Islam dan Semangat Berkarya 
09/03/2011

Oleh: H.Ulil A. Hadrawiy

 
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على امورالدنيا والدين. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله.  اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه أجمعين. اما بعد
 
فياعباد الله أوصيكم وإياي بتقوى الله فقد فاز المتقون, وقال الله تعالى فى القرأن العظيم وَالْعَصْرِ  إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  الله العلي العظيم 
 

Hadirin Jama’ah Jum’ah rahimakumullah
Pada kesempatan jum’at kali ini, marilah kita bersama-sama saling mengingatkan kebenaran dan kesabaran. Al-Quran mengingatkan kepada kita agar kita semua tidak termasuk dalam golonganya orang-orang yang merugi. Dengan terus berusaha mengerjakan segala perbuatan dan usaha yang terbaik bagi kita semua. Menjadi manusia yang beriman berarti menjadi manusia yang idealis dan bercita-cita. Dengan segala upaya dan kesabaran mari bersama-sama mewujudkan cita dan idialisme kita, sebagai seorang muslim yang hidup dalam negara ‘baldatun’ thayyibatun wa rabbun ghafur. 

Para Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah
Islam mendorong umatnya untuk terus melakukan perubahan ke arah kehidupan yang lebih maju, baik dari segi lahiri maupun batini. Hendaknya perubahan tersebut berakar dari masing-masing individu dan kemudian mengarah kepada perubahan masyarakat dan umat. Di sisi lain kemiskinan merupakan kenyataan yang tak terhindarkan di negara ini. kondisi yang berpotensi menghambat terwujudnya kesejahteraan secara lahiriyah. Karena itu Islam mewajibkan setiap muslim untuk berpartisipasi menanggulangi kemiskinan sesuai dengan kemampuannya. Anjuran itu berlaku juga bagi seseorang yang tidak mempunyai kemampuan materi, yaitu dengan menyumbangkan pemikiran dan simpatinya. Bahkan al-Quran mengecam dengan pedas orang-orang yang tidak berpartisipasi dalam pengentasan kemiskinan sebagai kelompok yang mendustakan agama (QS. Al-Ma'un:1-3).

 
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ   فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ   وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
 

Artinya:
Apakah engkau melihat orang yang mendustakan catatan kehidupan [agama]? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.


Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah 
Dalam diri manusia terdapat dua naluri yaitu naluri seksual dan naluri kepemilikan. Naluri kepemilikan akan mendorong manusia untuk bekerja dan berusaha. Bagi Islam, segala macam pekerjaan dan usaha yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam adalah terpuji. Sebaliknya, pengangguran dan ketidak telitian dalam pekerjaan merupakan kondisi yang sangat tercela dan perlu mendapat kecaman. Dalam satu hadis disebutkan bahwa:

 
ان الله يحب عبده اذا عمل اتقن في عمله 
 

Sesungguhnya Allah mencintai hambanya yang teliti dalam pekerjaanya.

Etos kerja yang dilandasi visi dapat mengarahkan gerakan ekonomi rakyat pada satu tujuan, yaitu kemakmuran yang dinikmati oleh secara merata. Hal ini penting mengingat sistem ekonomi sekarang ini telah melahirkan kelompok kecil yang menguasai aktivitas perekonomian dunia dari hulu sampai hilir serta di sisi lain ketidakmampuannya  mengangkat kelompok besar masyarakat dunia untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi. Realitasnya, masyarakat Indonesia yang miskin berada di dalam negara yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah adalah merupakan hal yang sangat memperhatikan.

hal ini sangat bertentangan dengan tuntuanan al-Quran yang selalu menyerukan tatanan masyarakat yang etis dan egalitarian. Maka Islam sangat menentang ketidakadilan sosial terjadi di tengah masyarakat. 

Jama’ah Jum’ah yang disayangi Allah 
Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad saw mempunyai langkah strategis dalam upaya menghindarkan umat dari ketidak adilan sosial. Beliau saw pernah menolak memberikan bantuan keuangan kepada seseorang yang terlihat mampu bekerja dan justru beliau memberi alat bekerja agar digunakan untuk bekerja keras. Memang harus diakui bahwa solidaritas sosial tidak dapat menyelesaikan persoalan kemiskinan secara tuntas. Namun yang terpenting di sini menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial terhadap masing-masing individu, terutama bagi mereka yang mempunyai kemampuan materi yang berlebih. Karena itu perlu ada penetapan hak dan kewajiban bagi kelas menengah ke atas sehingga muncul kesadaran tanggung jawab sosial untuk menciptakan keadilan kesejahteraan di tengah masyarakat. dalam konteks ini Islam mengajarkan konsep zakat yang merupakan hak delapan kelompok yang ditetapkan maupun melalui sedekah wajib yang merupakan hak bagi yang membutuhkan bantuan. 

Jama’ah Jum’ah yang dimuliakan Allah 
Untuk meraih cita-cita diatas dengan meningkatkan etos kerja dalam setiap pekerjaan kita perlu memperhatikan beberapa konsep Islam, diantarantya Al-Kafaah wa at-Ta’ahhul yaitu proprosinal dan profesinal. Dalam melakukan setiap pekerjaan hendaknya kita harus memperhatikan pekerjaan yang kita lakukan apakah kita sudah cocok, baik dan mampu untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Dan juga apakan kita sudah profesional dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Selanjutnya Al-Infitah yaitu trasparansi dalam setiap perkejaan. Dengan trasparansi kita dapat menerima banyak masukan dan kritikan yang membangun dari kekurangan kita untuk kita perbaiki lagi ke arah yang lebih baik. Kemudian At Ta’awun alal Birri wa Taqwa yaitu membangun kemitraan yang posistip dan solid. Karean dengan kemitraan yang baik  dan kesolitan kita akan dapat dengan mudah menyelesaikan segala persoalan yang menghadang. Dan terakhir Al-Mas’uliyah yaitu bertanggung jawab. Setelah kita menerapkan tiga hal di atas kita juga harus siap bertanggung jawab atas hasil dari pekerjaan yang kita lakukan.   

Para jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah...
Di akhir khutbah ini kita menyadari bahwa keterlibatan seseorang dalam upaya meningkatkan etos kerja dalam rangka untuk kemajuan dan pengentasan kemiskinan merupakan salah satu bentuk ibadah dan tanggung jawab pribadi muslim dalam rangka meraih kebahagiaan di dunia dan akherat.

 
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم