BAB II

GAMBARAN UMUM TENTANG JINA<S DAN SAJA

Sebelum menyampaikan apa itu jinas dan saja, terlebih dahulu akan dipaparkan secara singkat ilmu balaghah dan pembagiannya. Hal ini dimaksudkan supaya tidak terjadi missink link karena tahu-tahu sudah berbicara tentang jinas dan saja, tanpa membicarakan induknya.

Secara runtut, titik mulanya berasal dari ilmu bala>gah, yakni ilmu untuk menerapkan (mengimplementasikan) makna dalam lafazh-lafazh yang sesuai (muthabaaqah al-kalaam bi muqtadhaa al-haal) (al-Hasyimi, 1960: 40). Unsur bala>gah adalah kalimat, makna dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Suatu kata akan mencapai kriteria itu bila sering dipakai oleh para penulis dan penyair yang peka karena tidak ada kata yang terungkap melalui lisan dan tulisan mereka kecuali memenuhi kriteria kefasihan dan keindahan tersebut. Z|auq (rasa bahasa) yang sehat merupakan modal utama dalam mengetahui keindahan dan kemudahan kata-kata serta membedakannya dari kata-kata yang buruk dan sulit (Ali Jarim, 2005:8).

Lebih lanjut, Ilmu bala>gah terbagi dalam tiga bagian:

1. Ilmu Maani : ilmu yang mempelajari susunan bahasa dari sisi penunjukan maknanya, ilmu yang mengajarkan cara menyusun kalimat agar sesuai dengan muqtadhaa al-haal.

2. Ilmu Bayan : ilmu untuk mengetahui cara-cara menyampaikan sebuah pikiran dengan cara yang bermacam-macam. Atau dengan kata lain, ilmu untuk mengungkapkan satu makna tapi bisa dengan beberapa gaya bahasa.

3. Ilmu badi>, ialah ilmu yang membahas keindahan kalimat Arab. Secara lebih tepat definisinya yaitu:

Artinya: Ilmu badi> ialah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dan keutamaan-keutamaan yang dapat menambah nilai keindahan dan estetika suatu ungkapan, membungkusnya dengan bungkus yang dapat memperbagus dan mepermolek ungkapan itu, disamping relevansinya dengan tuntutan keadaan (al-Hasyimi, 1960: 360).

Ilmu badi> selanjutnya juga terbagi dua, yakni badi> muh}assinah manawiyah dan badi> muh}assinah} lafz\iyah}.

  1. Muh}assinah Manawiyah

Muh}assinah manawiyah ialah badi> yang senantiasa wajib menjaga segi makna, bukan segi lafaz. Jadi unsur badi> masih tetap meskipun lafaznya berubah. Dengan kata lain dapat didefinisikan sebagai sebuah tata cara memperindah yang kembali kepada segi makna dan sesuai dengan keadaannya. Unsur-unsur dalam badi> muh}assinah manawiyah berjumlah 36, yang diantaranya adalah tauriyah, istikhdam, thibaq, mubalaghah, dan taqsim.

  1. Muh}assinah} Lafz\iyah}

Muh}assinah} lafz\iyah} ialah tata cara memperindah yang hanya merujuk kepada lafadh saja. Al Hasyimi mengelompokkan muh}assinah} lafz\iyah} mejadi enam belas macam, yaitu jinas, tash-hif, izdiwaj, saja, muwazanah, tarshi, tasyri, luzumu ma yalzam, tashdir / raddy ajz ala al-shadr, ma la yastahilu bil iniikas, muwarobah, i`tilalul lafdhi maal lafdhi, tasmith, insijam, ikhtifa, dan tathrif.

Jika dibuat bagan, maka hasilnya adalah sebagai berikut:

 

Ilmu Balaghah

 

 

 

 


Ilmu Maani Ilmu Bayan Ilmu Badi

 


Muhassinah Manawiyah Muhassinah Lafdziyah

(16 macam)

Jinas Saja 14 lainnya

 

Adapun pembahasan mengenai Jinas dan Saja akan diparparkan sebagaimana di bawah ini.


A. Jinas

1. Definisi Jinas

Mardjoko Idris dalam mengutip dari Majdi Wahbah tentang definisi jinas secara bahasa menyatakan, jinas dalam pengertian bahasa berarti menyerupai dan menyatu bersamanya dalam satu jenis (Mardjoko, 2007: 7). Sedangkan menurut terminologi jinas adalah:

Jinas adalah dua lafadz yang mempunyai persamaan dalam pengucapan, sedang artinya berbeda (Jarim, tt: 265). Secara umum dibagi menjadi dua; jinas tam ( ) yaitu jika dua lafadz tersebut ghairu tam (  ). Jinas tam yaitu jika dua kata tersebut mempunyai kemiripan dalam empat hal yaitu : huruf, , syakal, jumlah serta urutannya. Sedangkan jinas ghairu tam (Naqish) yaitu apabila di dalam dua kata tersebut memilki perbedaan salah satu dari yang empat hal tersebut.

 

Contoh Jinas Tam adalah:

Dan ada hari terjadinya kiamat, bersumpalah orang-orang yang berdosa : mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat ( Q.S. Ar-Rum, 30)

Dalam ayat tersebut dua kata namun keduanya artinya tidak sama. Yang pertama bermakna kiamat sedangkan yang kedua bermakna sesaat.

Sedangkan contoh yang jinas ghairu tam adalah:

Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya (QS. Dluha: 8-9).

Kata dan ini memiliki perbedaan pada hurufnya. Karenanya maka dia disebut dengan jinas ghairu tam.

Para ahli ilmu badi mengemukakan, bahwa gaya bahasa jinas ini dapat meningkatkan keindahan uslub, serta mempercantik ritmenya. Namun yang perlu di ketahui bahwa kelebihan tersebut baru akan terwujud apabila gaya bahasa jinas terjadi secara alami dan tidak di buat-buat.

2. Jenis-jenis Jinas

Pengelompokan jenis jinas ini tidaklah seragam. Ada yang membaginya sebagaimana di atas, dan ada juga yang mengkategorikannya menjad jinas lafdzi dan manawi sehingga cukup sulit untuk mengetahui berapa sebenarnya cabang dari jinas itu. Atau ada juga yang memerincinya tapi tidak tegas menyebutkan ada berapa, semisal dalam Kitab al-Idlah f ulum al-Balaghah karya al-Khatib al-Qizwaini. Melengkapi itu maka Mardjoko Idris dengan gamblang memetakannya secara terperinci menjadi 16 (Mardjoko, 12-58). Penjelasannya sebagai berikut:

a.       Jinas Mumatsil : yang terbentuk dari dua kata yang serupa dan dari jenis yang sama, isim dengan isim dan fiil dengan fiil atau huruf dengan huruf.

Salah satu contohnya adalah isim dengan isim:

....

yang pertama bermakna satu, sedang yang kedua bermakna seorang.

b.         Jinas Mustaufi : dua lafadz (bunyi artikulasi) yang sama pengucapannya terbentuk dari salah satu:

1) isim dengan fiil,

*

Terdapat dua kata . yang pertama berupa isim, nama orang, dan yang kedua berupa fiil yang memiliki arti hidup.

