Roh Nabi Ismail 
21/12/2007

Seorang santri yang baru saja belajar 3 bulan di sebuah pesantren salaf pulang untuk berhari raya Idul Adha. Karena pernah nyantri ia ditunjuk saja untuk menyembelih kambing kurban.

Mau tidak mau harus mau karena di kalangan anak muda dia yang dianggap paling bisa ilmu agama.

Baiklah, takbir dibaca 3 kali, santri tadi mulai menggorok kambing, "krek-krek" disaksikan puluhan orang dan anak-anak kecil yang memberanikan diri melihat darah.

Tanpa diduga, karena dua orang yang membantu memegang kambing pun kurang berpengalaman, kambing tadi terperanjak dan lepas, lalu berjalan terseok dalam keadaan setengah terpotong. Orang-orang terkejut.

Santri yang menyembelih tadi, secara leflek menghampiri kambing, memegang kepalanya dan melanjutkan penyembelihan. Dan...saking gugupnya leher kambing digorok sampai putus. Kambing pun terkapar. Santri tadi bingung setengah mati.

Apalagi warga yang menyaksikan itu. Kejadian barusan sangat tidak wajar, belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menjadi kuatir.

"Itu sembelihannya tidak sah," kata seseorang.

"Berati itu bangkai, kubur saja, haram dimakan," kata lainnya.

Santri tadi kebingungan. Apalagi setelah orang-orang berinisiatif mengganti kambing qurban salah seorang warga tadi dengan cara patungan.

"Sudah tidak apa kamu nggak salah, kita tanggung bareng," kata seseorang. Santri tadi semakin bingung, serba salah, berkeringat dingin.

Untung saja datang kiai sepuh yang biasa menyembelih di kampung itu. Dia dipanggil sesaat setelah kejadian. Tadinya dia sudah merasa tua, ingin menyerahkan urusan sembelihan kepada anak muda.

Dia menghampiri warga yang sedang panik.

"Jadi begini, itu tadi kambingnya melihat Nabi Ismail, dia kaget. Tapi roh kambing itu sekarang sudah berada bersama roh Nabi Isma'il di surga," kata kiai tadi sambil menunjuk ke atas. "Jadi sudah sah. Ayo dilanjutkan nyembelihnya," kata kiai melanjutkan, sambil mulai menguliti kambing tadi dengan cekatan. Warga terbengong.

Bagi kiai, mungkin itu cara terbaik menyelesaikan masalah tanpa perdebatan.

Belakangan saat memberikan ceramah mingguan di masjid, dia baru menjelaskan "fasal penyembelihan hewan" bahwa pisau untuk menyembelih itu disunnahkan tidak terangkat dari leher hewan sebelum penyembelihan selesai dan lehernya jangan langsung diputus. Tapi jika tidak juga tidak apa, tetap sah.

Ada yang masih penasaran bertanya: "Tapi, Roh Nabi Ismail kogkenapa tahun ini datang ke kampung kita, pak kiai.....?" :> (Anam)

Siapa Paling Berani 
28/12/2007

Di atas geladak kapal perang US Army tiga pemimpin negara sedang "berdiskusi" tentang prajurit siapa yang paling berani. Eh kebetulan di sekitar kapal ada hiu-hiu yang sedang kelaparan lagi berenang mencari makan ...

Bill Clinton: Kalau Anda tahu ... prajurit kami adalah yang terberani di seluruh dunia ... Mayor .. sini deh ... coba kamu berenang keliling ini kapal sepuluh kali.

Mayor: (walau tahu ada hiu) siap pak, demia "The Star Spangled Banner" saya siap ,,, (akhirnya dia terjun dan mengelilingi kapal 10 kali sambil dikejar hiu).

Mayor: (naik kapal dan menghadap) Selesai pak!!! Long Live America!!

Clinton: Hebat kamu, kembali ke pasukan!

Koizumi: (tak mau ketinggal, dia panggil sang sersan) Sersan! Menghadap sebentar (sang Sersan datang) ... coba kamu keliling kapal ini sebanyak 50 kali ... !

