BUYA KH ABDUL GANI LATIF
Dari Militer sampai Pendakwah 
01/07/2007

Ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, Sekolah Tinggi Islam ditutup. Masyarakat diarak untuk mengikuti kerja rodi (paksa). Seperti pemuda-pemuda lain, Buya Abdul Gani Latif mengikuti latihan militer di Kandang Empat Pariaman untuk kepentingan Jepang. Tahun 1946, Buya dengan pangkat Letnan Dua ditugaskan sebagai staf Resimen VI. Karir sebagai orang militer tidak berlanjut. Namun tahun 1950 Buya Gani meninggalkan tugas militer, beralih sebagai guru agama.

Lahir tahun 1920 di desa Siteba Nanggalo (sekarang kawasan perumahan dan pasar) Kota Padang. Sebagai orang Minangkabau, Buya Gani (begitu akrab dipanggil), menyandar gelar pusako Malin Mudo, sekaligus kepala waris dalam kaum suko Koto di kaumnya.

Masa kecil Buya sama seperti anak-anak lain ketika negara Indonesia masih dijajah bangsa Belanda. Masa kecilnya dihabiskan mengaji di surau (tempat beribadah umat Islam milik kaum di Minangkabau). Setelah usia sekolah, Buya kecil masuk sekolah desa (Governemen) dan meneruskan pendidikan ke Thawalib  Padang Japang Kabupaten 50 Kota selama satu tahun. Selanjutnya pindak ke Thawalib Tiakar Payakumbuh sampai tamat tahun 1935.

Setahun kemudian Buya melanjutkan pendidikan ke Normal Islam di Padang di bawah pimpinan H Muhammad Yunus, tamat tahun 1940. Kemudian tahun 1941 melanjutkan ke Pendidikan Islam Tinggi (semacam perguruan tinggi IAIN sekarang) sebagai lanjutan Normal Islam.

Sebelum Jepang menjajah Indonesia, Buya Gani pernah mendirikan Sekolah Thawalib tahun 1935. Tahun 1936 tercatat 190 orang murid. Tempat belajarnya menggunakan beberapa surau yang ada di sekitar sekolah Thawalib. Sekolah ini setingkat dengan tsanawiyah.

Pendirian sekolah Thawalib didorong oleh amanat dari Syekh Ibrahim, guru Buya Gani. Dengan alasan kurangnya lembaga pendidikan agama di Padang. Materi yang diajarkan diperoleh dari gurunya Syekh Ibrahim Hasan seperti Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Tarikh, Tafsir, Fiqih, dan lain-lain. Namun tidak berapa lama umurnya karena ditutup Belanda. Sekolah tersebut dianggap Belanda menentang pemerintah. Buya tak hilang akal. Nama sekolah tersebut diganti menjadi Persatuan Islam.

Tahun 1950 madrasah ini diambil-alih oleh organisasi Muhammadiyah. Di bekas sekolah itu didirikan Sekolah Rakyat yang selanjutnya berubah menjadi Sekolah Dasar Islam (SDI).  Buya Gani selanjutnya diangkat menjadi kepala sekolah, di samping guru agama.

Buya Gani juga pernah menjadi Kepala Madrasah Persatuan Islam. Sekaligus diminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (yang dikenal dengan Inyiak Canduang) mengajar pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Pasar Miskin Padang sebagai cabang dari MTI Canduang. Pada saat yang sama, Buya melanjutkan pendidikan ke Normal Islam di Padang.

Hengkang dari dari militer tahun 1950, sampai tahun 1958 Buya Gani bertugas sebagai guru agama. Beliau memasukkan pelajaran gama dalam kurikulum sekolah umum. Kemudian tahun 1959 Buya Gani dipercaya menjabat Kepala Kantor Inspeksi Pendidikan Agama Padang/Padang Pariaman. Beliau merupakan orang pertama menjadi Kepala Inspeksi Pendidikan Agama di Kota Padang.

Tahun 1959 Buya Gani masuk organisasi Partai Nahdlatul Ulama (PNU). Setelah terjadinya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, memang banyak tokoh agama Islam yang berbondong-bondong bergabung dengan NU, sebagian benar-benar bermaksud memajukan syiar Islam bersama NU, sebagian lain sekedar agar tidak dianggap pemberontak. Dengan cara bergabung dengan NU, banyak ulama yang  diselamatkan Buya Gani dari anggapan pemberontak. Diantaranya adalah Buya H Darwas Idris dan Buya Yacub Thalib.

Gelar ”Kyai” diperoleh Buya Gani dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun 1984. Sejak bergabung dengan NU, beliau aktif dalam berbagai aktifitas NU, termasuk ketika NU berafilisai dengan PPP dan ketika NU memasilitasi pendirian PKB, hingga terakhir beliau dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU Sumatera Barat (1999 – 2004).

Buya Gani pernah mempelopori berdirnya panti asuhan di Nanggalo ketika Belanda masih menjajah negeri ini. Setidaknya ada 40 anak-anak yatim yang ditampung di panti asuhan tersebut. Ketika zaman Jepang, panti asuhan tersebut terhenti. Setelah kemerdekaan panti asuhan tersebut dilanjutkan oleh organisasi Aisyiah.

Beliau juga dikenal sebagai imam masjid Sahara Padang Pasir Kota Padang. Sebagai seorang pensiun dari Departemen Agama, sehari-hari kegiatan Buya antara lain berdakwah, bergerak di bidang sosial keagamaan, membimbing mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang menghadapi ujian komprehensif sebagai salah satu syarat mengakhiri pendidikan.

Di antara guru yang berkesan, kata Buya Gani, antara lain H Mohammad Noer Simlanggang. Keahlian yang diperoleh dari guru ini adalah membaca kitab ilmu tata bahasa arab Matan Jurumiyah, ilmu fikih Matan Taqrib. Sedangkan dari gurunya Syekh Abbas Padang Japang diperoleh pelajaran membaca kitab fiqih Fathul Qarib dan Syarh al-Bajuri. Pelajaran ilmu fikih lainnya lebih banyak diperoleh dari Syekh Ibdrahim Hasan di Tiakar Payakumbuh. Ilmu tafsir dari Kaciwin Effendi. Sedangkan ilmu tasawuf diperoleh dari H Ramli, dengan kitab yang dibacaIhyaulumiddin. Ilmu hadits diperoleh dari H Amir dengan buku yang dibaca Arba’in Nawawi dan Jawahir Bukhari.

Ilmu keagamaan yang sangat diminatinya adalah tafsir dan ilmu tafsir. Dalam muzakarah yang diadakan sewaktu belajar pada Syekh Ibrahim Hasan, Buya Gani sangat tekun menyimak setiap penyampaian dari gurunya. Alasannya, kedua ilmu itu sangat perlu disampaikan ke tengah-tengah masyarakat yang merupakan sumber pokok dari ajaran agama Islam.

Dalam berdakwah, Buya Gani tidak seperti mubaliqh lain pada umumnya yang menyampaikan materi dakwah yang penuh dengan agitasi. Tetapi beliau menyampaikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist dengan cara menafsirkan dan membahasnya terlebih dahulu, membuktikan apa betul pengertian yang terkandung dalam Al-Qur’an itu.

Ternyata, dakwahnya dapat dimengerti oleh masyarakat awam sampai kalangan akademisi. Pembantu Rektor IAIN Imam Bonjol Padang DR Jaya Sukma pernah belajar dengan Buya Gani karena beliau memang ahli membaca tulisan Arab tanpa harakat (kitab gundul).

Bagindo Armaidi Tanjung
Kontribotor NU Online di Padang