K.H. Saifuddin Zuhri
Ulama Sejarawan 
17/06/2006

Pengantar
Banyak ulama besar yang berasal dari kalangan rakyat jelata, di antaranya adalah Kiai Siafuddin Zuhri, anak seorang santri kampung, kemudian belajar agama di madrasah dan selanjutnya belajar di masyarakat selama revolusi. Namun demikian kontribusinya NU sangat besar, tidak hanya secara material, bagaimana dia menyumbangkan hektaran tanah pada organisasi ini, juga gigih mengembangkan NU di kalangan pedesaan dan di lingkungan kaum pergerakan. 
Dan yang lebih penting lagi adalah kontribusinya dalam penyediaan bahan bagi penulisan sejarah NU pada umunya, sebab dia adalah seorang kader yang sangat sadar terhadap sejarah, sehingga banyak membuat catatan sejarah yang merupakan kesaksiannya terhadap peristiwa yang dilihat dan dialami sendiri. Dari berbagai catatannya terbit menjadi berbagai buku yang banyak sekali jumlahnya. Selain itu masih banyak artikel lepas di berbagai media dan makalah seminar serta pidato yang belum diterbitkan. Semuanya menjadi bahan sumber yang sangat penting sehingga menjadi bahan telaah yang tak habis-habisnya bagi para peminat atau penulis sejarah.


Keunggulan Saifuddin dibanding penulis atau sejarawan NU yang lain adalah, ia melukisan tokoh sebagi sosok yang hidup, karena semuanya disaksikan dialami sendiri. Ia bisa bersentuhan langsung dengan pendiri NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, Wahid Hasyim, Jenderal Sudirman dan sebagainya. Lantas mendeskripsikan sikap dan gaya kepimpinannya, kedalaman spiritualnya, sampai ke strategi perjuangannya. Soal kepribadian itu tidak pernah diungkap oleh penulis NU yang lain. Selain itu dia juga mampu menggambarkan gerak batin dunia pesantren serta gelora perjuangannya dalam menggerakkan revolusi kemerdekaan.


Penulisan sejarah yang deskrptif, naratif yang dimaksudkan agar komunikatif dengan pembacanya itu tidak diduga malah memberikan suasana yang otentik dan orisinal, terhadap situasi sosial dan situasi batin para pelaku sejarah. Tak diragukan lagi hal itu sangat membantu para penulis sejarah untuk memperoleh gambaran masa lalu secara lebih utuh dan lebih mendalam. Bukan sejarah analitik di mana opini atau interpretasi penulisnya terasa lebih dominan, sehingga jaringan sejarahnya sendiri menjadi terpangkas oleh pandangan sejarawan. Sementara catatan Sejarah Saifuddin justru menampilkan jaringan sejarah itu dengan tegas.

Asal-Usul Keluarga dan Pendidikan
Sebagaimana disebutkan di depan, bahwa Saifudin Zuhri  seorang ulama yang berasal dari keluarga rakyat biasa. Ia anak tertua di antara sembilan bersaudara  dari seorang ayah bernama Haji Muhammad Zuhri. Sebab itu  kemudian namanya dikenal sebagai K.H. Saifuddin Zuhri. Ia dilahirkan pada tanggal 1 Oktober 1919 di sebuah kota kawedanaan Sokaraja, 9 km dari Purwokerto, Banyumas.Ayahnya dari keluarga petani yang taat kepada agama. Ibunya bernama Siti Saudatun, cucu seorang penghulu  di daerahnya. Selama masa remaja Saifudin Zuhri dididik dalam dunia  pesantren di daerah kelahiranya, untuk mempelajari berbagai ilmu agama. Selain itu juga menjadi santri kelana di Solo, dengan masuk Madrasah Mambaul Ulum, beberapa bulan, setelah itu masuk ke pesantren Salafiyah, juga hanya tiga bulan. Lalu keluar masuk berbagai forum, sehingga sering mengikuti ceramah para pastur, mengikuti ceramah kalangan SI maupun Muhammadiyah, termasuk ikut wejangan para tokoh kebatinan di sanggar. Tidak ketinggalan pula mendalami jurnalistik. 
Dengan penuh  kedisiplinan dan keprihatinan giat mendidik diri sendiri mempelajari berbaga ilmu pengetahuan umum, yang dirasa sangat berguna bagi bangsa yang sedang bergerak menuju gerbang kemerdekaan.

Karirnya diawali dengan mendirikan lembaga pendidikan modern yang diberi nama Islamtisch Westerse School. Kemudian bakat menulisnya disalurkan dengan  menjadi koresponden atau penulis beberapa   majalah yang   antara lain Berita Nahdlatul Ulama, Suluh Nahdlatul Ulama dan Suara Ansor. Dengan keahliannya menulis itulah ia bisa berkenalan dengan redaksinya yang tidak lain adalah Kiai Wahid Hasyim yang sangat dia kagumi itu. Dari situ kemudian ia berkenalan dengan Kiai Hasyim Asy'ari pendiri NU yang sangat ia segani.
Perkenalannya  dengan kedua tokoh itu membuat Saifuddin bisa belajar lebih banyak. Maka berkembanglah dari seorang pemuda kampung, menjadi tokoh pergerakan yang memiliki akses ke pusat kekuasaan NU yaitu di Pesantren Tebuireng bersama Hasyim As’ari dan Wahid Hasyim. Karena telah berada di pusat NU maka sangat terbuka berkenalan dengan tokoh NU yang lain, seperti Kiai Wahab Hasbullah, Bisri Sansuri, Kiai Ridwan dan sebagainya. Tempaan moral dan intelektual yang dialaminya selama zaman pergerakan itu sehingga memungkinkan dia terbentuk sebagai seorang tokoh yang berkarakter pejuang yang konsisten, yang tahan terhadap berbagai cobaan.


Berkarir Sebagai Pejuang
Dengan jalinan komunikasi yang luas dan akses politiknya yang besar maka dalam usia muda ia telah menjadi simpul gerakan kemerdekaan di Purworejo, sebab dengan kedekatannya dengan Wahid Hasyim dan Hasyim Asy’ari, yang selalu berkomunikasi, membuatnya sebagai orang yang banyak informasi. Mengingat pengalamannya itu wajar kalau ia menjadi nara sember politik utama di daerahnya, sehingga tidak sedikit kiai dan tokoh politik yang mau tidak mau harus bertanya kepadanya tentang persoalan politik dan agama. Maka tidak heran ketika dalam usia 19 tahun ia dipilih menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor NU. Namun demikian  profesinya sebagai guru madrasah masih terus dipertahankan. Demikian pula aktivitas jurnalistiknya terus berjalan dengan  menjadi koresponden kantor berita Antara dan membantu beberapa harian dan majalah, baik yang dikelola NU maupun majalah umum.


Saat itu pula Revolusi Indonesia tengah berkobar, maka ia mendapa