Sersan: (melihat ada hiu ... glek ... tapi) for the queen I'am ready to serve!!! (pekik sang sersan, kemudian membuka-buka baju lalu terjun ke laut dan berenang keliling 50 kali ... dan dikejar hiu juga).

Sersan: (menghadap sang perdana menteri)� GOD save the queen!!!

Koizumi: Hebat kamu ... kembali ke tempat ... Anda lihat Pak Clinton ... Prajurit saya lebih berani dari prajurit Anda ... (tersenyum dengan hebat ...)

Gus Dur: Kopral ke sini kamu ... (setelah dayang ...) saya perintahkan kamu untuk terjun ke laut lalu berenang mengelilingi kapal perang ini sebanyak 100 kali ... ok?

Kopral: Hah ... Anda gila yah ...! Presiden nggak punya otak ... nyuruh berenang bersama hiu ... kurang ajar!!! (sang Kopral pun pergi meninggalkan sang presiden ...)

Gus Dur: (Dengan sangat bangga) Anda lihat Pak Clinton dan Pak ... Cumi Cumi ... kira-kira siapa yang punya prajurit yang paling BERANI!!! ... Hidup Indonesia ... !!! (okz/mbs)

Kebohongan Struktural 
11/01/2008

Dua orang mahasiswa semester awal lagi berjalan-jalan di sebah mall, mereka tidak belanja, hanya melihat karena duit pas-pasan.

Salah seorang menasehati temannya, “Asep kalau ingin punya duit kau harus belajar mandiri dengan berwiraswasta, agar bisa belanja tanpa mengandalkan kiriman dari orang tua.”

“Memangnya kau sudah bisa hidup mandiri dengan cara berwiraswasta, mau dong diajari,” sahut temannya antusias.

“Ya belum sih, cuma kita mestinya seperti itu.”

“Ya kau ini kayak LSM aja, tak pernah mandiri tapi selalu nyuruh orang lain mandiri, sama aja bohong.”

“Gak apa-apa sih biar bohong asal keren, bisa nasihati orang”. 

“Itu namanya kebohongan struktural, tahu!” (kun)

Logika Dagang 
18/01/2008

Seorang santri diminta kiainya ke pasar membeli bola lampu untuk mushalla. Lampu yang lama sudah mulai redup.

Saat menanyakan barang yang akan dibeli, pedagang langsung bertanya balik: "Anda beli yang bagus apa yang murah?"

"Kalau yang bagus tapi murah ada ngga?" sergah santri.

"Wah yang bagus harganya mahal Mas."

"Berarti yang murah ini jelek?"

"Ini juga bagus sih, tapi tapi masih kalah sama yang ini," kata pedagang sambil menunjuk barang yang mahal.

Santri akhirnya membeli bola lampu yang mahal.

Keesokan harinya ia diminta kiainya untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kata kiai, KTP itu sewaktu-waktu dibutuhkan jika bepergian atau sekedar untuk keperluan menikah.

Santri bergegas pergi ke kantor kepala desa. "Saya mau bikin KTP Pak!" katanya kepada petugas.

Sang petugas dengan sangat cekatan menjawab: "Yang cepet apa yang murah Mas?"

Santri terdiam lalu meninggalkan kantor kepala desa sambil bergumam. "Anda ini seperti pedagang saja," katanya kepada petugas.

Santri melaporkan itu kepada kiai. "Saya milih yang mana kiai," katanya.

"Pilih yang cepat saja!" kata kiainya.

"Lho itu kan namanya korupsi kiai!"

"Ya sudah, pilih yang murah saja." Kiai tersenyum.

Santri kembali ke kantor kepala desa. Sesampainya di sana tanpa banyak basa-basi dia langsung bilang: "Saya pilih yang murah saja!"

Petugas diam sejenak. Lalu meninggalkan ruangan. "Yang murah sudah habis Mas!" katanya sambil lalu.

?!!! (nam)

Agama LSM 
25/01/2008

Di sutu tempat seperti di Poso yang lagi konflik antar agama, identitas keagamaan seseorang menjadi sangat penting. Kalau tidak mereka sulit memperoleh perlindungan. 

