KH Muhammad Dahlan
Ketua PBNU yang Penuh Inisiatif 
17/06/2006

Walaupun dikenal sebagai organisasi tradisional, bukan berarti dalam NU tidak ada pembaruan, justeru tampilnya NU sendiri sebuah gerakan pembaruan di lingkungan kaum santri. Organisasi sendiri adalah fenomena modern, karena itu di dalamnya secara otomatif akan mendorong terjadinya berbagai perubahan, dan motor gerakan pembaruan yang sangat menonjol di samping KH Wahid Hasyim adalah Kiai Muhammad Dahlan. Kalau Kiai Wahid  membolehkan hakim wanita, maka dalam NU Kiai Dahlan mempelopori berdirinya organisasi Wanita NU yakni Muslimat, bahkan dengan kegigihannya akhirnya bisa meyakinkan Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Hasbullah yang akhirnya didukung seluruh Nahdliyin.

Ketika menjabat Menteri Agama (1967-1971), Kiai Dahlan yang memelopori musyawarah antarumat beragama untuk menjaga kerukunan sesamanya. Ia pula yang berjasa mengangkat ribuan guru-guru agama melalui Ujian Guru Agama (UGA) paska peristiwa 1965 sebagai konsekuensi semakin disadarinya bahwa berkembangnya ajaran komunisme akibat kurangnya pelajaran agama di sekolah-sekolah.  Putera Pasuruan ini pula yang memprakarsai penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Nasional, sekaligus memelopori berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an atau PTIQ.

Namun demikian Kiai Dahlan dengan gigih menolak kehadiran organisasi GUPPI, yang diketahui sebagai siasat pemerintah ketika itu untuk menggerogoti kekuatan Nahdlatul Ulama dari pusat sampai daerah-daerah. Ketegasan sikapnya itu, yang membuat ia tanpa beban dan rela dicopot sebagai menteri agama.   

Asal Usul

Muhammad Dahlan adalah putera ketiga dari lima bersaudara, lahir pada tanggal 2 Juni 1909, bertepatan dengan 14 Jumadil Ula 1327 Hijriah di desa Mandaran Rejo, Kotamadya Pasuruan, Jawa Timur. Desa itu terletak di pesisir pantai, kurang lebih berjarak tiga kilometer dari kota Pasuruan. Mayoritas warga desa yang bermata pencarian sebagai nelayan penangkap ikan di lepas pantai dan petani tambak, menjadikan lahan yang terhampar di desa itu sebagian besar berupa petak-petak tambak udang dan ikan bandeng. Pengelolaan tambak dilakukan penduduk secara tradisional, sekedar memanfaatkan pasang-surutnya aliran sungai yang melintasi desa tersebut yang bermuara di selat Madura.

Di sungai itulah Dahlan kecil bersama teman-teman sebayanya mengadu kemahiran berenang melawan arus sungai, atau adu cepat menemukan batu yang dilemparkan ke dalam sungai.

Belum lagi menginjak usia belasan tahun, Dahlan telah diberikan tanggung jawab menjaga beberapa petak tambak milik kakeknya. Biasanya sebulan menjelang tambak dipanen, Dahlan harus sering menunggui tambak di malam hari. Kala itu, kerap terjadi pencurian di malam hari pada tambak yang hendak dipanen.

Ayah-ibu Dahlan bernama Abdul Hamid dan Chamsiyah, termasuk orangtua yang sangat disiplin dalam menanamkan kesadaran kepada putera-puterinya agar taat menjalankan ajaran-ajaran agama. Dari lima bersaudara hasil pernikahan pasangan Abdul Hamid dan Chamsiyah ini, dua diantaranya laki-laki, yaitu Muhammad Hasyim sebagai putera tertua dan Muhammad Dahlan sebagai putera ketiga.

Disamping bimbingan dan arahan yag diterima dari kedua orangtuanya, dasar-dasar pendidikan yang di kemudian hari benyak mewarnai corak kepribadian Dahlan didapatnya dari Pesantren Siwalan Panji di Sidoarjo dan Pesantren Tebu Ireng di Jombang. Di kedua pesantren ini pula ia ketemu dengan tokoh besar NU lainnya seperti KH. A. Wahid Hasyim dan KH. Masykur. Ia  memanfaatkan sebagian masa kanak-kanak dan remajanya menekuni pengetahuan keagamaan dan menjalani praktek belajar bermasyarakat. Makanya ketika masih dalam usia belasan tahun, Dahlan telah  mengenyam pendidikan di Makkah, Saudi Arabia. Bersama kakak sulungnya, dengan rajin ia mengikuti kelompok-kelompok pengajian sebagaimana para ulama terdahulu yang mengukti pengajian di sekitar halaman Masjid Al-Harram Makkah. Di kota suci itu ia belajar berbagai ilmu keagamaan, dan mengenal dunia luar secara umum yang kelak menjadi bekal dalam membangun negerinya terutama ketika berkiprah di NU.

Membentuk NU Bangil

Tampilnya Dahlan di gelanggang pergerakan dimulai tahun 1930. Dialah tokoh yang merintis terbentuknya organisasi NU cabang Bangil, dan sekaligus menjadi ketuanya. Lima tahun kemudian ia terpilih menjadi ketua NU cabang Pasuruan. Berkat kepemimpinan dan integritas kepribadian yang dimilikinya, pada tahun 1936 ia sedah dipercayai untuk  menjadi Konsul NU Daerah (wilayah) Jawa Timur yang berkedudukan di Pasuruan.

Corak kepemimpinan yang diperlihatkan Dahlan menunjukkan bahwa ia adalah seorang orgnisator yang ulet dan mahir berargumentasi, sehingga dapat meyakinkan lawan bicara. Salah satu contoh yang menunjukkan hal itu dibuktikan saat ia menghadiri kongres NU XIII di Menes, Banten pada tanggal 11-16 Juni 1938. Kala itu, salah satu cara yang ditempuh cabang NU dalam menghimpun dana bagi kepentingan jalannya roda organisasi adalah mengedarkan lis derma kepada beberapa perorangan, baik warga NU maupun simpatisannya.

Dalam majelis (sidang) IV kongres NU di Menes itu, Dahlan selaku Konsul NU Daerah  Jawa Timur mengajukan usul agar cabang-cabang yang menjalankan lis derma ke cabang lainnya itu juga menyertakan orangnya sebagai kurir yang membawa lis tersebut, dan langsung menemui orang-orang yang