Hebatnya Bintang Sembilan 
27/06/2008

Pernah Gus Dur diundang menjadi pembicara tunggal dalam sarasehan yang diadakan oleh KNPI. Jadwalnya Jam 20.30, namun hingga Jam 20.50 dia belum muncul, panitiapun gelisah.

"Saya takut Gus Dur kesasar," kata Ketua KNPI ( waktu itu ) Tjahjo Kumolo.

"Saya kok punya firasat Gus Dur ketiduran," timpal Eros Djarot yang berdiri di samping Tjahjo. "Jangan lupa Gus Dur itu di seminar pun bisa tidur ".

"Jangan-jangan Ia nyasar ke Graha Pemuda, kantornya Menpora ", Tukas Tjahjo .
Tiba-tiba ada yang nyeletuk, "jangan-jangan kena cekal, nggak boleh ngomong".

Di tengah kegelisahan itu, tepat pukul 21.00 tiba-tiba Gus Dur nongol. "Maaf, saya harus menerima pengarahan dulu dari Jenderal bintang tiga," katanya.

Ia pun langsung diminta bicara. Di depan peserta sarasehan itu dia kembali cerita soal keterlambatannya yang katanya karena dipanggil Jenderal bintang tiga itu. "Baru bintang tiga saja sudah bisa nyetop orang," ucapnya, "bagaimana kalau bintang sembilan."

Bintang sembilan adalah lambangnya NU, yang selalu terpampang di papan nama kantor NU di semua tingkat. Karena itu, Gus Dur juga sering bangga bahwa warga NU lebih nyaman kalau bepergian. Para pengusaha besar dan pejabat tinggi, katanya, kalau bepergian paling-paling menginap di hotel bintang empat atau bintang lima.

"Orang NU, kalau keluar kota nginapnya di hotel bintang sembilan," alias di kantor pengurus NU! (okz/dar)

Beda Wanita Arab dan Betawi 
12/09/2008

Santri: Kenapa wanita dulunya dilarang ziarah kubur?

Ustadz: Karena pada zaman Nabi wanita Arab dulu punya kebiasaan yang tidak baik. Ketika berziarah kubur mereka berteriak-teriak, meraung-raung, bahkan ada yang menyobek-nyobek pakaiannya sendiri. Jadi illat atau penyebab diharamkannya dulu itu adalah faktor "histeris" itu.

Santri: Jadi sekarang sudah tidak dilarang?

Ustadz: Ya. Bahkan jadi sunnah. Di Arab sana wanita-wanita sudah tidak histeris begitu. Nabi juga sudah mencabut larangannya. Apalagi di Indonesia, kebiasaan seperti itu dari dulunya tidak ada.

Santri: Tapi, menurut saya, ada pengecualian untuk wanita Betawi.

Ustadz: Lha kenapa?

Santri: Kalau dulu wanita Arab berteriak-teriak, tapi sekarang saat wanita Betawi ziarah kubur, yang berteriak malah jin yang ada dalam kuburan itu.

Ustadz
: Lha kenapa?

Santri: Jinnya kesel. "Hei ibu-ibu, jangan berisik," katanya.

Ustadz
: Ohhhh................. (nam)

Rokok Sufi 
19/09/2008

Seorang sufi sudah lama menderita sakit. Namun anehnya dia tetap aktif merekok. Padahal dia tidak bisa bekerja. Istrinya yang selalu merawatnya lama-lama jengkel juga dan sering marah-marah.

Tapi suatu hari, saat istrinya marah dan membanting piring hingga pecah, sang sufi malah berdoa kepada Tuhannya, sambil tetap mengepulkan asap rokok.

"Ya Allah, biarlah engkau bikin aku sakit, asal aku masih bisa menikmati rokok. Kalu perlu matikanlah aku dalam keadaan merokok..!

Istrinya semakin marah, "kenapa harus merokok?" katanya penasaran.

"Karena pada saat merokok aku bisa melupakan istriku yang sedang marah-marah." (nam)

Jumlah Bus Muslimat 
24/10/2008

Pada suatu hari KH. Hasyim Muzadi sedang memberikan pengarahan kepada panitia Harlah NU ke-82 di gedung PBNU Jakarta. Penagarahan ini berisi petunjuk dan saran kepada panitia tentang teknis-teknis persiapan menjelang puncak acara Harlah.

