BUKU DAROS

ILMU SHARAF

(Terjemah Inwan al-Dzarf)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Penyusun

Amin Khakam ElChudlrie

 

 

 

 

Ar-Raudhah

Margoyoso Kalinyamatan Jepara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Cetakan pertama September 2012

Judul Buku : Buku Daros Ilmu Sharaf

Penulis : Amin Khakam ElChudrie

Penerbit : Ar-Raudhah Jepara

KATA PENGANTAR

 

Ketika ilmu alat, yang salah satu kajiannya adalah Ilmu Sharaf, sudah menjadi salah satu ilmu yang sangat penting pada zaman sekarang ini sebagai sarana untuk memahami Kitabullah, hadits Rasul dan kitab para ulama, maka tergeraklah didalam hati untuk membuat sebuah buku terjemahan dari kitab Inwan al-Dzarf yang menjelaskan masalah Ilmu Sharaf, untuk membantu saudara-saudara saya yang ingin mendalami Ilmu Sharaf. Selain itu, penulis juga memberikan tambahan penjelasan untuk lebih memudahkan dalam memahami kandungan dari kitab tersebut.

Harapan penulis semoga buku ini dapat berguna bagi kita semua, menjadi amal jariyyah penulis yang hasilnya nanti bisa dipetik di akhirat, dan juga bisa menjadi tanda bakti penulis kepada kedua orang tua, saudara dan para guru.

 

 

Jepara, 19 September 2012

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata pengantar . iii

Daftar isi . iv

Pendahuluan . 1

Bina . 2

Bina Kalimah Isim . 3

Bina Kalimah Fiil . 5

Bab I: Kalimah Fiil . 12

Fiil Shahih dan Fiil Mutal . 19

Disandarkannya Kalimah Fiil Kepada Dlamir . 29

Fiil Mabni Majhul . 30

Nun Taukid . 32

Bab II: Kalimah Isim . 32

Isim Fail . 36

Isim Maful . 39

Sifat Musyabbahat . 40

Isim Tafdlil . 42

Isim Zaman, Isim Makan dan Masdar Mim . 43

Isim Alat . 46

Isim Mudzakar dan Isim Muannats . 46

Terbaginya Isim Menjadi Isim Mufrad dan Isim Ghairu Mufrad . 48

Isim Tatsniyyah . 49

Jama Mudzakar Salim . 50

Jama Muannats Salim . 52

Jama Taksir 54

Tasghir . 56

Nasab . 59

Bab III: Hukum yang Berlaku Pada Kalimah Isim dan Kalimah Fiil . 62

Ilal . 67

Idgham . 70

Bertemunya Dua Huruf Mati . 72

Hamzah Washal . 74

Imalah . 75

Waqaf . 78


 


: . , " " .

Berkata orang yang mengharap ampunan dari Dzat yang Maha Pengampun, yaitu Harun al-Azhari bin Abdurrazaq, Segala puji hanya milik Allah Dzat yang telah memberikan kecukupan, dan salam semoga selalu terhaturkan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Amma badu, kitab ini adalah sebuah risalah yang membahas tentang ilmu Sharaf dengan nama Inwan al-Dzarf yang kecil bentuknya dan mudah dipahami yang aku susun berdasarkan muqaddimah dan tiga bab.

Pendahuluan

: . . .

Ilmu Sharaf ada kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui keadaan dari bentuk kata, selain irab, seperti bentuk tatsniyyah, jama, tashghir, nasab dan ilal. [1] Kajian ilmu Sharaf bisa masuk dalam kalimah isim mutamakkin[2] dan kalimah Fiil, bukan pada kalimah Huruf dan yang menyerupainya.

Bina atau wazan adalah shighat dengan bentuk-bentuknya.[3]

Bina

: . .

Bina-nya Kalimah Isim (isim al-mutamakkin) yang asli adalah Isim Tsulatsi,[4] Isim Rubai[5] dan Isim Khumasi.[6] Adapun bina-nya kalimah Fiil yang asali adalah Fiil Tsulatsi[7] dan Fiil Rubai.[8]

Masing-masing dari bina tersebut, baik pada kalimah isim atau kalimah fiil, memiliki wazan yang digunakan untuk mewazaninya.

. , ...

4

 
Huruf yang digunakan untuk mewazani lafal ada tiga, yaitu: (), () dan (). Lafal yang hurufnya ada tiga, baik kalimah isim atau kalimah fiil, diwazani dengan ketiga huruf itu. Adapun lafal yang hurufnya lebih dari tiga, maka diwazani dengan ketiga huruf itu dan diberi tambahan lam kedua (bila lafalnya empat huruf) dan lam ketiga (bila lafalnya lima huruf). Jadi, semisal lafal () mengikuti wazan (), lafal () mengikuti wazan () dan lafal () mengikuti wazan (), dan seterusnya.

Bina Kalimah Isim

. .

Isim Tsulatsi Mujarrad[9] memiliki sepuluh wazan, yaitu:

1.        (), seperti () dan ()

2.        (), seperti () dan ()

3.        (), seperti () dan ()

4.        (), seperti () dan ()

5.        (), seperti () dan ()

6.        (), seperti () dan ()

7.        (), seperti () dan ()

8.        (), seperti () dan ()

9.        (), seperti () dan ()

10.    (), seperti ( ) dan (). Terkadang ain kalimah dalam wazan ini disukun

.

Isim Rubai Mujarrad[10] memiliki enam bina, yaitu:

1.        (), seperti () dan ()

2.        (), seperti () dan ()

3.        (), seperti () dan ()

4.        (), seperti () dan seperti ()

5.        (), seperti () dan ()

6.         (), seperti () dan ()

.

Isim Khumasi Mujarrad[11] memiliki empat bina, yaitu:

1.      (), seperti () dan ()

2.      (), seperti () dan ()

3.      (), seperti () dan ().

4.      (), seperti () dan ()

Bina Kalimah Fiil

: .

Fiil Tsulatsi Mujarrad[12] memiliki tiga bina, yaitu:

1.      (), seperti () dan ().

2.      (), seperti () dan ().

3.      (), seperti () dan ().

: .

Fiil Rubai Mujarrad[13] memiliki satu bina, yaitu: (), seperti () dan ().

.

Kalimah Ismim al-Mutamakkin dan Kalimah Fiil, hurufnya tidak akan kurang dari tiga huruf. Jadi, apabila kalian melihat hurufnya kurang dari tiga, maka ketahuilah sesungguhnya ada huruf yang dibuang seperti () dan (),[14] dan seperti () dan ().[15]

.

Semua huruf yang tidak searah dengan huruf-huruf wazan, maka huruf tersebut dinamakan huruf zaidah.

.

Batas terbanyak kalimah isim mendapatkan tambahan huruf adalah sampai tujuh huruf, seperti (). Sedangkan kalimah Fiil adalah sampai enam huruf, seperti ().

,

Dalam wazan, huruf zaidah diibaratkan dengan huruf itu sendiri. Jadi, pada semisal () kita ucapkan bahwa lafal itu mengikuti wazan (). Kecuali, huruf yang menjadi pengganti ta pada wazan (), maka pada wazan huruf itu tidak boleh diibaratkan dengan huruf penggantinya tetapi diibaratkan dengan ta. Sehingga pada semisal lafal () berwazan ().

.

6

 
Begitu juga huruf yang diulang-ulang untuk ilhaq atau yang lainnya, maka pada wazan diucapkan dengan bentuk huruf wazan sebelumnya, tidak dengan bentuk huruf yang diulang itu, seperti lafal () dan (). Lafal yang pertama (yaitu ) berwazan () bukan (), dan lafal yang kedua (yaitu ) berwazan () bukan ().

().

Huruf zaidah ada sepuluh dan terkumpul dalam ucapan kita (), yaitu siin (), hamzah (), lam (), ta (), mim (), waw (), nun (), ya (), ha () dan alif ().

: , .

Huruf zaidah ada dua macam, yaitu huruf yang ditambahkan karena untuk mendatangkan makna, seperti sin dan ta pada lafal (), karena keduanya didatangkan untuk menunjukkan makna thalab, dan pada lafal () karena keduanya didatangkan untuk menunjukkan makna shairurah.

Dan huruf yang ditambahkan untuk ilhaq dan semisalnya, seperti penambahan waw pada lafal (), karena waw ditambah-kan untuk menyamakan dengan lafal ().