2) Dzaraf dengan isim

3) Isim dengan hurf.

c.         Jinas Isytiqaq : dua lafadz yang serupa dari asal kata yang sama pula.

Contoh pada Surat Ar-Ruml ; 43 :

 ۖ [٣٠:٤٣]

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak (kedatangannya): pada hari itu mereka terpisah-pisah.

dan berasal dari akar kata yang sama, yaitu . Sedang artinya berbeda, yang pertama berarti hadapkanlah, dan yang kedua berarti lurus.

d.        Jinas Musyabahah Bi Isytiqaq : jinas yang kedua lafadznya seolah-olah berasal dari akar yang sama, padahal berbeda. Contoh :

[٢٦:١٦٨]

Artinya: Luth berkata: "Sesungguhnya aku sangat benci kepada perbuatanmu".

Kata dan seolah-olah berasal dari akar kata yang sama, padahal berbeda. bersumber dari yang bermakna perkataan, sedang berumpun dari kata yang berarti benci.

e.         Jinas al- Mutasyabih : jinas yang memiliki kesamaan tulisan tapi berbeda secara bentuk strukturnya.Contoh :

(Apabila seorang raja tidak memiliki jiwa bermurah hati, tinggalkan dia, dan kekuasannya segera sirna).

Di situ terdapat dua kata . Sepintas terlihat sama namun sejatinya berbeda. Yang pertama berarti dermawan, sedangkan yang kedua berarti hancur. Kedua kata tersebut bila dilihat dari asal kata adalah sebagai berikut; (dermawan) berasal dari dua kata (mempunyai) dan (pemberian) yang secara bebas gabungan maknanya menjadi dermawan. Adapun yang kedua berasal dari satu kata, yaitu , isim fail dari kata )pergi). Dengan kata lain, yang pertama itu susunannya idhafah, dan yang kedua mufrad.

f.           Jinas Murakkab: jinas yang kedua lafadznya memiliki kesamaan dalam empat hal, namun dibedakan oleh bentuk tulisan yang ada.

Contohnya adalah:

(Apabila seorang raja tidak memiliki jiwa bermurah hati, tinggalkan dia, dan kekuasannya segera sirna).

Di situ terdapat dua kata . Sepintas terlihat sama namun sejatinya berbeda. Yang pertama (terpisah) berarti dermawan, dan (bersambung)yang berarti hancur. Kedua lafadz itu kendati berbeda dari segi penulisannya tapi sama dari segi bacaannya.

g.         Jinas Mudhari : Jinas yang perbedaannya hanya pada satu huruf, tapi makhrojnya berdekatan.

Contoh dalam Al-Quran Al-Anam : 26

Artinya: Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya.

Kata (melarang) dan (menjauhkan diri) ini serupa dalam pelafalannya, berbeda dalam satu hurufnya, yakni dan .

h.         Jinas Lahiq : jinas yang kedua lafadznya serupa pelafalan namun berbeda satu huruf dan huruf tersebut berjauhan makhrajnya. Contohnya dalam Al-Quran Al-Humazah ayat ;1

Perbedaannya kedua kata tersebut terletak pada huruf dan dan berjauhan makhrajnya. berarti pengumpat sedangkan berarti pencela.

i.           Jinas Naqis : jinas yang serupa dalam pengucapan namun beda pada jumlah hurufnya. Perbedaan itu baik di awal, tengah maupun akhir. Disebut dengan jinas naqish ini lebih disebabkan karena lafadz yang satu kurang dari yang satunya. Berikut ini hanya salah satu contoh yang di awal.

Contoh :

(betis) dan (dihalau) berdekatan dalam pelafalan tetapi berbeda dalam jumlah hurufnya.

j.           Jinas Muharraf ( Tahrif / Mukhtalif / Muharrif / Mughayyir ): dua lafadz yang serupa namun berbeda pada harakat (as-syakl). Contoh QS.Ash-shaffat ; 72-73 :

,

Artinya: dan sesungguhnya telah Kami utus pemberi-pemberi peringatan (rasul-rasul) di kalangan mereka. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.

Kedua kata bergaris bawah tersebut hurufnya sama, namun dibedakan oleh harakatnya sehingga juga menyebabkan makna yang berbeda, yang pertama pemberi peringatan dan yang kedua bermakna yang diberi peringatan.

k.         Jinas al-Qalb : dua lafadz yang serupa, tapi berbeda pada letak hurufnya.

Contoh :

*

Kata yang pertama bermakna kemenangan sedangkan yang kedua berarti kematian. Keduanya hurufnya sama, tapi berbeda peletakannya.

l.           Jinas Mudhaf : dua lafadz yang serupa, di-idhafah-kan kepada kata yang berlainan.

Contoh :

:

Dua kata bergaris bawah adalah kata-kata yang sama namun diidlofahkan pada lafadz yang berlainan. Dengan demikian maka yang pertama menghasilkan makna pemuda hari ini, dan yang kedua bermakna tokoh hari ini.

m.       Jinas Muzdawij : jinas kedua kata yang serupa dalam pelafalannya dan datang secara berurutan.

Contoh pada Surat An-Nahl ;22 :

Artinya: dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.

n.         Jinas Tashhif : jinas yang lafadz dan hurufnya sama, namun berbeda pada letak titik hurufnya.

Contoh dalam QS. Al-Kahfi : 104

[١٨:١٠٤]

Artinya: Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

 

o.         Jinasat Tsulatsiyah : gaya bahasa jinas yang di dalamnya terdapat tiga lafadz yang sama atau hampir pengucapannya, tapi beda maknanya. Jinas model ini jumlahnya sangat sedikit.

Contoh :

Ketiganya sama pada jumlah huruf, harakat, urutan, tetapi berbeda susunan huruf yang pertama, yakni sin, jim dan ra.

p.         Jinas Tsunaiyyah antara kalimat-kalimat tsalasa : yakni adanya tiga lafadz, lafadz pertama sama atau hampir sama dalam pelafalan dengan lapadz kedua, yang kedua sama dengan yang ketiga. Lafadz pertama dan ketiga bukanlah jinas karena perbedaan hurufnya lebih dari satu. Contohnya adalah:

Demikianlah uraian tentang jenis-jenis jinas.

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Saja

1. Definisi Saja

Saja secara bahasa berarti kalimat yang berima. Demianlah yang tertulis dalam Lisan al-Arab (Ibnu Mandzur, tt: 291). Saja merupakan satu unsur dalam badimuhassinah lafdziyah dan secara mudah bisa dipahami sebagai gaya bahasa yang menunjukkan adanya kesamaan bunyi huruf akhir dalam setiap fashilah (kata terakhir dalam setiap ungkapan).

Namun secara definitif, dalam termnologi, saja didefinisikan sebagai:

Yakni kesesuaian dua fashilah (kata akhir) atau lebih pada huruf akhirnya (al-Hasyimi, 1994: 278). Kata akhir pada tiap-tiap kalimat disebut fashilah, sedangkan tiap-tiap kalimat dinamakan faqrah. Sajak yang baik adalah apabila faqrahnya sama. Menurut Ibnu Jinni, disebut dengan saja karena pada akhir kata terdapat huruf yang sama dan ada keharmonisan pada fashilahnya. (Ibnu Mandzur, tt : 291)

Contoh :

Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang suka berinfak dan berikanlah kerugian bagi orang yang kikir.