Ketika sampai pada pengarahan tentang jumlah bus yang mesti disediakan oleh panitia, kyai Hasyim mewanti-wanti.

"Pokoknya, panitia harus mengerti tentang kuota bus, tolong diulangi berapa jumlah peserta dari muslimat?" katanya sambil melirik para ibu muslimat yang juga sedang mengikuti rapat.

Mendengar pernyataan ini Maka perwakilan dari peserta rapat Muslimat pun unjuk bicara. Setelah menyebutkan sejumlah angka, ia menambahkan, "Jumlahnya hampir tiga kali lipat peserta bapak-bapak NU."

Setelah perwakilan muslimat menyelesaikan bicaranya, Pak Hasyim pun kembali melanjutkan pengarahannya. Tahu nggak, kenapa jumlah Muslimat selalu lebih banyak dari jumlah bapak-bapak NU?"

"Itu karena, biasanya seorang bapak-bapak NU minimal memiliki dua orang ibu Muslimat."

"Gerrrrr......," para peserta rapat pun serempak tertawa. Sementara ibu-ibu muslimat hanya tersenyum kecut sambil sedikit melengos.(min)

Kebakaran Jenggot 
07/11/2008

Cerita ini hanyalah fiktif belaka:

Waktu Amrozi Cs bertemu malaikat di pintu masuk, dia kaget.

"Lho sampean kog nggak pake jenggot, nggak ngikut sunnah Rasul ya???" katanya heran.

Dengan agak geram malaikat menjawab. "Jenggot saya sudah kebakar Mas...!" 

Amrozi baru sadar kalau dia sedang berhadapan dengan malaikat Malik, sang penjaga neraka. (nam)

Hukuman Kencan dengan Malaikat 
14/11/2008

Dalam sebuah pidato tentang demokrasi dan kebebasan berkeyakinan, seorang ustadz dengan berapi-api menyatakan, "Negara kita ini sekarang sudah keterlaluan. Segala sesuatu mesti sesuai dengan undang-undang bikinan DPR. Jika tidak sesuai maka harus rela meringkuk di balik terali besi."

Para hadirin tampak mendengarkan dengan khidmad. melihat hal ini, maka sang ustadz pun bertambah menjadi-jadi saja gayanya. Dengan berapi-api ia terus melanjutkan.

"Hanya untuk menceritakan mimpi saja, seseorang harus diuji dengan undang-undang. Lihatlah Lia Eden, ia harus meringkuk di tahanan hanya karena sebuah mimpi."

"Karena mimpi berkencan dengan malaikat Jibril, ia meringkuk dua tahun di tahanan. Bayangkan kalau ia mimpi berpacaran dengan tiga malaikat sekaligus, Jibril Mikail dan Isrofil, bisa enam tahun dia dipenjara."

Pensiun Jadi Kiai 
21/11/2008

Pengajian rutinan yang diadakan di sebuah masjid di Malang, Jawa Timur, sudah dua bulan ini diliburkan. Pak Kiai yang biasa membacakan kitab kuning tidak pernah keluar rumah. Ia lebih senang menyendiri.

Paling-paling ia hanya keluar untuk shalat Jum'at, lalu pulang. Sementara imam shalat lima waktu diwakilkan kepada para santrinya.

Suatu saat seorang warga memberanikan diri mencegat kiai di pelataran masjid usai mengikuti shalat Jum'at.

"Pak Kiai kenapa Anda tak lagi mengaji?" tanyanya penasaran.

"Saya sudah pensiun," jawab kiai sambil lalu.

"Kenapa pensiun kiai?"

"Saya lihat di TV sekarang apa-apa boleh, semuanya sudah boleh. Lalu buat apa saya baca kitab kuning?"

Warga tadi tak bisa menjawab. (nam)

Masjid Muhammadiyah pun Dicuri 
28/11/2008

Dalam suatu pertemuan antara ormas Islam di Jakarta, seorang pengurus NU mengeluh kepada pengurus Muhammadiyah.

“Warga NU sekarang lagi prihatin. Banyak masjid yang dulunya ada doa qunutnya sekarang tidak ada lagi. Yang dulunya ada tradisi tahlil, sekarang tidak ada lagi,” katanya.