.

Arti dari ilhaq adalah menjadikan suatu kalimah menyerupai kalimah yang lain.

. .

Keziadahan suatu huruf didalam kalimah bisa diketahui, yaitu ketika suatu kalimah masih memiliki makna tanpa adanya huruf tersebut, seperti (), () dan (). Namun, jika kalimah itu tidak memiliki makna dengan tidak adanya huruf itu, maka huruf itu bukan huruf zaidah, seperti ().

Keziadahan suatu huruf juga bisa diketahui dengan huruf itu ditemukan dalam musytaq (lafal yang dikeluarkan) bukan pada musytaq minhu (lafal yang dikeluari), seperti ( ) dan ( ).

. .

Isytiqaq adalah mengambil kalimah dari kalimah yang lain dengan bentuk perubahan beserta kecocokan makna. Perubahan tersebut adakalanya dalam harakat saja, seperti () dari (), atau dalam harakat dan hurufnya dengan menambah atau mengurangi hurufnya, seperti fiil amarnya (), yaitu (), atau fiil amarnya (), yaitu ().

.

Lafal Musytaq ada sepuluh, yaitu: fiil madli, fiil mudlari, fiil amar, isim fail, isim maful, sifat musyabbahat, isim tafdlil, isim zaman, isim makan dan isim alat.

, : .

Sedangkan Musytaq Minhu adalah masdar, yaitu isim yang menunjukkan pada terjadinya pekerjaan bukan waktu terjadinya pekerjaan. Masdar ada dua macam, yaitu Masdar Qiyasi dan Masdar Samai.

( ) () . . .

7

 
Masdar qiyasi dari fiil yang berwazan () adalah mengikuti wazan (), ketika fiil tersebut berupa fiil mutaaddi. Dan masdarnya mengikuti wazan (), ketika fiil tersebut berupa fiil lazim. Misal yang pertama adalah ( ), ( ), ( ) dan ( ). Dan contoh yang kedua adalah, ( ), ( ) dan ( ).

() () ( ) , .

Masdar qiyasi dari fiil yang berwazan ( ) adalah mengikuti wazan (), jika fiilnya berupa fiil mutaaddi, seperti ( ) dan ( ). Dan masdarnya berwazan (), jika fiilnya berupa fiil lazim, seperti ( ) dan ( ).

() .

Masdar qiyasi dari fiil berwazan () adalah mengikuti wazan () atau (), seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

, ( ) : .

Adapun masdar yang samai sangat banyak. Masdar samai dari wazan yang pertama, yaitu (), baik mutaaddi maupun lazim, adalah ( ), ( ),( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

.

Diantara masdar samai dari wazan kedua, yaitu (), baik lazim maupun mutaaddi) adalah ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

.

Diantara masdar samai dari wazan ketiga, yaitu wazan (), adalah ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

( ) .

Isim marrah dari fiil tsulatsi mengikuti wazan (), seperti () satu dudukan dan () satu dudukan.[16] Begitu juga pada isim haiat.

( ) .

Isim Haiat dari fiil tsulatsi adalah mengikuti wazan (), seperti () keadaan duduk dan () keadaan duduk.

.

Hukum di atas semuanya berlaku pada masdarnya fiil tsulatsi. Adapun pada selain fiil tsulatsi maka nanti akan dijelaskan dalam bab fiil.

Bab I : Kalimah Fiil

: .

Kalimah fiil ada tiga macam, yaitu fiil madli, seperti () dan (), fiil mudlari, seperti () dan (), dan fiil amar, seperti () dan ().

,

Kalimah fiil, dengan melihat pada kemurnian dan keziadahan hurufnya, terbagi menjadi fiil mujarrad dan fiil mazid. Sedangkan dengan melihat pada harakat dan sukun-sukunnya dengan masih mempertimbangkan kemurnian dan keziyadahan hurufnya terbagi dalam tiga puluh enam bab.

: : () () . : () () . : ( ) . : . : () () . . . : ( ) . : ( ) . .

Enam bab untuk Fiil Tsulatsi Mujarrad,[17] yaitu:

1.      Bab ( ), seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

2.      Bab ( ), seperti ( ), ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

3.      Bab ( ), seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

Syarat bab ketiga ini adalah huruf keduanya atau huruf ketiganya berupa huruf halaq enam, yaitu: hamzah (), ha (), ain (), ha (), ghain () dan kha ().

4.      Bab ( ), seperti ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

Kebanyakan fiil yang mengikuti bab keempat ini adalah fiil yang menunjukkan makna kesusahan, penyakit dan lawan keduanya, seperti (), (), () dan (). Termasuk juga fiil yang mengikuti bab ini adalah fiil yang menunjukkan makna warna, aib dan hiasan (tubuh), seperti (), () dan ().

5.      Bab ( ), yaitu untuk fiil yang menunjukkan pada makna sifat-sifat khuluqiyyah (akhlak) dan sifat-sifat yang tetap, seperti ( ), ( ) dan ( ).

6.      Bab ( ), yaitu bab yang paling sedikit, seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

Kesemua bab di atas bisa lazim dan bisa mutaaddi kecuali bab kelima yang hanya lazim.

: : () . () . : () . : () .

Tiga bab untuk Fiil Tsulatsi Mazid Bi Harfin,[18] yaitu:

1.      Bab (), seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ). Fiil amar pada bab ini mengikuti wazan () dengan menjadikan hamzahnya sebagai hamzah qatha yang difathah.

2.      Bab () dengan ditasydidnya ain kalimah, seperti ( ) dan ( ).

3.      Bab (), seperti ( ) dan ( ).

: : () . : () . . : () , . : () . . : () . .

Lima bab untuk Fiil Tsulatsi Mazid Bi Harfain (fiil tsulatsi yang mendapat tambahan dua huruf), yaitu:

1.     

225

 
Bab (), seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

2.      Bab (), seperti ( ) dan ( ). Termasuk dalam bab ini adalah (), (), (), (), () dan ().[19]

3.      Bab () dengann ditasydidnya lam kalimah, seperti ( ). Dan termasuk juga dalam bab ini adalah ( ).

4.      Bab (), seperti ( ) dan ( ). Termasuk dalam bab ini adalah () dan ().[20]

5.      Bab (), seperti ( ) dan ( ). Termasuk dalam bab ini adalah () dan (), begitu juga () dan ().[21]

: : () . : () . : () . : () .

Empat bab adalah untuk Fiil Tsulatsi Mazid Bi Tsalatsati Ahrufin,[22] yaitu:

1.      Bab (), seperti ( ), ( ) dan ( ).

2.      Bab (), seperti ( ) dan ( ).

3.     

227

 
Bab () dengan ditasydidnya waw, seperti ( ).

4.      Bab () dengan ditasydidnya lam, seperti ( ).

() .

Satu bab untuk Fiil Rubai Mujarrad,[23] yaitu wazan (), seperti ( ).

: : () . : () . : () . : () . : () . : () .

Enam bab adalah diilhaqkan dengan (), yaitu dari fiil tsulatsi mazid, yaitu:

1.      Bab () yang ditambahkan,[24] seperti ( )

2.      Bab (), seperti ( ).

3.      Bab (), seperti ( ).

4.      Bab (), seperti ( ).

5.     

230

 
Bab (), seperti ( ).

6.      Bab (), seperti ( ).[25]

() .

Satu bab adalah untuk Fiil Rubai Mazid Bi Harfin,[26] seperti ( ).

.

Enam bab adalah diilhaqkan dengan (), yaitu semisal ( ), ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).[27]

: : () . : () .

Dua bab adalah untuk Fiil Rubai Mazid Bi Harfain,[28] yaitu:

a.      Bab (), seperti ( ).

b.      Bab (), seperti ( ).

() .

Dua bab adalah diilhaqkan dengan () dan keduanya adalah berasal dari fiil tsulatsi. Kedua bab itu semisal ( ) dan ( ).

Fiil Shahih dan Fiil Mutal

. : , :

Kalimah fiil juga terbagi menjadi dua, yaitu fiil shahih dan fiil mutal.

Fiil Shahih adalah kalimah fiil yang hurufnya tidak ada yang berupa huruf illat yang jumlahnya ada tiga yaitu alif, waw dan ya. Fiil shahih ada tiga macam, yaitu :

() . . .