 

 

 

2. Jenis-jenis Saja

Saja dibagi menjadi tiga :

1)      Saja mutharraf, yakni saja yang kedua fashilahnya berbeda wazan tetapi huruf akhirnya sama. Contohnya seperti dalam firman Allah :

,

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung itu sebagai pasak? (QS. An-Naba: 6-7).

2)      Saja murashsha, yaitu saja yang lafadz-lafadz kedua fiqrah, sebagian besar atau seluruhnya, sesuai dalam wazan dan qafiahnya.

Contohnya adalah ucapan al-Hariri

*

Dia memetik sajak-sajak dengan mutiara-mutiara katanya, dan mengetuk pendengaran-pendengaran dengan larangan-larangan bimbingannya.

3)      Saja al-mutawazi, yaitu saja yang kesesuaiannya hanya terletak pada kata akhir saja.

Contohnya seperti dalam firman Allah:

Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencangnya (QS. Al-Mursalat: 1-2).

Dalam rangkaian dua ayat di atas, yang sesuai hanyalah dua kata terakhirnya, sedangkan kata dan berbeda wazan.

3. Kaedah-keadah saja

Labih lanjut, saja yang baik ialah yang panjang rangkaian keduanya. Bila tiga rangkaian, berarti yang ketigalah yang paling panjang. Dan tidak baik bila sebaliknya. Sebab pendengar akan membandingkan rangkaian yang kedua dengan yang pertama. Lalu jika yang pertama panjang tapi yang kedua pendek maka anti klimaks (Al-Qizwaini, tt: 404). Namun yang paling baik adalah yang rangkaiannya sama panjangnya. Demikian juga saja itu tidak dinilai baik kecuali jika masing-masing kosa katanya cukup indah, dan lafadz-lafadzya menyimpulkan terhadap makna. Tempat badi saja berada di rangkaian kata berbentuk prosa. Tetapi terkadang juga bisa dalam puisi sebagaimana terdapat dalam syair arab:

#

Maka kita dalam kewaspadaan sedangkan orang Romawi dalam ketakutan

Daratan dalam kesibukan sedangkan lautan dalam kemalu-maluan.

Kaedah yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa saja haruslah dibaca sukun (waqaf), tidak dibaca dengan Irabnya. Karena tujuan saja adalah mencari kesamaannya, dan itu hanya bisa dilakukan dengan membaca dengan waqaf. Lalu apa jadinya jika kalimat di bawah ini irabnya dihidupkan (Al-Qizwaini, tt: 404):

Yang baik adalah bila dan pada kalimat di atas dibaca waqaf.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ANALISIS JINA<S DAN SAJA DALAM SURAT AL-WA<QIAH DAN AL-QIYA<MAH

 

Sebelum peneliti menganalisis Al-Wa<qiah dan Al-Qiya<mah, terlebih dahulu akan dijelaskan secara ringkas tentang surat Al-Wa<qiah dan Al-Qiya<mah dan hal-hal yang terkait dengan kedua surat tersebut.

A.  Gambaran Umum Tentang Surat Al-Wa<qiah , Al-Qiya<mah

 

  1. Gambaran Umum tentang surat Al-Wa<qiah

a.    Eksternal Surat Al-Wa<qiah

1)   Asbabun Nuzul

Secara etimologis, asbabun nuzul ayat itu berarti sebab-sebab turun ayat. alam pengertian sederhana turunnya suatu ayat disebabkan oleh suatu peristiwa, sehingga tanpa adanya peristiwa itu, ayat tersebut itu tidak turun (Syafi, 1973: 24.) Sedangkan menurut Subhi Shalih misalnya mentarifkan (mana) sababun nuzul ialah:

Sesuatu yang dengan sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya; pada masa terjadinya peristiwa itu (Ash-Shidieqy, 1973: 25).

Yakni, sesuatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi Saw, atau sesuatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi dan turunlah suatu atau beberapa ayat dari Allah Swt yang berhubungan dengan kejadian itu, atau dengan penjawaban pertanyaan itu baik peristiwa itu merupakan pertengkaran, ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun merupakan suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.

Definisi yang dikemukakan ini dan yang diistilahi, menghendaki supaya  ayat-ayat al-Quran, dibagi dua: ayat yang ada sebab nuzulnya dan ayat yang tidak ada sebab nuzulnya.

Memang demikianlah ayat-ayat al-Quran. Ada yang diturunkan tanpa didahului oleh sesuatu sebab dan ada yang diturunkan sesudah didahului sebab. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat, karena tidak semua ayat al-Quran diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian(Al-Qattan, 1973: 107).

Jika dalam konteks surat al-Wa>qi>ah ini maka ada ayat yang memiliki asbabun nuzul dan ada yang tidak. Dan di antara ayat-ayat yang terdapat asbabun nuzulnya adalah seperti dalam beberapa riwayat ini:

a)      Ayat 27-29. Ayat tersebut dirwayatkan, setelah Rasulullah membolehkan oran Taif untuk menguasai lembah indah yang bersarang madu. Mereka mendapat kabar bahwa di surga terdapat begini dan begini, dan ada juga yang berkata andai kita mempunyai lembah yang seperti ini(Abu Fadl, tt: 134). Lalu turunlah ayat:

Artinya: Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), Dan naungan yang terbentang luas

b)      Ayat 75-78. Diriwayatkan, ketika turun hujan pada masa itu, Rasulullah bersabda: Di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kafir karena turun hujan. Di antara yang hadir berkata:, Ini adalah rahmat yang diberikan kepada kita. Sedang yang lain berkata: sungguh benar ramalan si Anu (al-Wahidi, 468 H: 270). Dari kisah ini maka turunlah ayat:

(75) (76) (77)

Artinya: Maka Aku bersumpah dengan masa Turunnya bagian-bagian Al-Quran. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui. Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia, Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

 

2)   Urutan Surat

 

Dalam al-Qur'an, Surat al-Waaqi'ah menempati posisi ke-56 setelah Surat ar-Rahmaan. Namun, dijelaskan dalam asbabun nuzul, Surat al-Waaqi'ah diturunkan setelah Surat Thaahaa. Dinamakan dengan al-Waaqi'ah (Hari Kiamat) karena di dalamnya banyak memberitakan tentang kiamat (Makhdori, 2010: 42). Surat ini termasuk surat Makkiyah yakni surat yang turun di Makkah, kecuali ayat ٰ dan (Jalalain, 1991: 388). Berjumlah 96 ayat.

Adapun pokok-pokok isinya menjelaskan tentang terjadinya hari kiamat, gambaran tentang surga dan neraka, tentang orang yang sudah banyak berlaku zhalim, ingkar, juga tentang orang-orang yang beriman. Kemudian di dalam penjelasan selanjutnya ditegaskan, bahwa pada waktu hisab, manusia terbagi menjadi atas tiga golongan, yaitu (1) golongan yang bersegera menjalankan kebaikan; (2) golongan kanan dan golongan yang celaka serta balasan yang diperoleh oleh masing-masing golongan; dan (3) golongan orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan, pada Hari Kebangkitan.

