BAB I

PENDAHULUAN

 

A.                Latar Belakang

Ketika Nabi Muhammad saw. menyampaikan risalah Islam dan membacakan ayat-ayat al-Qura>n kepada masyarakatnya, dari satu sisi Beliau didustakan dan dituduh dengan aneka tuduhan, tetapi di sisi lain, masyarakat umum ketika itu yang sangat mahir dalam sastra Arab, terkagum-kagum mendengar ayat-ayat al-Qura>n dibacakan. Nabi Muhammad Saw. dengan tegas menyatakan menyatakan al-Qura>n bukanlah ciptaannya melainkan firman Allah yang telah diturunkanya kepadanya (Quraisy dalam Boulatta: 2008:tn).

Keterkaguman itu berasal dari nilai seni dan keindahan yang terkandung dalam al-Qura>n. Keindahan tersebut dapat disaksikan pada kefasihan bahasa, diskripsi, penggunaan kata kiasan, dan penyampaian alur cerita. Dengan kata lain, keindahan al-Qura>n terlihat pada pesona ayat, keserasian dan irama setiap susunan kalimat, keluwesan setiap kalimat dan kejelasan pesan yang disampaikannya. Pesona al-Qura>n sudah ada semenjak awal penurunannya. Hal ini tentu saja membuat takjub para pendengarnya. Ketakjuban dan ketertarikan pendengar serta pembacanya pada era awal generasi muslim, dalam beberapa ayat al-Qura>n, pun diabadikan dalam beberapa ayat (Setiawan, 2005: 78). Salah satunya adalah yang terdapat pada surat al-Isra: 107.

ÇÊÉÐÈ

Artinya: Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qura>n dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud (al-Isra: 107).

Hal itu membuat orang kafir pun tidak tahan ketika mendengar bacaan al-Qura>n. Sebagian dari musyrikin menutup telinga mereka supaya tidak terpengaruh bacaan Al al-Qura>n. Meskipun demikian, pesan al-Qura>n tersebar luas dalam waktu singkat. Saat ini pun, pesona al-Qura>n menarik setiap hati pendengarnya, seperti diawal penurunannya. Kesaktian al-Qura>n tersebut tentu wajar sekali mengingat al-Qura>n adalah Kalam atau firman Allah yang memiliki nilai mukjizat yang diturunkan kepada Muhammad saw. yang pembacaannya merupakan suatu ibadah. (Hakim, 2006:3).

Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa al-Qura>n memiliki nilai keindahan bahasa yang luar biasa. Dan keindahan itu tidak hanya terdapat dalam satu atau dua surat saja, namun merata, yang salah satunya adalah surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah. Surat yang pertama setidaknya bisa dideskrepsikan dari dua hal; surat yang juga menyimpan banyak keindahan pola bahasa, baik bersifat redaksional maupun makna (Ash-Shobuni, tt: 308), dan yang secara sosial-keagamaan termasuk surat yang di kalangan kaum muslimin merupakan salah satu surat yang paling akrab. Surat yang kedua juga demikian, hanya saja tidak terlalu popular. Keindahan bahasa dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah tersebut akan terbaca dan terkuak bila dibedah menggunakan teori bala>gah, yang dalam hal ini akan menekankan aspek badi> muh}assinah} lafz\iyah}. Mengingat pembagian badi> muh}assinah} lafz\iyah meliputi enam belas bagian, maka dalam penelitian ini hanya akan dimaksudkan untuk membahas dua diantaranya saja yaitu jina>s dan saja. Terlebih pola keduanya banyak dijumpai dalam kedua surat ini. Pertimbangan lainnya adalah, bila hanya mengkaji satu bagiannya saja, semisal saja, maka penelitian akan sangat terbatas mengingat ayat yang terkandung dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah hanya berjumlah 96 dan 40 ayat.

 

B. Rumusan Masalah

Masalah merupakan hal yang menjadi titik tolak dilakukannya penelitian (Chamamah-Soeratno, 1990: 7). Ada tiga masalah pokok yang akan dibicarakan dalam penelitian ini, yaitu:

  1. Bagaimana klasifikasi uslub jina>s dan saja dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah?
  2. Apa bentuk-bentuk uslub jina>s dan saja yang terdapat dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah?
  3. Apa manfaat dan makna uslub jina>s dan saja tersebut?

 

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang ada, maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan tujuan:

  1. Tujuan teoritis ialah menerapkan teori dan kaedah-kaedah ilmu jina>s dan saja, khususnya pada surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah.
  2. Tujuan praksisnya ialah mengetahui letak uslub jina>s dan saja> dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah dan mengetahui bentuk-bentuknya.
  3. Tujuan terakhirnya adalah untuk mengetahui maknanya serta mempermudah masyarakat muslim untuk memahami dan merasakan keindahan surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah.