Pertama, Fiil Salim adalah kalimah fiil yang tidak satu pun dari hurufnya yang asli berupa hamzah, tadlif (diulang-ulang), dan huruf illat, seperti (), (), () dan ().

Hukum fiil salim adalah ketika fiil salim bertemu dengan dlamir dan semisalnya, maka huruf dari fiil salim itu tidak boleh ada yang dibuang. Begitu juga lafal yang tertashrif dari fiil salim ketika ditatsniyyahkan atau dijamakan tidak boleh ada huruf darinya yang dibuang.

() . .

Kedua, Fiil Mudlaaf, bila dari fiil tsulatsi, adalah kalimah fiil yang ain dan lam fiilnya dari jenis huruf yang sama, seperti (), () dan ().

Fiil Mudlaaf, bila dari fiil rubai, adalah kalimah fiil yang fa dan lam fiilnya yang pertama dari jenis huruf yang sama, dan ain dan lam fiilnya yang kedua dari jenis huruf sama namun berbeda dengan huruf yang pertamayang lain, seperti (), dan ().

. . . .

Hukum fiil mudlaaf yang pertama (yaitu dari fiil tsulatsi) adalah pada fiil madlinya wajib diidghamkan, kecuali ketika fiil tersebut bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik, maka wajib melepas idgham, seperti ().

Dan juga diwajibkan mengidghamkan pada masdarnya fiil tersebut, ketika diantara kedua huruf yang sejenis tidak ada huruf lain yang memisah. Dan jika ada huruf lain yang memisah, maka tidak boleh diidghamkan, seperti ().

Begitu juga pada fiil mudlarinya wajib diidghamkan, kecuali jika ada amil jazim (amil yang bisa menjazemkan fiil mudlari) masuk kedalam fiil mudlari, maka diperbolehkan untuk diidghamkan dan boleh melepas idgham, seperti ( ) dan boleh ( ). Dan dikecualikan juga ketika fiil mudlari tersebut bertemu dengan nun niswah, maka wajib memutus atau melepas idgham, seperti ().

Disamakan dengan fiil mudlari pada semua hukumnya adalah fiil amar dan fiil nahi, seperti () atau (), ( ) atau ( ) dan ( ).

() . . .

Ketiga, Fiil Mahmuz adalah kalimah fiil yang salah satu dari hurufnya yang asli berupa hamzah, seperti (), (), dan ().

Hukum fiil mahmuz adalah seperti fiil salim, tetapi pada fiil amarnya () dan () hamzahnya mutlak harus dibuang,[29] seperti () dan (), dan pada fiil amarnya () ketika menjadi permulaan hamzahnya wajib dibuang, seperti (). Diperbolehkan membuang hamzah dan tidak membuangnya ketika fiil amarnya (), yaitu (), berada ditengah, seperti ( ) dan ( ).

.

Hamzah ketika huruf sebelumnya berupa hamzah yang berharakat, maka wajib mengganti hamzah yang kedua dengan huruf mad dari jenis harakatnya huruf sebelum hamzah yang kedua. Jadi, kita ucapkan (), () dan (). Asal dari lafal yang pertama adalah (), yang kedua adalah () dan yang ketiga berasal ().

.

Ketika huruf sebelum hamzah tidak berupa hamzah dan hamzah tersebut adalah mati, maka diperbolehkan menetapkan hamzah itu dan diperbolehkan menggantinya dengan huruf dari jenis harakatnya huruf sebelum hamzah. Jadi, kita ucapkan () atau () dan () atau () dari ().

.

Dan ketika hamzah berharakat dan huruf sebelum hamzah berharakat dan tidak berupa hamzah, maka hamzah tersebut wajib ditetapkan, seperti () dan (), kecuali jika hamzah difathah dan huruf sebelum hamzah didlammah, maka diperbolehkan menetap-kan hamzah dan diperbolehkan mengganti hamzah dengan waw, seperti () atau (), atau huruf sebelum hamzah dikasrah, maka diperbolehkan mengganti hamzah dengan ya, seperti () atau ().

() :

Fiil Mutal adalah kalimah fiil yang salah satu hurufnya yang asli berupa huruf illat. Fiil Mutal ada empat macam, yaitu :

() . .

Pertama, Fiil Mitsal adalah kalimah fiil yang fa kalimahnya berupa huruf illat, seperti () dan ().

Hukum Fiil Mitsal adalah seperti hukumnya fiil shahih, namun ketika fa kalimahnya fiil mitsal berupa waw dan fiil mitsal itu termasuk dalam bab kedua, yaitu ( ), atau bab ketiga, yaitu ( ), atau bab keenam, yaitu ( ), maka pada fiil mudlarinya waw wajib dibuang, seperti ( ), ( ) dan ( ). Seperti halnya fiil mudlari (artinya wawnya dibuang) adalah fiil amar, seperti () dan (), dan masdar, seperti () dan ().

() .

Kedua, Fiil Ajwaf yaitu kalimah fiil yang ain kalimahnya berupa huruf illat, seperti, (), () dan () yang asalnya adalah (), () dan (). Masing-masing dari waw dan ya dirubah menjadi alif karena waw dan ya berharakat serta huruf sebelumnya difathah.

Ketika fiil ajwaf disandarkan pada dlamir rafa mutaharrik maka ain kalimahnya dibuang untuk menyelamatkan dari dua sukun yang berkumpul, karena fiil madli ketika bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik wajib disukun huruf akhirnya, dan fa kalimahnya diharakati dengan harakat yang sejenis dengan hurufnya ain kalimah, seperti () dan (). Kecuali pada semisal (), maka diharakati dengan kasrah yang sejenis dengan harakat ain kalimah, seperti () dan ().

() () .

Ketiga, Fiil Naqish yaitu kalimah fiil yang lam kalimahnya berupa huruf illat, seperti (), (), () dan (), yang asal dari dua contoh petama adalah () dan (), masing-masing dari waw dan ya berharakat dan huruf sebelumnya difathah, maka waw dan ya dirubah menjadi alif.

.

Ketika fiil naqish disandarkan pada dlamir rafa mutaharrik, maka huruf illatnya dikembalikan ke asalnya, ketika huruf illat itu berada ketiga, seperti () dan (), dan dirubah menjadi ya ketika berada keempat atau lebih, seperti () dan (). Begitu juga ketika bersamaan dengan alif tatsniyyah, maka dikembalikan ke aslinya atau dirubah menjadi ya, seperti (), (), () dan ().

Ketika fiil naqish disandarkan pada waw jama, maka lam kalimahnya dibuang dan fathahnya ain kalimah masih ditetapkan, seperti () dan ().

.

Adapun pada semisal dua lafal yang terakhir, yaitu () dan (), maka lam kalimah masih ditetapkan pada keadaannya semula ketika bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik, seperti () dan (). Begitu juga ketika bersama alif tatsniyyah, seperti () dan ().

.

Lam kalimahnya fiil naqish semisal () dan () dibuang ketika bersambung dengan waw jama dengan didlammahnya ain kalimah untuk menyesuaikan dengan waw, seperti ( ) dan ( ). Kesemua hukum tersebut berlaku pada fiil naqish yang dalam bentuk fiil madli.

.

Adapun pada fiil naqish yang dalam bentuk fiil mudlari atau fiil amar, maka ketika bersama dengan alif tatsniyyah, lam kalimah tidak boleh dibuang, seperti (), () dst..

.

Adapun fiil naqish, yang dalam bentuk fiil mudlari atau fiil amar, ketika bersama dengan waw jama atau ya mukhatabah, maka lam kalimah secara mutlak wajib dibuang. Kemudian bila lam kalimah berupa alif, maka fathahnya huruf sebelumnya masih ditetapkan, seperti () dan ( ). Namun, bila tidak berupa alif, maka huruf sebelum lam kalimah didlammah untuk menyesuaikan dengan waw jama atau dikasrah untuk menyesuai-kan ya mukhathabah, seperti (), ( ), () dan ().

() : .

Keempat, Fiil Lafif, yang terbagi menjadi dua: Fiil lafif maqrun dan lafif mafruq.

() . .

Fiil Lafif Mafruq yaitu kalimah fiil yang fa kalimah dan lam kalimahnya berupa huruf illat, seperti () dan ().

Fiil Lafif Mafruq dengan melihat huruf pertamanya, maka dia seperti fiil mitsal namun dengan melihat huruf akhirnya adalah seperti fiil naqish, sehingga diucapkan pada fiil mudlarinya dengan () dan (), dan pada fiil amarnya diucapkan () dan () dengan membuang fa kalimahnya karena mengikuti pada di-buangnya fa kalimah dalam bentuk fiil mudlarinya beserta membuang lam kalimahnya karena fiil amar dimabnikan dengan membuang. Kita ucapkan ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

() . .

Dan Fiil Lafif Maqrun yaitu kalimah fiil yang kedua huruf illatnya berkumpul, seperti () dan (). Hukum fiil Lafif Maqrun adalah seperti hukumnya fiil Naqish dalam semua bentuknya.

Disandarkannya Kalimah Fiil Kepada Dlamir

: . . .

Fiil madli, dengan memperhatikan kebersambungannya dengan dlamir rafa mutaharrik, tertashrif menjadi tiga belas wajah, yaitu : dua wajah untuk dlamir mutakalim, seperti () dan (), lima wajah untuk dlamir mukhatab, seperti (), (), (), () dan (), dan enam wajah untuk dlamir ghaib, seperti (), (), (), (), () dan ().

. .

Begitu juga fiil mudlari, seperti (), (), ( ), ( ) atau ( ), (), (), (), (), (), ( ), ( ) dan ( ). Begitu halnya terjadi pada fiil yang dimabnikan majhul.

: .

Adapun fiil amar, maka tertashrif menjadi lima, yaitu (), (), (), () dan ().

Fiil Mabni Majhul

. .

Ketika kalimah fiil dimabnikan majhul, jika fiilnya berupa fiil madli, maka huruf awalnya didlammah dan huruf sebelum akhir dikasrah, meskipun dengan dikira-kirakan, seperti ( ), ( ), ( ), ( ) dan ( ).

Asal dari dua contoh yang terakhir, setelah dimabnikan majhul, adalah () dan (). Harakat ain kalimah dipindah ke fa kalimah setelah menghilangkan harakat fa kalimah.

Dan huruf keduanya juga didlammah ketika fiil madli tersebut diawali dengan ta zaidah, seperti () dan ().

Dan huruf pertama dan huruf ketiga fiil madli tersebut didlammah ketika fiil madli tersebut diawali dengan hamzah washal, seperti () dan ().

Tambahan :

Ketika diinginkan membuat mabni majhul adalah fiil madli yang huruf sebelum akhirnya berupa alif, jika fiil tersebut tidak berupa fiil sudasi, maka alifnya dirubah menjadi ya dan semua huruf berharakat sebelumnya dikasrah, sehingga diucapkan dalam mabni majhulnya () dan () dengan () dan (). Dalam (), () dan () kita ucapkan (), () dan () yang asalnya adalah (), (), (), () dan ().

Jika hurufnya ada enam, seperti () dan (), maka alifnya dirubah menjadi ya dan hamzah serta huruf ketiganya didlammah dan huruf sebelum akhir dikasrah, sehingga diucapkan () dan ().

Ketika semisal (), () dan (), yaitu dari semua fiil madli mabni majhul tsulatsi ajwaf, bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik, maka jika huruf pertamanya dalam mabni malum didlammah, seperti ( ), ( ) dan ( ), maka dalam mabni majhulnya huruf tersebut dikasrah, supaya tidak terjadi kesamaran dengan mabni malumnya, sehingga kita ucapkan ( ), ( ) dan ( ).

Dan jika huruf pertamanya dikasrah pada mabni malumnya, seperti ( ) dan ( ), maka dalam mabni majhulnya huruf tersebut didlammah, sehingga kita ucapkan ( ), () dan ( ).

.

Ketika fiil yang ingin dimabnikan majhul adalah berupa fiil mudlari, maka huruf pertamanya didlammah dan huruf sebelum akhirnya difathah, meskipun dengan dikira-kirakan, seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

Tambahan :

Ketika yang ingin dibuat mabni majhul adalah fiil mudlari yang huruf sebelum akhirnya berupa huruf mad, maka huruf mad itu dirubah menjadi alif, sehingga diucapkan dalam () dan () dengan () dan (). Dan dalam () dan () dengan () dan ().

Nun Taukid

.

Diperbolehkan untuk mentaukidi fiil amar secara mutlak. Adapun fiil mudlari, maka tidak boleh ditaukidi dengan nun taukid kecuali ketika fiil tersebut didahului perabot amar atau nahi atau istifham atau () syarthiyyah yang diidghamkan kepada () atau fiil tersebut jatuh menjadi jawabnya qasam.

Tambahan :

Adapun fiil madli, maka tidak diperbolehkan untuk men-taukidinya secara mutlak. Sebagian ulama mengatakan jika fiil itu adalah madli dari segi lafalnya namun mustaqbal maknanya, maka terkadang fiil itu ditaukidi dengan kedua nun tersebut, namun qalil hukumnya. Termasuk fiil madli yang ditaukidi adalah hadits, ( ), karena maknanya adalah ( ).

.

Ketika nun taukid masuk pada kalimah fiil dan fiil tersebut disandarkan pada isim dzahir atau dlamir mufrad mudzakar, maka huruf terakhirnya difathah karena bertemu dengan nun taukid, baik fiil tersebut berupa fiil shahih atau berupa fiil mutal, seperti ( ), (), () dan ().

.

Namun, ketika fiil tersebut disandarkan pada dlamir alif tatsniyyah, maka hanya nun alamat rafa saja yang dibuang dan nun taukid dikasrah, seperti (), () dan seterusnya.

.

Ketika fiil tersebut disandarkan pada waw jama, ketika fiil tersebut berupa fiil shahih, maka waw jama dibuang berserta membuang nun alamat rafa, seperti ( ).

. .

Ketika fiil tersebut berupa fiil bina naqish dan huruf sebelum huruf illat didlammah atau dikasrah, maka lam fiilnya juga ikut dibuang, seperti ( ) dan ( ) dengan didlammahnya huruf sebelum nun taukid pada ketiga keadaan tersebut.

Namun, jika huruf sebelum huruf illat difathah, maka lam fiil dibuang dan fathahnya huruf sebelum huruf illat ditetapkan serta waw jama diaharakati dlammah, seperti () dan ().

.

Ketika fiil tersebut disandarkan pada ya mukhatabah, maka ya dan nun dibuang, seperti ( ), ( ) dan ( ) dengan dikasrahnya huruf sebelum nun taukid, kecuali ketika fiilnya berupa fiil naqish dan lam kalimahnya difathah maka ya mukhatabah ditetapkan berharakat kasrah beserta difathahnya huruf sebelum ya, seperti ( ) dan ( ).

.

Ketika fiil tersebut diisnadkan pada nun jama inats, maka alif ditambahkan diantara nun jama inats dan nun taukid beserta dikasrahnya nun taukid, seperti ( ), ( ), ( ) dan ( ).

.

Fiil amar adalah seperti fiil mudlari dalam semua hukum-hukumnya di atas.

.

Setiap tempat yang sah bila kemasukan nun taukid tsaqilah, maka sah bila tempat tersebut dimasuki nun taukid khafifah, kecuali fiil tatsniyyah (fiil yang disandarkan pada dlamir tatsniyyah) dan fiil jamaatul inats (fiil yang disandarkan pada dlamir jama muannats), karena nun taukid khafifah tidak boleh jatuh setelah alif.

:

Bab II : Kalimah Isim

 

: () . () .

Kalimah isim ada dua macam, yaitu : isim jamid, yaitu kalimah isim yang tidak dibuat dari yang lain, dan isim musytaq, yaitu kalimah isim yang dibuat dari yang lain.

: ( ) ( ) .

Isim jamid ada dua macam, yaitu : (isim ain) yaitu kalimah isim yang menunjukkan pada makna yang ada pada dirinya sendiri, seperti () dan (), dan (isim makna) yaitu kalimah isim yang menunjukkan pada makna yang terkandung pada lainnya. Termasuk dalam kategori isim makna adalah masdar, seperti () dan (), yang sudah dijelaskan di atas.

:

Isim yang musytaq ada tujuh, yaitu :

Isim Fail

Isim fail adalah kalimah isim yang dibuat dari fiil mudlari yang mabni fail (mabni malum) untuk menunjukkan pada orang yang perbuatan keluar dari dia atau pelaku perbuatan.

_ _ () .

Isim fail dari fiil tsulatsi, biasanya, mengikuti wazan (), seperti (), (), (), (), () dan ().

Tambahan :

Isim fail yang mengikuti wazan () adalah biasanya untuk fiil tsulatsi yang difathah ain kalimahnya (), baik mutaaddi maupun lazim, dan untuk fiil tsulatsi yang dikasrah ain kalimah-nya () yang mutaaddi.

Adapun fiil tsulatsi yang didlammah ain kalimahnya () atau dikasrah ain kalimahnya () tetapi yang lazim, maka pada wazan isim failnya tidak mengikuti wazan () tetapi jika mengikuti wazan itu maka samai bukan qiyasi.

Wazan qiyasinya isim fail dari fiil tsulatsi yang didlammah ain kalimahnya () adalah mengikuti wazan () dan ().

.

Sedangkan isim fail yang berasal dari fiil bina ajwaf, maka huruf mad-nya yang asli dirubah menjadi hamzah seperti () dan ().

Tambahan :

Jika ain fiilnya diilal, maka ain fiilnya di dalam isim fail dirubah menjadi hamzah, sehingga isim failnya ( ), ( ), ( ) dan ( ) adalah (), (), () dan ().

Dan jika ain kalimahnya tidak diilal, maka kita tetapkan seperti keadaannya semula, sehingga isim failnya ( ), ( ) dan ( ) adalah (), () dan ().

Jadi, diilalnya ain kalimah dalam isim fail adalah mengikuti pada pengilalan dalam fiilnya.

.

Adapun isim fail dari selain fiil tsulatsi, maka mengikuti wazan fiil mudlarinya dengan mengganti huruf pertamanya dengan mim yang didlammah dan dikasrahnya huruf sebelum akhir, seperti (), () dan ().

() .

Terkadang shighat () dirubah pada semisal shighat (), (), (), () dan (), seperti (), (), (), () dan () untuk memberikan faidah makna lebih dan dinamakan dengan shighat mubalaghah.[30]

 

 

 

Isim Maful

.

Isim maful adalah kalimah isim yang dibuat dari fiil mudlari yang dimabnikan majhul untuk menunjukkan pada sesuatu yang perbuatan terjadi padanya.

() .

Isim maful dari fiil tsulatsi adalah mengikuti wazan (), seperti (), (), (), (), (), () dan () yang asal dari lafal selain dua contoh yang pertama adalah (), (), () dan seterusnya.

Tambahan :

Wawnya isim maful yang musytaq dari fiil ajwaf dibuang, kemudian jika ain kalimahnya berupa waw, maka dipindah harakatnya kepada huruf sebelumnya. Namun, jika berupa ya, maka dibuang harakatnya dan huruf sebelumnya dikasrah supaya ya bisa shahih. Sehingga isim maful dari () adalah (), dan dari () adalah () yang asalnya adalah () dan ().

() .

Terkadang isim maful mengikuti wazan (), seperti () dan ().

.

Adapun isim fail dari selain fiil tsulatsi adalah seperti wazan isim failnya, hanya saja huruf sebelum akhirnya difathah, seperti () dan (). Adapun semisal lafal (), maka pantas bila untuk isim fail dan isim maful.[31]

Sifat Musyabbahat

.

Sifat musyabbahat adalah sifat yang dibuat dari fiil lazim untuk menunjukkan pada makna tsubut atau tetap.

: .

Wazan sifat musyabbahat, yang lumrah, ada dua belas wazan, yaitu dua wazan dari bab (), seperti () dan ().

.

Empat wazan dari bab (), seperti (), (), () dan ().

.

Dan enam wazan bersekutu diantara dua bab, seperti () dan (), lafal pertama asalnya adalah () dengan dikasrahnya ain kalimah, dan lafal kedua asalnya adalah () dengan didlammah-nya ain kalimah, () dan (), lafal pertama asalnya adalah () dengan dikasrah ain kalimahnya dan lafal kedua asalnya adalah () dengan didlammahnya ain kalimah, () dan (), lafal pertama asalnya adalah () yang berasal dari () dengan di-kasrahnya ain kalimah dan lafal kedua asalnya adalah () dengan didlammahnya ain kalimah, () dan (), lafal pertama asalnya adalah () dengan dikasrahnya ain kalimah dan lafal kedua asalnya adalah () dengan didlammahnya ain kalimah, () dan (), lafal pertama asalnya adalah () dengan dikasrahnya ain kalimah dan lafal kedua asalnya adalah () dengan didlammahnya ain kalimah, dan () dan (), lafal yang pertama asalnya adalah () dan asala lafal kedua asalnya adalah ().

.

Sifat musyabbahat dari selain fiil tsulatsi adalah dengan mengikuti wazan isim failnya, seperti ().

Isim Tafdlil

() .

Isim tafdlil adalah shighat-shighat yang mengikuti wazan () untuk sifat yang mempunyai nilai lebih dari lainnya, seperti () dan ().

.

Tidaklah boleh dibuat isim tafdlil melainkan dari fiil tsulatsi yang mutasharrif, bisa diberi nilai lebih, taam (sempurna), tidak dinafikan, tidak dimabnikan majhul dan tidak menunjukkan pada makna warna, aib dan hiasan.

.

Syarat-syarat tersebut juga diberlakukan pada fiil taajjub, yaitu dua shighat ( ) dan ( ), seperti ( ) dan ( ).

.

Ketika kita ingin membuat isim tafdlil atau fiil taajjub dari lafal yang tidak memenuhi syarat-sarat di atas, maka kita datang-kan shighat yang sudah memenuhi syarat-syarat tersebut dan kita jadikan masdar dari lafal yang tidak memenuhi syarat tadi sebagai tamyiz bagi isim tafdlil atau menjadi mafulnya fiil taajjub, seperti ( ), ( ) dan ( ).

Isim Zaman, Isim Makan dan Masdar Mim

.

Isim zaman dan isim makan adalah dua isim yang menunjukkan pada waktu terjadinya suatu perbuatan atau menunjukkan pada tempat terjadinya suatu perbuatan.

.

Isim zaman dan isim makan dari selain fiil tsulatsi adalah mengikuti wazannya isim maful, seperti () dan () dari lafal () dan ().

()

Sedangkan isim zaman dan isim makan dari fiil tsulatsi adalah dengan mengikuti wazan () dengan difathahnya mim dan ain kalimah, ketika fiil mudlarinya didlammah ain kalimahnya atau difathahnya ain kalimahnya atau berupa fiil mutal lam, seperti (), (), (), (), () dan ().

() .

Dan mengikuti wazan () dengan dikasrahnya ain kalimah, ketika fiil mudlarinya dikasrah ain kalimahnya atau berupa fiil mitsal, seperti (), (), () dan ().

.

Telah didengar dari orang Arab lafal-lafal dengan dikasrahnya huruf pertama padahal secara qiyasinya adalah dengan difathah, seperti (), (), (), (), (), (), (), (), () dan ().

Tambahan :

Sibaweh mengomentari lafal () dan yang menyerupainya, bahwa lafal-lafal itu adalah isim untuk tempat-tempat yang di-dalamnya terdapat bentuk tertentu. Jadi, () dengan dikasrah-nya ain kalimah tidaklah dimaksud untuk semua tempat yang disitu terjadi sujud, akan tetapi tempat itu adalah tempat tertentu yang sudah diketahui. Dan jika tidak, maka akan diucapkan () dengan difathahnya ain kalimah.

.

Adapun masdar mim, maka huruf pertamanya difathah secara mutlak, kecuali ketika fiilnya berupa fiil mitsal waw maka huruf pertamanya dikasrah, seperti ().

Tambahan :

Masdar mim, isim maful, isim zaman dan isim makan yang dibuat dari selain fiil tsulatsi mujarrad, adalah bersekutu dalam wazannya dan hanya bisa dibedakan dengan adanya qarinah. Jadi, ketika kita mengucapkan ( ), maka maknanya adalah ( ). Ketika kita mengucapkan ( ), maka maknanya adalah ( ).

Dan ketika kita mengucapkan ( ), maka maknanya adalah ( ) dan itu adalah isim maful. Ketika diucapkan ( ), maka () adalah masdar mim dengan makna ().