Pada suatu saat ada seorang aktivis sosial bernama Doni Sambaratta yang dikenal dekat dengan masyarakat, karena lama menjadi sukarelawan di sana.

Masyarakt mulai penasaran terhadap agama Doni sukarelawan yang banyak membantu itu. Setelah lama mengamati salah seorang mengutarakan keherannya.

“Saya kira Dia orang Islang (Islam) tetapi kok tidak pernah pergi ke masjid. Kalau dia Kristeng (Kristen) kok tidak pernah dating ke gereja. Apa sebenarnya agama dia itu, masak tidak beragama kok baik betul suka menolong orang.”

“Oo… kalau dia sih memang bukang Islang,” salah seorang temannya menimpali “dia bukan pula Kristeng.”

“Lalu apa agama dia itu ?” tanyanya lagi.

“Ternyata dia itu Eleseng (LSM),” jawabnya singkat.

“Oooo,.. pantesan tidak pernah kedapatan ke masjid atau ke gereja ya!” (kun)

Gara-gara Banyak Akal 
01/02/2008

Seorang santri baru saja lulus aliyah pesantren dengan nilai jayyid jiddan. Lumayan pintar. Dia berencana mengadu nasib di Jakarta.

Saat tiba di Stasiun Pasar Senen dia melihat kerumunan orang. Rupanya sedang ada kecelakaan. Di Jakarta, kecelakaan bisa menjadi tontonan yang menarik. Baiklah! dia ikut menonton saja.

Namun teryata kerumunan itu terlalu berjubel sehingga ia tidak bisa melihat korban. Apalagi postur tubuhnya kecil. Jangankan mendekat, melihat korban saja sulit.

Tapi dia tidak kurang akal. Dia langsung berteriak. "Saya keluarganya..!" katanya sambil mengacungkan jari.

Orang-orang memandanginya. Mereka langsung memberi kesempatan santri tadi menghampiri korban kecelakaan.

Santri langsung mendekati korban kecelakaan. Dan...betapa terkejutnya ketia dia melihat keluarganya yang ternyata adalah sapi. (nam)

Al-Mukarrom Sapi 
08/02/2008

Cerita ini dilontarkan begitu saja oleh Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi saat menyambut tamu dari organisasi-organisasi Aswaja seluruh Indonesia di gedung PBNU Jakarta beberapa waktu lalu. Katanya:

Sunan Kudus pernah melarang warga Kudus Jawa Tengah dan sekitarnya menyembelih sapi pada hari Idul Adha. 

“Jangan menyembelih sapi..! Kerbau saja, agar orang Hindu mau masuk Islam…!” katanya.

Demikianlah kearifan para ulama penyebar Islam di Nusantara.

Karena, memang sapi menurut orang Hindu adalah sangat mulia. Nah baru setelah orang Hindu masuk Islam kerbau boleh diganti lagi dengan sapi.

Pernah suatu saat saat saya melewati suatu tempat. Saya tertegun melihat orang-orang berkerumun di jalan, tidak berani lewat karena di depan ada sapi yang tertidur. Mereka baru akan meneruskan perjalanan jika sapi itu sudah bangun dan pergi.

Dalam hati saya bilang “Wah kalau begitu sapi itu sama dengan kiai donk, sama-sama almukarromnya... Jadi manggilnya almukarrom sapi..” (nam)

Mumpung Masih Aktual 
22/02/2008

Seorang anggota Banser diam-diam menguping obrolan santai salah seorang ketua ranting NU dengan seorang pejabat desa setempat.

"Pak Kiai ini, yang demikian ini kita harus segera bersikap, mumpung masih aktual," kata pejabat tadi.

"Wah sepertinya itu sudah ndak aktual. Saya baru baca berita di webset, ada lagi yang lebih aktual," kata ketua NU.

Sang anggota Banser merasa penasaran akhirnya memberanikan diri ikut nimbrung, lalu bertanya.

"Pak Kiai, aktual itu apa sih?" katanya.

"Aktual itu artinya hangat. Sudah.. kamu dengarkan saja, ndak usah ikut-ikut, wong aktual aja kamu ndak ngerti," kata ketua NU bergurau, tapi sepertinya sedikit memeremehkan.

