H.Imron Rosyadi SH
Diplomat Karir Dari Pesantren 
17/06/2006

Sejak awal NU merupakan organisasi social keagamaan yang bersikap pluralis, bayangkan berapa banyak kader di luar NU direkrut oleh organisasi ulama. Ini bukan hanya kekurangan sumber daya manusia, tetapi dilandasi pada sikap yang melihat semuaa elemen bangsa yang berprestasi dan bermoral sebagai warganya, karenanya bisa diajak berkiprah di NU. Namun demikian tidak berarti NU tidak memiliki kader sendiri yang memumpuni, banyak sekali diantaranya adalah Mr. Imron Rosyadi, yang menjadi salah seorang  ketua dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama -PBNU- ketika organisasi ini masih menjadi partai politik (1954-1984).

Perjalanan hidup Imron Rosyadi penuh liku-liku, dia adalah anak seorang pimpinan pesantren, di sanalah ia mulai belajar, kemudian  mulai mengenyam pendidikan gaya Belanda, kemudian mendalami pelajaran agama di Irak, di sana ia banyak belajaar berbagai pengetahuan sejak politik, kebudayaan dan juga agama, tetapi yang ditekuninya adalah bidang hukum, dari sana ia mendapatkan gelar Meester in de Reechten (MR) yang di Indonesiakan menjadi Sarjana Hukum (SH), melalui ujian persamaan di Universitas Indonesia. Dengan pengalamannya itu ia menjadi pribadi yang tegas dan mandiri.

Kerterlibatan di lingkungan NU diawali sejak masa kepanduan Ansor Nahdlatul Ulama (ANU), kemudian menjadi ketua umum Barisan Pemuda itu. Dengan kemandiriannya itu maka dengan tegas ia menentangnya kebijakan Bung Karno ketika mewajibkan organisasi-organisasi kepanduan dilebur ke dalam Praja Muda Kirana alias Pramuka. Imron Rosyadi sempat empat tahun mendekam dalam penjara orde lama dan baru dibebaskan setelah orde baru lahir. Sejak bebas dari penjara, Imron langsung melejit menjadi Ketua IV PBNU dalam Muktamar NU di Bandung (1967), menjadi Ketua III dalam Muktamar Surabaya (1971) dan menjadi Ketua III dalam Muktamar NU di Semarang tahun 1979.

Ketika NU, melalui Muktamar Situbondo (1984) resmi kembali ke khittah 1926, Imron duduk sebagai salah seorang rois syuriah PB dan satu periode kemudian diangkat sebagai mustasyar-penasihat PBNU. Dalam jabatan itulah, ia wafat di kota Bandung (1993) karena sakit. Bandung adalah kota kelahiran isterinya, yang juga aktivis  dan pernah menjadi ketua/penasihat Muslimat NU, yaitu Ny Hajjah Chadidjah Imron Rosyadi. Sang isteri adalah wanita ningrat salah seorang puteri dari Bupati Bandung  yang saat dinikahi Pak Imron merupakan sosok yang sangat terpandang di bumi Parahiyangan.

Imron Rosyadi kebetulan tidak dikaruniai putera atau puteri, sehingga bisa berkarir di Departemen Luar Negeri, di NU maupun di Parlemen secara lebih intensif, namun bukan berarti tidak memiliki asuhan, sebab ia punya anak angka yang cukup banyak dan  mereka didik seperti anak-anaknya sendiri, disekolahkan hingga perguruan tinggi. Warisan hartanya tidak banyak, selain sikap kejujuran dan kejuangan serta keteguhan pendiriannya yang bagaikan batu karang. Kedalaman ilmunya terbukti dari banyaknya buku-buku pengetahuan agama dan kitab-kitab kuning yang dimilikinya dan kini sudah dihibahkan kepada salah satu perguruan Islam di Jakarta.

Putera  Indramayu

Imron terlahir dari keluarga keturunan NU tulen. Ayahnya KH Abdullah dan ibunya Ny.Hajah Ratu Salichah, memiliki empat orang puteri, semua kakak Imron dan seorang putera yang paling ragil atau bungsu adalah Imron Rosyadi. Seorang di antara kakaknya  Ny.Hj.Chasanah Mansur pernah menjadi Sekretaris Umum Pucuk Pimpinan Muslimat NU yang berkedudukan di Jakarta.

Selesai belajar di sekolah rakyat, pemuda yang lahir tahun 1916 melanjutkan pendidikan tingkat menengah -MULO-, suatu lembaga pendidikan jaman Belanda yang modern dan maju. Di sekolah ini di ajarkan lima bahasa asing, karena itu lulusannya rata-rata menguasai bahasa Inggeris, Belanda, dan Jerman di samping bahasa Indonesia. Tamat MULO, Imron yang ketika itu berusia sekitar 25 tahun  memiliki semangat juang yang tinggi.Ia ingin berkeliling dunia, tetapi orang tuanya kurang berkenan, karena rencana itu membutuhkan beaya yang amat banyak yang tidak bisa ditanggung oleh orang tuanya.

Tekad dan semangat Imron menuntut ilmu ke luar negeri, terutama negara-negara Timur Tengah pantang bersurut. Dengan  segala daya dan upaya dia mencoba menyamar sebagai awak kapal angkutan barang. Namun di tengah pelayaran ternyata ia tertangkap oleh nakhoda kapal, akhirnya ia diturunkan di Singapura, walaupun demikian ia tak tampak gelisah karena sudah meninggalkan negaranya apalagi dia sudah memiliki sejumlah uang dan menetap untuk beberapa lama di kota dagang itu. Sambil terus mengatur siasat, Imron melanjutkan pengembaraan ke Kuala Lumpur Malaya. Di sana pun begitu, sambil menghimpun kekuatan, ia melanjutkan perjalanan ke Pakistan, India hingga akhirnya sampai di Baghdad-Irak.

Sesuai tekadnya, Imron segera mendaftar ke Universitas Irak di Baghdad, mengambil jurusan agama sekaligus mendalami masalah hukum. Studi itupun dapat diselesaikan sekitar tujuh tahun. Namun untuk menggapai cakrawala ilmu pengetahuan maka setiap ada hari-hari libur panjang Imron memanfaatkannya untuk berkelana ke Saudi Arabia, Mesir, dan bahkan ke Eropa. Perjalanan safari ini  membawa pengalaman berharga bagi Imron yang memiliki cita-cita tinggi itu. Ia merasa lebih terbuka cara  berpikir dan p