 

Isim Alat

.

Isim alat adalah kalimah isim yang dibuat dari fiil tsulatsi untuk menunjukkan pada sesuatu yang terjadinya perbuatan dengan menggunakan perantara isim tersebut.

: .

Wazan isim alat yang qiyasi ada tiga, yaitu (), () dan () dengan dikasrahnya huruf pertama, seperti (), () dan ().

Isim Mudzakar dan Isim Muannats

.

Kalimah isim terbagi menjadi mudzakar, seperti (), dan muannats.

:

Isim muannats ada dua macam, yaitu dimuannatskan dengan ta yang disebutkan, seperti (), atau dikira-kirakan, seperti (), dan dimuannatskan dengan alif maqshurah atau mamdudah.

Alif maqshurah adalah alif sendirian yang ditambahkan diakhir kalimah isim, seperti (), () dan ().

.

Dan alif mamdudah adalah aliff yang ditambahkan diakhir kalimah isim juga yang huruf sebelum alif tersebut juga berupa alif sehingga alif tersebut dirubah menjadi hamzah, seperti () dan ().

.

Kalimah isim juga terbagi menjadi isim shahih, isim maqshur dan isim manqush.

.

Isim maqshur adalah kalimah isim yang huruf terakhirnya berupa alif lazimah, yaitu alif yang harus ditetapkan tidak boleh dibuang, seperti () dan ().

.

Isim manqush adalah kalimah isim yang huruf terakhirnya berupa ya lazimah yang dikasrah huruf sebelum ya, seperti () dan ().

.

Isim shahih adalah kalimah isim yang tidak seperti isim maqsshur dan isim manqush, seperti () dan ().

.

Ketika isim maqshur ditanwin, maka huruf terakhirnya dibuang secara mutlak. Begitu juga isim manqush ketika ditanwin, maka huruf terakhirnya juga dibuang pada keadaan rafa dan jer.

Terbaginya Isim Menjadi Isim Mufrad dan Isim Ghairu Mufrad

: .

Kalimah isim juga terbagi menjadi lima, yaitu isim mufrad, isim tatsniyyah, jama mudzakar salim, jama muannats salim dan jama taksir.

.

Isim mufrad adalah seperti contoh-contoh di atas.

Isim Tatsniyyah

.

Isim tatsniyyah adalah kalimah isim yang menunjukkan pada makna dua dengan memberi penambahan alif dan nun atau ya dan nun, seperti (), (), () dan ().

.

Ketika isim mufradnya berupa isim maqshur, yang ingin ditatsniyyahkan, maka alifnya dirubah menjadi ya jika alifnya berada keempat atau lebih, seperti () dan () untuk tatsniyyahnya () dan ().

Dan alifnya dikembalikan ke bentuk asalnya ketika alif berada ketiga, seperti () dan ().

Tambahan :

Terkadang alif tersebut mempunyai dua asal, maka dalam alif itu diperbolehkan dua wajah, seperti (), karena lafal itu adalah mutal yai, menurut lughat orang yang mengucapkan (), dan mutal wawi menurut lughat orang yang mengucapkan (), sehingga diperbolehkan untuk diucapkan dalam tatsniyyahnya () dan ().

.

Ketika isim mufradnya berupa isim manqush, maka ketika akan ditatsniyyahkan, huruf yang dibuang dikembalikan kembali, seperti (), (), () dan ().

Jama Mudzakar Salim

.

Jama mudzakar salim adalah kalimah isim yang menunjukkan pada makna lebih dari dua dengan memberikan tambahan waw dan nun atau ya dan nun, seperti () dan ().

( ) .

Tidak boleh dijamakan dengan menggunakan jama mudzakar salim kecuali alam dan sifat dengan syarat dalam alam harus berupa alam untuk mudzakar (laki-laki) yang berakal dan dikosongkan dari ta dan tarkib, sehingga tidak boleh diucapkan dalam () dengan () karena tidak berupa alam, tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena bukan untuk laki-laki, tidak boleh diucapkan untuk (), nama anjing, dengan () karena tidak mempunyai akal, tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena mempunyai ta, dan tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena berupa tarkib mazji.

() () () () .

Syarat dari sifat yang bisa dijamakan dengan jama mudzakar salim adalah adanya sifat tersebut untuk mudzakar (laki-laki) yang berakal, dikosongkan dari ta, tidak mengikuti wazan () yang muannatsnya adalah (), tidak mengikuti wazan () yang muannatsnya adalah (), sehingga tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena tidak untuk laki-laki, tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena tidak berakal, tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena mempunyai ta, tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena muannats-nya mengikuti wazan (), dan tidak boleh diucapkan untuk () dengan () karena muannatsnya mengikuti wazan ().

.

Kemudian jika isim mufradnya berupa isim manqush, maka ya-nya dibuang ketika dijamakan dengan jama mudzakar salim dan huruf sebelum waw dibaca dlammah dan huruf sebelum ya dibaca kasrah untuk menyesuaikan, seperti () dan ().

.

Dan jika isim mufradnya berupa isim maqshur,[32] maka ketika dijamakan dengan jama mudzakar salim, alifnya dibuang dan huruf sebelum alif dibaca fathah secara mutlak untuk menunjukkan pada alif yang dibuang, seperti (), (), () dan ().

Jama Muannats Salim

.

Jama muannats salim adalah lafal yang menunjukkan pada makna lebih dari dua dengan memberikan penambahan alif dan ta, seperti ().

.

Ketika isim mufradnya berupa isim maqshur atau manqush, maka ketika ingin dijamakan dengan jama muanntas salim, kita lakukan seperti ketika kita mentatsniyyahkannya, sehingga kita ucapkan dalam isim maqshur yang dijamakan dengan jama muannats salim dengan (), (), (), () dan (). Dan kita ucapkan dalam isim manqush yang dijamakan dengan jama muannats salim dengan () dan ().

.

Kemudian ketika isim mufradnya berupa isim tsulasi musytaq yang ain kalimahnya di sukun, maka diwajibkan untuk menetap-kan sukunnya, seperti () dijama muannatskan menjadi ().

Dan jika tidak berupa isim musytaq, maka ain kalimahnya diharakati, seperti () dijama muannatskan menjadi (), () dijama muannatskan menjadi ().

Jama Taksir

.

Jama taksir adalah lafal yang menunjukkan pada makna lebih dari dua dengan merubah bentuk mufradnya, baik secara lafdzi atau dikira-kirakan.

: .

Jama taksir ada dua macam yaitu : jama qillah, yaitu lafal yang menunjukkan pada makna tiga hingga sepuluh.

: .

Wazan dari jama qillah ada empat, yaitu (), (), () dan (), seperti (), (), () dan ().

.

Dan macam jama taksir yang kedua adalah jama katsrah, yaitu lafal yang menunjukkan makna lebih dari sepuluh.

.

Jama katsrah mempunyai wazan yang banyak yang semuanya berputar pada penuqilan dari orang arab, seperti (), (), (), (), (), (), (), (), (), (), (), (), (), (), () dan ().

. : () () () () . : () () () () .

Termasuk juga dalam kategori jama katsrah adalah shighat muntahal jumu, yaitu semua jama yang setelah alif taksirnya berupa dua huruf atau tiga huruf yang huruf tengahnya disukun.

Shighat muntahal jumu yang pertama, yaitu semua jama yang setelah alif taksirnya berupa dua huruf, adalah (), seperti (), (), (), () dan (), () seperti (), (), () dan (), () seperti (), () dan (), dan () seperti ().

Dan shighat muntahal jumu yang kedua, yaitu semua jama yang setelah alif taksirnya berupa tiga huruf yang huruf tengahnya disukun, adalah (), seperti () dan (), () seperti () dan (), () seperti (), () seperti (), () dan ().

.

Huruf yang bisa merusak shighatnya jama, baik huruf tersebut adalah asli atau tambahan, dari kalimah isim, maka huruf tersebut dibuang, sehingga kita ucapkan untuk jamanya () dan () dengan () dan ().

.

Diperbolehkan untuk mengganti huruf yang dibuang dengan ya yang ditaruh sebelum huruf terakhir, seperti () dan ().

Tasghir

.

