Meraih Prestasi Dengan Mengendalikan Hawa Nafsu 
19/12/2006

Oleh KH. Muhammad Choirudin Anwar

Hadirin ama’ah shalat Jum’at rahimakumullah !
Marilah kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan rahmat yang senantiasa dilimpahkan kepada kita. Kiranya, dengan bersyukur itu dapat menambah kepatuhan  dan ketaqwaan kita kepada Allah. Yakni menggunakan  nikmat itu untuk melaksanakan semua perintahnya , dan untuk – sekuat mungkin—menjauhi segala larangan-Nya.

Hadirin para jamaah, semoga anda mendapat rahmat Allah.

Setiapa bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan Allah berpuasa sebulan penuh. Adakalanya 29 hari, atau 30 hari, tergantung umur bulan pada saat itu. Pada bulan Ramadhan wahyu pertama diturunkan  kepada Rasullah SAW. Itulah saatnya beliau pertama diangkat sebagai nabi terakhir, dan tidak ada Rasul yang lahir lainnya setelah itu hingga hari kiamat. Bulan Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang disebut Allah dalam Qur’an:

Artinya : Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (sebagian) Quran sebagai petunjuk bagi manusia  dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda anatara hak dan yang batil. (QS. 2/Al-Baqarah 185).

Hubungannya memang erat antara peristiwa pemulaan turunnya Al-Qur’an di bulan Ramadhan itu dengan kewajiban berpuasa di dalamnya. Sebab kita mengetahui bahwa hawa nafsu kita sendirilah yang menghambat dan menghalang-halangi kita melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Adapun dan setan- walaupun merupakan musuh manusia – permusuhannya terbatas sekedar membisik-bisikan perbuatan yang tidak baik.maka itu di hari kiamat nanti setelah Allah menjatuhkan vonis kepada orang-orang yang bersalah, maka setan berkata sebagai membela diri seperti yang dikisahkan Al-Qur’an:

Artinya: dan berkatalah setan perkara (hisab) telah diselesaikan Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kepadamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tercelah dirimu sendiri. (QS. 14/ Ibrahim 22).

Jadi, setiap kesulitan dan penderitaan yang menimpa diri kita  adalah akibat kesalahan kita sendiri. Oleh Allah, kita telah diberi petunjuk dan peringatan-peringatan, tetpai sering kita hiraukan, karena menuruti hawa nafsu. Setan hanya bias menganjurkan, tidak daapt memaksa kita untuk berbuat salah. Maka itu, salah kita sendiri bila ditimpa malapetaka dan kesulitan-kesulitan. Bukan salah setan

Pada tiap bulan Ramadhan Allah memborgol dan meliburkan para setan. Hal itu, untuk menguji mental spiritual kita. Apabila ada seseorang bermaksiat, menyeleweng dari ketentuan Allah pada bulan Ramadhan, maka tidak dapat menyalahkan setan itu. Sebab semua setan sedang dipenjarakan Allah. Mereka tak dapat beroperasi. Maka perbuatan maksiat, kenistaan dan kedurhakaan jenis apapun yang terjadi di bulan Ramadhan, adalah hasil pembudakan dan kepatuhan terhadap hawa nafsunya, pasti diperbudak dan digiringnya ke jalan yang tak terpuji. Dalam hadis Rasullah SAW, memberi peringatan kita:

Artinya: tiada sesembahan yang dibenci Allah di muka bumi ini lebih dari hawa nafsu.

Menyembah hawa nafsu, yakni menurutinya. Lebih berat hukumnya daripada menyembah batu-batu berhala. Maka itu paling dibenci Allah.

Dalam Al-Qur’an Allah bertanya kepada kita masing-masing:

Artinya: apakah kamu sudah menyaksiakan orang yang mempertruhkan hawa nafsunya?

Padahal kita ini, setiap hari –paling tidak—salat tujuh belas raka’at dan sujud bertekuk lutut di hadapaan Allahn34 kali. Seharusnya menyerahkan jiwa, raga, harta benda dan hawa nafsu kita kepada Allah dan menuruti kehendaknya. Tidak patut bahkan kita pasrah dan bersimpuh kepada hawa nafsu.
Selain itu, Rasullah saw. Memperingatkan kita jika kita ingin menjadi mukmin yang sebenarnya.

Artinya: seorang belum dapat dikatakan beriman, sebelum dapat menundukkan hawa nafsunya kepada apa yang saya bawakan (Al-Qur’an dan Sunnah)


Hadirin jama’ah jum’at rahimakullah.

Hawa nafsu—yang sering kita kambing hitamkan sebagai pendorong kejahatan—sesungguhnya anugerah Allah juga.sebab dengan hawa nafsu itu, orang mempunyai semangat untuk mencapai prestasi dan cita-cita yang tinggi. Akan tetapi, dengan hawa nafsu pula orang bisa terjerumus kepada kehinaan yang sangat rendah. Dengan berpuasa Ramadhan kita dilatih untuk menguasai hawa nafsu agar bias menjadi pendorong kebaikan, bukan malah mengendarai kita menuju jurang kesesatan.
Menurut pandangan agama Islam, mulut dan alat kelamin merupakan saluran utama pelampiasan nafsu. Barangsiapa bias menguasai dua saluran tersebut sehingga hanya digunakan untuk kebaikan, pasti hidup bahagia. Sebaliknya, begitu banyak orang yang jatuh sengsara gara-gara dua anggota tubuhnya tersebut. Rasullah saw pern