3)   Hubungan Surat Al-Wa<qiah dengan Surat al-Hadiid

Surat al-Hadiid terdiri atas 29 ayat, termasuk golongan surat Madaniyah, diturunkan sesudah Surat al-Zalzalah. Dinamakan al-Hadiid (Besi), diambil dari perkataan al-Hadiid yang terdapat pada ayat 25 surat ini (Makhdori, 49).

Dalam pokok isi dari Surat al-Hadiid menjelaskan tentang pokok-pokok keimanan kepada Allah Swt. Hanya kepada Allah kembali semua urusan. Juga menjelaskan tentang beberapa sifat Allah dan beberapa Asmaaul Husna serta pernyataan kekuasaan Allah di langit dan di bumi. Dijelaskan pula tentang keadaan orang-orang munafik di hari kiamat; hakikat kehidupan dunia dan kehidupan akhirat; tujuan penciptaan besi; tujuan diutusnya para rasul; kehidupan kerahiban dalam agama Nasrani bukan berasal dari ajaran Nabi Ira As.; celaan kepada orang-orang bakhil dan orang yang menyuruh orang-orang lain berbuat bakhil.

Surat al-Hadiid ditutup dengan penjelasan tentang anjuran membelanjakan harta di jalan Allah, menerangkan bahwa Allah mengutus para nabi dengan membawa agama untuk kebahagiaan hidup manusia, Allah menciptakan besi yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya dan untuk mempertahankan agama yang dibawa oleh rasul-rasul itu.

Demikianlah hubungan antara Surat Al-Wa<qiah dengan Surat al Hadiid. Surat Al-Wa<qiah diakhiri dengan perintah bertasbih dengan menyebut nama Tuhan, Maha Pencipta lagi Maha Pemelihara, begitu pula dengan Surat al-Hadiid juga menjelaskan tentang perintah-perintah untuk bertasbih, mengingat kebesaran Allah Swt., dan mendekatkan diri kepada-Nya agar selalu tetap dalam lindungan-Nya.

 

b.   Internal Surat Al-Wa<qiah (Kandungan Makna dan Bahasa Surat al-Wa>qi>ah )

1)      Menjelaskan tentang kiamat dan terpecahnya manusia menjadi tiga golongan (Ash-Shabuni, tt: 296)

Di atas sudah dijelaskan tentang keterkaitan antara Surat Al-Wa<qiah dan Surat al-Hadiid; yang kedua surat tersebut sama-sama menjelaskan tentang kiamat, peringatan-peringatan, seruan untuk bertasbih, dan menjelaskan hasil perbuatan manusia selama di dunia akan mendapatkan balasan yang setimpal kelak jika sudah sampai pada masanya. Dan inilah yang dimaksud dengan hari pembalasan atau hari kiamat.

Salah satu ayatnya adalah:

Apabila terjadi hari kiamat, terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal). (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya (QS. al-Waaqiah; 1-6).

Ayat di atas secara tegas menguraikan tentang gambaran hari kiamat yang begitu dahsyat, yang menghancurkan segala isi dunia seakan mau melenyapkan tanpa pandang bulu. Baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, semua akan bertaburan, beterbangan bagaikan debu. Gunung-gunung akan hancur luluh dengan seluluh-luluhnya. Air laut tumpah ke daratan uhmenenggelamkan seluruh penghuni bumi. Juga tanah akan terbelah, bintang-bintang saling yang berbenturan, bumi hancur porak-poranda dan seluruh materi rusak binasa. Bahkan, segala yang tampak, yang semula dapat dikenal oleh manusia, semuanya musanah, tak satupun yang tersisa. Hal ini seperti yang sudah dijelaskan dalam Surat Ibrahim yang berbunyi:

Karena itu janganlah sekali-kali kamu mengira Allah akan menyalahi janji-Nya kepada rasul-rasul-Nya; sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi mempunyai pembalasan. (Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.(QS. Ibrahim: 47-48)

Itulah hari kiamat, hari kemudian, hari akhir, juga hari pembalasan; di mana kondisi saat itu manusia akan terbentuk dalam tiga golongan, sebagaimana penjelasan dalam Surat al-Waaqiah tersebut.

Hari kiamat sebenarnya tidak hanya memiliki satu nama saja, tetapi mempunyai beberapa sebutan, yangmana sebutan tersebut memiliki makna sesuai dengan apa yang akan terjadi pada hari itu. Adapun nama-nama hari kiamat dalam al-quran dijelaskan sebagai berikut (Makhdlori, 2010: 58):

v  Yaumul qiyamah (hari kiamat)

v  Yaumul batsi (hari kebangkitan)

v  Saah (datangnya kiamat )

v  Yaumul akhirah (hari akhirah)

v  Yaumud-din (hari pembalasan)

v  Yaumul hisab (hari perhitungan)

v  Yaumul fathi (hari kemenangan)

v  Yaumul talak (hariperingatan tentang adanya talak)

v  Yaumul jamI wa taghabun (hari pengumpulan untuk dihisab)

v  Yaumul khuld (hari kekekalan)

v  Yaumul khuruj (hari keluar dari kubur)

v  Yaumtl tanad (hari saling memanggil antara penghuni surge dan neraka)

v  Shakhkhah (malapetaka yang sangat besar)

v  Baqqah (hari kiamat)

v  Ghayiyah (hari pembalasan)

v  Yaumul fashl (hari pemisah antara perilaku kebaikan dan kejahatan).

Demikianlah beberapa nama-nama yang mengisahkan tentang hari kiamat, yang mana dari nama-nama tersebut sudah dijelaskan dalam al-Quran dengan redaksioanal yang berbeda, namun maknanya sama.

Memang, persoalan tentang kiamat diuraikan dalam al-Quran secara panjang lebar dengan menggunakan metode pendekatan. Hal ini terbukti banyak ayat dalam surat yang berbeda -tentang kiamat- dibahas berulang-ulang. Ini menunjukkan bahwa persoalan ini sungguh sangat penting untuk diketahui oleh hamba-hamba yang mau meyakini.

Seorang penafsir kenamaan, al-BiqaI, menuturkan, Kebiasaan Allah Swt. adalah bahwa dia tidak menyebut keadaan hari kebangkitan, kecuali menetapkan dua dasar pokok, yaitu qudrat (kemampuan) terhadap segala yang bersifat mumkin (kemungkinan yang pasti) dan pengetahuan tentang segala sesuatu yang dapat diketahui, baik yang bersifat kulli (umum) maupun juzi(rinci). Karena, siapapun tidak dapat melakukan kebangkitan kecuali yang menghimpun kedua sifat tersebut. Al-BiqaI mengambil ungkapan ini dari Surat al-Anaam berikut:

Dan agar mendirikan shalat serta bertakwa kepada-Nya." Dan Dialah Tuhan Yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. al-Anaam: 72-73)

 

Demikianlah, bagi kaum muslimin yang memang sudah beriman, ayat-ayat tentang hari kebangkitan, bisa menambah tingkat ketakwaannya. Tetapi, bagi kaum musyrikin hanya menambah kebimbangan atau keraguan; sehingga ada saja di antara mereka mengatakan, Apakah tulang belulang yang sudah berserakan itu bisa disatukan kembali, caranya bagaimana? Dan, apakah daging-daging yang sudah hancur dan sudah bercampur dengan tanah bisa dihidupkan lagi? Tidak masuk akal. Apakah Dia tau kalau tulang, daging, atau segala struktur tubuh yang sudah lenyap itu disatukan, padahal semuanya sudah bercampur dengan makhluk-makhluk lain yang dulunya sudah mati. Sekarang, Dia mau menyatukan kembali, sungguh berita yang sangat mengada-ada. Itulah kiranya keraguan-keraguan yang ada dalam benak mereka.