Tasghir adalah mendlammah huruf awalnya isim dan memfathah huruf keduanya serta memberi tambahan ya tasghir yang ditempatkan setelah huruf kedua, seperti perkataan kita dalam tashghirannya () dengan ().

.

Kalimah fiil dan kalimah huruf tidak boleh ditahghirkan.

Tambahan :

Kalimah fiil dan kalimah huruf tidak boleh ditasghirkan. Dan syadz hukumnya mentasghirkan fiil taajjub, seperti ( ! !). Dan tidak diperbolehkan mentasghirkan isim mabni.

Syadz hukumnya mentasghirkan sebagian isim maushul dan isim isyarah, seperti (), (), () dan () yang diucapkan dalam tasghirannya (), (), () dan ().

Tidak diperbolehkan mentasghirkan isim yang tidak bisa ditasghirkan, seperti (), () dan (), dan tidak juga bisa ditasghirkan isim yang dimuliakan, karena jika ditasghirkan akan menghilangkan sifat kemuliaannya.

Dan tidak diperbolehkan untuk mentasghirkan lafal () karena mempunyai sighatnya tasghir, dan () dan (), karena mempunyai sighat seperti tasghir.

: .

Shighat tashghir ada tiga, yaitu (), () dan ().

.

() adalah shighat tashghir untuk isim tsulatsi, seperti () ditashghirkan menjadi (), () ditashghirkan menjadi () dan () ditashghirkan menjadi ().

.

() adalah shighat tashghir untuk isim rubai, seperti () ditashghirkan menjadi (), () ditashghirkan menjadi () dan () ditashghirkan menjadi ().

Dan () adalah shighatt tashghir untuk isim yang hurufnya lebih dari empat, seperti () ditashghirkan menjadi (), () ditashghirkan menjadi () dan () ditashghirkan menjadi ().

. .

Ketika huruf kedua isim tersebut berupa alif, maka alif tersebut dirubah menjadi waw, seperti () untuk tashghirannya ().

Dan ketika alif tersebut berada ketiga, maka alif dirubah menjadi ya, seperti () dengan ditasdidnya ya untuk tashghirannya ().

.

Ketika isimnya berupa isim tsulatsi yang dimuannatskan dengan selain ta dan tidak juga dengan alif tanits, maka kita tambahkan ta, seperti () dan () untuk tashghirannya () dan ().

.

Isim tsulatsi yang hurufnya ada dibuang, ketika ditashghirkan maka hurufnya yang dibuang harus dikembalikan, seperti () dan () untuk tashghirannya () dan (), dan seterusnya.

: .

Ketika isim yang akan ditashghirkan berupa isim khumasi atau isim yang hurufnya ada lima dan ke atas, maka huruf yang bisa merusak shighat tashghir dibuang dan diperbolehkan mengganti huruf yang dibuang itu dengan ya yang ditaruh sebelum huruf terakhir atau tidak menggantinya, sehingga kita ucapkan dan tashghirannya () dengan () atau (), dalam tashghirannya (), () dan () dengan () atau (), () atau (), dan () atau ().

Nasab

.

Nasab adalah menambahkan ya yang ditasydid yang dikasrah diakhir isim untuk menunjukkan nisbatnya isim atas yang lainnya, seperti () orang berkebangsaan mesir, dan () orang bangsa maghrib.

.

Lafal yang mempunyai ta tanits, ketika akan dinasabkan, maka ta tanits dibuang, seperti () untuk nasabnya ().

Huruf terakhir dari isim tsulatsi yang berupa isim manqush atau isim maqshur, ketika akan dinasabkan, maka huruf terakhir tersebut dirubah menjadi waw, seperti () dan () untuk nasabnya () dan (). Dan diperbolehkan membuang huruf ter-akhir atau merubahnya menjadi waw ketika huruf terakhir itu berada keempat, seperti () yang nasabnya adalah (), dan () yang nasabnya adalah ().

.

Dan diwajibkan untuk membuang huruf yang berada di atas keempat, seperti () dan () untuk nasabnya () dan ().

.

Ketika alif tanits yang dimiliki oleh suatu isim adalah alif tanits mamdudah, maka alif tersebut dirubah menjadi waw, seperti () untuk nasabnya ().

() () .

Ketika isim yang akan dinasabkan berupa isim yang mengikuti wazan () atau (), maka ya masih ditetapkan, seperti () dan () untuk nasabnya () dan (), dan semisal () dan () untuk nasabnya () dan ().

.

Ketika isim yang ingin dinasabkan adalah berupa isim yang dimuannatskan dengan ya, maka ya dan ta-nya dibuang, seperti () dan () untuk nasabnya () dan (), dan semisal () dan () untuk nasabnya () dan ().

Kecuali ketika isim tersebut berupa isim mudlaaf, maka ya-nya tidak boleh dibuang, seperti () untuk nasabnya (), atau berupa isim ajwaf yang difathah yanya, seperti () untuk nasabnya ().

.

Telah banyak didengar dari orang Arab dalam bab nasab, adanya lafal yang dinasabkan namun tidak sesaui dengan qiyasi-nya, seperti (), () dan (). Seperti halnya telah didengar menasabkan suatu isim tanpa memberikan ya nasab, seperti (), () dan () yang artinya adalah ( ), ( ) dan ( ).

:

Bab III : Hukum-hukum Yang Berlaku Pada Kalimah Isim

dan Kalimah Fiil

.

Bab ini juga dinamakan dengan qalab. Huruf qalab ada Sembilan yaitu waw, ya, alif, mim, tha, dzal, ha, hamzah dan ta.

.

Waw atau ya dirubah menjadi alif ketika waw atau ya berharakat dan huruf sebelumnya difathah, seperti dalam (), (), () dan ().

Tambahan :

Waw atau ya diganti hamzah, ketika keduanya berada diujung jatuh setelah alif zaidah, seperti () dan () yang asalnya () dan (), karena keduanya dari ( ) dan ( ).

Waw atau ya diganti hamzah, ketika keduanya jatuh setelah ain kalimahnya isim fail yang dalam fiilnya waw dan ya diilal, seperti () dan () yang asalnya adalah () dan (), dan fiilnya adalah () dan () yang asalnya () dan (). Jika dalam fiil keduanya tidak diilal, maka dalam isim fail keduanya tidak diilal, seperti () dan () yang fiilnya adalah () dan ().

.

Alif dirubah menjadi waw ketika waw jatuh setelah dlammah, seperti (), atau jatuh sebelum ya nasab, seperti () dan ().

Begitu juga dalam tatsniyyahnya isim tsulatsi yang lam kalimahnya berupa waw dan juga bentuk jama muannats salimnya, seperti () dan ().

.

Alif dirubah menjadi ya ketika alif jatuh setelah kasrah, seperti (), atau jatuh setelah ya tashghir, seperti, (), serta dalam tatsniyyah dan jama muannats salim ketika isimnya berupa isim tsulatsi yang lam kalimahnya berupa ya, seperti () dan (), atau berupa isim yang hurufnya lebih dari tiga huruf, seperti () dan ().

.

Waw dirubah menjadi ya ketika waw disukun jatuh setelah kasrah, seperti () dan ().

.

Begitu juga waw dirubah menjadi ya ketika waw dan ya berkumpul dan salah satunya didahului dengan sukun, seperti () dan () yang asalnya adalah () dan ().

Atau ada dua waw berkumpul dan berada di ujung dalam jama yang waw pertamanya adalah tambahan, seperti () dan () yang asalnya adalah () dan (). Waw yang terakhir dirubah menjadi ya karena berada di akhir yang jatuh setelah dlammah kemudian waw yang awal dirubah menjadi ya karena waw tersebut disukun dan berkumpul dengan ya.

Atau waw berada diujung yang jatuh setelah tiga huruf, artinya huruf didepannya ada tiga huruf, seperti () dan ().

Ya dirubah menjadi waw ketika ya disukun jatuh setelah dlammah, seperti () dan ().

.

Waw diganti dengan () ketika waw menjadi fa kalimah dan huruf setelahnya berupa (), seperti () dan () yang asalnya adalah () dan ().

.

Nun diganti dengan mim ketika waw disukun yang jatuh sebelum ya atau mim, seperti ( ) dan ( ).

() diganti dengan () ketika () jatuh setelah salah satu dari huruf ithbaq yang empat, yaitu (), (), () dan (), seperti (), (), () dan ().[33]

.

