DATUK H ABDURRAHMAN BIN DATUK HAJI MAHMUD
Berkelanalah, Lalu Kembali ke Kampung Halaman 
01/08/2007

Beliau lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dalam keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan. Ketika kecil Abdurrahman belajar agama dari kedua orang tuanya, namun menginjak usia 10 tahun beliau dikirim ke daerah Pengastulan untuk mengaji Al-Qur'an kepada Tuan Guru Abdul Hamid hingga berusia 18 tahun. Pada tahun 1925 Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, tepatnya ke kota Suci Mekkah yang waktu itu memang menjadi tempat tujuan belajar bagi masyarakat Islam Nusantara.

Di kota Mekkah beliau bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang sudah menjadi penduduk tetap kota Mekkah dan belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar yang mengajar di sana. Diantara guru-guru beliau adalah Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar, Syeikh Hamdan al-Maghrabi serta seorang ulama besar ilmu hadits asal Palestina.

Di kota suci ini pula beliau bertemu dengan para santri Indonesia yang lain seperti Zainuddin Pancor, Wahid Hasyim Jombang dan Ambo Dalle’ Sulawesi. Di antara teman beliau yang paling akrab adalah Wahid Hasyim. Menurut penuturan beliau ketika masih hidup, setiap hari beliau dan Wahid Hasyim pergi ke pedalaman dan bermain bola bersama orang-orang Baduwi. Dan malam harinya sepulang dari bermain bola, Wahid Hasyim yang saat itu sedang suka menulis, acapkali mengirimkan essai tentang watak dan kebiasaan orang Baduwi ke majalah Jumhuriyah. Beliau belajar di kota suci selama kurang lebih sembilan tahun.

Sepulang dari Kota Mekkah, Muhammad Qasim kemudian pulang ke kampung halaman dengan menyandang nama baru, Datuk Haji Abdurrahman. Belum lama beliau menetap di Bali, Datuk Haji Abdurrahman merasa tidak nyaman karena ketika itu terjadi perpecahan di tengah masyarakat muslim Loloan yang di picu oleh perbedaan pandangan fiqh antara Ustadz Ali Bafaqih dan Ustadz Semarang, dua orang ulama yang lebih dahulu pulang dari kota Mekkah daripada beliau.

Oleh karena itu beliau pun pergi ke Rembang dan mengaji kitab kepada Kyai Musthofa. Selain belajar kepada Kyai Musthofa, beliau juga belajar sejarah kepada Bisri Mushtofa yang tidak lain adalah teman sekamar beliau selama di Rembang. Namun tak selang beberapa lama beliau pindah ke Jombang untuk berjumpa dengan teman lamanya Wahid Hasyim.

Karena pertemanannya dengan Kyai Wahid Hasyim, keberadaan beliau di pesantren Jombang lebih diposisikan sebagai tamu daripada sebagai santri. Beliau sering disuruh memijat Kyai Hasyim Asy’ari dan acapkali mendapat bagian menjadi imam sholat karena keunggulan di bidang ilmu Tajwid Tajwid dan kefasihan bacaan al-Qur’an yang beliau miliki.

Tak selang beberapa lama, Datuk Haji Abdurrahman mengutarakan masalah yang membuatnya pergi meninggalkan kampung halamannya dan berniat untuk menetap di pesantren Kyai Hasyim. Namun keinginan tersebut tidak mendapat restu dari Kyai Hasyim Asy’ari. Menurut pendapat Kyai Hasyim umat Islam di Bali akan lebih membutuhkan kehadiran beliau ketimbang umat Islam di tanah Jawa. Setelah mendengar pendapat Kyai Hasyim Asy`ari tersebut, beliau pun kemudian pulang ke Bali dan mulai mengajarkan ilmu agama di Loloan Barat.

Ketika awal-awal beliau menetap di pulau Bali, beliau aktif mengajar ilmu agama hingga ke daerah-daerah pelosok sebagai guru GAH (guru agama honorium). Namun setelah menderita sakit, beliau kemudian hanya mengajar di rumah hingga akhirnya pada tahun 1940 rumah kediaman beliau berubah menjadi pesantren diberi nama Darut Ta`lim.

Di masa penjajahan Jepang, ketika terjadi perbedaan pendapat di antara ulama lokal dalam masalah fiqhiyah (yakni masalah didirikannya dua masjid dengn jarak yang berdekatan), Datuk Guru Ilyas mengirim surat kepada para pelajar Indonesia yang berada di Kota Mekkah untuk mendapatkan putusan hukum dari para Ulama yang ada di sana. Tak selang beberapa lama datanglah Kyai Wahab Hasbullah dari tanah Jawa sebagai jawabannya dengan membawa keputusan hukum.

Disamping membawa fatwa hukum, Kyai Wahab Hasbullah juga tampil menjajakan NU di tengah-tengah ulama lokal. Menurut Datuk Haji Abdurrahman Kyai berkata: “Saya ingin menjajakan saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” dan obat yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama.

Dari pertemuan inilah Datuk Haji Abdurrahman kemudian terlibat aktif ke dalam pembidanan NU dan bersama-sama Datuk Guru Nuh dan Ustadz Ali Bafaqih mensosialisasikan NU kepada masyarakat muslim Bali. Ketika NU sudah menjadi Partai politik, mau tidak mau Datuk Abdurrahman yang sebenarnya merupakan ulama yang tidak suka dengan politik praktis akhirnya terlibat.

Setelah terjadi Gestapu, tepatnya pada tanggal 30 November 1965 Datuk Haji Abdurrahman menurunkan santri-santrinya bersma Anshor dan TNI untuk mengadakan penangkapan terhadap pentolan PKI yang mengadakan rapat rahasia. Dalam penggerebekan rapat rahasia PKI di Tegal Badeng (Ladang Hitam) dua orang sipil dan seorang tentara gugur tertembak oknum PKI. Salah seorang yang gugur tersebut adalah santri pesantren Darut Ta`lim, kang Paimin. Gugurnya tiga orang ini kemudian menjadi sebab terjadinya aksi balasan GP Anshor dan ABRI mengadakan penyerbuan terbuka keesokan harinya dan mengakibatkan ratusan anggota PKI mati terbunuh.

Setelah penyederhanaan partai menjadi GOLKAR, PPP dan PDI Datuk Haji Abdrurrahman pun meninggalkan arena politik. Beliau kembali tampil sebagai seorang ulama yang sabar, santun dan menjadi tempat bertanya masyarakat, ustadz-ustadz muda dan para ulama.

Sementara dalam mengelola pondok pesantren, beliau tetap mempertahankan pendidikan bandungan dan tidak mengembangkannya kepada model klasikal apalagi model pendidikan modern hingga beliau tutup usia pada 2003 di usianya yang ke 97. Karena beliau ingin hidup tidak dibedakan dengan masyarakat, beliau pun dimakamkan di pemakaman umum komunitas Bugis-Melayu yang terletak di kelurahan Loloan Timur.(Rifkil Halim Muhammad)