KH Muhammad Zen Syukri
Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan
17/06/2006

Pengantar

Budaya besar akan melahirkan tokoh besar, selanjutnya tokoh besar akan melahirkan karya-karya besar. Palembang dengan kerajaan Sriwijayanya merupakan kerajaan besar dan pusat peradaban besar Nusantara pada abad VII masehi. Saat itu Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dunia, juga menjadi pusat pengajaran Budha yang paling berwibawa. Demikian halnya pada masa Kerajaan Palembang Darussalam, hubungan Palembang dengan kerajaan Demak sangat erat, baik yang bersifat politik maupun budaya, perdagangan serta keagamaan, sehingga banyak ulama besar lahir pada periode itu dari Palembang. Apalagi mereka percaya bahwa raden Patah Raja Demak berasal dari Palembang dan masih banyak yang merasa sebagai keturunan sang raja itu.

Ulama besar palembang antara lain Faqih Jalaluddin, Syihabuddin Abdullah, Syekh Muhyiddin lalu Syekh Kiemas Muhammad, dan yang paling terkenal hingga sekarang dana ajarannya masih terus diamalkan adalah  Syaikh Abdushomad Al Palimbani (1704-1775). Mereka semuanya adalah menganut Islam Sunni Syafii selain itu juga gigih menyebarkan Tarekat Samaniyah, sehingga memiliki pengikut yang cukup luas, tidak hanya di Palembang bahkan hampir di seluruh Sumatera. Tradisi bermazbah serta tarekat itu diajarkan secara turun menurun pada para ulama yang selama ini belajar di Mekah pada ulama Palembang yang bermukim di sana seperti KH Sahruddin, KH Abdul Aziz dan sebagainya. Kemudian juga dikembangkan oleh para ulama di pesantren setempat hingga sampai pada Kiai Zen Syukri yang masih ada sekarang ini.

Ketokohan Kiai Zen Syukri tidak hanya dalam bidang agama, tetapi punya pengaruh yang sangat luas, baik secara social maupun politik, sehingga ia selalu menjadi tumpuan harapan para elite politik local maupun nasional. Sebelum menjadi Presiden baik Abdurrahman Wahid, Megawati dan terutama Suisilo Bambang Yudoyono selalu meminta restu dan dukungan pada kiai sepuh Palembang itu, yang masing-masing punya ikatan historis tersendiri. Gus Dur karena Kiai Zen Syukri merupakan murid KH Hasyim Asy’ari kakenya, serta sebagai Musytasyar NU Palembang. Hubungan dengan Mega melalui Taufik Kiemas adalah sesama berasal dari Palembang sehinga, punya hubungan dekat. Sementara dengan SBY, karena selama ini SBY pernah menjadi Pangdam Sriwijaya yang bermarkas di Palembang, selama ini keduanya sudah menjalin kerjasama dalam menjaga ketertiban dan keamanan daerah.

Luasnya pengarus itu tidak lain karena kaharisma yang dimiliki sang kiai, yang karena memiliki kualitas spiritual yang tinggi, intelektualitas yang matang, serta integritas moral yang kuat, juga pengabdian pada kepentingan agama dan masyarakat yang tak kenal lelah, sehingga mau melayani umat yang paling bawah hingga para pejabat, tanpa membedakan status dan jabatannya. Maka tidak aneh hingga sekarang ini dianggap tokoh paling dihormati, selain karena usianya yang paling tua juga keilmuannya paling terkemuka, terbukti dengan karya-karya pemikirannya yang sangat produktif, sebagaimana dilakuakan para ulama Palembang terdahulu.

Masa Pembentukan.

Zen Syukri yang lahir pada 1919 itu hidup di lingkungan keluarga Islam santri yang tergolong kelas menengah Palembang pada zamannya, karena itu ia memperoleh pendidikan yang memadai, terutama dalam bidang agama. Walaupun keluarganya mampu menyekolahkan ke sekolah Belanda, tetapi orang tunya melarang sekolah dan mempelajari bahasa kolonial itu, akhirnya ia hanya belajar di madrasah Ibtidaiyah Hingga tamat Tsanawiyah pada tahun 1935.

Setamat Tsanawiyah umunya masyarakat yang mampu, akan mengirim anaknya ke Mekah, demikian pula keinginan keluarga Zen, tetapi setelah dilakukan istikhoroh, ayahnya melarang kepergian anaknya ke Tanah Suci. Tentu saja Zen kecewa dan malu karena tetangga sudah terlanjur tahu rencana itu, bahkan tetangga menyindir gagalnya keberangkatan itu. Tetapi ayahnya menasehatkan bahwa belajar agama di mana-mana sama saja, toh nanti di Mekah  akan berguru pada para ulama Nusantara juga. Sementara di Indonesia sudah banyak ulama yang alim.

Zen paham akan nasehat ayahnya, tetapi tidak bisa menutup telinga terhadap sindiran tetangganya, akhirnya tanpa sepengetahuan orang tua ia menjual sepeda untuk pergi merantau belajar agama. Pesantren yang dituju adalah Tebuireng Jombang, sebab ia pernah mendapatkan cerita dari gurunya yakni Syekh Muhamamad Salim Alkaf, seorang Rois Suriyah NU dan salah seorang pendiri NU Palembang, yang telah mengenal kebesaran pesantren itu.Dengan berbekal uang secukupnya itu ia naik kereta api ke Lampung kemudian menyeberang ke Batavia (Jakarta). Perjalanan yang begitu panjang itu dengan sendirinya menipiskan pesangon, sehingga terpaksa ia menjadi buruh di sebuah penerbitan sebagai pemotong koran.

Perjalanan ke Jawa Timur dilanjutkan setelah memperoleh pe