Tetapi, bagi mereka yang sudah yakin (beriman), maka semua pertanyaan bodoh itu hanya dijawab, Allah memiliki sifat kun fayakun (Jadilah! Maka percaya akan semakin tersesat dengan kebimbangannya dan kita yang sudah meyakini akan mendapat rahmat dan perlindungan-Nya.

Allah Swt. berfirman

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.(QS al-Anaam:31)

Selain menggambarkan hari kiamat, surat Al-Wa<qiah juga menjelaskan bahwa manusia akan dikelompokkan menjadi tiga golongan, yakni ashab al- yamin (ashab al-maymanah: golongan kanan), ashab asy-syimal (ashab al-masyamah: golongan kiri), dan as-sabiqun (Ash-Shabuni, tt: 296).

 

Artinya: dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu Dan orang-orang yang beriman paling dahulu (6-9)

Golongan kanan adalah mereka yang mendapatkan catatan amalnya dengan tangan kanannya atau para ahli surga, selain as-sabiqun(Ash-Shabuni, tt: 298). Sedangkan golongan kiri adalah mereka yang semasa hidupnya selalu bermewah-mewah yang diiringi dengan perbuatan dusta, memelihara kemaksiatan, kesesatan dan mendustakan kebenaran.

Artinya: Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu.

 

ٰ ٰ

Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus-menerus mengerjakan dosa yang besar. Dan mereka selalu mengatakan: "Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?, apakah bapak-bapak kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?" Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang terkemudian, benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. Kemudian sesungguhnya kamu hai orang yang sesat lagi mendustakan,

Sementara yang disebut dengan as-sabiqun adalah golongan tinggi penguni surga. Jadi, tingkatan tertingg adala as-sabiqun.Demikianlah jenjang manusia di akhirat (Ash-Shabuni, tt: 298).

 

2)      Pedihnya neraka dan nikmatnya surga dan tempat balasan bagi tiap-tiap golongan

Sudah dijelaskan di depan bahwa manusia kelak di akhirat dikelompokkan menjadi tiga. Selanjutnya ketiga golongan tersebut akan mendapatkan balasannya masing-masing. Yang disebutkan pertama kali adalah golongan kanan. Pahala yang akan mereka dapatkan adalah sebagaimana yang tercantum dalam surat al-Wa>qi>ah ayat 17-34.

(17) (18) (19) (20) (21) (22) (23) (24) (25) (26) (27) (28) (29) (30) (31) (32) (33) (34)

Artinya: Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, Dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, Laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang Telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, Akan tetapi mereka mendengar Ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), Dan naungan yang terbentang luas, Dan air yang tercurah, Dan buah-buahan yang banyak, Yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya. Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.

 

Kemudian berikutnya adalah golongan kiri. Adapun definisi dari kelompok ini sudah dijelaskan sebelumnya. Balasan yang akan mereka peroleh adalah seperti yang telah diancamkan oleh surat al-Wa>qi>ah ayat 42-44 dan 52-56:

(42) (43) (44)

Artinya: Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air yang panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.(QS. al-Waaqiah: 41-44).

ٰ

 

Artinya: ...benar-benar akan memakan pohon zaqqum, dan akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum. Itulah hidangan untuk mereka pada hari Pembalasan".(QS. Al-Wa>qi>ah : 52-56).

Adapun golongan as-sabiqun, yakni golongan awal yang melakukan kebaikan dan kebajikan maka balasannnya adalah surga keabadian untuk merasakana kenikmatan. Al-Khazin mengatakan, jika dipertanyakan mengapa kelompok as-sabiqun ini disebutkan yang paling akhir padahal dia lebih layak untuk didahulukan dari pada ashab al-yamin, maka jawabannya adalah justru itu menunjukkan kelembutan. Yakni bahwa pada permulaan surat, Allah memaparkan hal-hal mengerikan saat terjadinya hari kiamat dengan maksud untuk memberikan rasa takut kepada para hamba-Nya. Jika hamba itu orang baik maka dia akan semakin mengharapkan pahala, dan jika dia merupakan pendosa maka dia akan segera kembali kepada kebenaran lantaran takut terhadap siksa. Dan barulah disebutkan golongan as-sabiqun, lantaran peristiwa besar itu sama sekali tidak membuat mereka takut sehingga baru bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada Allah(Ash-Shabuni, tt: 298). Ibnu Mihran terkait ketiga golongan ini menjelaskan: dua golongan masuk surga, dan yang satunya di neraka (Ash-Shabuni, tt: 298).

 

c. Kandungan Keindahan Bahasa

Selain kandungan makna, surat al-Wa>qi>ah juga memperlihatkan banyak keindahan bahasa yang meliputi aspek maani, bayan dan badi>. Di antara ayat yang mencakup aspek bayan adalah (Ash-Shabuni, tt: 308):

  1. Tasybih mursal mujmal, seperti dalam ayat ,

artinya: Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Maksudnya bidadari itu diumpamkan mutiara dalam hal putih dan beningnya.

Sedangkan yang mencakup aspek maani adalah:

  1. Iltifat dari mukhathab kepada ghaib, seperti dalam ayat:

(mukhathab) dan berubah menjadi:

ٰ (ghaib).

Dan ayat-ayat yang mengandung aspek badi> di antaranya adalah:

  1. Jinas isytiqaq, seperti dalam ayat
  2. Jinas naqish, seperti dalam ayat
  3. Saja murashsha, seperti dalam ayat:

,

  1. Thibaq, seperti dalam ayat dan

2. Gambaran Umum Tentang Surat Al-Qiyamah

a. Eksternal Surat Al-Qiyamah

Surat al-Qiyamah merupakan surat Makkiyah dan berjumlah 40 ayat (Ash-Shabuni, tt: 470). Namun dalam Marah Labid Tafsir an-Nawawi dinyatakan berjumlah 39 ayat, 197 kata dan 652 huruf (Nawawi, tt: 414). Secara urutan, surat ini menempati urutan surat ke 75, serta diturunkan sesudah surah Al-Qari'ah. Kata Al-Qiya<mah (hari kiamat) diambil dari perkataan Al-Qiyamah yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa tidak semua ayat terdapat asbabun nuzulnya. Demikian juga dalam surat ini. Asbabun nuzul yang dijumpai dalam surat ini adalah sebagaimana diriwayatkan bahwa asbabun nuzul ayat ke 3 dan ke 4 surat al-Qiyamah dilatari karena ulah dua orang yang bernama Adi bin Abi Rabi'ah bersama Akhnasy bin Syuraiq. Adi pernah menjumpai Rasulullah dengan bertanya, "Hai Muhammad, tolong ceritakan kepadaku kapan datang Hari Kiamat itu dan bagaimana keadaan manusia pada waktu itu?" Rasulullah SAW menceritakan apa adanya, Adi menjawab pula, "Demi Allah, andaikata aku melihat dengan mata kepalaku sendiri akan hari itu, aku juga tidak akan membenarkan ucapanmu itu dan aku juga tidak percaya kepadamu dan kepada Hari Kiamat itu. Apakah mungkin hai Muhammad, Allah sanggup mengumpulkan kembali tulang-belulang manusia? Kemudian turunlah ayat ke 4 di atas yang menegaskan kekuasaan Allah sebagai jawaban buat Adi dan orang-orang yang bersikap seperti dia

 

Karena peristiwa itu, Rasulullah SAW senantiasa berdoa:

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah aku dari kejahatan tetanggaku yang (bersikap) jahat". (Al Maragi, tt: juz 29, 146, juz 29).

