terkejut ketika mendapat tugas untuk memberikan sambutan pada sebuah acara peresmian proyek di kantor gubernur. Dia merasa kurang begitu mahir dalam bidang yang sedang digarap, padahal di lingkungan anggota dewan dia kebagian jatah bertugas di bidang itu. Untung saja dia punya banyak staf ahli yang pintar-pintar. Segera saja dia suruh para staf ahli membuatkan teks pidato.

Baiklah acara dimulai. Sambutan berikutnya atas nama anggota dewan. Kepada beliau dipersilakan!

Siang itu hujan deras. Si anggota dewan membaca teks pidato: "Bapak-bapak ibu-ibu, pada siang yang cerah ini..." Dia berhenti sejenak, sepertinya ada yang salah, tapi tak apalah sudah terlanjur, pidato diteruskan saja.

Pidato yang disampaikannya begitu panjang sampai menyita waktu hampir satu jam, sebuah kebiasaan yang tidak umum di acara-acara resmi gubernuran. Para hadirin pun kelihatannya sudah bosan, tapi dengan enaknya dia mengatakan: "Demikianlah sambutan singkat saya atas nama anggota dewan," sama persis seperti dalam teks tanpa merasa bersalah sedikitpun. Para hadirin saling pandang tapi merasa lega pidato sudah diakhiri.

Nah, payahnya lagi, di akhir pidato ia pun membacakan satu baris teks yang masih tersisa setelah salam penutup: "NB: Coret yang tidak perlu." (nam)

Ganti Nama Haji 
23/11/2007

Banyak yang suka mengubah nama setelah melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci, termasuk Kuncoro (51), seorang warga Kediri, Jawa Timur.

Setelah pergi haji tahun lalu mantan kepala desa itu merubah namanya menjadi Masyhur. Dalam bahasa Arab 'masyhur' juga berarti 'kuncoro' dalam bahasa Jawa, artinya terkenal.

Namun setelah merubah nama itu ia merasa asing dengan dirinya sendiri. Maklum nama pertamanya Kuncoro itu sudah melekat pada dirinya sejak setengah abad lalu. Dan nama Masyhur itu terasa seperti orang lain. Selain itu, nama Masyhur yang berbahasa Arab itu selalu dianggap identik dengan gaya hidup yang islami dengan sedikit kearab-araban, sehingga ia meresa kikuk. Ia sering terpaksa memakai jubah atau peci putih, tidak bisa berpenampilan biasa seperti dulu. Akhirnya dia tak tahan lagi.

Maka kemarin saat memberikan sambutan pada acara tasyakuran haji adik perempuannya bersama sang suami dia mengumumkan: "Bapak-bapak Ibu-ibu, mulai sekarang nama saya diganti Kuncoro lagi, bukan Mashur."

Para hadirin bertanya-tanya dan ia menjelaskan seperlunya.

......

"Jadi begitu Bapak-Ibu. Tapi ingat....! Jangan lupa 'pak hajinya' tetap dipakek, kalau yang ini tidak diganti. Jadi nanti dipanggilnya 'Pak Haji Kuncoro' saja, soalnya haji itu kan mahal," katanya. Para hadirin tersenyum. (nam)

Pidato Kog Menidurkan! 
30/11/2007

Saat menyampaikan ceramahnya pada acara seminar yang dilaksanakan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Jakarta (25/11) KH Said Aqil Siradj (Kang Said) banyak bercerita tentang dakwah yang damai dan menyejukkan seperti dicontohkan Wali Songo.

Seperti biasa, Kang Said bercerita dengan sangat apik, suara yang ringan namun menggelegar dan hafalannya yang kuat membuat para anggota MMI tersihir. Padahal sebelumnya mereka sudah dibakar semangatnya oleh sang komandan Abu Bakar Ba'asyir dan rekan sepemikiran Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kang Said bercerita secara historis bahwa dakwah di Indonesia dengan jalan kekerasan selalu gagal.

Karena khawatir dengan keadaan itu maka salah seorang peserta yang bernama Abu Jibril tidak mau tinggal diam. "Pak Said ini kalau pidato sangat menyejukkan, bahkan bisa bikin kita tidur, padahal Rasul itu kalau pidato bikin umat Islam bangkit," katanya dan langsung disambut teriakan "Allahu akbar" oleh para anggota MMI.