() diganti dengan () ketika () jatuh setelah () atau () atau (), seperti (), () dan ().[34]

Tambahan :

Ketika () yang disukun jatuh sebelum (), maka diwajibkan untuk menggantinya dengan () dan mengidghamkannya kepada () setelahnya, seperti () yang asalnya adalah ()

.

() diganti dengan hamzah, seperti dalam () yang asalnya adalah () dengan petunjuk kalau lafal tersebut dijamakan dengan () dan tashghirannya adalah ().

Tambahan :

Mim dalam () adalah gantian dari waw, karena asalnya adalah () dengan dalil menjamakannya dengan (). Kemudian para ulama membuang () dan mengganti waw dengan mim. Ketika () diidlafahkan, maka dia dikembalikan kepada aslinya, seperti ( ). Dan diperbolehkan untuk mengidlafahkannya beserta masih menetapkan penggantian, seperti ( ), dan hadits, ( ).

I'lal

.

Ilal adalah merubah huruf illat dengan merubahnya, seperti () yang asalnya adalah (), atau membuang, seperti () yang asalnya adalah (), atau mensukun huruf illat, seperti () yang asalnya adalah ().

.

Adapun merubah huruf illat, maka sudah dijelaskan di atas.

. .

Adapun ilal dengan membuang, maka adakalanya terjadi tanpa ada alasan tashrifiyyah, seperti membuang lam lafal (), (), () dan (), dan adakalanya Karena ada alasan tashrifiyyah seperti karena dianggap berat dan bertemunya dua huruf mati.

Sehingga waw dibuang karena dianggap berat ketika waw berada diantara fathah dan kasrah, seperti () yang asalnya adalah (). Begitu juga dalam bentuk fiil amarnya, seperti () dan fiil mudlari yang diawali dengan selain ya, seperti () dan ().

Begitu juga hamzah dibuang, karena dianggap berat, dalam fil mudlarinya wazan (), isim fail dan isim mafulnya, seperti () dan () yang asalnya adalah () dan ().

.

Ain kalimahnya fiil madli bina ajwaf, diilal dengan membuang ketika fiil tersebut bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik, seperti () dan () seperti yang telah dijelaskan di atas. Begitu juga fiil mudlarinya yang dijazemkan, seperti ( ) dan ( ).

. .

Begitu juga lam kalimahnya fiil naqish diilal dengan membuang ketika fiil tersebut bersambungan dengan waw jama atau ya mukhatabah, seperti (), (), (), () dan (), seperti yang telah dijelaskan di atas. Begitu juga lam kalimahnya isim fail dari fiil naqish diilal dengan membuang ketika isim fail tersebut ditanwin dalam keadaan rafa dan jer, dan juga ketika dijamakan dengan jama mudzakar salim, seperti () dan ().

.

Adapun ilal dengan mensukun, maka masing-masing dari waw dan ya disukun dengan membuang harakat dlammah dan kasrah yang disandangnya ketika huruf sebelumnya diharakati dengan dlammah atau kasrah, seperti (), (), () dan ().

.

Terkadang harakat waw dan ya dipindah ke huruf mati yang berada didepannya, seperti (), (), () dan () yang asalnya adalah () seperti (), () seperti (), () seperti () dan () seperti ().

Dan semisal lafal () dan () yang asalnya adalah () dan () seperti (). Dan semisal () dan () yang asalnya adalah () dan () seperti (). Dan semisal (), (), () dan () yang asalnya adalah (), (), () dan (). Harakat waw dan ya dipindah ke huruf mati sebelumnya dan kemudian masing-masing dari waw dan ya dirubah menjadi alif karena waw dan ya berharakat dan huruf sebelumnya berharakat fathah. Kemudian dua huruf mati berkumpul, yaitu dua alif, kemudian salah satu dari dua alif tersebut dibuang dan didatangkanlah ta sebagai pengganti dari huruf yang dibuang itu dan seterusnya.

Idgham

.

Idgham adalah memasukkan huruf pertama, dari dua huruf yang sejenis, pada huruf yang satunya.[35] Sehingga huruf yang pertama dinamakan mudgham (huruf yang dimasukkan) dan huruf yang kedua dinamakan mudgham fih (huruf yang dimasuki), seperti ( ) yang asalnya adalah ( ).

: .

Idgham ada dua macam, yaitu wajib idgham dan boleh idgham.

.

Diwajibkan untuk mengidgham ketika ada dua huruf yang sejenis berhakat keduanya, sehingga huruf pertamanya disukun dan diidghamkan ke dalam huruf kedua, seperti () yang asalnya adalah ().

.

Diperbolehkan untuk mengidghamkan ketika huruf pertama berharakat dan huruf kedua di sukun dengan sukun yang aridli (tidak asli),[36] seperti ( ) yang boleh bila dibaca ( ).

Tambahan :

Masih ada satu lagi bentuk idgham, yaitu dilarang meng-idghamkan, di tujuh tempat :

1.        Dua huruf yang sejenis menjadi permulaan, seperti (), (), (), (), () dan ().

2.       

285

 
Dua huruf yang sejenis berada dalam isim yang berwazan (), seperti (), () dan (), atau berwazan (), seperti (), () dan (), atau berwazan (), seperti (), () dan (), atau berwazan (), seperti (), () dan ().

3.        Dua huruf yang sejenis berada dalam lafal yang diberi tambahan yang untuk ilhaq, baik yang menjadi tambahan itu adalah salah satu dari dua huruf yang sejenis, seperti (), atau tidak, seperti ().

4.        Ketika salah satu dari dua huruf yang sejenis bertemu dengan mudgham fih, seperti (), (), () dan (). Demikian itu, karena dalam mengidghamkan huruf yang kedua akan menyebabkan berulang-ulangnya idgham dan itu dilarang.

5.        Dua huruf yang sejenis itu berada dalam lafal berwazan () dalam taajjub, seperti ( !) dan ( !), sehingga tidak boleh diucapkan ( !) dan ( !).

6.        Ketika sukunnya salah satu dari dua huruf yang sejenis itu adalah aridli karena dia bertemu dengan dlamir rafa mutaharrik, seperti (), (), (), () dan ().

7.        Ketika lafal itu termasuk dalam lafal yang sudah didengar dari orang Arab dalam keadaan tidak diidghamkan dalam keadaan ikhtiyari, yaitu lafal-lafal yang harus dijaga dan sudah disebutkan di atas, maka dilarang diidghamkan.

Bertemunya Dua Huruf Mati

.

Ketika dua huruf yang mati bertemu, maka diwajibkan untuk menyelamatkannya dengan membuang huruf pertamanya ketika huruf pertama itu berupa huruf illat, seperti ( ), dan juga pada semisal () dan ().

.

Dan ketika huruf yang pertama tidak berupa huruf illat, maka untuk menyelamatkannya adalah dengan mengharakati huruf pertama, yang adakalanya dengan diharakati kasrah, seperti ( ) dan ( ), atau diharakati dengn dlammah, seperti ( ) dan ( ), atau diharakati dengan fathah, seperti ( ).

Dan terkadang penyelamatan itu adakalanya dengan meng-harakti huruf kedua, seperti ( ).

.

Dimaafkan terjadinya berkumpulnya dua huruf mati ketika kedua huruf yang mati itu berada dalam satu kalimah dan huruf awalnya berupa huruf layn dan huruf keduanya diidghamkan pada huruf semisalnya, seperti () dan ().

 

Hamzah Washal

.

Hamzah washal adalah hamzah yang masih tetap ketika berada dipermulaan dan digugurkan ketika berada ditengah.

Dinamakan hamzah washal karena hamzah itu digunakan sebagai perantara untuk mengucapkan dengan huruf yang mati.

. : .

Hamzah washal memiliki tempat-tempat yang qiyasi dan samai.

Tempat hamzah washal yang qiyasi adalah fiil madli, fiil amar serta masdarnya fiil khumasi dan fiil sudasi, seperti ( ) dan ( ), dan pada fiil amarnya fiil tsulatsi, seperti ().

.

Tempat hamzah washal yang samai adalah disepuluh isim yang terjaga, yaitu (), (), (), (), (), (), (), (), () dan () dalam qasam (sumpah), begitu juga hamzahnya (), seperti ( ).

.<