 

b. Internal Surat Al-Qiya<mah

1). Kandungan Makna

Jika dipetakan, pokok-pokok isi yang terdapat dalam surah Al-Qiya<mah adalah:

1)   Kepastian terjadinya hari kiamat dan huru-hara yang terjadi padanya.

2)   Jaminan Allah terhadap ayat-ayat Al-Quran dalam dada Nabi Muhammad sehingga ia tidak lupa tentang urutan arti dan pembacaannya.

3)   Celaan Allah kepada orang-orang musyrik yang lebih mencintai dunia dan meninggalkan akhirat.

4)   Tiga tanda-tanda kiamat. Pertama, apabila mata terbelalak karena sangat ketakutan. Kedua, manakala cahaya bulan telah padam. Ketiga, ketika matahari dan bulan telah diperdekatkan.

5)   Keadaan manusia di waktu sakaratul maut. Yakni kondisi ketika betis kanan dan betis kiri bertautan. Jika penderitaan atau ketakutan sudah sampai di puncaknya, kebiasaan orang Arab mengatakan: "Telah bertaut kedua betisnya". Terhadap peristiwa yang sama, di Indonesia orang mengatakan kurang lebih: "Telah kuncup kedua telinganya". (Tafsir Depag).

6)   Hari Penjelasan serta pembagian manusia menjadi dua golongan; bahagian dan celaka. Yang bahagia wajahnya berseri-seri sedangkan yang celaka wajahnya muram.

2) Kandungan Bahasa.

Surat Al-Qiya<mah juga mengandung beragam jenis gaya balaghah, baik berupa maani, bayan maupun badi.

Di antara contoh maani adalah istiham inkary, seperti dalam ayat 3:

(3)

Sedangkan contoh bayan adalah majazmursal, seperti dalam ayat 22:

(22)

Adapun yang mengandung gaya badi adalah jinas naqish, sebagaimana dalam ayat 29-30:

(29)

 

 

 

 

 

  1. Analisis Jinas Dan Saja Dalam Surat al-Wa>qi>ah dan surat Al-Qiya<mah

1. Analisis jinas dan saja' dalam surat Al-Wa>qi>ah

a. Analisis Jinas Dalam Surat Al-Wa>qi>ah

Dalam bab II sudah dijelaskan bahwa jinas secara terperinci terbagi menjadi enam belas bagian, yakni Jinas Mumatsil, Jinas Mustaufi, Jinas Isytiqaq, Jinas Musyabahah Bil Isytiqaq, Jinas al- Mutasyabih, Jinas Murakkab, Jinas Mudhari, Jinas Lahiq, Jinas Naqis, Jinas Muharraf, Jinas al-Qalb, Jinas Mudhaf, Jinas Muzdawij, Jinas Tashhif, Jinasat Tsulatsiyah, dan Jinas Tsunaiyyah antara kalimat-kalimat tsalasa. Berikut ini adalah bedah surat al-Wa>qi>ah dari perspektif jinas-jinas tersebut.

1)      ayat 1: . Ini termasuk jinas isytiqaq, karena kedua kata bergaris bawah tersebut berasal dari akar kata yang sama, yaitu . Keduanya memiliki arti yang berbeda. Yang pertama bermakna terjadi sedangkan yang kedua bermakna hari kiamat.

2)      ayat 4: (apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya). Ini adalah jinas isytiqaq karena keduanya berasal dari akar kata yang sama, yakni dan memiliki makna yang berbeda. berarti diguncangkan dan bermakna sedahsyat-dahsyatnya.

3)      ayat 5: (dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . Kata yang pertama bermakna dihancur luluhkan dan yang kedua bermakna seluluh-luluhnya.

4)      ayat 35: (Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . Kata yang pertama bermakna menciptakan dan yang kedua bermakna dengan langsung.

5)      ayat 55: (Maka kamu minum seperti unta yang sangat haus minum). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . berarti kamu meminum sedangkan berarti seperti minumnya.

6)      Ayat 59:

(Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . berarti kamu menciptakannya dan yang menciptakannya.

7)      ayat 64:

(Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya?). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . Keduanya memiliki makna yang berbeda karena bermakna kamu menumbuhkan sedangkan bermakna yang menumbuhkan.

8)      ayat 69:

(Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . Keduanya berbeda makna. bermakna kamu menurunkan sedangkan bermakna yang menurunkan.

9)      ayat 72: (Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kamikah yang menjadikannya?). Ini adalah jinas isytiqaq, karena kedua kata yang bergaris bawah itu berasal dari akar kata yang sama yaitu . Keduanya berbeda makna. Kata yang pertama bermakna menjadikan dan yang kedua bermakna yang menjadikan.

10)  ayat 89:

(maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta jannah kenikmatan.) Ini adalah jinas naqis. bermakna ketentraman sedangkan bermakna rezeki.


b. Analisis Sajadalam Surat Al-Wa>qi>ah

Sebagaimana dikemukakan dalam bab sebelumnya bahwa saja terbagi ke dalam tiga jenis, yakni mutharraf, mutawazi dan murashsha. Saja mutharraf, yakni saja yang kedua fashilahnya berbeda wazan tetapi huruf akhirnya sama. Saja murashsha, yaitu saja yang lafadz-lafadz kedua fiqrah, sebagian besar atau seluruhnya, sesuai dalam wazan dan qafiahnya. Saja al-mutawazi, yaitu saja yang kesesuaiannya hanya terletak pada kata akhir saja.

Ayat-ayat dalam surat al-Wa>qi>ah yang mengandung saja adalah sebagai berikut:

1)      ayat 1-3: , . Rangkaian ini termasuk saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada kata akhir masing-masing kalimat, yakni ketiga kata yang bergaris bawah tersebut.

2)      ayat 7-8: , , . Ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni .

3)      ayat 8-9 :

Ini adalah jenis saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada kedua kata akhirnya, yakni yang bergaris bawah tersebut.

4)      ayat 13-14: . Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, .

5)      ayat 15-24:

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

6)      ayat 25-26:

.

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

7)      ayat 28-30: , , . Ini adalah saja murashsha karena sebagian besar dari ketiga kalimat tersebut terdapat kesesuaian. Dan dalam al-Qura>n memang rangkaian ketiga ayat ini merupakan jenis saja yang terbaik (Al-Qizwaini, tt: 404).