Berselang kemudian datang seorang membawa bungkusan. Sang Banser langsung sigap menerima bungkusan itu dan menyodorkannya kepada kedua orang di depannya.

"Pak, ini pisang gorengnya silakan dimakan dulu, mumpung masih aktual, masih hangat," katanya penuh percaya diri. (nam)

Patung Lelaki apa Perempuan? 
29/02/2008

Setelah diadakan upacara dalam rangka peringatan Harlah NU yang ke-82 di Gelora Bung Karno awal Februari lalu, dua ibu anggota jam'iyyah Muslimat, kira-kira berusia 60-an tahun, berbincang-bincang iseng tidak jauh dari patung Rama yang tinggi besar itu.

Muslimat A: "Patungnya itu kok besar banget ya?"

Muslimat B: "Iya, gede banget. Kira-kira gede mana dengan patung di dekatnya Ka'bah pada zaman jahilah dulu ya?" 

Muslimat A: "Bu-bu, pertanyaanmu kok sulit banget. Kalau saya sih mikirnya patung itu laki-laki apa perempuan, hehehe?"

Muslimat B: "Walah, kalau cuma pengen ngerti laki-laki apa pempuan sih gampang. Coba aja diraba. Gampang kan?" !!!??@#%&*(hamzah)

Ngga Bisa Bahasa Arab 
07/03/2008

Amron, seorang pegawai di perusahaan BUMN sedang gelisah dan mengeluhkan persoalannya kepada seorang kiai yang tinggal di samping masjid tidak jauh dari rumah kontrakannya.

Amron: Pak Kiai tadi ada pengajian bulanan di kantor.

Kiai: Lalu?

Amron: Ustadnya bilang kalau tahlil itu bid'ah, mengerjakannya malah berdosa.

Kiai: Terus?

Amron: Dia juga membacakan dalil-dalil kalau ziarah kubur itu syirik.

Kiai: Ehmmm...

Amron: Berdzikir dengan suara keras itu katanya tidak ada bedanya dengan kampanye calon DPR.

Kiai: Lalu sampean bilang gimana?

Amron: Ya di situ saya malu sekali. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Orang-orang di situ semuanya seakan-akan menertawai saya.

Sang Kiai terdiam sebentar lalu memberikan sedikit pelajaran kepada Amron tentang persoalan ubudiyyah, bid'ah, tahlil dan persoalan khilafiyah lainnya. Amron manggut-manggut.

Kiai: Sampean faham apa ndak?

Amron: Ehhhmmm.. Lumayan faham sih Kiai, tapi sulit menjelaskan kepada mereka soalnya mereka hafal dalil-dalil.

Kiai: Dalilnya pake Bahasa Arab?

Amron: Enggak sih, sudah diterjemahkan pake bahasa Indonesia.

Kiai: Wah kalau begitu untuk menghadapi mereka sih gampang saja.

Amron senang sekali: Wah bagaimana caranya kiai?

Kiai memberikan satu kitab berbahasa Arab berjudul "Hujjah Ahlissunnah wal Jama'ah."

Kiai: Kalau mereka tanya dalilnya ya pinjamkan saja kitab ini sebentar. Bilang kalau di sini ada dalilnya banyak. Paling juga mereka ngga bisa bahasa Arab.

Kiai tersenyum. Amron pun setuju. (*-*Anam)

Ngaku Dewan Syuro PKB 
14/03/2008

Ali adalah seorang ‘aktivis abadi’, karena itu suka datang ke berbagai daerah sekedar melancong dan membual soal politik. Karena ia tinggal di Jakarta, maka banyaklah informasi yang dimiliki.

Kepada masyarakat daerah ia mengaku kenal dengan pengurus DPP PKB dan PBNU. Melihat omongan dan penampilannya orang percaya saja.

“Di PKB bapak jabatannya apa?” tanya seseorang yang penasaran.

Dengan cekatan ia menjawab “Oo.. saya ini Dewan Suro."

“Oo.. pantas bapak menguasasi betul masalah politik nasional.” Orang-orang kagum.