Kang Said menjawab, "Wah saya ini hanya bercerita, kalu percaya ya sudah kalau tidak ya tidak apa-apa." Para anggota MMI tidak bisa berkata apa-apa lagi. Salah seorang anggota menggerutu. "Orang ini pinter tapi kog keblinger ya!" katanya kepada teman di sampingnya, tapi ia tidak berani bicara di forum.

Nah sayangnya, Kang Said bukan Gus Dur. Para anggota MMI mengaku merasa ingin tidur ketika ada Kiai dari NU berpidato, alias dikendorkan semangat juangnya yang terlalu keras itu. Kalau Gus Dur yang menanggapi mungkin malah akan bilang begini: "Ah... Kalau pengen tidur ya tidur aja..!" sambil mencontohkannya.

:>#%@&*? (Anam)

Pesantren Ya’lu Wala Yu’la ‘Alaih 
07/12/2007

Diceritakan, ada tiga orang kiai menetap dalam satu desa di Jawa. Kiai Mahmud, Kiai Ahmad, dan Kiai Muhammad. Mereka masih saudara, tunggal buyut. Ketiganya memiliki pesantren yang letaknya tidak berjauhan. Meskipun saudara, dan sama-sama NU, ketiganya tampak bersaing dan tidak pernah sama berfatwa, baik fatwa agama, politik, dan kehidupan social lainnya. Pendeknya, mereka selalu berbeda satu dengan lainnya. 
 
Hanya dua hal yang membuat mereka berkumpul, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, serta shalat Idul Adha.

Konon, persaingan keras terjadi ketika di pesantren-pesantren muncul trend mendirikan Ma’had Ali. Dan ketiga kiai tersebut tak mau ketinggalan, ramai-ramai mendirikan perguruan tinggi ala pesantren itu.
 
Yang unik, nama mah’ad milik ketiga kiai tersebut berbeda-beda. Dan bukan sekedar berbeda, tapi mambu persaingan. Coba simak nama ketiga ma’had tersebut.
 
Ma’had milik Kiai Mahmud diberi nama Ma’had A’li, nama yang lazim. Tapi, Kiai Ahmad memberi nama yang sedikit nyentrik karena memilih kata “A’la”, isim tafdhil (superlatif) dari “Ali”, Ma’had A’la.

Nah, Kiai Muhammad yang ma’hadnya berdiri belakangan, tak mau kehabisan akal untuk bersaing, di belakang kata ma’had, dibubuhi “ya’lu wala yu’la ‘alaih”. Terpampanglah sebuah nama ma’had di papan pesantren milik Kiai Muhammad, “Ma’had Ya’lu ala yu’la ‘alaih”. Saya tak tahu, ini isim tafdhil dari mana. (Hamzah Sahal)

Ustadz Patroli 
14/12/2007

Seorang khotib Jum'at di sebuah masjid perkantoran Jakarta bersungut-sungut dalam menyampaikan ceramahnya.

"Sekarang ini Indonesia sudah awut-awutan. Kita lihat di televisi ada anak menganiaya ibunya, ada ibu membuang anaknya di tong sampah. Mungkin benar kata Dedi Mizwar, kiamat sudah dekat," katanya.

Sepanjang khutbah khatib terus bercerita tentang kasus-kasus kriminalitas sebagaimana disiarkan secara khusus di beberapa stasiun televisi. Telah banyak terjadi kerusakan di bumi Indonesia.

Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia yang kebetulan ikut shalat Jum'at di situ agak kesal. Ia berbisik ke teman sebelahnya. "Ini khutbah kog isinya kriminal melulu," katanya.

"Pantesan aja dia bangunnya siang jadi pas buka teve dapetnya Patroli, hehehe. Coba kalau bangun Subuh, pasti dia dapet kuliah subuh, siraman rohani," katanya lagi.

"Enakan di pesantren kita, khutbahnya pake bahasa Arab, ngga ada yang faham tapi menyejukkan hati," kata teman di sampingnya.

"Husss ada khutbah nggak boleh ngomong," kata teman di depannya menoleh.

"Kamu juga ngomong...!" kata mahasiswa tadi tidak terima. (Anam)