8)      ayat 32-33: , . Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

9)      ayat 32-34: , . Ini adalah jenis saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada kedua kata akhirnya, yakni yang bergaris bawah tersebut.

10)  ayat 38-40: , , . Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, .

11)  ayat 42-44: , . Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

12)  ayat 47-49:

, .

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, yaitu .

13)  ayat 54-55: , . Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

14)  ayat 56-73:

ٰ , ....

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak pada huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, yaitu .

15)  ayat 74-77:

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuainnya hanya terletak pada huruf akhir masing-masing fashilah, dan huruf itu adalah sebagaimana yang sudah digarisbawahi.

16)  ayat 78-82:

ٰ .

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, yaitu .

17)  ayat 84-88:

..... .

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, yaitu .

18)  90-92:

.

Ini adalah saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak huruf akhir kedua fashilah, yakni huruf-huruf yang bergaris bawah tersebut, yaitu .

19)  ayat 93-94:

.

Ini adalah jenis saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada kedua kata akhirnya, yakni yang bergaris bawah tersebut.

Dengan demikian maka diketahui bahwa dalam surat al-Wa>qi>ah terdapat 19 pola ayat yang mengandung saja. Ini bukan berarti bahwa yang memiliki corak saja hanya 19 ayat, tentu bukan, karena saja pasti menghubungkan antara satu ayat dengan satu, dua atau bahkan belasan ayat lainnya sebagaimana sudah dipaparkan di atas.


2. Analisis Jinas Dan Saja Dalam Surat Al-Qiya<mah

a. Analisis Jinas dalam surat Al-Qiya<mah

Dalam bab II sudah dijelaskan bahwa jinas secara terperinci terbagi menjadi enam belas bagian, yakni Jinas Mumatsil, Jinas Mustaufi, Jinas Isytiqaq, Jinas Musyabahah Bi Isytiqaq, Jinas al- Mutasyabih, Jinas Murakkab, Jinas Mudhari, Jinas Lahiq, Jinas Naqis, Jinas Muharraf, Jinas al-Qalb, Jinas Mudhaf, Jinas Muzdawij, Jinas Tashhif, Jinasat Tsulatsiyah, dan Jinas Tsunaiyyah antara kalimat-kalimat tsalasa. Berikut ini adalah bedah surat al-Qiyamah dari perspektif jinas-jinas tersebut.

1)      Kata dan . Ini adalah jinas lahiq, yakni jinas yang kedua kata yang serupa dalam pengucapannya tersebut dibedakan oleh satu huruf, dan huruf itu berjauhan makhrajnya. Kata dan hanya dibedakan satu huruf dan keduanya berjauhan makhrajnya ( dengan ). Kata memiliki arti jari jemarinya, sedangkan bermakna penjelasannya. Kedua kata jinas tersebut berbeda pada huruf keduanya. Perbedaan huruf ini bisa berlaku pada yang pertama, tengah maupun akhir kata (Marjoko, 2007: 31). Sebagai perbandingan, contoh jinas lahiq yang terdapat pada huruf pertama adalah ayat:

(Artinya: Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela). Kata dengan hanya dibedakan satu huruf yang bergaris bawah tersebut dan keduanya berjauhan makhrajnya. Kata berarti pengumpat, sedangkan bermakkna pencela.

2)      Kata dan ٰ . Ini adalah jinas mudhari, yakni jinas yang kedua lafadnya hampir serupa dalam pelafalan, namun dibedakan oleh hanya satu huruf, dan huruf yang berlainan tersebut makhrajnya berdekatan. Huruf tersebut dalam kata ini adalah dengan . Kata bermakna berseri-seri sedangkan berarti melihat.

Shighat kedua kata ini sama-sama isim fail. Jinas mudhari bisa terjadi antara isim mufrad dengan mufrad (yang perbedaannya terkadang terletak di huruf awal atau tengah), mutsanna dengan mutsanna (yang perbedaannya bisa terletak di huruf pertama atau tengah), jamak dengan jamak, dan mufrad dengan jamak. Selain itu juga bisa terjadi pada fiil dengan fiil, sedang perbedaan mungkin pada huruf awal, tengah maupun akhir (Marjoko, 2007: 30).

3)      Kata  ۜ dan . Ini adalah jinas naqish karena kedua kata yang bergaris bawah yang serupa dalam pengucapannya tersebut dibedakan oleh jumlah hurufnya. Perbedaan tersebut bisa di awal, tengah maupun akhir. Kata bemakna yang dapat menyembuhkan dengan shighat isim fail, sedengkan berarti waktu perpisahan shighat masdar. Perbedaan dalam kasus ini terletak pada awal huruf.

4)      Kata ٰ

(Dan bertaut betis kiri dengan betis kanan, kepada Tuhan-mulah pada hari itu kamu dihalau). Ini adalah jinas naqish karena terdapat perbedaan jumlah huruf pada kedua kata yang serupa dalam pengucapan yang bergaris bawah tersebut. Seperti di kemukakan di atas, perbedaan jumlah huruf dalam jinas naqish bisa terletak di awal, tengah maupun tengah kata. Kata bermakna betis sedangkan bermakna dihalau. Perbedaan jumlah huruf ini terletak di awal, yakni tidak adanya mim.

Dengan penjabaran di sini diketahui bahwa dalam surat al-Qiyamah terdapat empat pola jinas dengan rincian masing-masing satu jinas lahiq dan mudhari, serta dua jinas naqish.

b. Analisis Saja dalam surat al-Qiyaamah

Secara definitif, dalam termnologi, saja didefinisikan sebagai:

Yakni kesesuaian dua kata akhir (fashilah) atau lebih pada huruf akhirnya (al-Hasyimi, 1994: 278). Kata akhir pada tiap-tiap kalimat disebut fashilah, sedangkan tiap-tiap kalimat dinamakan faqrah. Sajak yang baik adalah apabila faqrahnya sama. Menurut Ibnu Jinni, disebut dengan saja karena pada akhir kata terdapat huruf yang sama dan ada keharmonisan pada fashilahnya. (Ibnu Mandzur, tt : 291)

Ada tiga macam saja; mutharraf, murashsha dan mutawazi. Saja mutharraf, yakni saja yang kedua fashilahnya berbeda wazan tetapi huruf akhirnya sama. Saja murashsha, yaitu saja yang lafadz-lafadz kedua fiqrah, sebagian besar atau seluruhnya, sesuai dalam wazan dan qafiahnya. Saja al-mutawazi, yaitu saja yang kesesuaiannya hanya terletak pada kata akhir saja.

Ayat-ayat dalam surat al-qiyamah yang mengandung saja adalah sebagai berikut:

1)      Ayat 1-2:

dan .

Pola ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni .

2)      Ayat 3-5:

ٰ ٰ .

Ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni yang bergaris bawah itu.

3)      Ayat 7-11:

Ini adalah jenis saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada keempat kata akhirnya, yakni yang bergaris bawah tersebut. Kesesuaian di sini adalah pada wazannya, sama-sama mengikuti wazan . Meskipun kata-kata yang bergaris bawah tersebut ada yang berharakat dhammah dan fathah, namun hal tersebut tetaplah sajak lantaran semua huruf tersebut tetap harus dibaca sukun sehingga terasa rasa sajaknya.