Suatu ketika kebohongannya terbongkar. Orang akhirnya tahu kalau dewan syuro PKB itu Gus Dur.

”Hei kau ini teganya menipu orang daerah..!”

“Ah saya tak menipu.”

“Tetapi ente bilang sebagai anggota Dewan Suro PKB.”

“Saya tadi tidak bilang anggota Dewan Syuro PKB, tetapi anggota Dewan Suro.”

“Apa Bedanya?”

“Dewan Sura itu maksudnya suka merokok.”

“Dasar pembual, ente maksudnya tak menipu tepi orang tertipu...” (dam)

Rokok Kiai 
28/03/2008

Di satu pesantren di Jombang, Jawa Timur, santri-santri dilarang merokok. Dan mbah kiai pengasuh pesantren tidak segan-segan memberikan takzir (hukuman) setimpal pada santri yang melanggar. Namun ada saja santri nakal yang melakukan pelanggaran.

Beberapa gelintir santri yang tidak tahan ingin merokok mencari-cari kesempatan di malam hari, pada saat gelap di sudut-sudut asrama atau di gang-gang kecilnya, atau di tempat jemuran pakaian atau di pekarangan kiai.

Satu malam seorang santri perokok ingin melakukan aksinya. Ia bergegas ke kebun blimbing. Ia dekati seorang temannya di kejauhan sedang menyalakan rokok.

"Kang, join rokoknya ya..." katanya sambil menyodorkan jari tengah dan telunjukknya.

Temannya langsung menyerakan rokok yang dipegangnya.

Santri perokok langsung mengisapnya. "Alhamdulillah, nikmatnya..." katanya. Diteruskan dengan isapan kedua.

Rokok semakin menyala, dan... dalam gelap dengan bantuan nyala rokok itu lamat-lamat ia baru sadar siapa yang sedang dimintainya rokok. Namun santri belum yakin dan diteruskan dengan isapan ketiga... Rokok semakin meyala terang.

Ternyata... yang dia mintai rokok adalah kiainya sendiri. 

Santri kaget dan ketakutan. Dia langsung kabur. Lari tunggal langgang tanpa sempat mengembalikan rokok yang dipinjamnya.

Sang kiai marah besar: "Hei rokok saya jangan dibawa, itu tinggal satu-satunya, kang..." (nam)

Mengurangi Rokok 
04/04/2008

Seorang pemuda mencoba hidup sehat dengan semboyan hendak meninggalkan rokok. Tetapi karena berat, maka rencana itu dijalankan secara bertahap. Pertama-tama ia sekedar mengurangi rokok. 

Suatu ketika ia bertamu ke rumah temannya, tetapi seharian dia merokok tanpa henti, sehingga temannya terheran dan bertanya:

“Katanya ente mau berhenti merokok dengan cara mengurangi rokok, tapi kok seharian merokok terus?”

“Saya memang sudah berhenti membeli rokok, untuk mengurangi merokok,” jawabnya ringan.

“Kok tadi kelihatan hobi rokok ente kok tidak berkurang, malah kayak kereta..!?” protes temannya.

“Ya saya memang merokok terus untuk mengurangi rokok ente.”

“Haaah.. kalau itu sih bukan ngurangi rokok, tapi malak..” (mdz)

Kampanye Partai NU 
11/04/2008

Jurkam Partai NU pada tahun 50-an punya trik sendiri dalam berkampanye.

"Saudara-saudara mana mungkin kita mencoblos bintang, nanti ketinggian, lalu jatuh, terus sakit."

"Kita juga jangan mencoblos gambar banteng, nanti diseruduknyaya pasti sakit."

"Kita juga jangan coblos Ka'bah. Wah wah..itu berbahaya, ndakboleh. Soalnya Ka'bah itu harus kita hormati, tidak boleh dicoblos-coblos."

"Sebagai petani kita kan biasa mencangkul, ya kita coblos partai yang gambarnya bumi aja, Partai NU." (bet)

Gus Dur Dicium Artis Cantik 
18/04/2008

Magnet sense of humor Gus Dur yang tinggi membuat kesengsem seorang artis cantik saat hadir dalam suatu acara di rumah salah seorang pengasuh Pondok Kajen, Jawa Tengah. Saking gemesnya, artis itu dengan santai langsung ngesun (mencium) pipi Gus Dur tanpa pake permisi.