 

D. Tinjauan Pustaka

Penelitian tentang jinas dan saja belum banyak dilakukan, dengan kata lain masih relatif sedikit secara kuantitatif. Dan dari yang sedikit ini pun sebagian besar diteliti oleh mahasiswa yang ingin menyelesaikan studinya guna memperoleh gelar kesarjanaan.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri para peneliti kebanyakan berasal dari perguruan tinggi yang memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Di antaranya adalah UIN Sunan Kalijaga, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Ahmad Dahlan. Sebagian besar dari para peneliti telah banyak yang menggunakan kajian Nahwu, Sharaf serta Balaghah, tapi mereka menerapkannya pada obyek yang berbeda-beda. Sedangkan penelitian di bidang Bahasa Arab khususnya dari segi ilmu bala>gah bisa dikatakan sudah banyak dilakukan, namun sebagaimana disebutkan di atas bahwa studi yang mengkaji tentang jinas dan saja masih sangat terbatas. Setelah melakukan penelitian pustaka, tidak ditemukan penelitian yang mengkaji surat al-Qiya>mah, dan ditemukan ada dua penelitian yang menggunakan surat al-Wa>qi>ah sebagai objeknya, tapi keduanya tidak sama dengan yang peneliti lakukan. Kedua penelitian itu adalah:

1. Al-Id}a>fah fi> su>rah} al-Wa>qi>ah. Ini merupakan studi analisis Nahwu yang dilakukan oleh Encep Sofyan as-Sauri. Penelitian ini mengkaji tentang bentuk-bentuk Id}a>fah dalam surat al-Wa>qi>ah.

2. Dila>lat al-fil al-Ma>d}i az-Zama>niyah fi> su>rat al-Wa>qi>ah, oleh Misbahun Nuzur pada tahun 2010. Disimpulkan dari penelitian ini yaitu adanya berbagai bentuk fiil al-ma>d}i yang menunjukkan makna ma>d}i dan tidak ma>d}i.

Dari uraian di atas diketahui bahwa belum ada penelitian seperti yang penulis kaji, yakni menggunakan studi bala>gah badi> muh}assinah} lafz\iyah, khususnya tentang saja dan jina>s. Oleh karena itu maka dari judul yang peneliti ajukan terbuka lebar untuk dilakukannya penelitian tersebut.

 

E. Landasan Teori

Dalam bahasa Arab, piranti bahasa yang digunakan dalam memahami al-Qura>n setidaknya dapat dikelompokkan dalam tiga hal; nahwu (ilmu untuk mengetahui Irab dari rangkaian kata), sharaf (ilmu untuk mengetahuii bentuk-bentuk kata), dan bala>gah. Terkait dengan penelitian ini maka teori atau pisau analisa yang digunakan adalah teori bala>gah. Ilmu bala>gah ialah ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal) (al-Hasyimi, 1960: 40).

Unsur bala>gah adalah kalimat, makna dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Suatu kata akan mencapai kriteria itu bila sering dipakai oleh para penulis dan penyair yang peka karena tidak ada kata yang terungkap melalui lisan dan tulisan mereka kecuali memenuhi kriteria kefasihan dan keindahan tersebut. Z|auq (rasa bahasa) yang sehat merupakan modal utama dalam mengetahui keindahan dan kemudahan kata-kata serta membedakannya dari kata-kata yang buruk dan sulit (Ali Jarim, 2005:8). Bala>gah tidak terletak pada kata per kata, juga tidak pada makna saja, melainkan bala>gah adalah kesan yang timbul dari keutuhan paduan keduanya dan keserasian susunannya. Dari penjelasan di atas, maka peneliti menggunakan landasan teori ilmu bala>gah yang diterapkan pada pendekatan deskriptif dengan obyek surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah.

Lebih lanjut, Ilmu bala>gah terbagi dalam tiga bagian:

1. Ilmu Maani : ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal.

2. Ilmu Bayan : ilmu yang mempelajari cara-cara penggambaran imajinatif. Secara umum bentuk penggambaran imajinatif itu ada dua. Pertama, penggambaran imajinatif dengan menghubungkan dua hal. Kedua, penggambaran imajinatif dengan cara membuat metafora yang bisa diindera.

3. Ilmu badi>, ialah ilmu yang membahas keindahan kalimat Arab. Secara lebih tepat definisinya yaitu:

Artinya: Ilmu badi> ialah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dan keutamaan-keutamaan yang dapat menambah nilai keindahan dan estetika suatu ungkapan, membungkusnya dengan bungkus yang dapat memperbagus dan mepermolek ungkapan itu, disamping relevansinya dengan tuntutan keadaan (al-Hasyimi, 1960: 360).