Maksud hati ingin menyindir pengurus Muhammadiyah yang biasa shalat subuh tak pakai qunut dan tidak suka tahlil. Tapi pengurus Muhammdiyah malah berang.

”Kalau NU cuma qunutnya yang dicuri. Kalau Muhammadiyah, masjid-masjidnya sekalian dibawa kabur orang,” katanya.

Kali ini pengurus NU dan Muhammadiyah satu hati kalau-kalau ada gerakan sistematik dari kelompok politik dan faham keagamaan tertentu yang merebut masjid-masjid untuk kepentingan tertentu. (nam)

Marhamah Konstitusi 
05/12/2008

Tim sukses calon gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengumpulkan beberapa orang saksi dari salah satu kabupaten di pulau Madura untuk keperluan persidangan sengketa pemilihan gubernur di Mahkamah Konstitusi.

”Bapak-pabak, ibu-ibu, kita ini sekarang sedang didzolimi. Maka sekarang kita kumpulkan bapak-bapak ibu-ibu untuk mendampingi Ibu Khofifah ke Mahkamah Konstitusi,” kata tim sukses.

Seorang calon saksi langsung menyela, ”Sebentar-sebentar... Ibu Marhamah itu apanya Ibu Khofifah ya?” katanya. Dikiranya Marhamah (eeh Mahkamah) adalah anggota Muslimat juga. (nam)

Tak Boleh Pakai Sandal 
12/12/2008

Seorang saksi kasus sengketa pemilihan Gubernur Jawa Timur didatangkan langsung dari pulau Madura.

Namun saat akan memasuki gedung Mahkamah Konstitusi (MK) tiba-tiba seorang wartawan menghampiri saksi. Tapi saksi menolak.

”Maaf dulu ya Mas, saya jangan diwawancara dulu. Sidangnya sudah mau dimulai,” kata saksi agak GR.

”Saya bukan mau wawancara. Saya hanya mengingatkan, di sini nggak boleh pakai sandal (maksudnya harus pakai sepatu) pak,” kata wartawan.

”Oh ya. Baiklah...” Tanpa pikir panjang saksi langsung melepas sandalnya secara tulus dan ikhlas, lalu dimasukkan ke dalam tas, dan bergegas masuk gedung MK.

Wartawan tertawa sambil menggerutu, ”Emangnya ini masjid...!” (nam)

HP Terbalik 
19/12/2008

Seorang kiai mendapat hadiah HP baru yang berukuran agak besar, lebih besar dari HP sebelumnya. HP itu diperoleh dari salah seorang santri yang sudah sukses. Mereknya Nokia, tipe 9210.

Suatu saat, dalam satu pertemuan dengan tokoh politik lokal tiba-tiba HP di saku baju takwa berbunyi dan langsung diangkat sendiri oleh kiai.

"Assalamualaikum, halo halo halo," kata kiai. Tapi suara penelpon tak terdengar. "Ini ada orang nelpon kog ga bisa didengar suaranya," katanya agak kesal.

Kiai tidak tahu kalau HP tipe seperti itu lubang suaranya ada di belakang. "Halo halo..." Tidak ada suara.

"Kebalik Kiai," kata seorang mengingatkan.

Spontanitas kiai langsung membalik halo menjadi, "Loha loha." Dan suara penelpon tetap tak terdengar. (nam)

Membangun SDM dan SDNU 
26/12/2008

Menristek Habibi merupakan menteri yang paling gigih mengembangkan sumberdaya manusia (SDM) sehingga kemanapun ia selalu mengingatkan semua kalangan akan pentingnya pengembangan SDM itu untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju terutama bidang teknologinya.

Ketika berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Timur, Habibi kembali mengingatkan pentingnya pengembangan SDM, dan istilah itu disebut berkali-kali tanpa memberitahu apa pengertian SDM itu.

Ketika dibuka dialog salah seorang ustadz mengangkat tangan mengajukan usul, “Pak Menteri sejak tadi Bapak mendorong perkembangan SDM, padahal di sini mayoritas yang ada adalah SDNU yang dibangun oleh orang NU, sehingga yang perlu dibangun SDNU bukan SDM sebab SD Muhammadiyah di sini cuma sedikit,” usulnya dengan lugu.