4)      Ayat 12-13:

ٰ

Ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni yang bergaris bawah itu.

5)      Ayat 16-19:

ٰ

Ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni yang bergaris bawah itu. Ada perbedaan harakat pada huruf tersebut (kasrah dan dhammah), namun semua itu harus dibaca sukun sehingga akan terasa nuansa kesajakannya.

6)      Ayat

ٰ

Ini adalah jenis saja mutawazi karena kesesuaiannya terletak pada keenam kata akhirnya, yakni yang bergaris bawah tersebut. Kesesuaian di sini adalah pada wazannya, sama-sama mengikuti wazan . Meskipun kata-kata yang bergaris bawah tersebut ada yang berharakat fathah dan tanwin dhammah, namun hal tersebut tetaplah sajak lantaran semua huruf tersebut tetap harus dibaca sukun sehingga terasa rasa sajaknya.

7)      Ayat:

 ۜ ٰ

Ini adalah saja mutharraf, karena kesesuaiannya hanya terletak pada akhir huruf fashilah (kata terakhir), yakni yang bergaris bawah itu. Keempat huruf tersebut ada yang berharakat kasrah dan dhommah. Untuk melahirkan aspek sajaknya maka Irab-nya tidak dibaca. Dengan kata lain harus dibaca waqaf (sukun). Syarat demikian ini sebagaimana dikemukakan oleh Al-Qizwaini (Al-Qizwaini, tt: 404).

8)      ayat :

(31) (32) (33) (34) (35) (36) (37) (38) (39) (40)

Deretan panjang ayat ini berpola saja mutharraf karena kesesuaiannya hanya terletak pada huruf terakhirnya saja, yakni kesepuluh huruf yang bergaris bawah tersebut.

Dari uraian ini diketahui bahwa saja yang terdapat dalam surat al-Qiyamah terdapat delapan pola dan itu juga sudah mewakili ketiga jenis saja, yakni mutharraf, murashsha dan mutawazi.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Jinas dan saja, yang secara hirarkis berada di bawah cabang ilmu badi>, dimana ilmu badi> ini menginduk kepada ilmu balaghah, merupakan dua hal dari sekian banyak pisau analisa yang bisa dijadikan untuk membedah dan mengungkap keindahan bahasa al-Qura>n. Jinas menitikberatkan pada kata-kata yang sama atau hampir sama namun berbeda arti, dan saja lebih menekankan pada aspek rima, yakni kecocokan huruf akhir dari fashilah-fashilah, atau kecocokan fashilah-fashilah itu sendiri. Karena begitu luasnya al-Qura>n dan juga karena keterbatasan waktu serta kemampuan penulis, maka penelitian ini hanya dibatasi pada surat al-Wa>qi>ah dan surat al-Qiya>mah.

Dari penelitian ini diketahui bahwa:

1.      Ayat-ayat surat al-Wa>qi>ah yang mengandung jinas tercatat sebanyak 10 ayat. Dan sembilan diantaranya merupakan jinas isytiqaq, yakni jinas yang kedua kata yang serupa itu berasal dari akar kata yang sama. Sedangkan satunya lagi adalah jinas naqish, yakni pada lafadz dan .

2.      Sedangkan mengenai saja, maka ditemukan terdapat 19 pola sajak. Pola di sini bukan dipahami sebagai jumlah ayat, tetapi rangkaian satu ayat dengan ayat lainnya, yang itu bisa tunggal, dwi bahkan belasan. Hal ini maklum mengingat saja meniscayakan adanya hubungan satu kalimat (ayat) dengan kalimat lainnya, dan hubungan antar kalimat itu baru dihitung sebagai satu pola. Dengan demikian maka maklum diketahui bahwa ayat yang masuk dalam ranah per-sajak-an dalam surat al-Wa>qi>ah ini tentulah lebih dari 19 ayat. Berbeda dengan jinas yang dalam surat ini, sejauh penelitian ini, hanya menampilkan dua jenis jinas dari total keseluruhan 16, sajak dalam surat al-Wa>qi>ah ini merepresentasikan secara utuh ketiga jenisnya; mutharraf, mutawazi dan murashsha.

Sebagaimana surat al-Wa>qi>ah , dalam surat al-Qiya>mah juga menyimpan berbagai jinas dan saja. Setelah melewati penelitian akhirnya diketahui bahwa:

1.      Dalam surat al-Qiya>mah terdapat empat pola jinas. Adapun jenis jinas dari keempat pola tersebut secara rinci adalah masing-masing satu jinas lahiq dan mudhari, serta dua jinas naqish.

2.      Kemudian selain itu juga diketahui bahwa saja yang terdapat dalam surat al-Qiya>mah terdapat delapan pola dan itu juga sudah mewakili ketiga jenis saja, yakni mutharraf, murashsha dan mutawazi.

Demikianlah penelitian ini dibuat. Tentu dengan segala keterbatasan, baik literatur, waktu, dan terlebih analisa, masih sangat banyak kekurangan yang terdapat di sana sini, baik pada awal, pertengahan maupun pada akhir bagian. Karena itu sangat diharapkan adanya saran-saran perbaikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jarim, Ali dan Musthafa Usman , al-Balaaghatul Waadhihah, (Bandung: sinar baru algensindo, 2005)

Al-Hasyimi, Ahmad, Jawahir al-Balaghah, (Surabaya: al-Hidayah, 1960).

Al-Suyuthi, Lubab Al-Nuqul Fi Asbab Al-Nuzul, tt.

Al-Qattan , Manna Khalil, Studi Ilmu-ilmu Quran, (Litera Antarnusa: Pustaka Islamiyah, 1973)

Ash-Shidieqy, Hasbi, Ilmu-Ilmu Al-Quran Media Pokok dalam Menafsirkan        Al-Quran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973).

Boulatta, J.Isa, al-Quran Yang Menakjubkan, (Jakarta: Lentera Hati, 2008).

Departemen AgamaRI, al-quran dan terjemahnya, (Bandung: pt Syaamil Cipta Media, 2005)

Hakim, Ayatollah Muhammad Baqir Ulumul Quran, Qum, Iran, terj. Nasirul Haq dkk. Maret 2006, al-Huda, Jakarta.

Idris, Mardjoko, Ilmu Balaghah Antara al-Bayan dan a-Badi, (Yogyakarta: Teras, 2007)

Setiawan, Nur Khalis, al-Quran Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta: ElSaq: 2005).

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, (Jakarta : raja grafindo persada, 2003).

Sudaryanto, Metode Linguistik, (Yogyakarta: Gadjah Mada University press, 1986)

Makhdhari, Muhammad, Bacalah al-Waqiah Maka Engkau Akan Kaya, (Yogyakarta: Diva Press, 2010).

Shabuni, Muhammad Ali, Shafwat al-Tafasir, juz III, Dar al-Shabuni, Kairo, tt.

Syafi, Rachmat, Pengantar Ilmu Tafsir, (Bandung: Pustaka Setia, 1973).