Jelas beberapa di antara mereka yang hadir langsung dibikin kaget dan bingung. Siapa yang kuat ngeliat kiai nyentrik cumadiem aja disun (dicium) artis cantik.

Tak lama kemudian begitu sudah agak sepi, Gus Mus yang sedang di antara mereka, langsung numpahin sederet kalimat yang sudah dari tadi cuma bisa disimpan di dalam hati.

"Loh Gus, kok Gus Dur diam saja sih disun sama perempuan?'"

Dengan santai dan.. silakan bayangin sendiri gayanya, Gus Dur malah ngasih jawaban sepele.

"Lha wong saya kan nggak bisa lihat. Ya mbok sampeyan janganpengen...." (ananto)

Seorang Santri yang Iseng 
25/04/2008

Di hari liburan seorang santri mondar-mandir ke alun-alun kota. Masih memakai sarung, baju lengan panjang, dan kopiah. Dia lalu menemui seorang pemuda yang sedang asyik duduk bersenda gurau dengan pacarnya.

"Mas ini Primus ya?" kata santri tadi sok akrab. Ia menyiratkan muka seperti sedang penasaran. "Itu lho yang bintang film.."

Semula pemuda itu mengira santri sedang bercanda. "Ah enggak... Kamu bisa aja..."

"Ah yang bener, kamu pasti Primus..."

"Nggak... saya bukan artis kog, saya ini mahasiswa..."

"Ngaku aja... Saya ngga akan bilang siapa-siapa kog, tenang aja.." Santri terus mendesak.

Lama-lama pemuda tadi gerah juga. Dia menarik tangan pacarnya, lalu mereka masuk warung lesehan sebelah. Tapi santri masih mengikuti.

"Mas Primus minta tanda tangan donk..." kata santri menyodorkan kertas dan pena. Kali ini ia agak memaksa.

Pemuda itu tambah gerah, dan mulai sedikit ketakutan. Ia lalu menggandeng pacarnya pergi. Cepat-cepat. Tapi santri terus mengejar. Pemuda dan pacarnya masuk ke angkot. Santri pun ikut.

"Ayo mas tanda tangan...!"

Pemuda itu akhirnya mengambil kertas dan pena yang disodorkan santri dan membubuhkan tanda tangan sekenanya. Tapi santri tetap belum mau pergi.

"Iya kan, kamu Primus....!?"

"Iya.. iyaaa. Saya ini Primus," katanya. Pemuda tadi kesal sekali.

Santri kelihatan puas. Tersenyum. "Tapi kamu kog nggak mirip ya...." kata santri.

"Ya memang saya bukan Primus..." kata pemuda tadi membentak. Orang-orang di angkot keheranan. Santri pun ngluyur pergi. (nam)

Jujurnya Politisi 
02/05/2008

Seorang perempuan marah-marah kepada suaminya karena kedapatan punya istri lain.

Saat suaminya baru datang dari kantor DPR ia langsung melabrak.

"Kamu dari kemarin ngakunya setia sama aku, tidak akan punya istri lain...."

Suami yang baru menyadari kalau rahasianya terbongkar tidak bisa berkata-apa apa. Terdiam, garuk-garuk kepala.

Istrinya melanjutkan, "mestinya aku dulu mendengarkan nasihat bapak kalau politisi itu menang mentereng aja, kepribadiannya ngga bagus, tidak jujur, suka bohong.."

Suaminya tetap terdiam. Istinya melanjutkan lagi. "Kenapa mas tega mbohongin aku, kamu tidak jujur sama aku."

"Pantesan kamu sering pulang pagi. Katanya ada rapat fraksi. Eh...nyatanya... Dasar tukang bohong..."

Suami tetap diam, hanya bisa bergumam. "Aduh dek...itu sih sudah paling jujur..."