Tanpa mau pusing, Habibi langsung menjawab, “Ya..ya..ya.. nanti baik SDM NU dan SDM Muhammadiyah juga sama-sama dikembangkan”. (bregas)

Ijazah 'Palsu tapi Asli' 
02/01/2009

Pada zaman reformasi ini banyak kesempatan untuk menjadi pejabat, sehingga kadang-kadang para calon pejabat kurang persiapan. Termasuk menyiapkan ijazah yang asli.

Di salah satu kabupaten di Jawa, saat menjabat, seorang bupati kedapatan berijazah palsu. Ia pun disidang di pengadilan.

“Anda dituntut hukuman penjara karena ijazah anda ini palsu,” kata hakim kepada bupati sambil mengangkat ijazah yang dibawakan penuntut umum.

Tapi sang bupati menolak ijazahnya dikatakan palsu. ”Enggakbapak hakim. Sungguh, saya ndak bohong. Kata yang njual,ijazah itu katanya asli pak”. (nam)

Gus Dur dan Sepatu Bush 
09/01/2009

Terjadilah insiden pelemparan sepatu oleh wartawan stasiun TV di Irak ke arah presiden Amerika Serikat George W. Bush. Dunia jadi geger. Semua media menyajikannya sebagai berita utama. Tokoh-tokoh dunia berkomentar.

Mayoritas memberikan dukungan kepada sang wartawan. "Lemparan penghinaan itu adalah tanggapan balik terhadap invasi Amerika ke Irak." Dunia Arab kontan memberinya gelar pahlawan, meski belakangan wartawan ini babak belur.

Para tokoh di Indonesia pun tidak ketinggalan. Ada yang menyesalkan sikap wartawan yang emosional, tidak beretika. Namun umumnya memberikan acungan jempol kepada wartawan.

Tibalah saatnya dalam suatu forum politik para wartawan merangsek mendekati mantan presiden RI Gus Dur, meminta pendapatnya soal sepatu Bush.

"Gus Dur bagaimama pendapat anda tentang insiden pelemparan sepatu? Apakah itu termasuk bentuk kejengkelan warga Irak?"

"Apakah anda mendukung itu Gus?"

"Gus, apakah Bush pantas mendapatkan itu"

Gus Dur masih diam. Wartawan mulai tenang, menunggu kejutan.

"Ah wong nggak kena aja kog pada ribut," kata Gus Dur sambil lalu. Wartawan pun tertawa puas. (nam)

Tanda Kiamat 
16/01/2009

“Wah sekarang ini kiamat sudah dekat, tanda-tandanya sudah nyata,” guman seorang pemuda pada temannya.

Dengan heran temannya menjawab: “He... siang hari begini kaukok mengigau, dan kenapa pesimis amat, papa lu mulai percaya ramalah ahli nujum dari Meksiko itu?”

"Bukan itu, bagaimana kiamat tidak terjadi kalau kiai yang biasasnya berbicara soal ibadah saat ini sudah bicara soal teknologi dengan bahasa yang fasih lagi”

“Masak iya sih?” Tanya temannya heran.

“Itu lihat KH Hasyim Muzadi dan KH Hasyim Wahid sudah bicara teknologi informasi dengan fasih, apa ini bukan salah satu tanda kiamat sudah dekat?”

“Ya benar sih. Ini pertanda kiamat bagi profesimu sebagai perusahaan teknologi informasi, sebab wilayahmu akan digusur para kiai dan tamatlah riwayat bisnismu, itu benar-benar kiamat untukmu."

“Ooo begitu toh maksudnya”

“Wah kalau begitu tidak ah, saya tidak mau kiamat,”

“makanya janagan underestimate pada kemampuan orang, semua orang apalagi kiai kalau mau belajar semuanya bisa, kenapa kita sewot?"

"Iya-yaa…." (bregas).

Sekalinya Gus Dur Kalah 
20/03/2009

Konon Gus Dur sempat memimpin perusahaan penerbangan Abdurrahman Wahid Air atau AW Air. Waktu itu Gus Dur melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke kantornya, melihat para pegawainya bekerja.

Gus Dur sempat kaget melihat seorang yang duduk-duduk santai. Tidak bekerja. Padahal ini masih jam kerja.

“Kamu tidak bekerja?” tanya Gus Dur

“Maaf. Saya lagi istirahat Pak,” katanya.