Ilmu badi> selanjutnya juga terbagi dua, yakni badi> muh}assinah manawiyah dan badi> muh}assinah} lafz\iyah}.

Hakikat Ilmu Badi>

  1. Muh}assinah Manawiyah

Muh}assinah manawiyah ialah badi> yang senantiasa wajib menjaga segi makna, bukan segi lafaz. Jadi unsur badi> masih tetap meskipun lafaznya berubah. Dengan kata lain dapat didefinisikan sebagai sebuah tata cara memperindah yang kembali kepada segi makna dan sesuai dengan keadaannya. Unsur-unsur dalam badi> muh}assinah manawiyah berjumlah 36, yang diantaranya adalah tauriyah, istikhdam, thibaq, mubalaghah, dan taqsim.

  1. Muh}assinah} Lafz\iyah}

Muh}assinah} lafz\iyah} ialah tata cara memperindah yang hanya merujuk kepada lafadh saja. Al Hasyimi mengelompokkan muh}assinah} lafz\iyah} mejadi enam belas macam, yaitu jinas, tash-hif, izdiwaj, saja, muwazanah, tarshi, tasyri, luzumu ma yalzam, tashdir / raddy ajz ala al-shadr, ma la yastahilu bil iniikas, muwarobah, i`tilalul lafdhi maal lafdhi, tasmith, insijam, ikhtifa, dan tathrif.

Dalam penelitian ini, badi> muh}assinah} lafz\iyah}-lah yang digunakan sebagai alat untuk menganalisa surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah. Dan sebagaimana dikemukakan di depan bahwa tidak seluruhnya akan dibahas, melainkan hanya beberapa diantaranya. Adapun alasannya juga sudah dipaparkan sebelumnya.

Sebagai contoh adalah ayat:

ÇÊÈ

Ayat ini merupakan salah satu Badi muh}assinah} lafz\iyah} jenis jinas isytiqaq, yakni jinas yang kedua ujung (rukun) nya dikumpulkan oleh satu isytiqaq (asal kata). Keduanya adalah dan yang berumpun dari kata .

Contoh lainnya adalah ayat :

ÇËÑÈ 8 ÇËÒÈ

Badi> jenis ini adalah saja murashsha, yakni saja yang seluruh atau sebagian besar salah satu rangkaiannya sama dengan rangkaian yang lain baik dari segi wazan maupun akhirannya. Rangkaian dan merupakan bentuk yang hampir sama. Redaksi badi> jenis seperti ini menurut al-Hasyimi dinilai sebagai saja yang terbaik. (Al-Hasyimi, 1994: 278).

F. Metode penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif kepustakaan dengan metode deskriptif, yakni metode yang membuat gambaran-gambaran secara sistematis dan akurat tentang data-data yang berhubungan dengan objek kajiannya untuk selanjutnya dianalisa sesuai teori yang ada (Djajasudarma, 2006: 09). Terkait dalam penelitian ini maka objeknya adalah al-Quran surat al-Waqiah dan al-Qiyamah.

Guna memperoleh hasil yang maksimal maka dilakukan langkah-langkah yang sistematis dan terarah, yaitu:

  1. Memahami dan menjelaskan apa yang dimaksud jinas dan saja beserta beberapa jenis-jenisnya yang terdapat dalam surat al-Waqiah dan al-Qiyamah.
  2. Mencari obyek penelitian, dalam hal ini surat al-Waqiah dan al-Qiyamah, dan mengumpulkan data dari penelitian tersebut.
  3. Setelah itu dianalisa dengan pendekatan bala>gah tentang jinas dan saja } yang ada. Data diambil secara deskriptif intrinsik yaitu data yang diambil terbatas pada bahan.
  4. Langkah terakhir adalah menyajikan hasil analisa.

 

G. Sistematika Pembahasan

Pembahasan ini dibagi menjadi empat bagian, yatu:

Bab I pertama adalah pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, sistematika pembahasan dan pedoman transliterasi.

Bab II membahas tentang Jina>s dan Saja dan tinjauan umum tentang surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah

Bab III membahas tentang analisis Jina>s dan Saja dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah dengan cara menganalisa ayat-ayat dalam surat al-Wa>qi>ah dan al-Qiya>mah yang mengandung Jina>s dan Saja, kemudian mengklasifikasikannya sesuai jenis-jenisnya.

Bab IV adalah penutup berisi kesimpulan dan saran.