Mungkin maksudnya, yang lebih bohong lagi masih ada. (nam)

Tawaran Menjadi Sopir Bajaj 
30/05/2008

Konflik PKB yang berkepanjangan membuat para pimpinan partai itu jenuh, lalu berusaha mencari figur pemersatu yang bisa mendamaikan kedua kubu.

Kemudian datanglah pimpinan salah satu kubu menemui Ketua Umum PBNU untuk menjadi ketua Dewan Syuro PKB, untuk mengimbangi Dewan Syuro yang ada.

Dengan diplomatis ketua umum PBNU menjawab, "Masak sopir bis kog disuruh jadi sopir bajaj, itu namnya turun derajat.

Tahu maksudnya ditolak secara halus oleh Ketua PBNU itu utusan PKB langsung memohon diri, malu karena partai kebanggaannya dianggap hanya sebuah bajaj. (kun)

Sesama "Allahu Akbar" Jangan Saling Mendahului 
13/06/2008

Waktu itu, di suatu seminar tentang Pancasila vs Islam yang diadakan oleh salah satu organisasi Islam garis keras di Jakarta, suasana tiba-tiba menjadi tegang. Saat seorang narasumber dari NU menjelaskan ihwal hubungan nasionalisme dengan Islam, tiba-tiba seorang peserta berteriak-teriak.

"Allahu akbar, Allahu akbar Islam itu berbeda dengan nasionalisme. Islam ya Islam. Islam itu sudah sempurna. Nasionalisme itu kafir, Yahudi. Allahu akbar..!" katanya.

Sontak semua yang hadir juga berteriak "Allahu akbar, allahu akbar..!". 

Narasumber NU tidak punya kesempatan berbicara lagi. Apalagi para hadirin menyuruhnya "turun-turun...!" Moderator juga ternyata mendukung keinginan hadirin.

"Baiklah, baiklah saya turun tapi izinkan saya bicara dulu," katanya.

"Tidak usah," kata hadirin. "Allahu-akbar, Allahu akbar..! Kamu turun saja."

"Allahu akbar, Allahu akbar." Keamanan maju ke depan, menjemput pembicara untuk keluar forum.

Suasana makin ramai.

Narasumber pun mulai gugup, ikut berteriak, "Allahu akbar, Allahu akbar, saya mau bicara dulu," katanya, tapi ia tak digubris.

"Allahu-akbar, Allahu akbar."

Untung dia segera punya ide. Dia langsung mengambil mic, bilang, "Samiallahu liman hamidah, samiallahu liman hamidah."

Forum tiba-tiba terdiam, tidak tahu harus bilang apa lagi. Suasana seperti sedang dalam shalat berjamaah dan para ma'mum tidak boleh ramai.

Akhirnya narasumber bisa meneruskan materinya, meskipun tidak sampai selesai. Di tengah-tengah pembicaraan dia diminta turun lagi, Allahu akbar, Allahu akbar. Kali ini "samiallau liman hamidah" sudah tidak mempan lagi. (nam)

Setan Nggak Mau Dibohongi 
20/06/2008

Semakin liberal orang dalam beragama maka semakin enggan dia untuk mengunjungi tempat ibadah. Karenanya di Australia banyak gereja dijual. Namun harganya pun murah sekali, karena orang-orang percaya kalau gereja itu banyak setannya, banyak gendruonya.

Saat membentuk cabang istimewa NU di Australia, para pengurus memilih menempati mantan gereja. Tidak takut setan. Soalnya, sebelum ditempati para pengurus memembaca Al-Qur’an di sana sampai hatam. Setannya pun lari.

Lalu ada meniru cara ini. Ada yang membeli gereja untuk dijadikan tempat berbisnis. Sayangnya orang ini tidak bisa baca Al-Qur’an. Tapi dia tidak kehabisan cara. Dia membeli tape recorder lengkap dengan kaset berisi bacaan Al-Qur’an’, dia bunyikan, lalu dia pergi karena takut ada setan.

Keesokan harinya dia kembali. Hah... setannya hilang bersama tape recorder dan kasetnya. ”Ternyata setan pun nggak mau ditipu,” kata KH Hasyim Muzadi. (nam)