Gus Dur tidak menjawab lagi. Pikirnya, karyawan ini sudah tidak bisa diberi ampun.

“Gajimu berapa sebulan?” Tanya Gus Dur.

“Satu juta Pak,” katanya.

“Ya sudah. Kamu saya kasih dua juta, dan kamu tidak usah lagi bekerja di sini.”

Orang tadi bengong, tapi uang pemberian Gus Dur tadi diterima begitu saja, dan dia langsung pergi.

Setelah itu, Gus Dur langsung memanggil salah seorang pimpinan direksi.

“Hei. Orang tadi sudah saya kasih pesangon, tidak usah lagi bekerja di sini. Kita harus tertibkan manajemen perusahaan,” kata Gus Dur agak jengkel.

“Wah. Dia bukan karyawan sini Pak. Dia pengantar barang,” kata pimpinan.

“Hah…,” Gus Dur tak bisa berkata apa-apa. Kali ini Gus Dur kalah.


 
Didaur ulang dari Humor Gus Dur di Okezone. Kebenaran cerita ini tak bisa dipertanggungjawabkan. Sekedar humor. (Anam)

Doa Kalah Pemilu 
17/04/2009

Seorang tokoh partai Islam dikritik habis-habisan karena perolehan suara partainya pada pemilu kali ini menurun drastis.

Maka di depan rapat umum dia berdoa, " Tuhan kumpulkanlah kami dalam golongan yang sedikit... Golongan yang terpilih..." (anam)

Mengukur Tinggi Tiang Bendera 
24/04/2009

Saat Presiden Habibi datang ke salah satu daerah ia menyempatkan meninjau lapangan upacara, untuk memantau langsung persiapan upacara hari besar Islam keesokan harinya.

Habibi meminta salah seorang pejabat Departemen Agama setempat untuk mengukur tinggi tiang bendera. “Pak, itu coba diukur tinggi tiang itu berapa meter ya…!”

Tanpa pikir panjang, pejabat tadi langsung mencoba memanjat tiang. Maklum, baru kali ini dia bertemu bahkan diperintah pak presiden. Tapi tiang itu terlalu kecil, sehingga tak bisa dipanjat, dan bengkok. Ia jatuh. “Brukkk.”

Kata Habibi, “Jangan begitu pak, diambil saja tiangnya, dirobohkan baru diukur.”

Pejabat tadi menolak. “Wah kalalu begitu kan kita mengukur panjangnya pak, bukan tingginya,” katanya.

Habibi pun terdiam. (anam)

Amplop Kiai 
08/05/2009

Suatu hari saat pulang mengisi acara pengajian umum, pengasuh pesantren Roudlotul Muta’allimin Kudus, KH Ma’ruf Irsyad dikuntit seseorang bersepeda motor yang melaju kencang. Ketika sampai di gang menuju rumahnya, Kiai Ma’ruf dihentikan orang tersebut yang diketahui sebagai salah seorang panitia panitia pengajian.

“Ada apa mas kok tergesa-gesa begitu,” tanya Kiai Ma’ruf.

“Maaf Pak Kiai, kami mau menyampaikan amplop bisyarohpengajian tadi,” kata panitia.

Kontan saja Kiai Ma’ruf  kaget, karena merasa sudah menerima saat berjabat tangan pamit pulang tadi. ”Lho tadi saya sudah diberi amplop kok?” ujar Kiai Ma’ruf

“Iya Kiai. Maaf,  tadi kami salah ambil dari saku baju. Bukannya amplop berisi bisyaroh yang kami sampaikan, tapi tertukar kertas susunan acara pengajian,” jelasnya seraya menyampaikan amplop bisyarohnya

Kiai Ma’ruf pun tersenyum. (Qomarul Adib)

Nyi Roro Kidul Pakai Jilbab 
29/05/2009

Gus Dur ditanya serius tentang penyebab terjadinya gempa dan tsunami di Yogyakarta. Nah karena Gus Dur bukan ahli geologi maka dia menjawab sekenanya saja.

"Itu karena Nyi Roro Kidul marah karena dipaksa pakai jilbab," kata Gus Dur. Ceritanya, Gus Dur sedang menyindir kelompok umat Islam di Indonesia yang memaksakan peraturan daerah (Perda) syariat Islam. (Anam)